^^^

Pagi-pagi sekitar jam setengah tujuh, Xiumin udah berkutat dengan tiga keranjang baju kotor. Sambil nutupin hidung pakai masker motif macan tutul punya Lay atau Tao atau manajer, nggak jelas pokoknya, orang dia asal comot aja dari atas meja, Xiumin memilah-milah pakaian itu.

Di sebelah kanannya ada onggokan underwear, dari celana dalam, boxer sampai kaos dalam udah menggunung.

“Celana dalam Kris…” gumamnya sambil lempar celana dalam baru Kris hadiah dari Chen kemaren pas ultah. Dan Xiumin geleng-geleng sambil istighfar gara-gara liat motifnya yang norak itu. Gambar naga mangap mau niruin logo merk Laccoste, yang ada gambar buaya mangap itu (atau yang mingkem, ya? Ga tau deh).

Abis itu, Xiumin nyomot celana dalam lagi (pakai pinset), “Celana dalam Kris…” dan dia lempar celana dalam dengan motif ular boa yang dibeli karena Kris ngefans sama BoA.

Sambil nahan nafas, Xiumin ngambil celana dalam lagi, “Buseeet… kenapa dari tadi isinya celana dalam Kris mulu, sih? Tuh, orang kena penyakit aneh, ya? Masa sehari ganti underwear dua belas kali?” cowok berpipi bakpao itu ngedumel nggak jelas karena mulutnya ketutupan masker.

“Heh, ngomel mulu! Gue ganti celana dalam sehari selusin tuh untuk menjaga wilayah pribadiku tetap bersih dan nyaman. Nggak kayak Kai, tuh, dua hari sekali satu underwear,” sembur Kris yang tersinggung sama gerutuan Xiumin.

“Hah? Sumpeh lu? Apa nggak karatan, tuh?” Xiumin cengok.

“Bukan karatan lagi, Min. Lebih parah lagi kayaknya. Btw, underwear gue abis, nih.” Kata Kris sambil usap-usap bokong teposnya.

“Trus gue musti bilang whhhmmmpp…” Xiumin nggak bisa ngomong karena mulutnya disumpel.

“Belagu! Cariin sempak baru gue yang dari Chen-Chen. Dipakenya tuh nyamaaan banget, bahannya lembut mengelus kulit, jadi nggak gerah, terus saking lembutnya, gue sampe nggak ngerasa pake underwear, lho.” Lanjut Kris sambil senyum-senyum kayak orang abis nenggak bodrex dua biji dicampur sprite dua botol. -__-

“Bawel! Ini baru mau gue cuci. Lagian dari kemaren kita banyak acara, mana gue sempet nyuci, coba.” Sembur Xiumin sambil milihin baju-baju kotor lagi.

“Ya udah. Gue minjem sempak lo aja, deh,” kata Kris sambil ngeloyor pergi.

“YAH! AWAS KALO LU PAKE SEMPAK GUE!!!!” pekik Xiumin ngeri ngebayangin celana dalamnya dipakai Kris.

Hening….

Xiumin memilah-milah lagi gundukan baju kotor di depannya.

Sekarang dia mulai misah-misahin baju putih dan berwarna.

“Baju kotor Tao…”

“Baju kotor Tao…” udah dua baju yang numpuk di atas pakaian-pakain member lainnya.

“Baju busuk Luhan…” Xiumin ngelempar satu kaos biru kusam yang udah dipake Luhan selama masa pre debut. Katanya itu dari sahabatnya jaman SMA.

“Baju aneh Lay…” gumamnya sambil taruh kemeja motif polkadot warna-warni punya Lay. Itu juga nggak mau dibuang sama Lay, karena itu pemberian fans dari Changsa.

Hampir sejam Xiumin misah-misah baju kotor itu. Akhirnya tahap demi tahap dia mulai masukin baju-baju itu ke dalam mesin cuci.

“Alamat gue nyuci baju seharian, nih. Mana harus nyiapin sarapan, pula. Hhhhh…” desahnya sambil usek-usek rambutnya.

*

Jam sembilan lebih dua puluh lima menit, satu persatu mulai bangun. Kris yang udah bangun dari tadi, lagi sibuk mojok sambil nyeruput kopi susu hangat.

Luhan muncul dengan muka kusut masai gegara semalam telepon-teleponan sama Sehun dan karena kangen banget akhirnya dia gagal tidur, dan baru bisa tidur jam tiga pagi.

Chen mukanya berseri-seri, rupanya dia bisa tidur tujuh jam semalam, jadi sudah cukup durasi molornya.

Tao muncul dengan lingkaran hitam di bawah matanya sambil nenteng boneka panda yang warna putihnya mulai jadi butek saking seringnya dipeluk-peluk dan buat gulingan pas tidur.

Xiumin berdiri di tengah ruangan, merhatiin adik-adiknya yang masih pada ngantuk itu.

“Ehem!” Xiumin bersuara.

Nggak ada yang nyahut ataupun ngelirik dia.

“EHEM!!!” dia bersuara lagi.

Kris noleh dan ngeliatin Xiumin kayak lagi ngeliatin Kai pakai rok rumbai-rumbai.

“Radang tenggorokan, ya?” tanyanya cuek.

“Radang usus buntu!” celetuk Xiumin judesnya nauzubillah.

“Nyolot amat, bang?” si Luhan nyablak dari sofa, tempatnya ngegelosorin kaki jenjangnya (?).

“Gimana nggak nyolot coba? Gue bangun dari subuh, nyapu. Ngepel. Ngelapin meja dan jendela. Terus ngumpulin semua baju kalian, celana dalam kalian yang motifnya norak-norak, belum lagi harus milihin kaos-kaki-bau kalian!” (@ronzzykevin woooy gw promosiin blogmu tuuuh. Kkkk.) Xiumin jejeritan kayak orang kesambet jin Alpaca.

“Siapa yang nyuruh kamu ngelakuin itu semua?” tanya Tao yang lagi mainan boneka panda.

Hening….

“Nggak ada yang nyuruh, sih..” jawab Xiumin sambil nyengir salah tingkah.

“Terus kenapa lo heboh dan bikin seolah kita yang maksa lo kerjain semua itu?” balas Luhan nantang.

Xiumin melototin Luhan, tapi gagal, maklum, matanya terlalu sipit.

“Oh, jadi gini, ya? Okeee!!!!” kata Xiumin.

Kris, Tao, Lay, Luhan dan Chen saling liat-liatan, “Dia kenapa?” tanya Lay kepada sapa aja yang denger.

“Hanya Luhan yang tahu…” desah Kris sambil kembali mojok. Luhan langsung geleng-geleng heboh waktu semua mata menatapnya, menutut jawaban.

“Kris,” panggil Chen.

“Ya?”

“Lo lagi ngapain sih mojok gitu?” tanyanya penasaran sambil ngedeketin Kris.

Kris diam nggak ngebales pertanyaan si Dansheen Mosheen Chen. Chen ngelongok dari balik bahu leader ganteng itu.

“Buseeeeeetttt! Ngapain lo nyuapin boneka sok imut lo ituuu!!” jerit Chen sambil nunjuk Kris yang lagi nyuapin boneka alpaca pake kopi susu.

“Dia haus, Chen.” Jawab Kris ngebela ‘anak’ jadi-jadiannya itu.

“Sarap, lo, Kris. Sarap!” sembur Chen sambil nyerobt boneka itu dari Kris dan ngebawanya ke tempat pencucian.

“KIM JONGDAAAAE! BRING BACK MY SON ACE THE ALPACA!!!” raung Kris cukup lebai, dan lari ngejar Chen.

“Lulu…” panggil Lay.

“Han-Han…” sapa Tao.

“Apaan?” balasnya malas.

“Main, yuk,” ajak Lay, yang diiyain sama Tao.

“Ogah. Gue lagi spazzing Sehun, jangan ganggu gue!” sahutnya sambil nerawang uang yang diambilnya dari kantong celana Xiumin. “Tuh, orang nggak ngado Kris dengan alasan nggak ada duit, tapi gue nemu duit di celananya. Bohong banget dia,” gumamnya sambil masukin uang itu ke dalam kutangnya, kaos kutang maksudnyaaaa. >_

Lay dan Tao langsung manyun karena permintaan mereka ditolak matang-matang sama Luhan.

“Lay, terus kita ngapain, nih?” tanya Tao dengan wajah boring.

“Gangguin Kris, aja, yuk.” Mata Lay berbinar-binar usil. Tao langsung semangat, dan mereka tos sama-sama.

Dari belakang menghambur masuk ke ruang keluarga, Kris sambil gendong alpaca, Chen nyengir sambil gosok-gosok lengan bagian atasnya, Xiumin muncul ngegotong sekeranjang penuh baju yang baru diangkatnya dari jemuran.

Luhan, Lay, dan Tao bengong liat tiga teman mereka.

“Ada yang berani pegang Ace, gue potong tangannya!” ancam Kris dengan tatapan emak singa lagi PMS yang ngelindungin anaknya.

Chen langsung nyingkir dari dekat Kris, takut digampar lagi.

Xiumin ngebanting keranjang baju itu dengan kasar. Mukanya merah banget, nyaningin tomat, matanya berapi-api saking emosinya.

“Heh! Ini ya pakaian kalian! Udah gue cuciin, jemurin, angkatin, terus gue disuruh ngelipetin en masuk-masukin ke lemari kalian pula? UDAH CUKUP! KALIAN PIKIR GUE PEMBOKAT APA?!!!” rupanya Xiumin udah nggak kuat lagi nahan siksaan batin itu.

Hening…. Lagi….

“Heh! Pada budeg, ya? ini pilihin sendiri baju kalian, sempak kalian, celana sama kaos kutang kalian, terus masuk-masukin sendiri ke dalam lemari! Gue udah muak ngurusin baju kalian!” amuknya sambil nunjuk muka adik-adiknyas satu persatu.

“Ya, jangan gitu, dong, Min. Lo, kan, tau kalo kita-kita terlalu sibuk buat nyuci baju.” Kata Kris memelas. Dia selalu alasan ogah nyuci baju karena menurut pengakuannya, dia alergi sama deterjen, dan nggak mau kulitnya rusak dan iritasi. (dasar ganjen)

“Memangnya lo lo pada peduli sama pakaian gue, hah? Nggak, kan? Mau baju kotor gue teronggok di depan idung kalian pun nggak bakal kalian sentuh, kan? Terus ngapain gue ngoyo ngurusin baju bekas keringat kalian? Mulai detik ini, gue nggak mau urusin barang-barang kalian lagi!” setelah histerianya terlampiaskan, Xiumin pun masih sempat nendang keranjang itu sampai isinya tumpah, dan melenggang sambil hentak-hentakin kakinya menuju kamarnya. Gebrak pintu dan dikunci sekalian.

Hening….

“Hmm… Tao!” panggiil Kris yang tangannya sibuk elus-elus kepala Ace the alpaca yang mendadak terkenal.

“Ya, Kris?”

“Lipetin baju-baju kita, dong.” Perintahnya sok-sok halus dan lembut. Padahal sih memang mau nyuruh.

“Nggak mao!”

“Nanti gue beliin tas, deh,” rayu Kris.

“GUCCI?” mata Tao berbinar-binar kayak lampion pas tahun baru cina.

“Bukan. Tapi VAS,”

“Hah? Merk tas baru?”

“Vas bunga, Tao. Vas bunga!” sahut Kris sambil muter bola mata Ace (?)

“Lho, apa hubungannya ama Gucci, bang?” celetuk Lay yang –seperti kebiasaaan buruknya yang bisa memicu terjadinya radang paru-paru atau paru-paru basah itu-, Laying on the naked floor.

“Guci dan Vas kan sama-sama terbuat dari keramik, Tao.” Kata Chen nimbrung, yang langsung dipelototin Kris.

“Yaelah, aku maunya tas merk GUCCI bukan guci! Ayo, Lay, kita ke dorm K aja, di sana D.O pasti masak enak-enak.” Kata Tao sambil narik paksa belakang kaos Lay.

“Tao! How dare you walk on me like that! Yah! You little… emm… no… you tall crybaby panda! Yah! Huang Zi Tao!” Kris manggil-manggil dengan suara baritonnya (????), tapi Tao sama sekali nggak berhenti. Nengok aja nggak.

“Abang Tao nakal, ya, Ace. Papa sebel, deh.” Kris curhat sama boneka alpacanya.

“It’s okay, Daddy. Acey is here and always be with you, handsome daddy,” si Ace ngebales, well, sebenarnya itu suara Kris yang dibuat-buat. Yang bagi Chen kedengaran seperti kriminal yang disamarkan suaranya (bayangin yang di reportase investigasi itu, yang bikin bakso pake daging tikus. Kkkk. Gak elit baaaang)

“Ah, lo emang anak yang paling gue idam-idamkan. Jadilah anak yang soleh, ya, Acey.” Ucap Kris sambil ngangkat tangan ke atas, berdoa ceritanya.

“………….” Luhan natap Kris, Ace dan Chen bergantian.

“………….” Chen balik natap Luhan dan nggak tega (baca: nggak sudi) natap Kris dan Ace.

“Kenapa hening?” tanya Kris bertanya-tanya.

“LO KEBANGETAN ANEHNYA, KRIIIIISSSS!!!” pekik Luhan dan Chen. Dan berdua langsung kabur ke luar dorm, karena Kris sudah siap-siap mau nimpuk mereka pakai keranjang pakaian.

Xiumin masih manyun dan ngomel di dalam kamarnya. Dia sibuk ngelipetin pakaiannya sendiri. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.

Xiumin nggak gubris.

Diketuk lagi lebih keras, hampir ngegedor gitu.

“Siapa? Mau apa? Jangan ganggu gue!” serunya jengkel.

“Ini gue, leader lo,” balas Kris yang membungkuk, nempelin mulutnya ke lubang kunci dan ngomong. “Xiumin~ah, makan siang hari ini apa?”

“MAKAN TUH BAJU KOTOR! GUE NGGAK MAU MASAK! NGGAK MAU BEBERES RUMAH! NGGAK MAU NYUCI BAJU KALIAN! NGGAK MAU… NGGAK MAU… nggak mau apa, ya? Lah, pokoknya jangan gue!” sembur Xiumin dengan kekuatan teriakannya yang ngalahin king-kong ngamuk minta dikawinin.

“Ya ampun, segitunya si Xiumin. Biasa aja kali, Min. Ya, udah. Gue ke dorm K aja, deh. Baek baek, ya, Min,” kata Kris dari lubang kunci.

“Bang Chumin, jangan nakal, yaa.. Ace mau ketemu abang Chanyeol dulu… dadaaaaa~” Kris mengimitasi suara Ace, yang bikin Xiumin muntah darah campur dahak dan sejenisnya.

Kris dan Ace, si boneka aneh yang bikin Kris jadi aneh itu, keluar dorm, dan berjalan ke dorm K.

Xiumin akhirnya sendirian di dorm. Dia pakai waktunya itu buat merenung dan introspeksi diri. Dia ngerasa nggak seharusnya dia marah sama teman-temannya.

Xiumin biasanya juga nggak heboh waktu nyuciin baju mereka, mungkin karena kondisi badan yang sudah capek, maka moodnya jadi nggak karuan.

Xiumin nyesel kenapa tadi marah-marah nggak jelas, padahal kalau dia ogah ngerjain kerjaan nyuci baju itu, ya ditinggalin aja, biar pemiliknya masing-masing yang ngurus.

Tapi masalahnya, Xiumin nggak betah lihat pakaian kotor yang numpuk. Dia nggak betah lihat dorm berantakan. Jadi dia secara sukarela bakal beresin kekacauan yang dibuat sama teman-temannya.

Akhirnya, Xiumin fix banget buat minta maaf sama Kris, Luhan, Chen, Tao dan Lay.

*

Di dorm K, ruang tengah terasa penuh sesak kayak ikan sarden desak-desakan di dalam kaleng.

Suho si leader berwajah adem dengan senyum komersil kayak sales-sales yang nawarin vacuum cleaner canggih tapi harga terjangkau itu, berdiri nggak menjulang di depan kawan-kawan seperjuangannya.

“Apa yang ngebawa kalian ke sini?” tanyanya pada onggokan Exo-M yang berdesakan duduk di sofa yang cuman bisa nampung tiga orang itu.

“Xiumin ngamuk-ngamuk kayak orang kerasukan.” Kata Tao.

“Kenapa dia ngamuk?” tanya Suho, masih dengan senyum komersil ala iklan pasta gigi.

Chen nyeritain semua kejadian dari awal sampai akhir. Suho ngangguk-ngagguk mengerti.

“Jadi kenapa kalian ada di sini?” tanya D.O yang masih make celemek motif bunga-bunga sakura mungil yang cantik.

“Makan siang, lah.” Kata Kris yang masih asik mainan Ace bareng Lay.

“Uang belanja nggak ikut nyumbang, tapi mau numpang makan doang. Ckckck.” Kai ngedumel nggak.

“Heh, runner up magnae! Lo urusin kulit item lo itu aja, ya!” sembur Kris yang dongkol sama celetukan nggak sopan Kai.

Kai diam dan nggak berani komentar lagi. Dia pura-pura sibuk bantuin D.O nyiapin meja makan.

“Hmmm… ya sudah, hari ini kalian boleh makan di sini. Tapi Tao harus aku sendiri yang ngambilin makanannya, kalau nggak, bisa-bisa semua dihabisin dia.” Suho menengahi mereka.

Setelah meja makan siap, semua member mulai makan. Kecuali Luhan.

“Lulu, nggak makan?” tanya Lay perhatian.

“Aku sudah kenyang, Lay,” jawabnya lembut. Tumben, padahal biasanya nyablak kalau di dorm M.

“Bukannya kamu belum makan dari pagi?” Lay nanya lagi.

“Iya, tapi rasa laparku hilang langsung begitu menatap senyum manis Thehun~ah,” katanya dengan pipi memerah.

“Ampun, deh~” Lay langsung nutup muka.

Sehun yang agak-agak nggak ngeh dengan ke-sok-imutan Luhan itu malah asik gendong-gendong Ace. Dan Luhan hanya natap Sehun sampai mangap.

Acara makan siang selesai. Mereka semua duduk-duduk santai sambil ngobrol. Chanyeol, Baekhyun dan Tao lagi seru ngobrolin film horor yang banyak setannya. Tapi ujung-ujungnya Tao mewek karena dia jadi parno sendiri dan bilang kalau beberapa saat lalu dia lihat Ace kedipin mata ke dia. Halusinasi.

D.O, Suho dan Chen masing-masing baca majalah. D.O baca majalah wanita yang banyak resep masakannya, Suho baca majalah tentang prospek bisnis yang baik. Dan Chen baca majalah pariwisata, dia ada rencana ngajak ortunya jalan-jalan.

Kris lagi berdua Ace. Quality time, katanya. Whateverlah. Emang otaknya lagi nggak beres itu.

Lay sama Kai tiduran telungkup di ubin sambil nonton sesuatu dari laptop. Sesekali Lay terkesiap, nutup mulutnya lalu ketawa ngikik sambil nyenggol-nyenggol Kai. Nggak tahu mereka nonton apaan.

Sehun yang sudah nggak mainan Ace, berduaan sama Luhan. Mereka kangen-kangenan. Padahal nggak ketemuan cuman sehari aja. Tapi begitulah HunHan, yang satu tukang ngelamun, yang satunya lagi labil. Klop, deh. (hehehe)

*

Ting tong… ting tong…

Ada yang pencet bel. D.O yang bukain pintu.

“Anak-anak M masih di sini, kan?” tanya si pemencet bel itu.

“Yups. Mereka lagi makan puding mangga, tuh. Kamu udah nggak marah lagi, kan?” tanya D.O sambil pegang bahu Xiumin. D.O selalu pede kalau dekat Xiumin, karena tinggi badan mereka selevel.

Xiumin ngangguk dan senyum imut-imut kayak kucing baru lahir.

Duo bogel (digodok D.Omin) itu masuk ruang tengah. Semua mata memandang, kecuali mata Luhan yang lagi sibuk natap Sehun yang lagi jilat-jilat sendok puding.

“Hai, guys,” sapanya gugup.

“Hai, Xiumin. Duduk sini. Ini masih ada pudingnya,” ajak Suho.

“Hmm… ntar aja. Mmm… gue mau bilang sesuatu sama temen-temen M.” dia ngambil nafas sebelum lanjutin. “Gue mau minta maaf karena tadi gue marah-marah untuk masalah yang sepele. Gue bukannya membenarkan sikap malas kalian, tapi gue hanya butuh pengertian dari kalian. Gue tahu kita semua capek dengan kegiatan-kegiatan kita, tapi tanggung jawab atas barang-barang sendiri juga penting. Harusnya gue bisa kasih tahu kalian dengan cara yang lebih baik, tapi gue keburu emosi. Maafin gue, guys.”

Hening…

“Guys? Kalian nggak mau maafin gue?” tanya Xiumin ketika teman-temannya cuman melongo sambil ngeliatin dia.

Lalu serentak, kelima temannya bangun dan nubruk dia. Mereka rame-rame meluk Xiumin.

“Kita maafin lo, kok, Min.” kata Luhan yang keasikan remes-remes pipi sahabatnya itu.

“Iya, Xiumin. Aku juga maafin kamu. Dan aku mau minta maaf juga, karena aku terlalu cuek dan nggak bantuin kamu. Maaf, ya,” kata Lay sambil puk-puk pantat semok Xiumin.

“Aku juga minta maaf, Xiu-Xiu. Aku janji mulai besok bakal cuci pakaianku sendiri.” Tao bilang sambil pijit-pijit bahu Xiumin.

“Gue maafin lo, Min. Dan lo nggak salah kalau lo marah. Kita aja yang nggak peka. Sorry, Bro,” Chen meluk Xiumin.

“Ehem… gue juga maafin lo, kok, Min. Tapi baju-baju gue lo cuciin, ya. Ntar gue bayar, deh,” kata Kris dengan songongnya.

“Kris, lo pernah dicium wajan D.O belum?” Xiumin micingin matanya yang memang sudah memicing dari semenjak dia masih zigot itu.

“Hmmm… kalau dicium D.O, sih, pernah, Min,” celetuk Kris.

“YAH! KRIS! JANGAN NYEBAR HOAX! Aku timpuk pake ulekan baru kapok kamu!” jerit D.O sepenuh hati dari seberang ruangan.

“What?” semua ngeliatin D.O yang mukanya merah keunguan saking malunya.

“Nggak, kok. Gue hanya nyoba bikin sensasi kayak artis-artis gitu,” kata Kris antai sambil kibasin poninya Lay. (?)

Anak-anak EXO hanya menghela nafas dan geleng-geleng. Kadar narsisnya Kris memang sudah unlimited, deh.

Xiumin akhirnya bikin peraturan dan meski Kris mengajukan protes dan minta diberi grasi (?) biar dia nggak usah nyuci baju, tapi pada akhirnya semua setuju (kecuali Kris yang terpaksa).

Setiap hari satu orang nyuci pakaiannya sendiri. Jadi selama enam hari masing-masing nyuci di hari tertentu yang sudah diatur. Sesempatnya pula. Baru sempat nyuci malam, ya silakan. Baru bisa nyuci sore, ya monggo. Intinya semua harus nyuci bajunya sendiri.

Setelah tanda tangan kontrak perjanjian itu, semua bersalaman dan mufakat pun telah di dapat (?)

Exo-K jadi kepikiran untuk ngikutin konsep Exo-M, maka mereka pun ngebentuk jadwal nyuci baju.

Permasalahan pun akhirnya terselesaikan.

Dan kehidupan di dorm M menjadi lebih harmonis.

THE END

A/N : yg dialami Xiumin di atas adalah cerminan kehidupan author. Kkkk

Advertisements