*^*^*^*

A/N ::

Hey, wassup? I’m back with another EXO fanfic.

Kemarinnya aku bilang betapa aku bosen dengan cerita Angst (sedih) yang MEMBOSANKAN. Kenapa? Karena selalu berisi kematian pacarnya, yang mampus karena kena penyakit keras macam kanker darah, kanker otak atau kanker pita suara (?). Kalau nggak mati karena penyakitan, ya biasanya karena kecelakaan. Nah kalo nggak mati, maka pacarnya kena penyakit pikun alias hilang ingatan. Entah karena kelainan saraf atau kecelakaan. Selain itu angst-nya karena patah hati, diduakan atau diputusin. Intinya, temanya itu ituuu aja.

Kali ini aku nggak mau ngoyo bikin yang Angst, hanya saja, aku mau mengangkat kisah dalam kehidupan nyata yang merajalela di dunia ini. Tema yang bisa bikin kita terenyuh, karena banyak yang punya nasib seperti yang bakal aku ceritain di bawah ini. Mau dianggap angst yo monggo, mau dianggap fluff yo sekarep. Mau dianggap kasar atau mengada-ada yo terserah, aku horag huruz. Wkwkwkw.

Yang pasti, aku ogah tiru-tiru author kebanyakan. Aku mau bikin ciri khasku sendiri. Yang suka ya silakan baca dan tinggalkan kesan-kesan anda. Yang nggak suka, yaudah.. nggak usah dibaca. 😛 yang jelas jangan coba-coba ngebash. Ngasih kritik boleh, ngebash? Jangan harap bisa lolos. Bhuahahah.

WARNING :: karakter sama sekali berbeda dari karakter aslinya. Siap-siap sama yang antagonis.

Oke, author’s note-nya kepanjangan.

Sok atuh dibaca…

Hatur nuhun

^^v

*^*^*^*

 

                                                                      *^*^*^*

Seorang remaja bertubuh kurus dan berwajah tirus berjalan setengah menyeret kakinya menghampiri seseorang lagi yang sedang mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.

“Kak… aku lapar..” rengek remaja itu sambil meremas perut kurusnya.

“Sebentar lagi mateng nasinya. Sabar, ya.” suara lembut itu mencoba menenangkan adiknya.

Remaja itu mengangguk lemah dan kembali terseok menuju ruang tengah, yang juga merangkap sebagai kamar tidur.

Ia terduduk lemas sambil meringis menahan rasa lapar yang makin melilit lambungnya.

Hampir saja ia tertidur ketika ia merasakan bahunya ditepuk-tepuk lembut.

“Sehun, bangun. Ini nasinya udah mateng,” ucap seorang cowok.

“Ngh… iya, Kak.” Sahutnya seraya mengucek mata indahnya untuk mengusir rasa kantuk yang tadi menyergapnya.

Sehun duduk bersila dan ia menatap kecewa menu makan siang itu. Sang kakak mengenali tatapan adiknya itu dan ia menghela nafas berat.

“Maafin kakak, Sehun. Uang yang kakak dapetin kemarin itu dipakai Jongin. Jadi kakak nggak bisa sediain lauk yang lebih layak,” desahan berat nafasnya menggiring tiap frasa yang ia ucapkan. Ia merasa belum bisa menjadi kakak yang baik bagi Sehun, adik kesayangannya.

“Nggak apa-apa, kok, Kak. Yang penting masih ada yang bisa dimakan. Biarpun cuma nasi sama garam. Sehun ngertiin, kok, Kak. Tapi… memangnya Jongin mau pake uang Kakak buat apa?” ujar remaja berwajah tampan, tetapi terlalu kurus karena kurang makan itu.

“Kakak nggak tahu, Sehun. Jongin tadi pulang sambil ngamuk-ngamuk, terus dia rebut paksa dompet Kakak dan diambil semua duitnya.”

Rasa marah merayapi tubuh Sehun. Ia berhenti mengunyah nasi keras yang rasanya tidak enak itu. “Brengsek! Dia pikir Kakak nggak capek apa nyari duit tiap hari?” geramnya penuh emosi.

Cowok yang lebih tua itu hanya tersenyum lemah dan mengacak rambut Sehun. “Kamu makan aja, nggak usah ngurusin Jongin. Dia itu urusan Kakak.”

Sehun menurut dan menghabiskan nasi dengan lauk garam dalam piring plastik yang sudah agak meleyot.

Pintu yang terbuat dari triplek itu dibuka dengan kasar dan seorang remaja bertubuh atltis yang  menerjang masuk. Aroma keringat yang bercampur rokok menguar kuat dari tubuh remaja berkaos kumal itu.

“Kyungsoo, masak apa lo hari ini?” ucapnya tanpa rasa hormat sedikitpun kepada kakaknya.

“Heh, aku kakakmu, Jongin! Yang sopan!” sentak Kyungsoo, kakak Sehun dan Jongin.

“Gue tanya, lo masak apa hari ini?” ulangnya sambil sambil melempar sepatu bututnya ke pinggir ruangan.

“Aku nggak masak. Duit belanja, kan, udah kamu colong, Jongin!” sembur Kyungsoo geram.

Jongin hanya tertawa mengejek dan ia duduk di depan Sehun yang menatapnya penuh benci.

“Ngapain lo liat-liat? Heh, apa ini? Nasi garam doang? Seriusan lo, Kyungsoo? Lo suruh gue makan ini? Kucing depan gang aja nggak sudi makan ini!” raung Jongin sambil membalik bakul nasi hingga butiran-butiran putih itu berhamburan di lantai tak berkeramik itu.

Tangan Sehun sudah terkepal, ia sangat ingin menonjok mulut Jongin hingga gigi-giginya rontok. Namun, ia menahan diri. Sambil menahan emosinya, Sehun mengumpulkan nasi yang tumpah itu dan mengembalikannya lagi ke dalam bakul.

“Kerjaan lo apa, sih? Nyari duit aja nggak becus. Gue muak idup kayak gini terus. Idup sama orang-orang tolol yang nggak bisa nyari duit.” Jongin mengumbar kekesalannya kepada dua saudara kandungnya. Kyungsoo merasa sudah begitu muak dengan sikap Jongin. Ia tahu bahwa ia akan menyesali perbuatannya itu, tetapi Kyungso ingin memberi Jongin pelajaran.

Kyungsoo mendekati Jongin yang sedang mengacak-acak benda-benda dalam rumah itu sambil memaki, lalu sebuah tinju melayang mengenai rahang Jongin. Tak terlalu keras memang, tetapi cukup kuat untuk membuat Jongin terdiam dan memandang Kyungsoo penuh dendam dan benci.

“Gue pergi dari tempat sialan ini. Dengerin, ya, Kyungsoo. Gue nggak akan balik ke tempat brengsek ini lagi! Jadi lo nggak usah repot-repot nyariin gue! Gue sama sekali nggak butuh keluarga melarat kayak ini! Ingat baik-baik. Gue nggak akan balik ke sini lagi!” desis Jongin seraya memegangi rahangnya yang berdenyut-denyut.

Jongin mengambil barang-barang miliknya, yang terbilang hanya beberapa saja, lalu tanpa mengucap apa-apa lagi, ia pun pergi.

Dan tidak akan kembali lagi.

Air mata merebak. Nafas memburu. Sehun bangun dari duduknya dan memeluk Kyungsoo yang berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Sehun tahu bahwa Kyungsoo ingin menangis. Ingin meraung dan menjerit. Memaki Jongin, adiknya. Saudara kembar Sehun.

Sehun menangis. Bukan karena kepergian Jongin. Tetapi ia menangis karena tak sanggup melihat betapa menderitanya batin Kyungsoo.

“Aku pulang!” seru seseorang yang melangkah masuk melewati pintu triplek itu.

Pandangan mata orang itu jatuh menimpa dua sosok yang saling berpelukan.

“Kyungie, Sehunie? Ada apa?” tanya sambil meletakkan gitar dengan hati-hati di atas meja reyot.

“Jongin, Kak..” balas Sehun di tengah isakannya.

“Ngapain lagi dia? Kyungsoo… Jongin kenapa?” tanyanya pada Kyungsoo yang masih nanar menatap kehampaan.

“Jongin kabur, Kak.” Sehun menyahut.

“Kenapa dia kabur? Kyungsoo, jawab aku!”

“Aku tonjok dia, Yixing. Dia marah terus pergi. Dia nggak mau balik ke sini lagi. Dia udah muak sama kondisi kita, Xing. Dan aku sama sekali nggak mencegah dia ngelewatin pintu sialan itu! Aku kakak yang payah, Yixing.” Kyungsoo berbisik. Menyesali tindakan gegabahnya tadi.

Yixing tidak bertanya lagi, ia hanya merengkuh adiknya dalam dekapannya. Mengusap lembut punggungnya. Yixing mengedipkan matanya kepada Sehun, dan remaja berkulit putih itu segera mengambil segelas air minum dan membawanya untuk Kyungsoo.

Kyungsoo meminum habis air itu dan tampak lebih tenang.

“Kamu udah jadi kakak yang baik, kok, Kyungie. Memang dasarnya Jongin kelakuannya busuk. Aku heran, perasaan dia dulu nggak rusak kayak gini. Pasti pergaulannya yang kacau.” Yixing mencoba membesarkan hati adiknya yang agak sensitif itu.

“Kak Xing, Kak Kyungsoo, aku mau pergi sebentar. Suntuk di dalam rumah melulu.” Sehun berdiri di depan kedua kakaknya dan memasang wajah bosan. Kyungsoo dan Yixing mengiayakan permintaannya, dan dengan seuntai senyum, Sehun beranjak pergi keluar rumah mereka yang sangat sederhana dan seadanya.

Rumah yang terbuat dari lembaran-lembaran triplek dan papan. Hanya satu ruangan serba guna, bahkan kamar mandi pun sangat jauh dari kata layak. Bagi kakak beradik itu, ada sebuah tempat untuk berteduh itu lebih dari cukup. Tinggal dalam rumah yang lebih pantas disebut gubuk, itu lebih baik daripada jadi tunawisma dan tidur di kolong jembatan, di gang-gang sempit antar gedung, atau bahkan di emperan toko.

Yixing pun pergi untuk mengumpulkan uang untuk makan malam mereka. Kyungsoo bersiap untuk bekerja. Kerja serabutan, apapun itu yang terpenting adalah ia tidak melakukan pekerjaan yang melanggar hukum. Meski penghasilan tak menentu, Kyungsoo selalu optimis. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana bisa menyekolahkan Sehun kembali.

Adiknya yang penurut, sabar dan cerdas.

                                                                         *^*^*^*

Setiap hari, kaki Sehun selalu menggiringnya ke jalan yang sama. Setiap hari pula, remaja kurus itu berdiri di depan pagar sebuah sekolah menengah atas yang terbilang elit dan terkenal. Mata sayu Sehun mengamati bagaimana para siswa sekolah itu bermain bola, para gadis duduk bergerombol dan saling tertawa, beberapa remaja pria berkumpul dan bermain kartu atau apalah, Sehun tidak begitu tahu. Yang ada dalam pikiran Sehun adalah betapa bahagianya mereka. Pakaian bersih dan rapi, sepatu keren model terbaru yang harganya mahal, belum lagi kendaraan mereka yang begitu mewah. Bukan hanya itu saja yang membuat Sehun menelan ludah pahit, tetapi ia ingin menjadi bagian dari mereka. Bukan hanya dalam gelimang kemewahan, tapi juga dalam mengenyam pendidikan yang layak.

Sehun pernah bersekolah ketika orangtuanya masih tinggal bersama mereka. Ia bahkan menjadi juara kelas di tiap semester. Namun, semua berubah setelah ayah dan ibunya memutuskan untuk pergi meninggalkan anak-anak mereka. Sampai saat ini ia belum bertemu orangtuanya lagi. Sudah lima tahun lamanya mereka menghilang. Sebagai gantinya, Kyungsoo dan Yixinglah yang menjadi orangtuanya.

Sehun sudah lelah berharap untuk bisa bersekolah lagi. Baginya, ia tidak pantas untuk bermimpi muluk-muluk. Ia berasal dari keluarga yang serba kekurangan, sangatlah mustahil baginya untuk bisa bersekolah di tempat yang layak.

Ia bahkan melarang dirinya bermimpi tentang menjadi seorang penguasaha sukses. Karena kenyataan berkata lain. Bagi Sehun, mimpi hanyalah akan menjadi mimpi.

“Heh, gembel! Ngapain lo liat-liat kita?” Sehun tersentak kaget saat sebuah suara mengejutkannya.

“Maaf…” gumam Sehun salah tingkah.

“Lo pengin sekolah di sini? Jangan ketinggian mimpinya. Lo nggak akan sanggup bayar biaya masuk sekolah ini, mau lo jual badan kece lo itu pun nggak akan bisa bayar buat masuk sini. Hahahaha.” Kata-kata keji itu membuat hati Sehun sakit. Ia ingin memaki orang itu, tetapi ia bukan siapa-siapa. Selain itu mereka bisa mengeroyoknya jika ia melawan.

“Joonmyun! Bukannya udah gue bilang, jangan suka ngehina orang!” bentak seseorang yang bertubuh tinggi. Tertinggi di antara sekumpulan remaja itu.

“Dan bukannya udah gue bilang, jangan suka ikut campur urusan gue, Kris?” balas Joonmyun sambil mengibaskan poninya dengan sombong.

Cowok yang dipanggil Kris itu hanya mendengus.

“Joonmyun, menurut lo apa jadinya sekolahan kita kalau dimasuki orang-orang gembel macam dia, heh?” cowok berwajah imut-imut dengan gigi depan yang agak menyembul itu ikut menghina Sehun.

“Yang jelas, kalau sampai gembel macam dia masuk sekolah ini, gue segera angkat kaki dari sini, Luhan. Lo mau ikut?” kata Joonmyun dengan congkaknya.

Luhan menyetujui ucapan Joonmyun, dan ia pun ber-hige-five dengan temannya yang berbadan agak berisi dan seseorang lagi yang bertubuh tinggi dengan senyum yang memamerkan deretan giginya yang sempurna.

Bel tanda masuk jam pelajaran membuat para remaja congkak itu berbalik menuju gedung sekolah, tanpa lupa menghujani Sehun dengan hinaan dan umpatan.

Sehun menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Aku nggak boleh nangis. Aku nggak boleh nangis.

Ulangnya bagai mantra.

“Hmm… maafin temen-temen gue, ya. Mereka memang suka nggak mikir kalau ngomong. Oh, ya, ini buat beli buku atau apa aja,” remaja bertubuh jangkung dengan mata tajam itu menyodorkan beberapa lembar uang kepada Sehun.

Sehun menatap uang itu, lalu dengan tatapan terluka ia membalas , “Maaf. Aku bukan pengemis. Permisi!” dan Sehun berjalan cepat meninggalkan cowok tinggi bernama Kris itu melongo dan salah tingkah.

“Hey! Gue nggak bermak… sud… uuugghhh!!! Gue bego! Bego!” seru Kris saat Sehun sudah menghilang di tikungan terdekat. Ia menjitak kepalanya, menyesali kebodohannya.

 

                                                                       *^*^*^*

“Hai, Chen! Sori kelamaan nunggu. Tadi ada sedikit masalah di rumah. udah siap? Yuk, cabut!” Yixing menghampiri sahabatnya yang sedang duduk menantinya di ujung gang.

“Hehehe, nelangsa bener nasibmu, Xing. Udah melarat, banyak masalah di rumah pula. Ngenes, Maaan!” canda Chen, cowok berwajah sendu tapi gemar tersenyum itu.

Yixing terkekeh sambil mendorong bahu Chen. Berdua berjalan menyusuri jalan. Yixing memanggul gitar kesayangannya yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Chen tidak membawa apapun. Dengan santai ia melangkah berdampingan dengan Yixing. Teman dalam suka maupun duka. Dalam senang maupun sedih.

Chen, tempat Yixing berkeluh kesah, berbagi cerita dan berbagi mimpi. Mereka bersahabat dekat semenjak beberapa tahun silam.

“Kita mau ke mana dulu, nih?” tanya Chen.

“Hmm… terminal dulu, deh. Ini masa liburan, pasti rame di sana.” Sahut Yixing mantap.

Di terminal tampak banyak orang yang berbondong-bondong turun dari beberapa bus yang baru sampai. Di sana-sini tampak penjual asongan, yang sebagian dari mereka sudah kenal dengan Yixing dan Chen.

Yixing menarik tangan Chen dan mengajaknya mendekati segermbolan orang yang sedang makan di rumah makan sederhana.

Gemulai jemari Yixing menyentuh dawai gitar, memetiknya lembut hingga alunan melodi mengalir indah. Disusul kemudian suara merdu Chen yang mengiringi nada demi nada, irama demi irama, dengan syair-syair yang begitu menyentuh.

Para pengunjung rumah makan itu tercenung menatap dua pemuda tampan itu. Beberapa dari mereka ikut menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sesuai irama. Ada yang mengetuk-ngetukkan ujung kakinya seiring ketukan jemari Yixing pada gitarnya. Ada pula yang ikut menjentikkan jarinya mengikuti jentikan jemari Chen. Semua terhipnotis. Dan terseret dalam alunan melodi yang begitu cantik.

Chen menarik nafas panjang, dan disusul dengan tepuk tangan yang meriah. Mungkin tak semeriah tepuk tangan penonton konser musikus besar, tetapi tepuk tangan itu sudah mampu membuat Chen dan Yixing luar biasa bahagia.

Sebagian besar dari pengunjung rumah makan itu memberi dua pemuda itu uang, ada yang sedikit, ada yang cukup banyak. Dan Yixing serta Chen tak habis-habisnya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang itu.

“Wah, suara kamu memang is the best, Chen. Andai aku punya suara kayak kamu,” ucapnya sambil merangkul bahu Chen.

“Andai aku bisa main gitar selincah kamu, Xing. Pasti aku ngamen sendiri. Hehehe. Tapi nggak asik, ah. Enakan ngamen bareng kamu, Xing,”

“Oh, ya? Kenapa?”tanya Yixing dengan alis terangkat.

“Karena aku nggak harus capek nenteng-nenteng gitar. Hahahaha..” gurau Chen, membuat Yixing memukul pelan kepala Chen dengan gitarnya.

Mereka tertawa.

Meski hidup mereka jauh dari kata sempurna, tetapi selama mereka bisa memandang segala sesuatunya secara positif, maka hidup akan terasa begitu indah dan sempurna.

Pendapatan mereka belum cukup untuk menyudahi hari ini, maka Yixing dan Chen mencari tempat lain yang lebih strategis.

Tiba-tiba Chen berhenti dan menggamit lengan Yixing.

“Apaan, sih, Chen?” gusar Yixing.

“Itu… mirip adikmu, deh,” tunjuknya pada seorang remaja yang sedang nongkrong bersama beberapa temannya, yang tampak seperti preman.

“Jongin! Sialan, tuh, bocah! Kerjaannya nyusahin Kyungsoo melulu!” geram Yixing sambil berjalan dengan langkah lebar menuju tempat Jongin duduk.

“Heh! Anak kurang ajar! Maksudmu apa bikin Kyungsoo stres, hah?” bentak Yixing begitu kerasnya hingga membuat teman-teman Jongin tersentak dan saling tatap.

“Lo kenal dia, Jongin?” tanya seorang remaja bermata tajam dengan kantung mata hitam, menandakan ia kurang tidur.

“Nggak kenal, tuh, Tao. Palingan fans gue,” jawab Jongin cuek sambil membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu bodolnya.

Yixing menggertakkan giginya. “Chen, pegangin gitarku. Biar aku tonjok, tuh, mulut sampe ambrol gigi-giginya!”

“Sabar, Xing. Bicara baik-baik dulu. Jangan asal main bogem gitu. Nggak elit, Man!” Chen berusaha mencegah Yixing memukul adik kandungnya.

Jongin masih saja cuek akan kehadiran Yixing, seolah ia sama sekali tidak mengenal kakaknya.

Mata Yixing menangkap beberapa botol kosong minuman keras yang tergeletak sembarangan di dekat mereka.

“Kamu minum? Jawab aku, Jongin! Apa ngerokok kurang cukup ngerusak badan kamu? Sekarang kamu juga ikutan minum arak?” kesabaran Yixing sudah musnah. Hanya amarah dan emosi yang bergejolaklah yang mengisi tiap desir darahnya, tiap denyut nadinya dan tiap hembusan nafasnya. Sekujur selnya seolah ingin meledak karena terlalu besar emosi yang ia rasakan.

Namun, Jongin justru menanggapinya dengan santai.

“Sori, ya, Yixing. Gue udah nggak ada urusan apa-apa lagi sama kalian. Karena gue lebih nyaman idup bebas kayak gini daripada terkungkung dalam gubuk reyot sama kalian. Jadi gue mohon lo nggak ikut campur sama kehidupan gue lagi. Paham? KAK Yixing?” jawab Jongin dengan begitu ringan sambil menyelipkan tangannya ke dalam saku celana jeans belelnya yang bagian lututnya compang camping.

Yixing terkesiap, ia tak menyangka Jongin benar-benar serius ingin meninggalkan keluarganya dan hidup bersama pemuda-pemuda berandalan itu. Kilatan api dalam mata Yixing mulai meredup. Jongin sudah tak bisa diharapkan lagi. Ia harus bisa mengikhlaskan Jongin memilih jalan hidupnya sendiri, meskipun ia ingin mencegah adiknya itu dari jurang kehancuran, tetapi dalam diri Jongin sendiri tak ada sekelumit usaha untuk berubah menjadi sosok yang lurus-lurus saja.

“Oke, kalau itu yang kamu mau. Dan ingat Jongin! Kalau sampai aku liat kamu dekat-dekat rumah kita, aku nggak segan-segan tonjokin muka gantengmu itu sampai nggak bisa dikenalin lagi! Paham, Jongin?” tegas Yixing dengan ekspresi wajah yang begitu datar, bagai tak bernyawa. Chen menggigil ketika mendengar suara rendah Yixing, belum pernah ia merasakan aura Yixing seperti ini. Begitu tegas dan menyeramkan.

“Oh, tenang aja. Gue nggak ada feel buat deket-deket daerah kumuh itu lagi. Semoga kita nggak ketemu lagi, Yixing. Salam buat Kyungsoo dan Sehun,” Jongin menuntaskan kata-katanya sambil menepuk bahu kakaknya, yang memang lebih pendek darinya.

Yixing menggeret Chen untuk segera pergi dari tempat itu.

“Brengsek!” maki Jongin sambil membuka tutup botol minuman keras yang ia serobot dari Baekhyun, cowok bermuka polos tetapi berhati licik.

                                                                      

                                                                       *^*^*^*

Kyungsoo berjingkat masuk ke dalam rumah, sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara berlebihan. Ia tidak ingin membangunkan Sehun yang sudah bergelung di atas sehelai tikar tipis yang dialasi seprai yang begitu lusuh.

Yixing belum pulang.

Dalam hati Kyungsoo berdoa semoga Yixing membawa cukup uang.

Sambil bersandar pada dinding yang terbuat dari papan yang tidak begitu tebal itu, Kyungsoo merenung. Mencoba merangkai kenangan demi kenangan indah di masa lalunya, tetapi ia gagal. Karena seingatnya, ia tidak pernah mempunyai kenangan indah.

Mungkin ketika ibunya masih bersama mereka?

Tetapi yang ia ingat dari ibunya adalah sikap galaknya yang tidak sabaran dan sangat suka memukulnya.

Ataukah ketika ia bersama ayahnya berkeliling, membantunya membawakan perkakas bertukangnya?

Tetapi kenangan itu juga tidak bisa dibilang indah. Yang ia ingat hanyalah omelan ayahnya tentang betapa lambannya ia.

Kyungsoo ingat, sekitar tujuh belas tahun lalu, ketika ibunya melahirkan sepasang anak kembar. Dan Kyungsoo segera jatuh hati pada seorang bayi berkulit seputih susu dan bibir semerah buah ceri segar. Bayi laki-laki yang mungil dan begitu memesona.

Sejak Sehun masih bayi, Kyungsoo yang mengurus dan mengasuhnya, sedangkan Jongin lebih sering diurus Yixing dan ibunya.

Kyungsoo yang saat itu berusia sepuluh tahun merasakan sekelumit kebahagian ketika mengurus adiknya. Sementara ibunya lebih sering berada di luar rumah mencari nafkah, tetapi yang membuat Kyungsoo heran adalah, kemanakah uang hasil kerja ibunya?

Ia sama sekali tidak merasa menikmati penghasilan ibunya itu. Tiap kali ia meminta uang untuk membeli susu dan bubur bayi untuk Sehun dan Jongin, ibunya akan membentaknya dan mengatakan kalau uangnya sudah habis.

Yixing, sebagai anak tertua juga kena getahnya. Ia harus bekerja keras di usianya yang baru dua belas tahun itu demi mendapatkan uang untuk susu dan bubur kedua adiknya.

Tak heran jika mereka tumbuh dalam kondisi kurang gizi, tetapi Kyungsoo dan Yixing terus berusaha demi menghidupi Sehun dan Jongin.

Kyungsoo dan Yixing berhenti bersekolah ketika mereka masih SD. Dengan alasan kekurangan biaya. Padahal sudah ada beberapa pihak yang akan membiayai dua anak itu, tetapi orangtua mereka menolak.

Ternyata dalam pikiran orangtua mereka, untuk apa mempunyai anak tetapi tidak dimanfaatkan untuk mencari uang?

Maka dimulailah hidup Yixing dan Kyungsoo sebagai anak jalanan. Menjadi loper koran, pengamen, penjual rokok asongan, bahkan tukang semir sepatu keliling. Sungguh miris nasib mereka.

Di saat anak-anak sebaya mereka merasakan indahnya bersekolah, mereka justru berpanas-panasan untuk mencari beberapa lembar uang.

Tetapi dua kakak beradik itu bertekad untuk bisa menyekelohkan adik-adik mereka kelak.

Mimpi hanyalah mimpi.

Itulah yang akhirnya mendominasi pikiran dan hati mereka.

Kenyataannya, mereka tetap miskin, serba kekurangan dan tidak ada harapan.

Hanya mimpi.

                                                                   *^*^*^*

“Maaf, Pak. Saya lihat ada pengumuman lowongan kerja di kedai ini. Apa saya bisa mendaftar, Pak?’ dengan penuh harap Sehun bertanya pada seorang pria paruh baya yang ternyata adalah pemilik kedai kopi itu.

Pria itu menatap Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat remaja itu bergerak-gerak gelisah. Lalu pria itu mengangguk-angguk sambil menggigit bibir bawahnya dan menatap Sehun dengan serius.

“Masih sekolah?” akhirnya pria itu bersuara.

“Saya nggak sekolah, Pak,” sahut Sehun lirih.

“Kenapa?”

“Nggak ada biaya, Pak,” jawab Sehun setengah berbisik. Malu didengar beberapa pegawai kedai itu.

Bapak itu sepertinya memahami alasan Sehun tidak bersekolah. Maka ia pun menerima Sehun bekerja di tempat itu, dengan syarat…

“Kamu boleh kerja di sini, tapi kamu harus bisa lulus tes standar kedai ini.” Ucap pria itu. Sehun menyetujui syarat itu.

Apapun itu, seberat apapun tesnya, Sehun akan berusaha keras. Ia harus bisa mendapatkan pekerjaan itu, demi membantu Kyungsoo dan Yixing.

Sehun tahu bahwa Kyungsoo pasti akan marah besar jika mengetahui tentang kelancangannya mencari pekerjaan.

Tetapi Sehun sama sekali tidak ingin menjadi benalu bagi kedua kakak yang sangat ia sayangi itu.

Sehun menjalani beberapa tes, mulai dari membersihkan kedai, menghadapi pengunjung, hingga menyeduh kopi dan beberapa tugas lainnya.

Dan Sehun berhasil mengerjakan hampir semua tantangan dari calon bosnya itu.

“Oke. Kayaknya kamu lebih baik jadi petugas kebersihan kedai ini dulu. Mulai besok pagi, kamu jam 6 sudah sampai di sini. Nyapu dan ngepel lantai, ngelap-ngelap meja dan kursi, kaca-kaca jendela dan pintu juga jangan lupa dilap. Siapin meja-meja, tata kotak tisu dan perlengkapan lainnya. Intinya kedai harus sudah rapi dan siap dibuka jam 8. Sanggup?” pria itu menanti jawaban Sehun dengan sabar.

Sehun menarik nafas panjang sebelum menjawab, “Sanggup, Pak. Dan saya janji akan bekerja keras, Pak.”

Pria itu tertawa renyah, ia suka dengan semangat yang terpancar pada wajah tirus dan pucat remaja tampan di depannya. Pria itu bisa meramalkan bahwa kedainya tak lama lagi akan disesaki oleh para gadis belia demi bisa melihat pegawai tertampan kedai itu.

Sehun keluar kedai itu dan menyusuri jalan dengan senyum kemenangan yang tak lekang dari wajahnya. Saking bahagianya, ia pun bersiul-siul. Entah lagu apa, ia hanya mengikuti apa yang diingat otaknya.

Angin berhembus membawa serta suara seseorang yang begitu dikenal Sehun. Serta merta ia menoleh dan mencari dari mana suara itu berasal.

Dan ia melihatnya.

Jongin.

Saudara kembarnya itu sedang duduk dikelilingi gadis-gadis berpakaian minim dengan botol minuman keras dan sepuntung rokok di sela jari telunjuk dan tengahnya. Dua laki-laki lainnya juga melakukan hal yang sama, bahkan seseorang yang bermata sipit sedang berciuman dengan hebatnya sambil menggerayangi paha gadis yang ada di pangkuannya.

Sehun merasakan mual. Ia memalingkan pandangannya, dan hendak berbalik arah menjauhi kumpulan orang-orang pembuat nista itu.

Tetapi ia terlambat, kehadirannya telah diketahui.

“Sehun, sodara kembar gue. Lama nggak ketemu, Bro. Ikutan kita, yuk. Masih ada cewek yang nganggur, nih. Cakep, maaan. Semok pula. Ayolah, jangan sok suci kayak Kyungsoo. Ayo, sini!” Jongin memanggil dan melambaikan tangannya, menyuruh Sehun mendekat dan ikut berkumpul bersamanya.

“Sori, Jongin. Aku ada urusan lain yang lebih penting.” Dengan kalimat itu, Sehun benar-benar memutar tubuhnya membelakangi Jongin dan teman-temannya dan berlalu.

“Heh! Dasar banci lo, Sehun!” maki Jongin dengan keras, membuat telinga Sehun memerah karena menahan amarahnya. Ia bisa mendengar suara tawa mengejek dari teman-teman saudara kembarnya yang salah jalan itu.

Sejak detik itu, Sehun bertekad akan mengembalikan Jongin ke jalan yang benar. Ke arah hidup yang lebih baik.

                                                                        *^*^*^*

To Be Continued

A/N :: Maaf dengan ke-gaje-an cerita kali ini. Author cantik *hoek* ini pengin ngangkat kisah-kisah yang ada dalam kehidupan kita. Tentang orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, buat makan aja susah, apalagi sekolah. Belum lagi betapa banyaknya anak-anak berandalan yang suka ngerusuh di sana sini.

Ya, author memang pengin bikin cerita angst, dan kata angst itu gak harus dibikin lebai dan tipikal bukan?

Author juga nggak berharap para reader bisa dapet angst feeling dari ff ini.

Hanya mau menyadarkan reader, bahwa selain patah hati, kematian, amnesia dan penyakit keras, ada banyak hal yang layak di angst-kan. Termasuk kemiskinan.

Nggak bisa makan layak, nasi pun nasi RASKIN, nggak ada lauk, boro-boro makan daging. Belum lagi kehidupan anak jalanan yang begitu miris, anak-anak yang dijual orangtuanya.

Banyak kok contohnya.

Jadi author hanya mau mencoba sesuatu yang lain. Keluar dari mainstream angst tipikal FF dan cerpen-cerpen.

 

I hope you enjoyed the fic.

 

#hug and kiss

Advertisements