^v^v^v^

A/N : Waddup? Aku kembali lagi dengan membawa sesuatu yang menggelitik. Kangen sama ff gokil, jadi aku bikin lagi, deh. Hehehe. Semoga berkenan.

 

Warning : Bias akan dinistakan. Kalau nggak suka, silakan close dan nggak usah baca.

 

*mau tiru-tiru author lain ah

Para tokoh adalah milik author seutuhnya, makanya suka-suka author mereka mau diapain. Wkwkwkwkwkw

^v^v^v^

Sudah setahun EXO menginvasi bumi dengan pesona mereka. Baik dari suara mereka, maupun goyangan pinggul mereka yang seringkali bikin penggemar mereka mimisan.

Tapi dalam waktu satu tahun, alien-alien itu bete luar biasa karena pihak manajemen nggak bikin mereka comeback dengan single baru.

Dari dulu manggil-mangil MAMA mulu. Kasihan PAPA dianggurin.

Akhirnya, para alien yang diusir dari EXOPLANET itu ngumpul di kamar Kris, kamar yang paling gede, maklum dia kan anak bangsawan (BANGSAne tangi aWAN = bangsanya bangun siang), jadi dia agak-agak dimanja gitu.

Suho dan Kris sudah berdiri di depan kesepuluh teman mereka.

“Oke, berhubung kita lebih banyak nganggurnya daripada kerjanya, dan uang gaji dari manajemen kurang bisa muasin hasrat belanja kita, gimana kalau kita nyari rejeki make kekuatan masing-masing?” usul Kris, yang diiyain sama Suho.

“Maksud lo kita kerja bukan sebagai penyanyi, gitu?” tanya Baekhyun yang sebelumnya lagi keasikan makein eyeliner ke mata Xiumin.

“Ho,oh. Tapi kalau lo pengin tetap jadi penyanyi, ya silakan ngamen aja di perempatan lampu merah kuning ijo,” celetuk Kai sambil kipas-kipas keteknya yang keringetan.

“Sial! Lo kata tampang gue tampang pengamen?” sembur Baekhyun. Kasihan Xiumin, dia kecolok gara-gara Baekhyun.

“Bukan! Tapi tampang lo kayak ukulele. Wkwkwkwk,” serobot Chanyeol yang langsung tos bareng Kai.

Dan Baekhyun timpuk Kai dan Chanyeol pake eyeliner. Mereka hampir bergumul.

“Heh, jangan berantem!” bentak Kris, siap-siap mau nyemburin bau naga.

Baekhyun, Chanyeol dan Kai langsung diem.

Xiumin nyukurin Baekhyun, dia masih dendam gara-gara matanya kecolok.

“Nah, enaknya kerja apaan? Tapi kalau kita dikenali fans, gimana?” Luhan angkat gigi. Dia duduk bersila di belakang Sehun, dan dengan santainya mungutin ketombe dari rambut Sehun.

“Lo pernah denger kata nyamar, nggak?” Kata Kris judes.

“Nyamar? Pake kumis sama jenggot palsu, gitu?” tanya Sehun polos sambil jilat-jilat bibir.

“Pake muka palsu aja sekalian. Noh, tiru Chen.” Tunjuk Kris ke arah Chen yang lagi asik bikin percikan petir mungil nan unyu.

“Heh, muka gue palsu apaan?” protesnya.

“Nah, itu. Muka lo kan nggak sesuai umur lo. Palsu, tuh,” sahut Kris santai. Padahal dia mukanya juga palsu, sok-sok jaim dan smart, aslinya mah, hanya Luhan yang tahu.

“Sialan!” desis Chen, dan petir di tangannya makin gede. Kris langsung minta maaf. Cukup satu aja yang gosong.

“Malam ini, kalian renungin mau kerja apaan, besok pagi kita misah-misah dan kerja. Tiap malam kita kumpul di sini lagi. Oke, kawan-kawan?” Suho mengakhiri rapat hari itu. Semua setuju, dan masuk ke kamar masing-masing.

Tao yang sekamar sama Xiumin, duduk ngelamun sambil gigitin kuping boneka panda pemberian fans.

“Min, lo mau kerja apaan?” tanyanya sendu. Mukanya memang sendu, sih. Jadi double sendu face.

Xiumin mikir. Garuk-garuk idung. Usap-usap dagu. Cubit-cubit pipi.

“Mikirnya lama amat, bang?!” Tao nyureng.

“Ooooh, lo nungguin gue, ya? Hehehe. Kirain..” Dan Tao langsung gendong Xiumin dan dibanting ke kasur. Geregetan.

“Udah sana tidur! Dimintain tolong malah garuk-garuk idung.” Dan sambil narik selimutnya dengan kasar, Tao selimutan lalu tidur.

Xiumin yang masih ngerasa pegel di punggunya gara-gara dibanting Tao itupun ngedumel. “Apa urusan gue lo mau kerja apaan? Yang penting gue udah tahu mau kerja apa. Hehehe.”

.

.

.

.

Lain TaoMin, lain pula LayHan.

Dua sahabat ini sengaja nyiapin teh ijo sepoci dan sestoples keripik pisang raja yang gurih, lalu duduk berdampingan sambil ngobrol.

“Luhan, gue tahu apa kerjaan yang cocok buat lo,” senyum Lay penuh keyakinan.

“Apa?”

“Jadi pesulap,”

“Kenapa kok jadi pesulap?” Luhan bingung, dia pun garuk-garuk gigi.

“Karena lo bisa nebak apa kartu yang diambil, bisa tahu apa yang ada di otak orang-orang. Lo jadi pesulap keliling aja!” katanya penuh semangat. Pake tepuk-tepuk tangan segala.

“Oh, bener juga usul lo, Lay. Hmm… berarti gue musti nentuin mantra yang kece. Jangan abrakadabra, itu mah udah basi. Makasih, ya, Lay. Lo emang sobat gue.” Ucapnya sambil epuk-tepuk punggung Lay  berlebihan.

“Nah, kalo gue pantesnya kerja apaan, yak?” pikirnya.

“Lo kan bisa nyembuhin, nah, gimana kalo lo jadi tabib aja. Pasti laris manis, deh,” ungkap Luhan sambil nyengir pamerin giginya yang begitu indah (menurut author)

Berdua ngerasa sudah puas dengan pilihan kerjaan mereka, dan mereka pun tidur.

.

.

.

.

Di kamar D.O dan Kai, terjadi perdebatan.

D.O bingung mau kerja apaan. Dia punya tenaga yang luar biasa kuatnya, meski badannya bogel, tapi sekali tonjok atau sekali hentakan kakinya bisa bikin orang mampus seketika.

Kalau Kai, dia juga nggak tau mau kerja apa.

Kata D.O, Kai cocok jadi rampok. Masuk bank, nyolong duit terus ngilang, deh. Dijamin polisi bakal kebingungan nyari bukti-buktinya.

Kai mencak-mencak sambil lemparin D.O pake bantal. Mana dia terima disuruh jadi rampok.

“Mendingan gue muncul tiba-tiba di kamar mandi cewek, kan lebih seru!”

Dan giliran D.O yang lemparin Kai pake bantal.

“Dasar mesum!” dan Kai cuman ngikik.

Mereka tidur dalam kondisi galau. Nggak tahu besok harus ngerjain apa.

.

.

.

.

.

Beralih ke kamar Suho dan Sehun. Si magnae itu lagi tiduran sambil gigitin kuku. Suho mondar-mandir sambil mikir.

“Aha! Gue tahu musti kerja apaan!” katanya dengan meninju udara.

“Jadi apaan? Tukang cuci mobil?” celetuk Sehun dengan suara sengaunya

“Idung lo mencong, Hun! Gue kapok jadi tukang cuci mobil. Waktu itu gue nyuci mobil mercedes eh yang punya malah ngamuk-ngamuk dan ngancem mau cekek gue sampe mati,” muka Suho keliatan ketakutan.

“Memangnya situ ngapain?” Sehun tiba-tiba tertarik.

“Karena gue cuci sampai ke dalem-dalem mesinnya, ke joknya, pokoknya tiap bagian mobil gue siram aer.” Jawabnya dengan muka polos.

Sehun awalnya cengok, abis itu ngakak sampe terkentut-kentut, yang akhirnya bikin seisi kamar itu berhamburan ke sana kemari.

Suho nggak sempet tanya tentang apa yang bakal dikerjain Sehun, karena dia udah keburu pingsan.

.

.

.

.

.

Dua cowok beda ukuran lagi cekikikan di kamar. Cowok bermata sipit lagi nulis-nulis tentang pilihan kerjaan buat besok. Cowok satunya yang giginya gede-gede ngasih ide-ide aneh buat kerjaan si mata sipit.

“Lo cocok jadi tukang jualan lampu, Baek.”

“Mentang-mentang gue bisa hasilin cahaya, gitu? Nah, kalo lo mau kerja apaan? Bikin rumah-rumah kebakaran, terus manggil Suho buat madamin apinya? Ya, itung-itung ngasih lapangan pekerjaan buat Suho.” Ceramah Baekhyun.

“Yang ada gue dibejek-bejek makhluk bumi, Baek. Ngasih usul nggak jelas gitu! Gue mau kerja apaan, yak? Bingung gue.” Meski hati galau, tapi bibirnya tetap senyum. Dasar orang stress. =_=a

“Tidur dulu aja, Yeol. Besok sambil jalan kita mikir, deh. Met bobo, Yeollie,”

Dan mereka pun terlelap.

.

.

.

.

Kris duduk di tepi ranjang, mijit-mijit pelipisnya yang nyut-nyutan. Chen santai aja. Dia sudah mapan di tempat tidur. Siap-siap mau molor.

“Chen, lo udah tau besok mau kerja apaan?” tanya Kris yang penasaran dengan ke-santai-an temen sekamarnya.

“Ho’oh!” sahutnya singkat padat ringkas.

“Gue belum tau mau kerja apaan. Kasih ide, dong,” desaknya.

“Ngondek aja, bang! Gue ngantuk. Good night,” dan cowok penghasil petir itu ngadep tembok dan tidur.

Kris saking suntuknya gegara nggak nemu kerjaan yang cocok sama kekuatannya itu akhirnya nggak bisa tidur nyenyak. Dia mimpi dikejar-kejar alpaca raksasa. (apa hubungannya?)

.

.

.

.

Pagi menjelang, mentari berseri-seri menebar cahayanya yang menyilaukan mata. Semua penghuni dorm EXO sudah mandi dan siap berangkat mengais rejeki yang halalan thoyyiban.

Kris lagi dicurigai temen-temennya. Mereka ngeliat Kris pakai setelan jas kayak mau kondangan.

“Lo mau kerja apaan, Kris?” tanya Suho penasaran.

“Jadi waiter, ya?” celetuk Xiumin usil.

“Oh, gue tau! Lo pasti mau jadi resepsionis di hotel!” tebak Tao sambil pamerin tendangan memutarnya.

“Silakan tebak. Kalian salah semua. Gue ada kerjaan penting, dan elit. Gue mau ketemu seorang pengusaha sukses. Dan gue mau kerjasama bareng dia. Wish me luck, guys, gue cabut dulu.” Dan dengan kekuatan terbangnya, Kris melompat dan meluncur ke langit.

“Wah, si Kris udah pergi. Ayo, kita juga menjajal keberuntungan kita. Let’s go!” Suho merintahin semuanya buat pergi ke tempat tujuan masing-masing. Dan mereka janji bakal pulang ke dorm seminggu lagi, setelah semua mantep dengan pekerjaan masing-masing.

.

.

.

.

Seminggu kemudian

.

.

.

.

Semua sudah kumpul di dorm. Masing-masing sudah siap ngumbar pekerjaan mereka.

Pertama Baekhyun yang dengan pede segede gigi Chanyeol, maju ke tengah lingkaran. Ceritanya mereka duduk melingkar gitu.

“Lo kerja apaan, Baek?” tanya Chanyeol, sahabat dekat Baekhyun.

“Gue pertama kerja itu jadi tukang benerin lampu jalan yang rusak. Jadi gue transfer kekuatan cahaya gue ke lampu itu, dan nyala lagi. Eh, ternyata ada pengusaha lampu bohlam yang lewat dan liat gue benerin lampu. Gue diajak ke pabriknya, dan gue kerja di sana. Benerin bohlam-bohlam yang rusak. Bahkan gue bantu bos gue buat bikin lampu yang nggak bakal mati, berkat kekuatan gue yang diinfus ke dalam lampu.” Jelasnya dengan dada membusung.

“Wow, berarti lo gajinya gede, dong?” celetuk Suho. Dia berharap Baekhyun bisa gantiin posisinya sebagai orang yang selalu keluarin duit buat urusan dorm.

“Cukuplah buat beli mobil mewah sama rumah besar yang ada kolam renangnya,” balasnya agak nge-sok.

Sambil petantang petenteng, Baekhyun duduk lagi di sebelah Chanyeol.

“Oke, sekarang gue!” Xiumin mendadak berdiri di tengah lingkaran.

“Lo nemu kerja apaan, Min?” tanya Luhan yang lagi guntingin kuku kaki Sehun yang udah panjang-panjang dan item-item.

“Gue jadi juragan es buah. Es cendol, es campur, dan lain-lain.” Ungkapnya bangga.

“Lo bikin kedai gitu, ya?” Chen bertanya.

“Nggak. Gue jual es keliling,”

Semua ber-hoo ria. Meledek Xiumin yang hanya jadi penjual es keliling.

“Kalo lo kerja apaan, Luhan?” serang Xiumin.

“Gue jadi pesulap, dong!” jawabnya sambil nyengir.

“Ah, curang lo! Kan, lo bisa tahu isi pikiran orang.” protes si penjual es keliling.

“Gue selalu bisa nebak apa yang ada dalam otak mereka, akhirnya banyak yang penasaran dan berusaha ngetes gue, maka pemasukan gue jadi banyak, deh,” jelas Luhan.

“Mantranya apa? Alakazam? Abrakadabra?” Sehun nanya dengan ekspresi penuh harap.

“Bukan, Sehun. Tapi kayak gini. Ehem.. ehem… di bantu yaaak, bin salabin jadi apa… prok prok prok…” Luhan meragain mantranya sambil nggak absen pamerin giginya yang menyembul indah dari sela-sela bibirnya yang agak-agak monyong dikit dan bikin author pengin kecup. (bunuh authooooooorrrrr)

“Saolooooooh, noraknyaaaa!” ledek Lay yang lagi nyoba nyembuhin kaki semut yang keseleo karena keinjek Chanyeol.

Luhan cuek aja, nggak nanggepin komentar Lay. Dia duduk lagi di sebelah Sehun.

“Lay, lo kerja apa?” tanya Kris yang sejak tadi duduk ngeliatin teman-temannya bahas tentang kerjaan mereka.

Lay berdiri sambil dadah-dadah ganjen.

“Heh, lo bukan lagi di atas panggung di depan fans. Aneh, tauk!” sembur Kris sambil kibasin tangannya, nyuruh Lay cepetan.

Lay nyengir unicorn sebelum ngejawab, “Gue kerja sebagai tabib, sinsei dan ahli pengobatan tenaga dalam, gue mangkal di jalan Peradaban Runtuh no. 90. Kalo lo sakit mampir aja ke sana, ntar gue kasih tiga perempat harga.” Promosinya persis sales gagal.

“Ah, pekerjaan lo nggak asik. Ngadepinnya orang penyakitan mulu,” dengus Kai ngeledek.

“Bawel! Memangnya kerjaan lo lebih bagus dari kerjaan gue?” sembur Lay yang tersinggung sama pernyataan Kai.

Kai cengar-cengir nyebelin, “Gue kerja di jasa pengiriman barang. Gue keliling dunia demi nganterin paketan. Asik, kan?”

“Ah, songong lo, jadi jongos aja bangga. Jong-In = Jong-Os, pas tuh!” cecar Lay. Kai siap nyambit Lay pake dispenser yang nggak pernah kepake. Untung ada Kris yang melototin Kai.

Kai pun duduk, giliran Chanyeol yang mau cerita tentang kerjaannya,

“Umm… jangan pada ketawa, ya! Awas!” setelah semua janji nggak akan ketawa, dia pun ngelanjutin, “Gue jualan jagung bakar, ubi bakar, ubi cilembu, uli bakar, ayam bakar, ikan bakar, dan serba bakar-bakar lainnya,”

Semua memang nggak ketawa, tapi muka mereka sudah merah marun saking kuatnya nahan tawa.

Chanyeol sudah keluarin api di tangan, siap nyembur siapapun yang ketawa.

Akhirnya semua orang terpaksa nelen tawa mereka mentah-mentah.

Suho maju dengan wajah teduh dan adem mirip tisu basah buat bayi.

“Gue buka depot air isi ulang. Nama depot gue keren, lho. Mau tahu?”

“Nggaaaaaaak.” Jawab mereka bersamaan. Suho melotot.

“Namanya SUHOQUA. Murah lho, per-galon cuman tiga ribu lima ratus. Beli sepuluh kali, dapet bonus satu kali gratis.” Lagi-lagi promosi.

Mereka ngangguk-ngangguk nggak minat.

D.O mojok, dia malu buat maju. Akhirnya Chen yang maju.

“Hai, teman-teman. Apa kabar? Lama ya nggak ketemu,”

“Woy, basa-basinya cukup! Kerjaan lo, kerjaan!” sergah Kris yang sudah nggak sabar pengin pamer usaha barunya.

“Gue dapet kerjaan sebagai penyanyi keliling. Sekalian jadi tukang listrik, yang bantuin PLN kalo ada gangguan.”

“Huakakakaka pengamen? Tukang listrik? Huakakakakakakakaka.” Baekhyun dan Chanyeol sudah guling-gulingan sambil ngakak-ngakak.

Chen yang tersinggung itu pun nyerang bokong Chanyeol dan Baekhyun dengan sambaran petirnya. Duo berisik itupun terdiam satu bahasa, bahasa hati.

“D.O, lo malah mojok, sih? Kebelet boker, ya?” celetuk Baekhyun yang udah ngikik bareng Chanyeol menanti pengakuan D.O tentang pekerjaannya.

“Ayo, D.O, maju! Lo ceritain tentang kerjaan lo,” kata Suho sambil narik pergelangan tangan D.O biar bangun dari duduknya.

D.O malu-malu maju, ekspresi mukanya nelangsa banget. Persis murid yang disetrap bu guru yang galak.

“Unnnggg… gue kerja… uhmmm… buka kursus masak buat ibu-ibu kompleks Bumi Hangus Permai.” Jawabnya lirih. Dia malu karena kerjanya dikelilingi ibu-ibu gembrot yang suka ngegosip. Bahkan ada beberapa ibu yang suka godain dia. Ya, ibu-ibu ngecengin brondong gitu. (jangan liatin author, woy!)

“Oh, jadi lo kerja bareng emak-emak, dong? Yang tabah, ya.” ucap Kai sok prihatin. Padahal dalam hati dia ngakak ngangkang-ngangkang.

“D.O, Kai ngetawain lo, tuh,” celetuk Luhan usil. Kai melotot dan mukanya langsung mendadak putih kayak habis pake krim muka yang kadar mercury-nya tinggi banget.

“Kai! JANGAN KABUR!” raung D.O dan nerjang Kai, tapi cowok seksi itu sudah keburu hilang, dan D.O malah nubruk tembok hingga dindingnya ambrol.

Giliran Kris dan Suho yang nguber D.O dengan semburan air dan api. Akhirnya dua leader itu malah berantem sendiri.

“Kenapa lo matiin api gue, dodol!” pekik Kris yang rambut dan badannya basah kuyup.

“Ya bukan salah gue, api lo nggak water resistance!”

“Emang lo pikir jam tangan apa?”

Dan mereka beradu mulut.

D.O pelan-pelan masuk ke kamar dan kunci pintunya.

Setelah tenang. Kris nyuruh Sehun maju dan lapor tentang pekerjaannya.

Sehun sudah berdiri di tengah ruangan, dengan Luhan ngasih yel yel norak yang bikin Sehun malu setengah hidup.

Luhan akhirnya diam setelah mulutnya di sumpel gumpalan es sama Xiumin.

Dengan tatapan penuh rasa terima kasih, Sehun mulai cerita.

Semua orang terheran-heran sama jenis kerjaan yang dijalani Sehun. Kenapa nggak milih kerjaan lain yang lebih keren?

“Karena gue pengin nerusin bisnis nyokap gue waktu di EXO-Kampung. Gue rindu nyokap gue, guys.” Sahutnya sendu, sesendu langit hari itu yang tampak begitu muram dan mendung.

Semua berdiri dan peluk Sehun rame-rame. Baekhyun malah iseng-iseng elus-elus pantat tepos adik kesayangannya itu. Luhan yang lihat tangan jahil Baekhyun, dengan gemas cubitin pinggang cowok yang punya cita-cita bikin pabrik eye-liner itu.

Tao lagaknya kurang lebih sederajat sama D.O.

Diam.

Anteng.

Persis orang nahan mules.

Xiumin yang punya sejumput jiwa usil itu pun manggil Tao dan suruh dia maju dan cerita.

Perubahan air muka Tao dari bingung jadi nyureng itu bikin suasana hening.

“Kalian mau Tau apa kerjaan gue? Jadi biar kalian punya bahan becandaan, gitu? Nggak sudi! Gue mau tidur.” Dengan langkah panjang, Tao masuk kamar dan nggak lupa gebrak pintu sampai engselnya bergoyang.

“Kenapa dia? Reaksinya heboh banget.” gumam Suho sambil colek-colek ketek Kris. Niat hati Suho pengin colek pipi Kris, tapi yang dekat mukanya justru ketek Kris, ya sudah, nggak colek pipi, ketekpun jadi.

I have no idea. Gue bukan mind reader. Ayo tanya Luhan!” kata Kris sambil noleh ke arah Luhan yang sedang garuk-garukin punggung Sehun yang ada panunya. (perasaan Sehun dinistain mulu dari tadi.)

“Gue nggak bisa baca pikiran Tao, Kris. Dia punya ilmu nge-block pikirannya dari dalam.” Jelasnya dengan tampang mengecawakan.

“Oh, oh! Gue tahu! Gue tahu!” Chanyeol tiba-tiba lompat sambil tepuk tangan. Matanya bulat sempurna saking semangatnya.

“Apa, Yeol?” tanya Kris dengan muka datar.

“Jangan-jangan dia jadi mucikari!” bisik Chanyeol. Seolah-olah lagi syuting film horor gitu gayanya. Matanya lirik kanan kiri, air mukanya serius.

“Ah, mana mungkin! Justru yang perlu dicurigai kerja begituan yang si Kris. Liat aja pakaiannya waktu itu. Setelan jas yang necis dan kece. Ya, kan, Kris?” Chen muncul dengan asumsinya. Kris hampir cabik-cabik Chen dengan kuku-kukunya yang baru diasah.

“Jangan ngaco, deh, Yeol. Mana mungkin Tao yang sopan itu punya indikasi kerja gituan? Bisa jadi dia adalah gigolo? Kan, banyak ibu-ibu kesepian yang butuh belaian lelaki. Dan karena Tao punya kriteria sebagai cowok seksi dan bergairah, mana ada wanita, maupun *batuk* pria *batuk* yang bakal nolak?” Baekhyun makin ngaco asumsinya.

Kris dan Suho kompakan gelitikin ketek Baekhyun pakai wadah eyeliner. Dua leader itu yakin seyakin-yakinnya bahwa nggak ada satupun di antara mereka yang bakal milih pekerjaan rendahan macam itu. Hmm… kecuali Kai, mungkin? (plaaak)

“Sekarang giliran Kris. Lo usaha apa, nih?” Lay duduk bersila di lantai, matanya berkilat jahil. Siap-siap mau ngeledekin pilihan pekerjaan Kris. Dia dan Luhan sudah lirik-lirikan penuh arti. Dan Kris nelen ludah. Dia tahu banget apa yang bakal terjadi kalau dua makhluk berhuruf ‘L’ itu berkolaborasi.Disaster! Itu yang bakal terjadi.

“Gue bikin usaha frenchise yang nguntungin banget.” jawab Kris setengah-setengah.

“Franchise apa, nih?” tanya Lay. Mata berkilat usil dan bibir nyengir,

“Ada, deh.” Sahut Kris sambil angkat bahu.

“Pelit!” sembur Luhan dan Sehun.

“Biarin! Yang penting halal!” Kris ngebela dirinya sendiri.

“Sudah malem. Ayo tidur! Besok kita harus kerja lagi!” Suho bubarin massa dengan sekali senyum.

Senyum yang mengancam. Karena kalau nggak nurut, saat itu juga orang itu bakal disiram air sampai basah kuyup hingga ke celana dalemnya.

Masing-masing masuk ke kamarnya dan melepas lelah setelah seminggu berada jauh dari rumah.

.

.

.

.

Sebelum matahari mejeng di langit, semua alien tampan itu sudah bangun dan lagi sarapan. Begitu matahari sudah menampakkan diri, para penghuni dorm itu berangkat kerja. Mereka menyebar ke segala arah mata angin. Ada yang ke timur, ke selatan, barat, utara dan lain-lain.

Kebetulan hari itu Kai nggak banyak kerjaan. Pengiriman barang lagi sepi. Mungkin karena tarifnya yang mahal atau apa, Kai nggak terlalu peduli.

Akhirnya dia mutusin buat keliling dan nyamperin tempat kerja temen-temennya.

Pertama dia ke tempat Suho.

Depot milik leader EXO-K itu bersih dan higienis. Dia lihat Suho lagi ngisi air ke dalam galon yang ada tempelan stiker gede dengan tulisan SUHOQUA – PURE AND HEALTHY.

“Healthy dari mananya? Orang itu tangan bekas ngupil dan cebok. Yaiks!” gumam Kai pada dirinya sendiri waktu lihat Suho ngucurin air jernih dari tangannya ke dalam galon.

“Suho, lo mau ikut gue?” tawar Kai yang lagi bantuin Suho ngangkat galon. Dia mau nganter galon itu ke suatu tempat.

“Hmm… boleh, deh. Tapi anterin galon ini dulu, Kai.” Dan Suho nutup depot airnya, lalu ikut Kai. Dengan kekuatan teleportasinya, Kai dan Suho menghilang dan muncul di sebuah tempat. Di depan mereka ada gerobak soto.

Bisa dibayangin gimana kagetnya Kai waktu lihat nama di gerobak itu.

“Galonnya bawa masuk, gih,” Suho ngedorong bokong Kai biar masuk ke warung itu.

Ragu-ragu Kai masuk, “Permisi. Mau nganterin air minum, nih,” katanya sopan kepada seseorang dengan topi rajut. Persis amang-amang yang jagain villa di puncak.

“Ajdvdbc hgcvbcsdjhc KAI?!!!” Kris syok dan speechless.

“Hai, Kris,” sapa Kai dengan muka licik. Akhirnya dia tahu apa franchise Kris. Ternyata dia beli hak jual soto ayam punya seorang pengusaha soto ayam yang punya cabang di 30 negara. (?)

“Awas kalo lo bilang sama yang lain! Gue gosongin kulit lo!” desis Kris dengan gigi terkatup.

Kai ngangguk sambil nyengir. Dan Kris tahu, dia nggak akan selamat. Siap-siap nanti malam dia diledekin dan dinistakan.

Setelah makan soto ayam lima mangkok, Kai dan Suho mau lanjutin silaturrahmi mereka ke teman-teman yang lain.

Suho yang ngerasa tenggorokannya sakit pun pergi nyamperin Lay yang lagi sibuk transferin tenaga dalamnya ke tubuh seorang nenek-nenek keriput yang dari tadi senyum-senyum mulu sambil natap Lay. (nenek girang)

Setelah ngurusin semua pasiennya, Lay pun bisa fokus sembuhin radang tenggorokan yang dialami Suho.

Kai cuman minta dikasih transferan energi postif dari Lay.

Kai dan Suho berdiri di depan papan nama klinik alternatif Lay.

KLINIK YI XING FANG

Rupanya klinik Lay bisa nyanyingin ketenaran klinik TONG FANG yang beberapa waktu lalu booming karena bisa nyembuhin segala penyakit.

“Nggak nyangka, ya. Lay jadi ahli penyembuhan alternatif. Ah, memang selain dance dan nyanyi, Lay cocok jadi tabib.” Kata Kai. Suho ngangguk setuju.

Dari klinik Lay, mereka berteleportasi ke sebuah tempat. Ada sebuah tenda berwarna biru dengan hiasan bintang-bintang. Kai dan Suho masuk tenda itu, dan mereka disambut sama deretan gigi yang imut.

“Luhan!” sapa Kai sambil berjabat tangan khas cowok. (susah jabarinnya, =_=)

“Kai! Suho! Kalian mau ngetes kemahiran gue main sulap?” umbar Luhan kepedean.

“Kita udah tau trik lo, Han. Gimana penghasilan lo?” tanya Kai tanpa basa basi.

Luhan ngikik, “Penghasilan gue memuaskan. Banyak yang ke sini, minta saran, ramalan, bahkan lamaran pun nyasar ke sini. Pusing, sih, tapi seru aja bisa korek-korek isi pikiran mereka. Apalagi pas yang dateng itu cewek-cewek cantik. Dalam pikiran mereka, para cewek itu muji-muji ketampanan gue. Hahaha. Seru seru!”

Kai dan Suho ngerasa agak ilfeel sama kenarsisan Luhan. Berdua pun pamit mundur.

Si pengendali air dan si teleporter itu sudah berdiri nggak terlalu jauh dari sebuah rumah. teras rumah mewah itu dipake buat demo masak, dan di tengah-tengah kerumunan ibu-ibu itu ada cowok dengan celemek dan topi koki.

“Liat, D.O. ngadepin ibu-ibu genit. Nasib oh nasib,” kata Kai sambil tepuk-tepuk pundak Suho.

“Kita ajak dia juga, yuk,” usul Suho. Agak ngenes lihat D.O dicubitin pipi dan bibirnya ama ibu-ibu kompleks.

Kai tiba-tiba ngilang dari samping Suho, terus muncul lagi di belakang D.O.

Tanpa ngurusin para ibu-ibu yang jejeritan kayak lihat setan itu, Kai meluk D.O dari belakang, dan berdua ngilang.

Suho segera meluk Kai begitu cowok bermuka ngantuk itu muncul, lalu bertiga menghilang bagai ditelan udara.

Sebagian besar ibu-ibu itu pingsan.

Pasti karena lihat tiga hantu ganteng kali ya?”

.

.

.

.

Kai, Suho dan D.O ngerasa lapar. Dan mereka mampir ke sebuah tenda sederhana dengan tumpukan jagung dan ubi di satu sisi. Seorang cowok tinggi dengan muka bahagia selalu kayak dapet undian mobil mewah tiap hari.

Chanyeol dengan hati riang gembira, ngipasin jagung yang lagi dia bakar pake api yang muncul dari pori-pori telapak tangannya.

Ketiga temannya itu nungguin dengan sabar. Setelah selesai makan jagung bakar enak itu, mereka ngerasa haus.

Akhirnya sambil ngajak Chanyeol ikut serta, mereka pun nyari si penjual es keliling, Xiumin.

Mereka nemuin Xiumin di depan sekolahan SD. Anak-anak kecil pada berisik minta ini itu sama Xiumin. Untung Xiumin sabar, coba kalau yang jualan itu Kris, pasti anak-anak itu sudah jadi abu gosok.

Bel masuk kelas sudah bunyi, dan anak-anak manusia super berisik itu pun masuk ke sekolah lagi.

Xiumin bisa bernafas lega.

“Haiiii! Tumben pada nyamperin gue?” kata Xiumin.

“Bukan nyamperin lo, tapi kita haus dan pengin minum es. Bikinin es cendol satu, es campur satu, es doger satu, sama es teler satu, ya,” pesan Chanyeol.

“Beres!”dan dengan lincah Xiumin meracik semua pesanan itu.

Duduk nyender di batang pohon, dengan semilir angin yang berdesir tenang, keempat alien itu menikmati minuman dingin mereka.

Suho nawarin Xiumin buat ikut mereka ke tempat kerja Baekhyun dan Suho. Tapi Xiumin bilang kalau dia harus habisin dagangannya dulu.

Akhirnya Kai, Suho, Chanyeol dan D.O ngilang ke tempat pabrik tempat Baekhyun kerja.

Cowok sipit itu lagi nyalurin cahaya ke lampu-lampu bohlam. Kayaknya ngebosenin banget kerjaannya.

Makanya empat alien itu ngajak Baekhyun ikut ke tempat Sehun.

Setelah dapet izin dari bosnya, Baekhyun pun ikutan keempat temannya.

Berlima sudah sampe ke tempat kerja Sehun. Dan sontak aja semua melongo.

Jadi ini bisnis emaknya Sehun waktu di EXO-Kampung?

Suho, Baekhyun, Chanyeol, D.O dan Kai saling bertukar pandang.

“YA AMPUN SEHUN!!! JADI INI KERJAAN LO??” pekik Baekhyun dan Chanyeol histeris. Lalu berdua ndeprok di tanah dan ngakak guling-guling.

WARUNG BU SEHUN

  

Sebuah warung kelontong yang dikontrak Sehun. Meski sederhana, tapi dia punya niat mulia.

Semua barang yang dijual di warung itu harganya murah dan terjangkau.

Ke enam alien EXO-Kampung itu pun main-main di depan warung itu.

.

.

.

.

Tao berdiri dengan lengan terlipat di dada. Matanya garang. Sesekali dia niup sumpritan yang selalu dikalungin di lehernya.

“Yak, ke kiri dikit, pak! Stop stop! Ke kanan dua senti! WOY BEGO! Itu tiga senti! Kebanyakan! Mundur sedikit, yak yak cukup! Stop, pak! STOP! Dasar budeg!” omel Tao kesal.

Seorang bapak-bapak berkacamata dan berpipi tirus keluar dari mobil dan natap Tao tajam.

Meski jengkel, bapak itu keluarin uang receh dan ngasih ke Tao.

“Dasar tukang parkir edan!” semburnya. Tao ngangkat bahu dan masukin uang ke dalam saku.

Tiba-tiba listrik padam. Pencahayaan dari pertokoan di pinggir jalan dan lampu jalanan mati semua. Gelap gulita.

Tao sudah mau nyalain senter, tapi tiba-tiba ada cowok yang muncul.

“Tenang semua. Saya, Chen, akan membetulkan kerusakan yang terjadi,” dengan penuh percaya diri, Chen manjat tiang listrik dan nyari sumber kerusakan.

Mungkin sekitar lima menit, lampu di kota nyala lagi. Semua berkat tenaga listrik yang dihasilkan Chen.

Semua keprok-keprok dan menyeru nama Chen.

Tao dongkol, dan nendang sebuah motor yang diparkir di depan toko pakaian dalam, tempat mangkal favorit Tao. Lalu bagai efek domino, motor yang di sampingnya jatuh satu persatu.

Dengan kekuatan menghentikan waktu, Tao berhentiin waktu dan motor yang sudah berjatuhan beberapa buah itu berhenti. Lalu pelan-pelan Tao benerin kerusakan yang dia timbulkan.

Setelah itu waktu berjalan kembali, dan Tao terpaksa jadi tukang parkir dalam sehari. Besok mungkin dia mau ganti kerjaan.

Jadi tukang parkir di depan warung Bu Sehun atau kedai soto ayam Cak Kris. Jadi bisa jajan gratis.

.

.

.

.

Kurang lebih sudah dua bulan berlalu. Akhirnya surat perintah untuk latihan datang. Para alien yang lagi nyamar itupun bisa ngelepas pekerjaan mereka yang random itu demi persiapan kembalinya mereka ke ranah hiburan.

Comeback-nya EXO adalah peristiwa yang sangat dinanti-nanti penggemarnya. Jadilah mereka gunain semua tenaga dan waktu demi performa terbaik mereka nanti. Semua demi penggemar mereka.

Dan juga demi misi mereka kembali ke planet asal mereka. EXOPLANET.

THE END

 

A/N : Lucu nggak? Gokil nggak?

Kalo nggak, ya sudahlah, maklumin aja. Author akhir-akhir ini kan keranjingan nulis romance yang fluff. Jadi agak-agak lupa sama caranya nulis yang komedi.

 

Jangan lupa komen.

Aku lebih suka reader yang cerewet daripada yang bisu yang bisanya numpang baca doang.

Di gramedia aja nggak boleh numpang baca, kok. Di sini juga nggak boleh. Wkwkw

 

THANK YOU!!!!

 

Advertisements