*^*^*^*

*^*^*^*

Cahaya remang-remang yang berasal dari lampu bohlam berwarna kuning itu membuat kepala Kyungsoo pening. Yixing yang biasanya tenang, tampak gelisah dan mengomel selama setengah jam terakhir ini. Kyungsoo sempat gusar dan menyentak kakaknya agar diam.

“Kamu nggak khawatir sama Sehun? Jam segini belum pulang juga!” Yixing tampak begitu tak sabar. Kyungsoo menyuruhnya mengecilkan suaranya.

Pemuda berhati lembut itu heran dengan perubahan Yixing yang semakin tak sabaran. Apa mungkin karena Jongin?

“Aku khawatir, Yixing. Tapi Sehun bukan anak kecil lagi. Nggak lama lagi dia umur 18 tahun. Palingan dia ketemu Jongin lagi.” Sahut Kyungsoo bosan.

“Ah, Jongin. Gimana caranya biar dia balik sama kita lagi, Kyungie?” Yixing duduk bersila di depan Kyungsoo, dan menatapnya putus asa.

“Kita satu-satunya keluarganya, Xing. Aku yakin suatu hari dia bakal balik ke sini lagi.” Ujar Kyungsoo bijak.

Yixing tersenyum setengah hati, tapi berharap ucapan adiknya benar.

“Xing…”

“Hmm?”

“Aku masih penasaran sama kegiatan Sehun setiap hari.” Matanya menerawang.

Yixing mengedikkan bahunya cuek dan merebahkan tubuh kurusnya di atas lantai yang hanya tertutup tikar tipis yang sudah merampang di sana sini.

“Aaaaahhh…. Punggungku… pinggangku… Kyungie… aku makin tua…. Aaahhh….” Erangnya sambil meregangkan tubuhnya.

“Heh, aku lagi serius, nih!” Kyungsoo menegurnya sambil menendang pelan pinggang kakaknya yang meliuk-liuk demi menghilangkan rasa pegal di tubuhnya.

“Iya, deh. Sori. Jadi tadi kamu kepikiran tentang kegiatan Sehun setiap hari? Mungkin main sama teman-temannya?” celetuk Yixing sambil menguap lebar. Lingkaran hitam mulai tampak di bagian bawah matanya.

“Sehun nggak punya teman! Ah, payah kamu, Xing. Coba kamu selidikin, deh. Aku nggak bisa. Aku terikat sama kerjaanku,” ujar Kyungsoo.

Yixing yang sudah terlalu lelah, hanya mengangguk mengiyakan dan ia pun perlahan menutup matanya dan tidur.

“Uuuugghhhh!!!!” Kyungsoo menjambak pelan rambut Yixing, yang tetap cuek tidur tanpa bergerak sedikitpun.

Kyungsoo menatap kakaknya dengan kesal, tetapi tak bisa menggusur rasa sayang dan cintanya pada kakak satu-satunya itu. Tak bisa ia cegah, senyuman lembut menghiasi wajahnya. Dan tangannya terentang untuk mengusap lembut rambut halus Yixing yang sudah agak panjang.

“Bodoh!” umpat Kyungsoo penuh sayang, masih tetap tersenyum.

*^*^*^*

“Heh, kita mau ke mana, sih?” sentaknya dengan wajah manyun.

“Lo bawel banget, sih? Persis ABG puber!” matanya tetap fokus pada padatnya jalanan yang sedang dilaluinya.

“Sialan!” umpatnya sambil memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela mobil yang melesat mulus itu.

Kris mendengus dan terus menginjak gas, mempercepat laju mobilnya.

“Turun!” perintah Kris. Sehun mengernyit. Ia tidak suka nada suara bossy Kris.

Sehun turun dari mobil. Matanya menyapu pemandangan di depannya. Sebuah restoran yang unik. Semua terbuat dari bambu. Sungguh asri dan indah.

Kris mengajaknya masuk dan menghampiri satu bilik dengan pintu geser. Nuansa jepang terasa begitu dominan.

“Ini restoran jepang punya om gue. Lo bisa makan sepuasnya.” Ujar Kris.

Sehun memutar bola matanya, “Pamer, tsk.”

Kris pura-pura tak mendengar, dan ia memesan menu makan malam mereka.

Sehun menatap Kris nyaris tanpa berkedip, ia memerhatikan pemuda tampan itu sibuk dengan gadget canggihnya.

“Heh!” panggil Sehun.

“Hmm.” Sahut Kris.

“Kamu mau ngomong apaan, sih?”

“Sabar,” Kris masih tetap fokus pada gadget-nya.

Sehun tampak begitu bosan. Ia bersandar pada dinding ruangan persegi itu dan menggigiti ujung kukunya. Matanya masih saja menatap Kris.

Pintu geser terbuka, dan dua orang pelayan berkimono meletakkan pesanan di atas meja pendek yang biasa disebut ‘Tatami’. Makanan khas jepang sudah berjejer rapi di depan dua pemuda itu.

Kris benar-benar tak banyak bicara jika sedang makan. Ia hanya memberitahu Sehun tentang nama masakan itu dan komposisinya. Hanya sekedar informasi.

Sehun baru kali ini memakan makanan semacam itu. Awalnya ia merasa aneh karena semua menu itu begitu asing bagi lidahnya. Tetapi setelah merasa bahwa itu adalah kesempatan yang langka, maka ia melahap semua.

Setelah semua piring kosong, dan perut membuncit karena penuh, Kris akhirnya angkat bicara.

“Jadi gue sengaja bawa lo ke sini karena ada yang mau gue omongin, Sehun,”

“Mau ngomong aja, kok, harus jauh-jauh ke sini. Nggak penting banget, tau nggak?”

Kris memelototinya, dan Sehun hanya menatapnya datar.

“Gue laper, jadi gue ajak sekalian aja. Jadi gue mau bilang sesuatu yang menurut gue bisa ngerubah masa depan lo. Ya, itu tergantung niat lo juga, sih,”

“Yang bisa ngerubah masa depanku cuma duit, Kris. Duit yang banyak.”

Kris mengabaikan gerutuan Sehun yang menurutnya terlalu kekanakan. Dan ia melanjutkan,

“Lo pengin sekolah lagi?”

Sehun terdiam. Dan menatap Kris. Serius.

“Kamu ngehina aku?”

“Lo jadi bocah jangan tersinggungan gitu, sih? Kampungan banget! Gue tanya, lo pengin sekolah lagi, nggak?”

“Heh, wajar lah kalau aku tersinggung. Boro-boro buat sekolah, buat makan aja susah.” Sentak Sehun. Kris tetap kalem, meski ia sudah gemas dengan sikap kekanakan pemuda di depannya itu.

“Makanya gue mau bantu lo! Bokap gue ketua yayasan tempat gue sekolah, dan bokap gue setuju buat nyari donatur buat beasiswa untuk anak-anak putus sekolah, jadi mereka bisa sekolah lagi.” Jelas Kris. Ia berharap Sehun mau menerima tawarannya.

“Aku udah lama nggak kenal yang namanya sekolah. Terakhir itu pas lulus SD.”

“Nah, pasti lo pengin sekolah lagi, kan? Gue siap ngebantu lo biar bisa masuk sekolah gue.”

Sehun berpikir, berusaha mencerna tiap ucapan Kris.

“Berarti aku masuk kelas 1 SMP? Ogah bener! Aku udah hampir 18 tahun, kok.” Sergahnya.

“Lo bisa langsung masuk kelas 1 SMA, dengan syarat lo lolos tes.”

“Tes apaan?”

“Tes kehamilan! Ya, tes pelajaran lah. Ih, bego lo, ya?” sembur Kris kesal.

“Maksudnya itu tes pelajaran apa? Gitu aja sewot! Pantesan mukamu tua!”

Kris mengumpat saat remaja labil di depannya mengatainya tua.

“Pelajaran kelas 3 SMP sama kelas 1 SMA. Atau lo mau ikutan tes pelajaran SD?” balas Kris, makin menipis kesabarannya.

Sehun berpikir lagi. Ia sama sekali tidak ingin berhutang budi pada siapapun. Terutama pada seorang Kris.

“Tapi… aku nggak punya buku-bukunya.” Gumam Sehun.

“Tenang aja. Makanya gue mau ngomong serius sama lo tentang ini. Jadi ntar lo sepulang kerja, ikut ke rumah gue dan di sana lo bisa belajar sama guru privat. Sambil nunggu keputusan yayasan buat ngadain beasiswa baru. Gimana?” usul pemuda yang juga ketua club olahraga di sekolahnya.

“Mana sanggup aku bayar guru privatnya?”

“Lo itu bego atau tolol, sih? Yang perlu lo pikirin cuma belajar. Itu doang! Gimana? Lo mau, kan? Ini kesempatan bisa jadi sekali seumur hidup, dan kalau sampai lo tolak, berarti lo udah ngorbanin masa depan lo, masa depan kakak lo yang suka ngamen itu, dan kakak lo yang suka jadi kuli angkut di pasar. Oh, ya… sama saudara kembar lo yang demen mabok dan main perempuan itu. Seenggaknya lo bisa ngasih harapan cerah buat saudara-saudara lo.”

Sehun tersentak. Bagaimana Kris mengetahui tentang kondisi keluarganya?

“Kamu beneran stalker, ya?” Sehun memicingkan matanya, penuh curiga.

“Terserah lo mau nyebut gue apa. Yang jelas gue mau bantu lo,”

“Aku tau, kamu cuma mau pamer aja, kan?” ucap Sehun mencibir.

“Heh, gue gampar beneran mulut lo! Gue nggak perlu pamer, toh semua orang tau kalau gue dari keluarga tajir, yang harta warisannya bisa buat ngehidupin keluarga sampai 7 turunan! Seriusan, lo ngatain gue pamer lagi, siap-siap bibir lo jontor!” Kris tiba-tiba meledak-ledak sambil menggebrak meja, membuat Sehun mengerut di tempatnya sambil menggumam maaf berkali-kali.

“Kalo bukan buat pamer, terus ngapain?” tanya Sehun. Masih agak takut disembur lagi.

“Hhh… gue mau berbuat sesuatu yang bisa ngerubah hidup seseorang biar lebih baik. Dengan harapan niat baik gue bisa berlanjut ke orang-orang lain.” Kris sudah tenang dan tersenyum.

Sehun merasa menyesal telah berpikiran negatif tentang pemuda di depannya itu.

“Jadi, lo pikirin baik-baik. Ini bukan hanya demi masa depan lo, tapi keluarga lo juga,”

Sehun menggumam sesuatu yang tak begitu dipahami Kris, tetapi pemuda tinggi itu sudah bangun dan hendak meninggalkan restoran itu.

“Eh, nggak bayar?” tanya Sehun saat Kris hanya tersenyum pada para pelayan cantik itu.

“Ini restoran om gue. Dan gue udah bilang kalau gue mau nraktir temen. Hehehe.” Ia terkekeh bodoh sambil menggaruk kepalanya.

Sehun mengerang pelan dan mengikuti Kris ke tempat parkir.

*^*^*^*

Sekotak rokok melayang dan jatuh tepat di pangkuannya. Jongin mendongak dan mengucap terima kasih, lalu membuka bungkus rokok itu. Dengan luwesnya ia menarik keluar sebatang rokok dan menyelipkannya di antara jari telunjuk dan tengahnya. Tangannya bergerak anggun mendekati bibir penuhnya dan ujung benda bernikotin itu menyentuh bibirnya, Baekhyun mendekatkan pemantik dan menyulut ujung rokok satunya. Kedua pipi Jongin menjadi cekung saat ia menghisap benda beracun itu. ia memejamkan matanya, menikmati sensasi dalam mulutnya yang perlahan memasuki paru-parunya sebelum akhirnya ia mengembuskan asap berbau menyengat itu.

Jongin menghisap dan mengehembuskan asap rokok tanpa berbicara sepatah katapun. Baekhyun terlihat sedang menyikut lengan Tao yang duduk di sebelahnya. Berdua duduk menghadap Jongin. Tao mendesis memarahi Baekhyun, tetapi sambil melirik hati-hati ke arah temannya yang sedang asyik menghisap rokok.

“Udah, kasih tau aja. Buruan!” bisik Baekhyun gemas.

Gerakan mencurigakan dua pemuda itu membuat Jongin terusik dan menatap mereka dengan tajam. “Lo berdua grasak-grusuk nggak jelas gitu, sih? Ada apaan?”

Baekhyun menyenggol Tao lagi sambil melirik Jongin.

Tao menghela nafas panjang dan menegakkan punggungnya, membuat Baekhyun yang duduk di sebelahnya tampak mungil.

“Hmm… Jongin… gue ma…” Tao memulai tetapi dihentikan tiba-tiba oleh tangan Jongin yang terangkat, menyuruhnya berhenti.

“Berapa kali gue bilang, jangan panggil gue pake nama kampungan itu lagi! Gue Kai. Inget, KAI!” Jongin menjentikkan telunjuknya untuk membuat abu yang terbentuk di pucuk rokoknya jatuh ke tanah. Tatapannya begitu tajam dan dalam. Tao menggumam maaf sebelum melanjutkan.

“Kai. Lo nggak ada niatan buat balik ke keluarga lo?” tanyanya hati-hati, takut membuat Jongin mengamuk.

Dan reaksi Jongin kurang-lebih sama seperti dugaan Tao dan Baekhyun, remaja itu hanya mendengus dan terkekeh mengejek. Ia sama sekali tidak menjawab, Jongin malah menghisap kembali rokoknya dan mengerucutkan bibirnya lalu menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. Lingkaran-lingkaran cincin asap melayang di udara dan segera tersapu angin berhembus.

Tao berdehem dan membenarkan posisi duduknya. Ia tampak begitu gelisah dan sesekali menoleh ke arah Baekhyun, meminta dukungan. Baekhyun dengan cuek mengangkat bahunya dan sibuk sendiri dengan permen karetnya yang sudah ia kunyah sejak dua jam lalu. Meniupnya hingga membentuk balon kecil lalu menggigitnya, dan mengulanginya terus hingga Tao ingin sekali mengambil permen karet itu dan menutupi wajah Baekhyun dengannya, persis seperti masker wajah.

“Lo pasti sama sekali nggak tau kalau adik lo sering nyamperin tempat kita kalau malam, kan?”

“Adik gue? Sehun maksud lo?” Jongin merasa rokok yang ia hisap sudah tidak begitu menarik lagi. Ia membuang puntung rokok itu dan menginjaknya.

“Iya, yang tinggi, putih itu. Bukan yang nenteng-nenteng gitar waktu itu.” suara Tao terdengar lebih santai dari sebelumnya.

“Kenapa gue nggak pernah liat dia?” alisnya mengerut penuh tanya.

“Karena lo udah molor, Kai. Jadi Sehun itu tiba-tiba muncul, gue yang biasa tidur jam 3 pagi itu sempet kaget. Kirain itu mata-mata gerombolan preman musuh bebuyutan gue, tapi pas gue perhatiin lagi, gue inget kalau itu sodara lo. Kayaknya ada sesuatu yang mau dia omongin ama lo, Kai. Tapi dia nggak berani.” Jelasnya tergesa-gesa.

Jongin merenungan ucapan Tao sejenak. “Tiap malem?”

“Nggak juga, sih. Tapi seminggu ini hampir tiap malem.” Baekhyun ikut berkomentar.

“Lo nggak usah ikutan, Baek. Lo taunya juga dari gue. Lo kalau molor mah kayak kebo masuk angin, nggak bangun-bangun.” Umpat Tao sambil mendorong kepala Baekhyun dengan ujung jari telunjuknya. Baekhyun terkekeh.

“Ya udah. Ntar kalau dia nongol lagi, lo bangunin gue.” Ujarnya pada Tao.

“Beres, Kai!” sahutnya sambil tersenyum.

Mata Jongin beralih pada Baekhyun yang sedang menarik-narik permen karet yang pasti sudah hambar itu dari mulutnya, lalu memasukkannya lagi.

“Heh, Baek. Cewek yang kemaren mana?”

“Yang rambutnya panjang ikal itu?”

Jongin mengangguk sambil mengeluarkan sebatang rokok lagi.

“Oh, dia nggak mau sama lo lagi, Kai,” ia mengibaskan tangan kanannya sambil menyeringai.

“Kenapa? Service-nya kurang?” tukas Jongin yang sudah mulai menghembuskan asap berisi karbon monooksida dari bibir sensualnya.

“Bukan itu. Kalau soal service mah, lo udah jadi rajanya, Kai. Tapi duitnya. Dia bilang duit dari lo kurang.” Dengusnya. Setengah karena kesal,  setengahnya lagi karena iri. Jongin terkenal sebagai pemuda dengan pesonanya yang begitu seksi dan bisa membuat para gadis bertekuk lutut. Tetapi masalah keuanganlah yang sering menjadi kendala baginya untuk bermain-main dengan para gadis-gadis.

“Alaaaah… pake tawar-menawar harga segala, yang penting dia puas sampe jejeritan heboh gitu. Belum tentu ada cowok lain yang bisa bikin dia kayak gitu. Dasar cewek murahan kebanyakan gaya, tuh,”

Jongin bangun dari duduknya dan mengajak dua temannya untuk mencari uang. Kemungkinan besar akan mencopet atau apalah.

Meski berusaha cuek dan tampak tidak peduli, sebenarnya Jongin masih memikirkan apa yang membuat Sehun datang ke tempatnya.

*^*^*^*

Sehun duduk bersila di hadapan dua kakaknya.

Kyungsoo dan Yixing menatapnya sambil melongo. Mereka baru saja mendengar tentang tawaran Kris untuk membantu Sehun bersekolah.

“Wah, seriusan kamu? Whoaaaahahaha… akhirnyaaaa ada orang yang mau bantu kita,” seru Yixing sambil mengguncang bahu tipis Sehun.

“Ya ampun, Yixing. Kamu terlalu heboh. Sekarang kita pikir baik-baik, kenapa tiba-tiba dia mau bantu orang yang sama sekali belum dia kenal? Jangan-jangan dia ada niat jelek. Siapa tahu dia mau manfaatin kepolosan Sehun buat kepentingannya?” Kyungsoo menahan lengan Yixing yang terentang memegang bahu adiknya.

Yixing mengerjapkan matanya, dan tampak sedang mencerna ucapan Kyungsoo. Lalu ia mengangguk pelan sambil mengulum bibir bawahnya.

“Iya, juga, ya. Jadi enaknya Sehun nolak tawaran itu, ya?”

“Kak, Kris kayaknya bukan orang licik kayak gitu. Kalau yang tiba-tiba nawarin aku itu cowok songong yang sok sempurna, yang temennya Kris itu, ya udah pasti aku nggak bakal percaya. Masalahnya, Kris serius mau bantu aku. Katanya demi masa depanku dan masa depan keluargaku. Dia tahu semua tentang kerjaan kakak. Termasuk kelakuan Jongin di luar sana.” Sehun membela Kris, dan itu membuat Kyungsoo dan Yixing saling tatap.

“Oh, ya… Sehun, kamu tiap hari keluar pagi dan pulang sore itu ke mana aja, sih? Ngapain?” Yixing menyerangnya dengan pertanyaan yang jawabannya mungkin bisa membuatnya marah.

Sehun terdiam dengan wajah panik, ia mengedipkan matanya berkali-kali dan menjilati bibirnya.

“Nggg… hmm… aku… umm…” Yixing gemas karena Sehun hanya menggumam tak jelas, ia pun menyentaknya sedikit agar Sehun mau berbicara jelas.

“Maaf, Kak. Sehunkerjadikedaikopi, Kak!” ujarnya dengan kecepatan penuh.

“Apa? Ngomongnya yang pelan, Sehun.” tegur Kyungsoo.

Sehun begitu panik, ia menarik nafas dalam-dalam, menguatkan dirinya.

“Sehun kerja di kedai kopi, Kak.”

Yixing terbelalak, ia menutup mulutnya dengan tangannya. Terkesiap.

“Reaksinya nggak perlu selebai itu, Xing,” gumam Kyungsoo, “Sehun, sejak kapan kamu kerja di tempat itu? Bukannya aku bilang kalau kamu nggak perlu mikirin tentang keuangan kita. Itu biar jadi urusan aku sama Yixing.” suara lembut Kyungsoo membuat Sehun tak panik lagi, dan ia menatap kedua kakaknya dengan tatatapan minta maaf.

“Aku nggak mau jadi benalu, Kak. Makan, tidur, tanpa kerja apapun. Aku pengin bisa lebih berguna. Nggak mau jadi sampah kayak Jongin. Bukannya aku nggak sayang Jongin, Kak. Tapi sikapnya yang bikin aku muak sama dia. Dan aku ogah jadi seperti Jongin.” ucapannya begitu tenang dan tegas. Kyungsoo bernafas berat dan mengangguk lemah. Meski ia kecewa karena ternyata adiknya menutupi kegiatannya selama ini, tetapi Kyungsoo memahami kekalutan yang dialami adiknya itu.

“Oke, oke. Kembali ke urusan si kaya dan si miskin. Jadi kamu mau terima tawarannya, Sehun?” Yixing menghentikan pembicaraan tentang kelakuan Jongin.

“Nggak ada salahnya dicoba, kan, Kak?”

“Hmm… terserah kamu. Tapi saranku, kamu jangan terlalu berharap bisa sekolah di tempat itu. Levelnya beda, Sehun sayang. Jauh beda. Oke, adik-adikku. Aku mau ngamen dulu. Sampai nanti malam…. ciaaaao~” Yixing menggamit gitarnya dan memakai sandal jepit beda warnanya dan melenggang keluar dari rumah reyot itu.

“Hhh…. yang waras cuma aku doang, kayaknya,” desah Kyungsoo.

“Hahaha… ya, deh. Kak kyungie paling normal. Dan aku sayang kakak. Sekarang, aku keluar sebentar.” Sehun memeluk Kyungsoo sekilas sebelum ikut keluar menyusul kepergian Yixing.

Kyungsoo merebahkan punggungnya ke lantai yang keras dan menggunakan lengannya sebagai bantal. Ia menghembuskan nafas berkali-kali.

Ia memikirkan tentang kebaikan Kris. Benarkah pemuda itu ikhlas membantu adiknya?

Ia hanya berharap semua itu adalah nyata… bukan hanya mimpi semu yang suatu hari nanti akan menguap tanpa jejak, dan meninggalkan Sehun terpuruk tanpa bisa meraih apapun.

*^*^*^*

Pukul 5 tepat, sebuah mobil hitam mengilat terparkir di depan Sweet Memory Café, kedai tempat Sheun bekerja.

Pemuda dalam mobil itu mengerling jam digital di dashboard mobilnya. Sudah jam 5 lebih 6 menit, dan sosok kurus Sehun belum juga tampak.

Dengan gusar, Kris membuka pintu mobilnya dan keluar dari kendaraan itu. Langkah-langkah lebarnya mengantarnya ke dalam kedai yang sudah sepi pengunjung.

Ia bertegur sapa dengan putri pemilik kedai, Seohyun, dan menanyakan keberadaan Sehun.

“Sehun masih di belakang. Ganri baju, mungkin?” gadis manis itu menunjuk ke bagian dalam kedai yang ternyata masih terhubung dengan rumah utama.

Bagian depan bangunan itu digunakan sebagai tempat berbisinis, sedangkan bagian belakang merupakan rumah tinggal.

Dalam hati, Kris mengagumi kedai itu. Rasa kekeluargaan terasa begitu kental. Hubungan kerja antara bos dan pegawai lebih seperti sebuah keluarga yang rukun dan saling menyayangi, ketimbang hubungan kerja yang kaku.

Sehun beruntung bisa bertemu bos seperti itu, batin Kris sambil tersenym.

Selang beberapa menit, orang yang ditunggu akhirnya muncul juga. Sehun berpamitan pada bos dan putrinya, lali ia mengekor di belakang Kris.

Hening.

Suasana dalam mobil terasa kaku. Sehun terus-terusan menggigit bibirnya

“Ehem… jawabannya gimana, Sehun?” suara dalam Kris mengejutkan Sehun.

“Umm… aku udah bilang sama kakak-kakakku, dan mereka bilang, semua keputusan ada di tanganku,”

“Lalu?”

“Umm… aku mau nyoba. Tapi apa kamu yakin papamu bisa ngadain beasiswa itu?”

Kris berpikir sejenak lalu mengangguk.

“Apa kamu yakin rencanamu nggak akan gagal?”

Kris menganggguk lagi, tapi tidak seantusias sebelumnya.

“Kalau seandainya gagal, apa itu berarti aku nggak akan dapet kesempatan sekolah lagi?”

Kris termenung.

Keraguan Sehun ada benarnya juga.

Bukankah ini baru rencana?

Ayahnya baru akan mengajukan pengadaan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu.

Kris sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu.

“Gue usahain biar berhasil. Jadi mulai besok, lo belajar di rumah gue,”

Sehun menatap Kris yang wajahnya tampak lebih sempurna jika dilihat dari samping.

Dalam benaknya, ia memuji kebaikan Kris, tetapi ia juga merasa terbebani. Selamanya ia akan berhutang budi pada Kris, dan sampai kapanpun juga, ia tidak akan mampu menggantinya.

“Kok, diam?”

“h, sori. Hmm…. Besok, ya?” Oke!” Sehun tersenyum simpul, meski ada sesuatu yang melilit hatinya. Sesuatu yang dinamakan hutang budi.

Kris mengantar Sehun hingga depan gang. Sehun melarangnya memasuki kawasan kumuh itu. ia tidak ingin Kris menjadi sorotan warga miskin kampung itu.

Pemuda kaya itu memaklumi dan melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya di kawasan elit ibu kota.

*^*^*^*

Jongin mengerang malas saat pinggangnya disodok siku Tao dengan kasar. Ia terbangun sambil menggerutu dan memaki.

Tao menunjuk ke arah kegelapan malam dan Jongin benar-benar terjaga saat melihat sosok yang sedang menatap ke arahnya.

“Sehun….” Bisiknya parau. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

Rasa rindu teramat sangat menyerbunya. Ia ingin berlari mendekatinya, memeluknya dan mengucapkan maaf tanpa henti.

Perlahan ia berdiri, tanpa sempat memakai alas kakinya, ia mendekati adiknya yang terkesiap saat mengetahui bahwa dirinya telah tertangkap basah sedang berada di tempat itu.

Sehun berbalik dan hendak berlari. Ia takut akan dipukul Jongin, meski ia yakin bahwa saudara kembarnya itu tidak pernah sekalipun memukulnya.

Tetapi siapa yang bisa menjamin kalau sekarang Jongin masih sama seperti yang dulu?

“Sehunnie! Jangan pergi!” serunya memecah keheningan malam.

Tubuh remaja berkulit putih itu mematung. Memunggungi Jongin.

Sama sekali tidak bergerak.

Tiba-tiba bahunya disentuh Jongin. Barulah ia memutar tubuhnya menghadap Jongin.

“Kata Tao, lo sering ke sini,” ujarnya. Lebih terdengar seperti pernyataan dibanding sebuah pertanyaan.

“Iya…”

“Kenapa?” Jongin bertanya.

Sehun terdiam, hanya menatap wajah Jongin. Kedua pipinya tampak tirus, hingga rahangnya makin menonjol, lengan yang biasanya padat berotot itu tampak mengendur.

Hati Sehun bagai dipilin.

“Hanya mastiin kamu baik-baik, aja,” Sehun merasa jengah ditatap tajam oleh Jongin, ia menggesek-gesekkan ujung sepatunya pada tanah.

“Gue baik-baik, aja, Sehun. Sekarang lo bisa pulang. Jangan sampe lo dicelakain sama geng sebelah.” Jongin mendorong bahu Sehun, mengusirnya.

Sehun bergeming. Ia menatap balik saudaranya itu.

“Aku minta kamu ikut aku pulang sekarang!” tegasnya dengan tangan terkepal di samping tubuhnya.

“Apa gunanya gue pulang? Kita bisa tiba-tiba kaya, gitu?” cibirnya sambil meludah ke tanah.

“Kalau mau punya uang ya kerja. Bukan nyopet! Aku aja bisa kerja, kok. Gajinya bisa ditabung. Ayo, pulang, dan kita hidup kayak dulu lagi. Please, Jongin. Demi aku.” Sehun menarik tangan Jongin dan menggenggamnya erat, menatapnya memohon.

‘Demi aku’

Selesai sudah.

Hanya kalimat itulah yang bisa meruntuhkan kerasnya benteng hati Jongin.

Sejak jaman mereka masih kecil, Jongin akan selalu melakukan apapun demi Sehun.

Dan ia tak bisa menolak permintaan Sehun jika ia menggunakan senjata pamungkasnya itu.

‘Demi aku’

“Brengsek lo, Sehun! Apa istimewanya lo sampai gue selalu luluh sama permohonan lo?” Jongin mendengus. Tetapi matanya seolah tersenyum.

“Karena aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku. Kita ini saling melengkapi, Jongin. Nggak akan ada Sehun, kalau nggak ada Jongin. Tuhan ciptain kita sepaket.”

“Paket hemat!”

“Iya. Hehehe. Jadi… bisa kita pulang sekarang?” Sehun merentangkan tangannya, menanti tangan Jongin menggenggamnya dan menerima ajakannya.

Jongin menoleh ke belakang, ke arah Tao dan Baekhyun. Dua orang berbeda postur tubuh itu mengibaskan tangan mereka, seolah menyuruh Jongin pergi bersama Sehun.

“Berhubung teman-teman kampret gue itu ngusir gue, ya udah, gue ngikut lo, Sehun. Tapi… gue takut kalau Yixing nonjokin muka gue sampai bonyok. Ntar lo nggak punya saingan lagi,”

“Saingan apaan?” Sehun mengernyit.

“Saingan gantengnya. Hahahaha,”

“Kepedean kamu, Jongin!” Sehun menjambak rambut Jongin.

“Kak Yixing nggak bakal tega bikin mukamu bonyok. Tapi tetap kamu bakal kena amuk mereka. Kak yixing sama Kak Kyungsoo.”

“Biarin, lah. Memang gue pantas dihukum. Maafin gue, Sehun. Gue udah jadi contoh buruk buat lo. maaf,” Jongin memeluk Sehun dan mengecup dahinya. “Lo adalah soulmate gue selamanya. Hanya lo yang bisa bikin gue lemah seperti ini. Gue sayang lo, Sehun,” bisiknya sambil mengusap lembut punggung adik kembarnya.

Tao dan Baekhyun melakukan sebuah tarian konyol sebagai perayaan atas kembalinya Jongin pada keluarganya.

Mereka sudah lama ingin menyuruhnya kembali kepada keluarganya. Baekhyun dan Tao hidup sebagai yatim piatu semenjak usia antara 10-12 tahun. Sejak itulah mereka hidup sebagai gelandangan. Maka mereka agak kesal dengan keputusan Jongin meninggalkan rumahnya. Di saat dua pemuda itu sangat membutuhkan dan merindukan sebuah keluarga.

Sehun bercerita tentang pekerjaannya, pertemuannya dengan Kris hingga keputusannya untuk belajar demi mengejar impiannya menjadi pengusaha sukses.

Jongin merangkulnya gemas. Ia bahagia mendengar semua itu dari Sehun, dan ia berharap impian Sehun bisa terwujud. Begitu pula mimpinya yang sudah lama terkubur. Mimpinya menjadi seorang artis.

Yixing dan Kyungsoo hampir terkena serangan jantung mendadak saat Sehun membangunkan mereka dan melihat sosok Jongin sedang duduk di depan mereka.

Sehun menceritakan semuanya. Dan Jongin meminta maaf sampai menangis terisak-isak. Ia menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Yixing yang sudah bersumpah akan memukuli Jongin jika bocah itu muncul di rumah mereka pun merasa wajib melaksanakan sumpahnya.

Namun, ia hanya menampar pipi Jongin sekali. Cukup keras hingga meninggalkan jejak merah di pipinya. Tetapi Jongin merasa ia perlu mendapat tamparan seperti itu.

“Jongin, mulai besok, kamu ikut aku ke tempat kerja. Siapa tahu mereka butuh tenaga tambahan.”kata Kyungsoo seraya membenarkan posisi bantalnya yang sudah sangat tipis itu.

“Iya, Kak. Yang penting, gue nggak mau jadi pengangguran,” sahut Jongin.

“Xing, kamu tadi dapat duit berapa? Heh! Yixing! Yaelah, malah molor duluan!” keluh Kyungsoo yang gemas melihat kakaknya yang sudah mendengkur pelan itu.

Sehun dan Jongin terkekeh. Kyungsoo memelototi mereka, dan menyuruh mereka tidur.

Meski sudah tiduran, Sehun dan Jongin masih berbisik-bisik sambil sesekali terkekeh tertahan. Tidak ingin ditendang Kyungsoo jika sampai membuatnya terbangun.

*^*^*^*

Sehun memulai belajar privatnya dengan guru yang Kris bawa khusus untuknya.

Ayah Kris makin bersemangat membantu Sehun yang ternyata belajar begitu giat.

Dalam waktu dua minggu, Sehun sudah bisa menguasai pelajaran yang akan diujikan itu dengan baik. Matematika kelas 3 SMP dan kelas 1 SMA. Bahasa Inggris, science, dan lainnya.

Di akhir bulan Sehun sudah siap mengikuti ujian masuk sekolah.

Jongin, Kyungsoo dan Yixing berdo’a untuk yang terbaik.

*^*^*^*

Kris merasa begitu kecil dan payah. Usahanya untuk membantu Sehun ternyata gagal.

Permintaan untuk pengadaan beasiswa baru ternyata ditolak anggota yayasan. Alasannya pun sangat tidak relevan. Tetapi ayah Kris tidak bisa bertindak sendiri. Maka Sehun tidak bisa melanjutkan sekolahnya di sekolah tempat Kris belajar.

Sehun kecewa. Tetapi ia ingat ucapan Seohyun, kegagalan adalah awal dari kesuksesan.

Maka ia memutuskan untuk bekerja keras untuk menggapai mimpinya.

Biarlah kenyataan berkata apa, bagi Sehun bermimpi setinggi langit adalah sebuah motivasi untuk bisa maju.

*^*^*^*

Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi Sehun menjadi salah satu pengusaha tersukses di kotanya?

Atau Kyungsoo menjadi pemilik restoran terkenal dengan berpuluh-puluh cabang di negerinya?

Bisa jadi Yixing menjadi pemusik ternama bersama Chen, melakukan konser keliling dunia, dan meraih berbagai penghargaan musik?

Dan bukanlah mustahil bagi Jongin menjadi pemain film paling laris diperebutkan produser-produser film ternama untuk menjadi pemain utama?

Semua mimpi pasti bisa diraih dengan usaha keras, kegigihan, pantang menyerah, rendah diri, percaya diri dan ikhlas.

Bermimpilah… dan berusahalah untuk mewujudkannya.

THE END

 

A/N : fiuuuuuuuuuuuuhhhh… akhirnya kelar juga. Aku tau pasti para reader geregetan dengan endingnya yang menggantung, kan? Well, karena inti ceritanya emang bukan tentang masa depan Sehun, dll. Hehehe

Semoga FF ini bisa jadi motivasi buat para pemimpi. Dengan kerja keras dan pantang menyerah, insyaAllah semua bisa diraih.

Lihat anak-anak EXO. Mereka harus usaha keras biar bisa seperti sekarang.

Aku ingat cerita Taemin pas ikutan audisi. Dia yang dari keluarga kekurangan itu sampai pura-pura dengerin lagu pakai headset yang ujung kabelnya dimasukin kantong. Padahal nggak ada playernya.

Saking nggak bisa beli mp3 player. Tapi dia nggak putus asa, dan jadilah dia Lee Taemin yang kita kenal sekarang.

 

Masih banyak kok artis-artis yang dulunya nggak mampu, tapi karena kerja kerasnya mereka bisa sukses dan bergelimang harta.

 

Nothing is impossible.

 

Ciao~

Advertisements