oOo

A/N : Karena ff horror sebelumnya THE VILLA kurang serem, akhirnya author bikin sekalian aja versi komedinya. Hehehe.

Enjoy.

oOo

oOo

Di sebuah kamar, ada enam orang cowok lagi berdebat. Mereka ngeributin tempat liburan mereka kali ini. Si cowok berwajah kalem berusaha bikin teman-temannya dengerin usulnya, tapi suara kalemnya kalah saing sama suara ngebass dan berisik milik cowok tinggi bongsor dengan rentetan gigi  besar-besar.

“Gue pokoknya mau nekat ke villa yang jadi gosip hangat bulan ini!” serunya sambil ngegebrak meja.

“Lo jangan egois, dong, Chanyeol! Gue sama Sehun nggak mau ke tempat angker itu! Mendingan ke tempat lain. Kayak nggak ada villa yang lebih layak aja, deh. Ya, kan, Sehun?” cowok berkulit kecoklatan karena kebanyakan kerja di sawah (?) itu menyikut temannya yang kurus pucat kayak vampir kurang darah, Oh Sehun.

“Iya, bener banget kata Jongin. Gue nggak thuka thama yang therem-therem. Noh, liat muka Chanyeol aja thudah therem banget.” dan Sehun pura-pura takut waktu lihat mata Chanyeol melotot.

Karena ngerasa kembarannya (beda bapak dan ibu) dihina, maka cowok bermata sipit kayak dikempit itu ngebelain Chanyeol.

“Oh Sehun! Kim Jongin! Kalian berdua emang pengecut!” serunya napsu. Tapi matanya nggak bisa melotot maksimal. Hanya minimal aja.

“Kita berdua bukan pengecut! Itu Kyungsoo yang baunya kecut!” cowok hitam manis, hitam manis, yang hitam manis, pandang tak jemu, pandang tak jemu (pakai nada bacanya!) itu nyerocos sambil nunjuk cowok bermata indah bulat sempurna yang keliatannya kayak orang syok setiap saat.

Kyungsoo melotot syok (nah, tuh kan?!). “Joonmyun yang baunya kecut. Dari semalam nggak mandi karena sabunnya habis!”

Dan Joonmyun ikutan melotot. Tapi gagal. Dia termasuk jenis mata minimalis.

“Bukan bau kecut Jongin! Tapi pengecut! Coward! Maksud gue lo berdua nggak berani nginep di villa itu, kan, artinya lo berdua penakut!” cecar Baekhyun, si mata minimalis.

Sehun dan Jongin mengangguk.

“Jadi kita liburan di villa itu aja, ya?” Chanyeol ngedip-ngedipin matanya kayak orang kelilipan bulu ketek.

Karena Joonmyun dan Kyungsoo ogah banget dikatain pengecut sama Baekhyun, akhirnya dua cowok beda ukuran mata itu setuju sama usul nista Park Chanyeol.

Sehun dan Jongin bergandengan tangan masuk ke kamar dan nangis bersama.

Mereka takut.

Takut dihantui Chanyeol seumur hidup kalau mereka nggak nurutin omongannya.

Bagi Jongin dan Sehun, lebih baik ketemu hantu cewek cantik daripada dianiaya Chanyeol.

.

.

.

.

Tas dan ransel sudah dijejalkan ke dalam bagasi. Mereka naik mini van yang disewa Joonmyun dari tetangganya yang seorang dealer mobil. Karena semua orang masih sayang nyawa, maka Joonmyun lah yang nyetir mobil itu.

Biar nggak nyasar, Kyungsoo bantuin Joonmyun buat nanyain jalan ke villa yang terkenal angkernya itu. Jongin dan Sehun komat-kamit. Yang satu berdoa yang satunya lagi ngutuk dan maki-maki Chanyeol dan antek-anteknya.

Perjalanan menuju villa itu makan waktu dua jam kurang, dan mereka pun sampai di lokasi ketika matahari tepat di atas kepala.

“Katanya angker, tapi tempatnya bersih dan rapi gini.” Celetuk Kyungsoo yang matanya makin berbinar-binar karena dia paling demen lihat tempat yang bersih dan rapi. Maklum jiwa kebabuannya sedang dalam kondisi prima.

“Namanya juga gosip. Ho-ho-ho-hot issue!” Baekhyun menimpali dengan gaya centil sambil kedipin sebelah matanya kayak orang habis operasi katarak.

“Iya, rumornya angker, tapi tempatnya oke gini, kok. Yuk, masuk!” ajak Chanyeol yang sudah ngebuka pintu masuk villa itu.

Semua masuk kecuali Jongin dan Sehun yang lagi berdiri termangu kayak orang pup di celana terus nggak berani gerak karena takut pupnya jatuh dari celananya. (yaiks)

“Lo berdua mau masuk sekarang atau silakan tidur di teras sampai besok?” tanya Baekhyun yang aura galaknya memaksa keluar dari tubuhnya. Dua remaja itu akhirnya terpaksa masuk ke dalam rumah.

Mata Sehun menyapu ruangan, dan Jongin menyerok bekas sapuan Sehun (apadeh?).

“Ternyata nggak seseram yang gue bayangin. Sehun, rumah ini bagus kok. Nggak ada seram-seramnya sama sekali,” ujar Jongin sambil menarik tangan Sehun dan memasuki ruang keluarga di mana yang lain sudah duduk santai di sofa. Kecuali Kyungsoo yang nyiapin minuman di dapur. Cowok yang punya cita-cita ikutan lomba Master Chef itu ngebawa banyak bahan makanan dan minuman buat bekal mereka selama liburan.

“Rumahnya berthih ya, Jongin. Nggak therem. Kirain bakal kayak di film-film. Berdebu, banyak tharang laba-laba, teruth ada tengkoraknya, thama tulang belulang. Ternyata rumahnya kece, lebih baguth dari rumah lo. He he he,” balas Sehun tanpa dosa. Dan Jongin segera menepis tangan Sehun dari genggaman tangannya.

“Dasar teman durhaka! Awas kalau berani minta nginep di rumah gue lagi! Huh!” dan Jongin membenci Sehun.

THE END

 

(Hahahahaha becandaaaaaaa!!!)

 

Sehun terkekeh dan memeluk Jongin, “Becanda Jonginniiiie…. Thehun lebih betah main di rumah thederhana Jongin daripada di rumah mewah Joonmyun yang banyak nyamuknya. Hehehe,”

“Heh, lo ke rumah gue pas semprotan nyamuk gue habis, Sehun!” Joonmyun ngebela dirinya sendiri waktu dengar ejekan Sehun.

Akhirnya Sehun dan Jongin nggak ngerasa takut lagi. Mereka malah bahagia banget bisa nginep di villa.

Makan siang sudah siap. Kyungsoo memang berdedikasi jadi menantu idaman semua mertua. Sudah suka bersih-bersih, masak-masak dan yang pasti dia adalah calon suami siaga. Karena matanya yang selalu waspada itu, maka dia adalah kandidat suami siaga paling hebat.

Semua makan dengan lahap. (jadi udah nggak jaman lagi pakai sendok ya makannya? Hmm… jaman modern sih, ya, oke…)

Keenam pemuda itu adalah siswa sekolah menengah atas. Joonmyun dan Baekhyun termasuk yang paling cerdas di antara yang lainnya, tetapi sikap Baekhyun sama sekali nggak mencerminkan orang dengan kecerdasan tinggi. Mungkin karena ketutupan aura seenak-gue-nya Park Chanyeol. Sedangkan Joonmyun terkadang keliatan bodoh karena dia sudah lelah bersikap layaknya orang berpendidikan. Maklum, teman-temannya ala kadarnya semua.

Sehun dan Jongin adalah adik kelas mereka. Mereka ikut karena Jongin adalah saudara sepupu Joonmyun, dan ibunya meyuruhnya untuk mengajak cowok berkulit gelap bagai langit mendung itu. (kelabu dong, harusnya? Ah biarin lah, suka-suka gue).

Dan Sehun adalah saingan bayangan Jongin. Di mana ada Jongin, di situ pasti ada Sehun.

Mereka adalah Yin and Yang. Black and White. North and South. Intinya meski berbeda tapi mereka adalah satu kesatuan.

Nggak tahu apa tujuan Sehun nempel Jongin terus, curiganya, sih, biar dia makin kelihatan putih, dan bikin Jongin makin kelihatan buduk. Ya, pasti itu tujuan sampingannya. (sok, yakin)

Tujuan utamanya mungkin karena kalau dia main ke rumah Jongin, selalu disuguhin kue-kue lezat. Maklum, karena mamanya Jongin adalah seorang pembuat kue. Dia bisa nerima pesanan buat acara nikahan, sunatan, ulang tahun, seminar, akikah, arisan dan lain-lain. (apa hubungannya ini?? Maaf)

Kembali ke cerita.

Setelah makan dan cuci piring, Kyungsoo, Joonmyun, Jongin dan Sehun mulai ngecek kamar-kamar. Chanyeol tiduran di sofa dan Baekhyun duduk di teras. Menikmati semilir angin sejuk perbuktian.

Sambil ngebayangin masa depannya sebagai seorang perias pengantin yang ahli dalam bidang mengaplikasikan eye-liner. (suka-suka lo, deh, Baek. Aneh-aneh)

Sepanjang sore itu, keenam cowok yang gantengnya variatif itu jalan-jalan ke hutan belakang villa. Nggak jauh-jauh amat lah, mereka takut kesasar. Nah, kalau misal kesasar, terus mereka mau nanya-nanya alamat sama siapa? Repot, kan?

Maka mereka menjelajah tepi hutan aja, nggak sampai masuk ke dalam. Karena jengkel sama Sehun dan Jongin yang nggak ngapa-ngapain selain cekikikan sendiri (kayaknya ngetawain Chanyeol yang lupa risletingin celana), Joonmyun nyuruh dua cowok kontras warna itu nyari kayu buat amunisi perapian.

Karena terlalu asik main tarzan-tarzanan di hutan, mereka lupa waktu, lupa diri dan lupa daratan (nggak segitunya juga kali, Thor!). Langit mulai senja dan burung-burung terbang pulang ke sarangnya, lalu ke manakah burung-burung enam cowok itu pulang? (ya ke sempaknya, laaah. Masa ke pangkuan reader? Eiguuuu… emangnya pada pergi ke mana tuh?)

Eniweiii… karena sadar langit sudah mulai gelap, gerombolan cowok itu akhirnya pulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa (*dibejek-bejek reader) maksudnya kembali ke villa.

Lampu temaram di dalam villa menciptakan bayangan-bayangan aneh dan mencekam. Sehun sudah remes-remes tangannya sendiri karena ketakutan. Jongin pun sudah remes-remes bibir Kyungsoo karena napsu? Entahlah, hanya Jongin yang tahu.

Baekhyun nyalain semua lampu di rumah itu, dan cahaya terang benderang menghilangkan rasa mencekam itu.

Lagi-lagi Kyungsoo nyiapin makan malam yang super enak. Nasi goreng dengan suwiran daging ayam dan taburan bawang goreng. Nggak lupa telor mata ayam (kalau mata sapi berarti telornya dari sapi, dong.) mejeng dengan cantiknya di atas nasi. Irisan timun dan tomat sebagai garnish juga ditata seartistik mungkin oleh Kyungsoo.

Kayaknya dia memang ngidam banget jadi peserta Master Chef.

Chanyeol dan Baekhyun makan dengan lahap, Kyungsoo, Sehun, dan Suho makan dengan sendok, sedangkan Jongin makan dengan napsu. Mereka makan dengan caranya masing-masing.

Acara makan malam berakhir dan Sehun serta Jongin di suruh cuci piring. Sambil bersungut-sungut, dua remaja itu mau nggak mau ya tetap nyuci piring.

Anacamannya, pilih cuci piring atau masak buat sarapan, makan siang dan makan malam?

Dan mereka dengan hati tersiksa lebih milih cuci piring.

.

.

.

.

Tempat itu nggak menyediakan hiburan semacam televisi atau WiFi. (lagian siapa yang mau internetan di tengah hutan?). Joonmyun dan Kyungsoo memilih buat tidur karena mereka sudah sangat capek dan amat sangat butuh tidur. Dua cowok itu akhirnya masuk kamar dan rest in peace. Maksudnya peace adalah suasana yang sepi dan tenang. (jangan protes!)

Si hitam manis dan Si putih hambar duduk berdua di depan jendela kamar mereka yang di atap dan menatap indahnya bulan purnama yang bersinar sambil nyanyi lagu kesukaan mereka…

“Ambilkan bulan, Bu…. Ambilkan bulan, Bu… yang selalu bersinar, di langit…” suara pas-pasan mereka menyatu dalam harmonisasi hancur yang ikut menyemarakkan malam suram tak berbintang itu.

“Mama gue dulu thuka ngebalethin lagu ambilkan bulan, bu, ini Jongin. Dan gue pathti nangith kethel.” gumam Sehun dengan mulut manyun mirip penyamun.

“Memangnya mama lo bilang apa, Sehun?” Jongin menatap Sehun penuh rasa ingin tahu.

“Path gue nyanyi ambilkan bulan bu, matha mama bilang gini, ‘ambil thendiri thana. Mintanya aneh-aneh. Kenapa nggak minta ambilkan minum, bu, gitu?’. Gitu, Jongin. Hhhh…” Sehun mendesah sementara itu Jongin malah ngakak.

“Mama lo lucu! Hahahaha,”  Sehun ikut ketawa bareng Jongin. Mamanya memang suka aneh-aneh kalau komentar. Sehun sampai curiga, jangan-jangan mamanya juga ibunya Chanyeol yang suka asal nyeletuk gitu.

Sementara Sehun dan Jongin nyanyi lagu anak TK, Chanyeol dan Baekhyun duduk sebelahan di sofa panjang depan perapian. Perapian sudah nyala, dan ruangan pun hangat-hangat suam-suam kuku dengan sedikit kehangatan tai ayam. (author jorok!)

Dua pemuda beda tinggi badan itu lagi ngelakuin aktifitas masing-masing. Chanyeol lagi berkutat dengan henponnya yang notabene smartphone itu.

Miris. Masa orangnya sama phone-nya lebih smart phone-nya? Itulah takdir. (takdir bukannya nama indonesianya leader super junior, ya? I itu kadir kaliiii, thor! I oh, maaf.)

Sedangkan cowok bermata sipit malah asik dengan buku barunya, ‘7 Ways to use a Perfect Eye-Liner For Dummies’  dan tenggelam dalam tips demi tips tentang cara mengaplikasikan eye-liner biar tampilannya sempurnya.

Tiba-tiba ada hembusan hawa dingin. Mirip hawa dingin yang keluar dari kulkas waktu dibuka. Bikin merinding-ding-ding-ding (ala ringdingdong)

Chanyeol dan Baekhyun hanya menggaruk tengkuk mereka.

Tiba-tiba Chanyeol ngerasa ada yang hawa hangat yang niup-niup tengkuknya. Dia diam.

Lalu tiupan itu nongol lagi. Dengan gemas, Chanyeol noleh ke arah Baekhyun.

“Baek, lo abis makan apaan, sih? Nafas lo bau banget!” semburnya sambil kibasin tangannya buat hilangin aroma nggak enak itu.

“Heh, apaan? Gue dari tadi nggak ngebuka mulut, kok!” Baekhyun tersinggung atas tuduhan Chanyeol itu.

“Nah, itu dia! Lo diam aja baunya udah ke mana-mana, apalagi kalau lo ngomong. Gosok gigi sana!” usir Chanyeol sebelum kembali berkutat dengan henponnya yang lebih pintar dari dia.

Baekhyun mendengus kesal dan masuk ke kamar. Chanyeol belum nyadari kalau Baekhyun sudah nggak di sebelahnya lagi.

Lagi-lagi ada tiupan di tengkuk Chanyeol… kali ini malah ada suaranya…

Boooooooo

Suara dalam yang aneh. Mirip bencong lagi kena radang usus akut. (emang nyambung?)

“Ya ampun, Byun Baek… lho? Baekhyun? Kok, nggak ada? Nah, barusan bau jigongnya siapa?” Chanyeol celingukan nyari seseorang yang tadi niup tengkuknya. Tapi mata pecicilannya nggak berhasil nemuin siapapun. Pas dia nengok ke sebelah kanan, tiba-tiba ada muka cowok dengan rambut berjambul setengah jadi, jidat lebar yang aneh, alis tebal, hidung mancung dan bibir yang bentuknya kayak tomat cherry.

“Boo!” kata si muka melayang itu. Benar-benar hanya muka doang, nggak ada badannya. Jadi mirip kucing yang di Alice in Wonderland.

“Buseeeeet! Jadi dari tadi itu bau busuk jigong lo? Ngenes banget, deh. Tampang pangeran tapi mulut bau comberan. Ckckck.” Ujar Chanyeol sambil menutup hidungnya.

“Heh, gue ini hantu penunggu villa ini! Masa, sih, lo nggak takut?” ujar si muka yang ngerasa paling kece di antara semua hantu.

“Lo hantu? Hmmm… lo hantu jigong, ya? Mana bisa takut kalau mulut lo bau bangke gitu?” balas Chanyeol tanpa rasa takut.

“Terus gimana caranya biar gue bisa nyeremin?” tanya hantu itu.

“Nama lo siapa? Dan kenapa lo jadi hantu?” sahut Chanyeol.

“Nama gue Yifan, tapi setelah gue mati, gue ganti nama jadi Kris. Udah bikin bubur merah putih kok. Jadi udah resmi. Gue jadi hantu karena…. Gue juga lupa, sih. Seinget gue, gue tinggal di villa ini pas liburan semesteran, tahun 2001.”

Chanyeol terkesiap, “Buseeeeeeeet! Itu 12 tahun yang lalu. Pantesan mulut lo bau bangke! Busuk banget! Gosok gigi dulu, sana!” usir Chanyeol.

“Kalau udah gosok gigi emangnya bisa serem, ya?” tanya Kris.

“Tergantung, sih. Tergantung mood gue,” jawabnya ringan, seringan kancut katun milik Sehun.

Kris mengangguk-angguk mafhum, “Oke, I’ll be right back and I will scare you to death!” ancam Kris sebelum muka konyolnya menghilang dari pandangan Chanyeol.

Chanyeol menggaruk kepalanya, “Tadi dia bilang apaan? I will ask you to date? Ngapain dia ngajakin gue ngedate? Hantu kampret. Dia pikir gue cowok apaan?”

Semenit berikutnya wajah tengil itu muncul lagi, tapi kali ini sebadan-badannya kelihatan semua. Dan hantu itu tinggi banget.

“Boooooo! Chanyeooooool… Huuuuuuuu.” Kris si hantu mulai nakut-nakutin Chanyeol.

Dan cowok itu narik nafas dalam, “Hmm… wangi… eh! Kok wangi odolnya kayak punya gue? Lo pakai odol gue, ya? Heh! Itu odol mahal oleh-oleh dari paman gue dari Amsterdam! Dasar hantu nggak tahu diri!” dan ketika tinju Chanyeol mengenai wajah Kris, tangannya menembus wajah itu.

“Lo masih nggak takut juga, sih?” Kris tampak kesal karena dia gagal bikin cowok itu takut.

“Lo nggak nyeremin!” sentak Chanyeol.

Kris memutar otak, lalu ia tersenyum licik. “Chanyeol! BBUING BBUING! BOO!” ia mengeluarkan gaya aneh dan menjijikkan itu, dan kali itu Chanyeol melompat dari duduknya dan lari ke dalam kamar.

“Kyaaaaaaa!!!! HANTU SOK IMUUUUT!!!!”

Bagi Chanyeol dibanding hantu tipikal semacam drakula, suster ngesot atau pocong, jauh lebih seram hantu sok imut yang bergaya kayak girl group yang sudah bangkotan tapi maksa buat tetap imut. (bukan antis saya! Bukan antis!)

Sementara itu di gudang belakang villa itu, tempat benda-benda rongsok ditumpuk di dalamnya, ada enam cowok yang tembus pandang. Mereka antara transparan dan nggak transparan. Meski muka pucat kayak tembok rumah sakit, tapi ketampanan mereka masih setia nangkring di wajah mereka.

“Gimana, Kris. Kamu berhasil bikin si badan bongsor kayak pilar panthenon itu ketakutan, nggak?” tanya hantu cowok yang giginya nyembul indah.

“Butuh kerja keras, Luhan. Tapi pada akhirnya dia ketakutan juga, sih, berarti  gue bukan hantu gagal,” sahut Kris yang terbang melayang-layang sambil koprol sok keren.

“Wah, keren. Kamu nakutinnya gimana? Penasaran aku,” tanya cowok yang dari jaman masih hidup sudah mirip hantu insomnia dengan lingkaran hitam dan kantung mata di sekitar matanya yang tajam.

“Bbuing-bbuing, doang, sih,” Kris mendarat meski kakinya nggak menapak lantai yang berdebu itu.

“Itu mah bukan serem, Kris. Tapi menjijikkan. Aku aja ngeri kalau lihat kamu bergaya kayak gitu. Amit-amit jabang bayi, deh,” Chen, yang nama jadulnya adalah Jongdae itu mengusap-usap perutnya.

Kris hanya mengangkat bahu.

“Guys, sudah belasan tahun kita terperangkap di sini, gimana kalau kita takut-takutin mereka semua?” usul Yixing yang setelah jadi hantu pengin kelihatan keren, maka dia ganti namanya jadi Lay. Entah kepanjangannya apa, LayOnTheFloorWithMe, atau LayingNakeOnTheBedWithKris atau apapun itu.

“Benar, tuh! Ayo kita bikin mereka terkencing-kencing, termehek-mehek, dan terseok-seok waktu ngeliat kita. Hahahaha.” Minseok, si hantu bogel nan semok itu tertawa membahana.

“Minseok! Ketawa lo nggak keren! Masa hantu ketawanya kayak abg minta dicium cowoknya gitu?” protes Kris yang lagi sibuk ngebenahin rambutnya.

“Xiumin, Kris! Xiumin! Minseok adalah masa laluku. Sekarang Xiumin!”

“Iya, deh, Xiumin! Terserah lo!” sentak Kris kesal. “Guys, ayo kita beraksi! Tao dan Luhan ngerjain cowok-cowok di kamar atap, ya. Dan Xiumin sama Lay ngerjain yang di kamar utama, sialan, kamar gue itu! Lalu gue sama Chen ngerjain si pilar sama si sipit. Let’s roll!”

“Roll like a buffallo?”

“Bukan! Tapi roll like bison! Pertanyaan nggak penting banget, sih, Tao?” gerutu Kris sambil memijat pangkal hidungnya.

Mereka pun menyebar.

Tao dan Luhan segera terbang melayang tinggi di awan… (woooy, kejauhaaaan!)

Dua hantu itu masuk menembus dinding kamar yang di atas.

“Ini kamarku sama Xiumin. Hehehe.” Bisiknya di telinga Luhan.

“Eh, itu bukannya tidur tapi malah narsis-narsisan di depan cermin,” Luhan nunjuk ke arah cowok kurus kering tipis dan pucat yang lagi bergaya kayak bintang iklan sabun muka.

“Aku kerjain dia dulu, ah,”

Sehun yang lagi asik senyum-senyum sambil kedipin sebelah matanya, mengernyit waktu lihat pantulan mukanya di cermin.

“Ya ampun! Kenapa muka gue kelihatan tua? Waduh, kayaknya gue haruth lebih thering tidur, deh. Ini thudah muncul lingkaran hitamnya. Gue ogah nanti dipanggil thi mata panda. Iiih… amit-amit.” Dia bergidik waktu lihat muka Tao di cermin. “Gue tidur aja ah. Biar bethok bitha freth dan thegar theperti bintang iklan thabun muka,” dan cowok cungkring itu naik ke ranjang dan tidur di sebelah Jongin.

Luhan ngikik parah waktu lihat muka Tao yang merah padam. “Hahaha… ya ampuuun, Tao. Kamu dibilang tua! Hahahaha.”

Tao cemberut dan nantang Luhan buat nakutin Jongin.

Luhan mikir, mau pakai cara apa buat nakutin Jongin. Akhirnya dia senyum bangga karena sudah nemu ide yang cocok buat nakutin Jongin.

Hantu cowok bergigi tonggos itu ngedeketin Jongin dan tiup-tiup kupingnya.

“Ung… Sehun! Jangan gangguin tidur gue!” ujarnya sambil mengerang malas sebelum menarik selimut nutupin kepalanya dan tidur lagi.

Tao terkekeh.

Luhan nggak mau mati gaya di depan Tao, dia pun masukin kepalanya ke balik selimut dan berhadapan langsung sama muka boring cowok itu.

“Jongiiiiin…. Jongiiin…” bisiknya dengan suara dibuat-buat.

Tapi yang dibisikin malah menguap lebar dan tidur lagi.

“Sumpah mulutnya bau banget!” Luhan nutup hidungnya. “Gimana bikin dia takut, ya? Oh, iya! Nyalain henponya, pasti dia kaget kenapa henponnya bisa nyala sendiri, ya, kan?”

Tao mengangkat bahu dan menunggu aksi Luhan.

Hantu itu menekan tombol di henpon, tapi nggak nyala-nyala. “Kenapa, sih, kok nggak nyala?” tanyanya pada Tao.

“Karena kamu nggak bisa nyentuh itu, Luhan. Kita ini transparan!” Tao memutar bola matanya. Karena dia hantu, maka dia mutar bola matanya sampai mutar ke belakang terus ke depan lagi. Dia juga bisa mutar kepalanya 360 derajat. Keren, yah? Namanya juga hantu.

Akhirnya, Luhan bikin suara-suara mengerikan. Dan nyebar hawa dingin ke penjuru ruangan.

Jongin bangun karena kedinginan dan terganggu sama suara-suara itu.

“Siapapun lo, bisa diam nggak, sih? Gue lagi mau tidur nyenyak!”

Luhan kesal dan dia pun menampakkan diri. Mengambang. Melayang. Kakinya nggak nyentuh lantai kayu itu. Ngedeketin Jongin.

“Aku akan memakanmu, hai manusia dekil!” kata Luhan dengan suara diseram-seramkan.

“Lo siapa? Kenapa lo pucat? Makanya lo tiru gue, sering-seringlah berjemur biar kulit lo nggak pucat kayak mayat gitu,”

Luhan mengerang dalam hati. Kenapa anak-anak kota ini begitu bebal hingga nggak takut sama yang namanya hantu?

“Aku penunggu villa ini…. Kalau kalian nggak keluar dari sini, aku dan yang lainnya bakal gangguin kalian terus…” Luhan sengaja nambahin mimik muka mengerikan. Ya semacam makin nongolin deretan giginya yang sudah nongol. Tapi itu sama sekali nggak ada efeknya.

Tapi pas Luhan lagi ngasah otak buat nakutin Jongin, si cowok kota itu ngejerit kencang banget, bikin Sehun makin lelap tidurnya (?).

Luhan bahagia. Akhirnya dia berhasil bikin Jongin ketakutan.

Di saat dia lagi joget-joget victory dance, tiba-tiba pintu kamar itu ngejeblak dan empat orang muncul dengan muka panik.

“Jongin! Lo kenapa?” tanya Kyungsoo yang merangkap jadi guru spiritual buat teman-temannya.

“A-ada-ada…” jari telunjuknya mengarah ke titik di mana Luhan berdiri.

“Ada hantu?” serobot Chanyeol sambil nyari-nyari penampakan hantu sok imut yang nyeremin itu.

“Ituuuuuu!!!!!! HUAAAAAAA BUNUUUUHHHH!!!!” pekiknya histeris, bikin Luhan makin gemeteran. Kenapa mendadak dia yang mau dibunuh?

“Di mana, Item! Jangan bikin kita panik, dong!” bentak Baekhyun yang sudah nggak sabar.

“Itu…. ada… KECOA GEDEEEEEEE!! HUAAAA GUE TAKUUUT!!!!” dan Jongin langsung pingsan.

Luhan juga pingsan. Karena dia juga takut sama kecoa.

Tao ngegotong Luhan sampai ke dalam gudang, dan dia nyeritain semuanya ke teman-temannya.

Luhan dan Tao gagal total.

.

.

.

.

Malam itu berakhir dan matahari dengan egoisnya nyingkirin bulan dari peraduannya. Sang surya itu dengan congkaknya nangkring di langit dan tanpa peduli sama kondisi makhluk bumi, si bola api itu malah mancarin sinar dan panasnya dengan seenak jidat.

Malam itu para hantu gagal menebarkan teror di villa itu.

Tapi tekad hantu-hantu tampan itu begitu kuat, sekuat napsu makan Tao.

Malam kedua sudah hadir, sang bulan kembali menduduki tahtanya dan menyinari langit yang gelap. Si matahari di depak ke ujung dunia. Membuat si bola perak itu bisa mejeng cantik di langit malam.

Di gudang diadakan rapat dadakan.

Yang belum nakut-nakutin siapapun tadi malam, dapat gilirannya malam ini.

Chen, Xiumin dan Lay yang belum sempat nakut-nakutin para manusia itu dikasih target bat bikin orang-orang itu ngeri dan kabur dari villa.

Lay melayang masuk ke dapur. Dia duduk di samping tempat cuci piring. Kyungsoo yang lagi masak nggak ngeliat keberadaan Lay.

Cowok bermata bulat seperti bola ping-pong itu nyalain api buat ngerebus sayuran. Pas dia berbalik buat ngambil tomat dari kulkas, Lay niup api sampai padam.

Kyungsoo kaget waktu lihat api di kompor padam. “Masa, sih, gasnya habis?” dan dia nyoba nyalain lagi. “Oh, tadi kena angin palingan,” lalu dia lanjutin masaknya.

Lay iseng-iseng nyalain air keran. Kyungsoo nengok ke arah tempat cuci piring. “Ini kenapa airnya nyala sendiri? Pasti rusak nih, kerannya. Dasar villa abal-abal. Kalau bukan takut dikatain pengecut sama Chanyeol dan Baekhyun, gue mana sudi ngikut ke sini.” Gerutunya sambil matiin keran.

Lay terkikik, dan melayang ke kulkas. Dia masuk ke dalamnya dan nunggu.

Kyungsoo mau ngambil telur, dan dia nyari di kulkas.

Dan ada pemandangan aneh di depannya.

“Ya ampun, kapan gue beli ikan mujair ini? Kasian banget, deh. Mulutnya mangap-mangap nggak jelas. Hhhh….” Dan dia nutup lagi pintu kulkasnya.

Lay mengerang jengkel. Masa dia dikatain kayak ikan mujair?

Padahal dia berharap Kyungsoo bakal pingsan waktu lihat ada kepala dengan muka pucat dan mulut menganga. Ternyata dia malah diledekin.

Dengan wajah murung, Lay terbang ke gudang. Laporan sama Kris. Dan si hantu sok imut itu malah ketawa ngakak.

Lain Lay, lain pula Chen. Dia masuk ke kamar mandi. Kebetulan ada Joonmyun yang lagi mandi. Chen berada dalam dilema, antara pengin nutup mata tapi pengin ngintip juga.

Akhirnya dia ngedeketin Joonmyun yang lagi usap-usap rambutnya pakai shampoo. Lalu jemarinya ikut menelusup di sela-sela rambut halus Joonmyun.

“Ahh.. enak banget pijatannya. Serasa kayak di salon. Hmm…” desahan Joonmyun membuat Chen gemas. Seharusnya cowok muka kalem adem ayem tenang itu ketakutan karena tiba-tiba ada tangan lain yang ngusek-ngusek rambutnya. Ini malah keenakan serasa di salon.

Chen ngambek dan menghilang dari kamar mandi itu. Tapi sedetik kemudian dia muncul lagi sambil ngeliatin Joonmyun sampai selesai mandi. (dasar hantu mesum!)

Joonmyun sudah ngeringin tubuhnya dan lagi bercermin. Nah, Chen dapat ide buat muncul di cermin. Dan ngagetin Joonmyun.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!” jeritan melengking Joonmyun bikin teman-temannya muncul di kamar mandi.

“Ada apa, Joonmyun?” tanya Chanyeol.

“Barusan gue ngaca…. Sumpah amit-amit banget! Muka gue kayak lebih tua 20 tahun! Jangan-jangan cermin ini bisa nunjukin masa depan kita, ya? Sumpah ngeri banget!” kata Joonmyun sambil nunjuk-nunjuk cermin yang memantulkan bayangan mukanya sendiri, bukan muka Chen lagi.

Di gudang…

“Sialaaaan!!!! Masa muka gue dikatain tua?”

“Hahaha kita senasib, Chen. Aku juga dikatain gitu sama si duplikat mayat itu.”

“Oh Sehun? Bhuakakaka duplikat mayat! Hahahaha,” Luhan tertawa puas.

Xiumin memutar otak. Ia akan menakut-nakuti Baekhyun dengan cara apa?

.

.

.

.

Baekhyun duduk di teras demi menatap langit malam. Dinginnya udara sama sekali nggak bikin dia punya keinginan buat masuk ke dalam rumah dan ngeruntel di depan perapian yang hangat.

Tiba-tiba semak-semak di depannya bergerak-gerak. Padahal nggak ada angin kencang yang berhembus. Bulu kuduk Baekhyun berdiri tegak.

Dari kehampaan muncul bayangan yang makin lama makin jelas.

Seorang cowok bantet dengan pipi tembem yang bikin siapapun pengin nyubit, berdiri di depan Baekhyun.

“Hai… Baekhyun… kenalin… aku Xiumin.” Kata hantu berpipi bakpao itu.

“Ha-ha-HANTUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!” dan Baekhyun lari tunggang langgang masuk ke dalam rumah.

Xiumin melongo.

“Mau diajak kenalan, kok, malah takut? Padahal aku nggak ada niatan buat nakutin dia. Aku malah pengin ngajak dia temenan. Dasar manusia aneh,” ceritanya kepada keempat temannya dan Chen, adiknya.

“Oke, jadi Xiumin berhasil bikin Baekhyun ketakutan. Lo pemenangnya. Dan karena lo berhasil bikin manusia takut sama hantu… maka kutukan ini bisa dipatahkan. Kita bisa terbebas dari villa ini.” Ujar Kris sambil menyeka air matanya yang tumpah tak terbendung.

“Jadi…. Kita bakal nggak bersama lagi?” Luhan mulai mewek. Tao sudah badai air mata dan ingus dari tadi malah.

“Iya… kita terbebeas dari kutukan villa ini.” Balas Kris dengan suara-suara sok disendu-sendukan.

“Memangnya itu kata siapa?” tanya Lay yang curiga sama Kris.

“Kata gue, lah.” Ujar Kris pede.

“Kirain memang beneran ada kutukan di villa ini.” Chen bernafas lega.

“Kenapa, sih, ngerjain kalian susah banget?” geramnya kesal sebelum melayang ke atas atap dan melihat rombongan manusia itu masuk mobil mereka dan ngacir secepat yang mereka mampu.

“Jadi kita selamanya terperangkap di sini, ya? Sama kamu? Ahhhh… ini sungguh sebuah kutukan yang nyiksa banget…” ujar Xiumin yang sudah duduk di samping Kris di atas genteng.

“Sialan, lo!” dan Kris ngejorogin Xiumin dari atap.

Akhirnya Kris dibenci Xiumin.

THE END

 

A/N : Hehehe apa iniiii?

Plis, jangan tanya.

Aku nggak tau apa-apa. Hehehe

 

Maaf ya kalau kurang seru.

XD

 

Advertisements