*^*^*^*

 

A/N : Hey… ini part ke-2. Niatnya mau bikin one shot, tapi kepanjangan, jadi author bagi dua, deh. 🙂

 

Have a nice story reading.

 

Don’t you ever forget to leave a comment!!!!

 

Enjoy ^^v

*^*^*^*

Kris merasa agak lapar setelah mengikuti kursus Kimia dan Fisika, kedua kaki panjangnya menggiringnya ke sebuah kedai yang tampak hangat dan begitu bersahabat.

Ia makin memantapkan dirinya untuk memasuki kedai itu ketika ia mengendus aroma harum kopi yang begitu kental saat pintu kedai dibuka oleh seorang wanita muda berambut sebahu.

Remaja berpostur tinggi itu mendorong pelan pintu kedai yang terbuat dari kaca tebal dan melangkah masuk.

Lagi-lagi indera penciumannya disergap aroma nikmat kopi yang detik berikutnya lenyap dalam serat udara yang tersisir aroma kue tiramisu yang begitu menggoda.

Perutnya bergemuruh pelan, membuatnya jengah dan berharap tak ada yang mendengarnya.

Kris memilih meja di dekat jendela, agar ia masih bisa melihat orang yang berlalu-lalang di luar. Dengan teliti kedua mata tajamnya menyisir interior kedai itu.

Lukisan-lukisan yang bertema kopi dan coklat tertambat rapi di beberapa spot di dinding. Sebuah music box antik menempati sudut kedai itu, Kris bertanya-tanya, musik jenis apakah yang tersedia di dalamnya? Atau justru mesin itu sudah tidak berfungsi  lagi saking kunonya?

Pandangan Kris menyapu beberapa foto hitam-putih yang berjejer di dinding dekat music box tadi. Terlalu jauh dari tempat duduknya, maka Kris tidak bisa dengan jelas melihat isi foto-foto itu.

Mungkin nanti bisa ia lihat setelah menenangkan perutnya yang sedang berorasi.

“Mau pesan apa, Tuan?” suara agak sengau dan lembut menghampiri telinga Kris.

Ia mendongak dan bersitatap dengan sepasang mata sendu tapi cerdas, wajah yang begitu tirus dan pucat, dan tampak samar lingkaran hitam di bawah matanya.

“Lo?” Kris menunjuk orang itu.

“Iya, ini aku. Masalah?” balasnya agak ketus.

“Jadi lo kerja di sini?” tanya Kris dengan tatapan tak percaya.

“Memangnya nggak boleh?” lagi-lagi ia menjawab dengan sinis.

“Judes amat, sih? Gue Kris. Lo siapa?” tangan kanannya terulur.

“Bukan siapa-siapa,” sahut orang itu. Cuek.

Kris mendengus. Ia mulai kesal, tetapi rasa penasaran akan identitas remaja tampan di depannya membuatnya makin ingin bertanya.

“Mau pesan apa, nih?” tanya remaja itu tidak sabar.

“Hmm… lo yang pesenin. Terserah lo menunya apa. Yang menurut lo enak,” ujar Kris dengan sebelah alis terangkat dan seringai jahil di wajahnya.

“Oke. Air putih. Tunggu sebentar!” dan remaja itu melesat ke bagian belakang kedai, lalu dua menit berikutnya segelas air putih bening dengan tiga butir es batu mengambang di dalamnya.

Mulut Kris sedikit terbuka, sebelum akhirnya ia tersenyum manis dan menenggak habis air dingin itu.

“Terima kasih. Air di kedai ini enak banget. Mau tahu kenapa?” Kris tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Karena gratis!” celetuknya judes.

“Bukan. Hmm.. bisa juga, sih, tapi ini bisa enak karena yang bawain cowok manis kayak kamu, Bukan Siapa-siapa,” dari intonasi suaranya, terdengar jelas bahwa ia sedang meledek.

“Sehun!”

“Sori?”

“Namaku Sehun! Puas?” desisnya gemas.

Kris terkekeh. “Hai, Sehun. Nice to meet you. Again.” Lagi-lagi Kris menyodorkan tangan kanannya, yang dengan terpaksa disambut Sehun.

“Lo pelayan di sini?” tanya Kris ketika Sehun akan kembali ke dalam.

“Bukan. Aku cleaning service di sini.” Jawabnya.

“Terus… kenapa lo yang ngelayanin gue? Aaaa… gue tahu, pasti karena gue adalah pengujung paling ganteng, kan? iya, kan?”

Sehun memasang wajah tanpa ekspresi, membuat Kris merasa salah tingkah, tapi menutupinya dengan tawa kaku yang justru terdengar bagai orang sakit perut.

“Pelayannya lagi keluar disuruh bos, dan aku disuruh gantiin sebentar. Kamu udah nggak mau pesan apa-apa lagi, kan? Aku masih banyak kerjaan,” tegas Sehun.

“Gue mau pesan waktu lo boleh?”

“Maksud?” Sehun mengernyitkan dahi.

“Maksudnya, gue mau pesan beberapa menit buat ngobrol sama lo. Bisa, kan?” ulang Kris lebih jelas.

Sehun melirik ke kanan dan ke kiri dengan gugup. “Errr… sori, aku nggak bisa. Masih banyak meja yang perlu dilayanin,” tolaknya halus.

Kris mendecakkan lidahnya tak sabar, “Nggak usah alasan, deh. Orang kedai setengah kosong gini. Lima menit aja, deh.”

“dua!”

“Lima!”

“Tiga menit!”

“Lima menit!”

“Urgh! Empat menit!”

Deal!” dan Kris tersenyum licik.

Sehun menyelipkan buku note di dalam kantong besar di bagian depan apronnya, lalu duduk dengan canggung di hadapan remaja tampan  dan manly di depannya.

“Lo tinggal di mana?” Kris membuka percakapan.

“Nggak jauh-jauh dari sini, dan kamu nggak perlu tahu!” Sehun menatap Kris tajam.

Whatever,” Kris memutar bola matanya, bosan dengan kejudesan Sehun, “Lo sekolah nggak?”

“Penting banget, ya?” timpal Sehun.

Kris menarik nafas dalam, mencegahnya kehilangan kesabaran.

“Kenapa lo sering ngintip dari balik pagar sekolah gue? Lo pengin masuk sana?” pertanyaan Kris itu membuat wajah Sehun mendadak merah dan sorot matanya seperti binatang buas yang terluka dan marah.

“Oh, jadi kamu tanya-tanya itu cuma buat ngehina aku? Karena aku miskin dan nggak mungkin masuk sekolah elit kamu itu, kan? Kamu nggak ada bedanya sama teman-temanmu yang sombong itu! Buatku kalian itu cuma anak-anak manja yang bisanya minta duit sama orangtua, terus kalau kena masalah langsung aja pada ngumpet di ketek orangtua kalian! Dan jangan kamu pikir uang bisa beli semuanya, ya! Karena sampai kapanpun, nggak ada seorangpun yang bisa beli harga diriku! Sekian! Terima kasih! Dan silakan keluar dari kedai ini!” Sehun sempat menggebrak meja, membuat Kris terperanjat.

“Sehun! Bukan gitu maksud gue. Sehun!” panggilnya. Tetapi Sehun telah menghilang ke belakang.

“Sensi banget, tuh, bocah!” gumam Kris sambil membenahi poninya yang menutupi matanya.

Sehun merasakan kedua tangannya gemetar. Ia meninju pintu loker, lalu melompat-lompat sambil meniup kepalan tangannya yang sakit.

Ia memaki, semua kata-kata kotor dan kasar yang pernah ia dengar, mengalir deras dari bibir merah mudanya. Sehun marah.

Tetapi ia bingung. Sebenarnya ia marah kepada siapa?

Ia merenung.

Marah pada Kris? Pemuda super tampan yang berasal dari keluarga yang kaya raya?

Atau marah pada orangtuanya yang tidak bertanggung jawab, hingga membiarkannya mengalami hidup seperti ini?

Mungkinkah ia marah pada Tuhan yang begitu pilih kasih?

Atau ia justru marah pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh memuntahkan amarahnya pada orang yang baru dikenalnya?

Sehun hanya memaki dan mengumpati ketololannya. Mencaci emosinya yang tiba-tiba meledak tak karuan itu.

Ia merutuki dirinya yang cemburu pada kehidupan orang-orang kaya yang bergelimang harta hingga tanpa ragu akan menggunakannya untuk hal-hal yang sama sekali tidak berguna.

Sehun merasa begitu hina.

Ia kalah pada rasa cemburunya.

Tiba-tiba bayangan akan wajah nelangsa kakaknya, yang semakin hari semakin kurus hingga makin membuat kedua matanya yang memang besar itu makin menonjol. Lalu ia teringat Yixing, kakak tertuanya yang begitu kurus karena terlalu sering bekerja dan kurang makan.

Semua mereka lakukan demi menghidupinya, dirinya dan Jongin.

Begitu ingatan akan Jongin beberapa waktu lalu, Sehun kembali mengumpat. Ia benci Jongin.

Ia benci mengapa Jongin pergi dan memilih hidup bersama para pembuat maksiat itu,

Ia benci mengapa Jongin tidak bisa hidup apa adanya, dan bekerja keras membantu Kyungsoo dan Yixing,

Ia benci mengapa dirinya tak mampu mencegah Jongin menjadi seperti sekarang.

Jika saja Jongin bukan saudara kandungnya, saudara kembarnya yang berbagi rahim dalam perut ibunya, maka Sehun tidak akan peduli. Baginya Kyungsoo dan Yixing adalah keluarganya.

Namun, kenyataannya berbeda.

Jongin adalah saudara kembarnya. Belahan jiwanya. Mereka diciptakan bersama. Dan tumbuh bersama, minggu demi minggu, bulan demi bulan dalam ruang sempit dan sesak rahim ibunya.

Lalu mengapa Jongin lebih memilih meninggalkannya?

Itulah yang membuat Sehun membenci Jongin.

Membenci sikap Jongin.

Dalam hati Sehun, ia begitu mencintai Jongin. Karena ia tahu bahwa saudaranya itu adalah pribadi yang baik. Hanya saja terjerumus dalam jurang kenistaan.

“Sehun? Ngapain ngelamun? Ada beberapa pelanggan, tuh,” sapaan itu membuyarkan lamunan Sehun.

“Oh, maaf.” Gumamnya salah tingkah.

“Kamu… nangis?” tanya lawan bicaranya.

“Nggak, kok, Kak. Aku tadi ngantuk, terus nguap-nguap terus, jadi keluar air matanya, deh. Hehehe.” Sehun berbohong seraya menggaruk belakang kepalanya. Canggung.

“Ya sudah, itu bantuin Yoona sama Taeyeon nganter-nganterin pesanan. Mulai rame, nih,” ujar gadis berambut panjang itu dengan senyum ramah.

“Iya, Kak Victoria. Aku ke sana sekarang. Mau cuci muka dulu,” sahut Sehun seraya merapikan seragamnya dan beranjak keluar ruang loker.

*^*^*^*

Malam hari adalah saat-saat yang paling menyusahkan bagi Jongin. Di saat ia merasa kedinginan dan tak ada tempat yang cukup layak untuk menghangatkan tubuhnya.

Setiap malam, Jongin, Tao dan Baekhyun akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka terkadang tidur di gang-gang sempit, hanya demi menghilangkan rasa kantuk dan penat. Atau bahkan tidur dalam gubuk-gubuk yang hanya terbuat dari kain terpal yang direntangkan.

Kondisi akan semakin memburuk jika hujan turun dengan derasnya.

Tak jarang Jongin menatap nanar langit malam yang terkadang berbintang, dan terkadang suram. Pikirannya berkelana ke masa-masa ia bersama keluarganya.

Yixing yang begitu lembut tetapi tegas.

Kyungsoo yang penyayang dan penuh perhatian.

Lalu Sehun…

Saudara kembarnya yang begitu menyayanginya.

Jongin tidak akan pernah bisa lupa bagaimana Sehun suka mengikutinya ke manapun dirinya pergi.

Sehun akan meniru apapun yang diucapkan Jongin. Meski terkadang ia meniru mengucapkan kata-kata kotor, yang pastinya akan diomeli Yixing dan Kyungsoo. Tetapi Sehun begitu mengidolakannya.

Jongin merasakan sesak di dadanya ketika mengingat pertemuannya dengan Sehun beberapa waktu lalu, saat dirinya sedang mencuri sebuah roti dari toko kelontong sederhana. Dan Sehun hanya menatapnya.

Jongin paham betul apa arti tatapan kembarannya itu.

‘Sadarlah, Jongin.’

Kurang lebih seperti itulah arti tatapan Sehun.

Dan yang membuat Jongin makin sesak adalah Sehun diam-diam meninggalkan beberapa keping uang koin di atas etalase toko kecil itu sebagai ganti roti yang dicuri Jongin.

Jongin merindukan Sehun. Hanya Sehun yang benar-benar mengerti dirinya. Mereka tumbuh bersama dalam segala kekurangan, tetapi Sehun selalu membuatnya ceria.

Mereka akan tertawa bersama ketika Sehun mengerjai Kyungsoo.

Dan akan berlari dan bersembunyi di belakang Yixing saat Kyungsoo mengejar mereka dengan sapu lidi yang teracung.

Seuntai senyum pahit menghiasi wajah kusam Jongin. Ia merindukan Kyungsoo, Yixing dan Sehun.

Jongin sudah menyadari betapa ia sebenarnya sangat mencintai saudara-saudaranya itu.

Tetapi ia muak dengan segala kekurangan yang harus ia hadapi.

Namun, Jongin menyadari bahwa hidupnya sekarang tidak lebih baik dari yang sebelumnya.

Ia bahkan sempat ditawari untuk menggunakan obat-obatan terlarang, atau sekedar mengedarkannya.

Tetapi ia bersikukuh tidak akan pernah bersentuhan dengan benda-benda haram itu.

Ia pernah melihat sahabat Baekhyun ditembak mati polisi ketika remaja itu mencoba melarikan diri setelah markasnya digrebek aparat kepolisian. Dan Jongin sama sekali tidak ingin mati konyol seperti itu.

Hatinya menyeru padanya untuk kembali ke tengah-tengah keluarganya, berubah menjadi lebih baik dan melanjutkan hidupnya.

Namun, gengsinya berkata lain. Bukankah ia sudah bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya di rumah reyot itu lagi?

Batin dan otaknya beradu argumen. Saling menyudutkan.

Jongin merasa pening akan peperangan dalam dirinya itu.

Pulang atau tidak?

Jongin mengerang keras dan memutuskan untuk membiarkan alam mimpi (yang mungkin jauh lebih indah dari kenyataan) menjemputnya dan mengajaknya berpetualang.

*^*^*^*

“Pa, syarat dapat beasiswa di sekolah kita apa aja?” tanya pemuda berambut pirang yang sedang menemani ayahnya di teras asri rumah mewahnya.

“Yang pasti harus jadi juara kelas selama empat semester berturut-turut, Nak.” Jawab sang ayah yang tampak sedang serius membaca surat kabar harian.

“Hmm… kalau misal karena nggak ada biaya sekolah, bisa dapet beasiswa nggak, Pa?” Kris bertanya hati-hati seraya menyuap mulutnya dengan sesendok penuh puding apricot kesukaannya.

“Papa belum pernah ngajuin beasiswa tipe itu, Nak.” Balasnya sambil membuka lembaran surat kabar itu.

Kris terdiam. Ia mempunyai misi yang menurutnya bisa menyelamatkan masa depan seseorang.

“Memangnya kenapa kamu tanya tentang itu, Kris? Apa kamu mau Papa adain beasiswa untuk siswa yang nggak mampu? Tapi bukannya sekolah kita khusus buat mereka yang berduit?” ayah Kris melipat surat kabar, dan memutuskan untuk serius membicarakan tentang topik yang diangkat anaknya.

“Iya, Kris tahu, Pa. Tapi apa ada aturan yang ngelarang anak-anak dari keluarga nggak mampu untuk sekolah? Menurutku, Pa. Kita sebagai orang yang mampu, seharusnya malah bantuin mereka yang butuh. Kris yakin banyak anak yang putus sekolah karena nggak ada uang itu cerdas-cerdas, Pa. Bahkan bisa jadi mereka lebih pintar dari kami anak-anak orang kaya yang dari kecil sudah disekolahin ini itu.” Kris mengungkapkan buah pikirannya. Ia sangat senang berbicara dengan ayahnya. Sosok yang begitu pengertian, penyayang, sabar dan mau mendengarkan pendapat anak-anaknya.

Sosok ayahnya adalah idola sepanjang masa. Kris ingin menjadi seperti ayahnya kelak.

Pekerja keras, rendah hati, ramah, tidak membeda-bedakan orang, penyabar, penyayang, bertanggung jawab, gigih dan begitu mencintai keluarganya.

Kris ingin menjadi sosok seperti itu.

“Wah, anak Papa hebat. Nggak salah kalau Papa bangga sama kamu, Nak. Kamu punya hati yang peka sama sekitarmu. Kamu memang beda dari teman-temanmu yang lain. Mereka hanya mikirin diri sendiri. Dan untuk usul kamu tentang beasiswa itu, Papa usahain bisa terkabulkan. Papa harus cari sponsor yang mau diajak kerja sama buat mewujudkan masyarakat yang lebih berpendidikan. Jadi nggak hanya orang kaya aja yang bisa sekolah layak. Tapi siapapun yang punya tekad dan cita-cita juga berhak sekolah. Ah, kamu memang anak Papa yang paling kece, Kris,” sang ayah menepuk bahu Kris penuh bangga.

“Pa, nggak usah sok ABG, deh, Pa.” protesnya dengan sisipan bahasa gaul ayahnya.

Dan mereka berdua terbahak.

Semilir angin sore menemani dua pria beda generasi itu, mengiringi canda tawa mereka yang begitu akrab.

Dan Kris bersyukur, ia memiliki ayah terbaik di dunia.

*^*^*^*

Sehun pergi pagi-pagi sekali, sebelum Kyungsoo dan Yixing terjaga dari tidur mereka. ia belum memberitahu mereka tentang pekerjaannya di kedai kopi.

Ia merapatkan jaket barunya yang ia beli dari penjual baju-baju bekas dengan harga cukup murah. Udara dingin pagi seolah menamparnya dan mengusir jauh-jauh rasa kantuk yang sebelumnya masih bergelayut di pelupuk mata sendunya.

Ia menggosokkan kedua telapak tangannya dan meniup-niupnya, berusaha menghembuskan kehangatan pada tangannya yang pucat karena kedinginan. Lalu ia selipkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang tidak terlalu tebal itu.

Ia melihat beberapa orang ibu sedang menggendong anaknya yang kurus dan bersiap pergi bekerja sebagai buruh cuci di rumah-rumah orang berduit. Bapak-bapak lanjut usia berjalan tertatih-tatih, terbatuk-batuk sambil menarik gerobak yang berisi barang-barang bekas, hendak mereka tawarkan ke penadah barang-barang rongsok.

Beberapa remaja sudah bersiap ke agen-agen surat kabar untuk menjajakan koran di beberapa titik kota. Biasanya mereka akan menyisir jalan-jalan raya, stasiun kereta api, terminal dan tempat-tempat lainnya.

Ada sekitar 5 atau 6 anak SD yang hendak berangkat sekolah. Sehun tersenyum dan berharap bocah-bocah itu bisa bersekolah hingga lulus SMA. Tidak seperti dirinya dan saudara-saudaranya yang berhenti bersekolah.

Sehun menyapa beberapa ibu rumah tangga yang sedang menyapu halaman kumuh mereka, dan mereka membalas sapaannya. Orang-orang di sekitar tempat tinggal Sehun tampaknya menyukai remaja santun itu. Selain berparas tampan, Sehun juga dikenal sangat ramah dan murah senyum. Berbeda dengan Jongin yang lebih banyak merengut dan menggerutu serta mengeluh.

Para tetangga juga menyukai Yixing dan Kyungsoo karena keramahan mereka.

Sehun menegakkan punggungnya dan menghirup udara pagi yang segar dan bersih ketika dirinya telah keluar dari komplek kumuh tempat ia tinggal. Sepanjang perjalanan keluar dari perkampungan kumuh itu, Sehun berusaha bernafas seminim mungkin, untuk mengantisipasi segala macam aroma busuk yang mungkin menerobos masuk melalui lubang hidungnya.

Remaja tujuh belas tahun itu menggumamkan sebuah lagu ceria saat dirinya menyusuri jalan menuju tempatnya bekerja. Sekelumit rasa bersalah hinggap di hatinya. Ia merasa telah membohongi kedua kakaknya. Tetapi ia merasa harus ikut bersusah payah demi meringankan beban Kyungsoo dan Yixing.

“Selamat pagi, Pak!” seru Sehun penuh semangat.

Bos yang ramah itu tersenyum dan menepuk kepala Sehun penuh sayang. “Pagi, Nak Sehun. Ceria banget pagi ini?”

“Hehehe. Iya, Pak. Kita harus selalu ceria, Pak. Berpikir positif. Hehehe,” sahutnya sambil tekekeh.

“Anak baik. Ayo, kita mulai kerja! Semoga hari ini banyak yang mampir.” Ucap pemilik kedai itu bersemangat dan makin membuat senyum Sehun melebar dan matanya berbinar.

Sehun memulai kerjanya menyapu lantai kedai. Tak ada sudut yang terlewati, ia begitu memerhatikan kebersihan lantai. Setelah itu kain pel yang basah membersihkan sisa-sisa debu yang masih bandel menempel pada lantai.

Yang membuat Sehun tidak merasa lelah dan bosan saat membersihkan tempat kerjanya adalah bosnya selalu menyalakan musik-musik tempo dulu dari music box kuno peninggalan kakeknya berpuluh-puluh tahun silam.

Pukul delapan tepat, semua meja sudah bersih tanpa noda. Kotak tisu, gula, krimer, sirup maple, madu dan gula halus sudah tertata rapi dalam wadah-wadah mungil yang cantik namun tetap bernuansa klasik. Jendela-jendela terlalu bersih hingga nyaris tak terlihat. Sehun begitu bersemangat membuat jendela kaca tampak tidak berkaca.

Setelah berganti seragam, Sehun berdiri di samping meja kasir dan bercakap-cakap dengan Seohyun, gadis kalem yang juga mahasiswi psikologi. Sehun cukup akrab dengan gadis itu, yang juga adalah anak bungsu bosnya.

Jika waktu istirahat tiba, Sehun akan mengobrol dengan Seohyun, dan gadis itu sangat memahaminya. Ia sering memberi nasehat dan dukungan untuk Sehun. Dan itulah salah satu penyebab ia bisa berpikir postif dan ingin menjadi lebih baik.

Pelanggan pertama masuk. Seorang pria paruh baya yang sudah menjadi pegunjung tetap kedai itu. Sehun membantunya menggantung mantel panjangnya ke gantungan mantel dan topi.

“Seperti biasa, Nak Sehun.” Ujarnya parau. Sehun membungkuk hormat dan tak lupa menebar senyum polosnya yang begitu tulus.

Sehun segera ke dapur dan memberitahu pesanan itu kepada Victoria. Lalu Yoona dan Taeyeon yang akan melayani pelanggan-pelanggan lainnya yang mulai datang.

Sehun terkadang membantu rekan-rekannya jika kondisi kedai begitu padat.

Saat ia sedang mencuci cangkir dan piring kotor, Yoona memanggilnya dan menyuruhnya melayani seorang pengunjung.

Dengan dahi berkerut, Sehun mengeringkan tanganya dengan apron kain miliknya dan menuju ke pengunjung yang dimaksud.

Matanya mencari sosok yang dimaksud Yoona tadi. Dan ia terkesiap saat matanya beradu pandang dengan sepasang mata gelap yang tajam.

Sehun mengerang pelan dan menghentakkan sebelah kakinya. Kesal.

Tapi ia harus profesional. Maka ia menghampiri Kris, yang duduk dengan siku bertumpu di atas meja dan jemari saling bertaut.

“Pagi, Sehun.” Sapanya dengan senyum aneh.

“Bolos sekolah?” Sehun tidak membalas sapaannya, melainkan bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Ini hari minggu.” jawab Kris datar.

Sehun hanya mengucap ‘oh’, dan mengeluarkan buku note. “Mau pesan apa? Air putih lagi?”

Kris tertawa. “Boleh. Air putih, dikasih kopi, gula, krimer. Sekalian pancake topping chocolate sauce.”

Sehun ingin menendang tulang kering pemuda kaya itu, tapi alih-alih seperti itu, ia justru tersenym. Senyum palsu yang dimanis-maniskan.

“Ini kopinya, dan ini pancake-nya. Silakan dinikmati.” Sehun meletakkan cangkir dan piring di atas meja.

“Terima kasih, Sehun.” Ucap Kris. “Sehun,”

“Apa lagi?”

“Lo pulang jam berapa?”

“Perlu banget tahu, ya?”

“Ya!” nada suara Kris terdengar tegas. Membuat Sehun menjengit.

“Jam lima.”

“Oke. Makasih. Udah sana, kelarin kerjaan lo,” Kris mengibaskan tangan kirinya, menyuruh Sehun menyingkir. Sehun hanya mendesis kesal dan berbalik menuju dapur.

*^*^*^*

Yixing berjalan mondar-mandir di depan rumah. Kyungsoo duduk sambil memeluk lututnya, dan sesekali menepuk kakinya yang digigit nyamuk.

“Ke mana sih, bocah itu?” Yixing tampak gusar.

“Sabar, Xing. Palingan bentar lagi pulang,” Kyungsoo berusaha menenangkan.

“Tapi ini udah tengah malam, Kyungie!” sergahnya tak sabar.

Kyungsoo mengedikkan bahunya dan membenamkan kepalanya di antara lulutnya.

“Ngantukkk…” gumam Kyungsoo. Suaranya teredam.

Dari kejauhan tampak seorang pemuda jangkung dan kurus. Yixing langsung mengenali sosok adiknya.

“Heh! Dari mana aja, kamu?” tegurnya galak.

“Mau tahu aja, Kakak.” Sahutnya sambil berusaha melewati Yixing.

“Eiiiits, jawab dulu!”

“Capek, Kak. Ngantuk!” rengek Sehun manja. Ia tahu benar jika taktiknya itu biasanya mempan.

“Nggak boleh! Kalau belum jawab, kamu nggak boleh masuk!” Yixing bersikeras.

Sehun mengerang dan menghentakkan kakinya. “Tapi kakak jangan marah…”

Yixing hendak berdebat, tetapi Kyungsoo menyentuh bahunya dan menyuruhnya berjanji tidak akan marah. Sambil mendesah kalah, Yixing menyuruh Sehun berbicara.

“Aku abis ketemu… mmmm… Jongin.” Suaranya begitu lirih saat menyebut nama saudara kembarnya.

Mata Kyungsoo makin lebar dan Yixing tercengang.

“Ngapain?” berdua bertanya bersamaan.

Sehun bergerak-gerak gelisah, dan menggigit bibirnya. Sesekali ia menjilati bibirnya, tanda ia sedang gugup.

“Ngapain, Sehun?!” desak Yixing.

“Kangen, Kak.” Jawabnya lebih berupa bisikan.

Yixing dan Kyungsoo bertukar pandang. Lalu mereka bersama merengkuh tubuh jangkung adik mereka dan memeluknya.

“Kita juga kangen Jongin, Sehun. Tapi dia yang milih ninggalin kita. Dan Kita nggak bisa berbuat apa-apa,” bisik Kyungsoo lembut.

Sehun mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada kedua kakaknya.

*^*^*^*

Kris menunggu Sehun di depan kedai. Dan sekitar jam lima lebih lima menit, Sehun muncul dari pintu samping kedai. Pintu khusus pegawai. Disusul oleh beberapa gadis cantik yang membuat Kris berdiri dengan gaya cool bagai model jas pengantin. Tak lupa ia mengibaskan poninya dengan penuh gaya.

Yoona, Seohyun, Victoria dan Taeyeon hanya terkikik geli melihat betapa noraknya cara Kris mencari perhatian mereka.

“Daaaaaaah, Sehun! Sampai besok, yaaaa?!!” seru Yoona. Sehun melambaikan tangannya pada mereka.

“Hai, Sehun.” Sapa Kris.

“Hai, stalker!” balasnya sambil lalu.

Kris terkekeh. Ia tidak marah atau tersinggung. Tetapi ia makin gemas dengan Sehun. Ia ingin menjinakkan bocah keras kepala itu.

“Naik mobil gue, yuk.”

Tanpa Sehun bisa menolak, Kris menarik tangannya dan memaksanya memasuki mobil mewah miliknya.

Sehun protes, tetapi Kris tidak memberinya kesempatan untuk pergi.

“Gue mau ngomong serius sama lo! Dan ini demi masa depan lo!” suara Kris terdengar begitu serius dan tegas. Membuat Sehun diam dan menurut.

*^*^*^*

TO BE CONTINUED

 

A/N : Well well well…. Kayaknya emang nggak bisa one shot. Ini ceritanya agak kompleks. Maksudnya banyak pihak yang perlu dibahas satu satu. Semoga gak ngebosenin, ya. Hehehe.

Tinggal satu part lagi.

Thanks for reading

 

#hug and kiss

Advertisements