^^^

Kris

Seorang remaja bertampang ganteng bak aktor Bollywood sedang menyodorkan secarik surat fotokopian ke tangan ibunya. wanita paruh baya yang masih kelihatan muda itu membuka lipatan kertas itu dan membacanya.

“Apa ini, Kris?” tanya wanita itu.

“Itu surat ijin, Mam.”

“Surat ijin mengemudi?”

“Bukan, Mamih. Itu surat ijin buat camping ke gunung merbabu.”

“Hah, berburu babu? Kebetulan babu kita pulang kampung.”

“Ya ampun, Mamih. Gunung merbabu, bukannya berburu babu! Mam, alat bantu dengarnya udah dipakai belum, sih?” kata cowok itu sambil ngintip-ngintip kuping ibunya.

“Oh, iya. Lupa.” Si Mamih menepuk jidatnya sambil tertawa.

“Pantesan dari tadi nggak nyambung mulu jawabannya. Kris ambilin dulu, deh,” ujarnya seraya mengambil alat bantu dengar milik neneknya yang diwariskan kepada ibunya.

Kris menyerahkan sebuah alat kecil kepada ibunya, dan wanita itu memakainya.

“Jadi, apa isi surat ini?” kata ibunya sambil mengibaskan kertas itu.

“Hhhhh… makanya pakai kacamatanya dulu, Mam. Lagian katanya mau operasi lasik, kok, sampai sekarang nggak dioperasi, sih, Mam?”

“Iya, Kris. Duitnya kepake mulu.”

“Dipake buat apaan, Mam?” tanyanya sambil mengunyah roti oles selai stroberi.

“Buat bayar sekolahmu yang nauzubillah mahalnya itu!” sembur ibunya kesal.

“Oh. Jadi Mamih nyesel sekolahin Kris di sana? Okeh, Kris mau keluar aja. Pindah sekolah yang murah meriah, yang kampungan, udik dan ndeso!” suara Kris meninggi.

“Bukan gitu maksud Mamih, Kris. Sudah-sudah, nggak usah dibahas. Sekarang kamu jelasin isi surat ini. Tulisannya mungil-mungil kayak gigi nyamuk.”

Kris menarik nafas dalam dan menjelaskan maksud hati surat itu.

“Itu surat buat camping selama tiga hari di gunung merbabu. Pasang tendanya di kaki gunung, terus hiking-hiking gonna get to her heart (?) sampai ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali…”

“Kiri kanan, kulihat saja…”

“Banyak pohon cemaraaa…”

“Aaaaa…”

“Eh, malah nyanyi, sih, Mam?” Kris bingung dan menggaruk belakang telinganya.

Ibunya mengangkat bahu. “Jadi kamu mau nginep di gunung?”

“Yoi, Mamih,” sahutnya dengan gaya cool sambil kibasin poninya kayak model iklan sampo anti ketombe.

“Nggak boleh! Mamih nggak ijinin kamu ikut kemping kemping itu.” tegas ibunya sambil menggebrak meja.

“Kok, nggak boleh, Mam? Temen-temen Kris ikut semua, masa Kris duduk ngelamun sambil nyari kutu di atas genteng sendirian? Ogah pokoknya! Ogah! Kris harus ikut, wajib ikut.” Kris ngotot.

“Mamih nggak suka kalau kamu ke tempat-tempat itu. Bahaya, Kris. Mamih sering denger berita ada orang ilang di gunung. Di sana itu banyak dedemitnya! Banyak binatang buasnya. Mamih nggak sudi kalau kamu ke sana!” semakin ngotot Kris meminta, maka semakin keras kepala pula ibunya.

“Mamih, ini kesempatan terakhir Kris bareng temen-temen di SMA. Please Mamih, please!” Kris bahkan berlutut dan narik-narik ujung gaun ibunya.

“Kamu ngeyel banget, sih, jadi anak! Kalau orangtua bilang ya nurut! Jangan ngotot! Pokoknya mamaih nggak ikhlas kalau kamu ikutan kemping! Paham?!” sentak ibunya sebelum meninggalkan Kris yang berurai air mata kemarahan di meja makan, dengan mulut manyun.

^^^

“Kris! Udah jam ½ 7, nih. Ntar telat ke sekolah, lho.” Tegur ibunya dari depan kamar anaknya yang manjanya amit-amit jabang bayi.

Namun, nggak ada jawaban. Maka masuklah wanita itu ke kamar anak bungsunya. Matanya jelalatan mencari sosok jangkung anak kesayangan sekaligus yang paling membuat tekanan darahnya naik. Dengan senyum puas di wajahnya, wanita itu mendekati ranjang anaknya yang tertutup selimut berwarna hijau daun dengan hiasan ulat-ulat cantik berpita seperti mau datang hajatan.

“Ayolah anak mamih yang paling ganteng, paling kece badai kayak artis bollywood favorite mamih. Bangun, dong. Tuh, lihat kakak-kakakmu si Xiumin dan Luhan sudah bangun dari subuh, pada lari pagi keliling kompleks, terus bantuin nyuci mobil papih. Masa anak mamih yang paling tinggi masih molor?” ucapnya sambil menggoyang-goyang tubuh anaknya yang terbungkus selimut, persis lontong. Tapi ada sesuatu yang aneh waktu mamih pegang-pegang badan Kris.

“Lho, sejak kapan anak mamih jadi bengkak gini? Kris? Kamu nggak disengat tawon, kan, Nak?” tanya ibunya sambil menarik selimut Kris. Dan betapa kagetnya waktudi lihat ternyata hanya bantal yang dijejer rapi di bawah selimut itu. Nggak ada Kris. Nggak ada tubuh tinggi ataupun kurus dengan rambut pirang menyala di tempat tidur.

“PAPIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIHHHHHHHHH!!!!!” jeritan melengking yang bisa bikin kuping berdengung, mengisi atmosfir rumah itu. Papih yang sedang menikmati morning coffee with a newspaper itu hampir tersedak kopi panasnya yang sedang diseruput dengan syahdu gara-gara dengar suara lengkingan mamih.

Cangkir ditaruh di atas meja dan koran dilempar begitu saja, papih berjalan cepat menuju sumber suara. Xiumin dan Luhan yang sedang duduk di depan tv menonton Spongebob Squarepants hanya berpandangan lalu mengangkat bahu.

“Yang dipanggil Papih, kan, bukan kita?” celetuk Luhan, yang diiyakan oleh Xiumin, kakaknya. Mereka pun berasyik-masyuk melanjutkan menonton si spons kuning dan sahabatnya si bintang laut yang bodoh.

“Ada apa, Mamih?” tanya ayah Kris. Pria ubanan itu sedang merangkul bahu istrinya yang gemetar.

“Kris, Pih. Kris,” isaknya dengan air mata berlinang.

“Kris makin ganteng, ya, Mih?” tanya suaminya.

“MAKIN GANTENG UBANMU RONTOK PAPIIIIH! KRIS KABUUUUURRRR!!!!” gemboran istrinya itu membuat kedua anaknya, yang sedang tertawa melihat si cumi-cumi penggerutu menjadi tampan karena wajahnya ketiban sesuatu, itu tersentak dan Luhan yang latah segera membanting remote control yang tadi dipegangnya karena kaget.

Kedua kakak beradik itu melesat ke kamar Kris.

“Kabur? Mungkin kesekolah, Mamih. Jangan su’uzzon sama anak sendiri, dong,” sang suami berusaha menenangkan istrinya.

“Kris kabur, Papih. Hari ini kelas tiga ngadain kemping di gunung serdadu! Mereka mau nginep tiga hari di sana. Mamih sudah larang dia, Pih. Tapi dasar itu anak manja dan kolokan gara-gara dimanjain Papih, makanya dia kabur.”

“Kok, Papih yang disalahin? Lagian gunung serdadu emangnya ada, ya?”

“Gunung merbabu kali, Mam. Mana ada gunung serdadu.” Celetuk Xiumin yang sudah duduk di kursi di sudut kamar itu dan mengunyah makanan ringan sisa adiknya yang kolokan itu.

“Sebodo amat mau serdadu kek, merbabu kek, pokoknya mamih nggak ikhlas Kris ikutan kemping. Kualat itu anak. Kualat! Ngelawan omongan orangtua. Awas aja kalau pulang, mamih pasung dia biar nggak bisa kemana-mana.” Omelan ibu Kris tidak akan bisa direm atau distop, jadi ketiga laki-laki dalam ruangan itu hanya diam menunggunya berhenti bicara.

^^^

Berbekal ransel merk MCM warna coklat tua, Kris menumpang mobil sahabat sekaligus teman sejak masa kecilnya, Lay.  Kris menaruh tas MCM coklatnya di samping tas MCM ungu milik Lay. Mereka memang sengaja memakai tas dengan model yang sama. Karena kebetulan pemilik perusahaan tas itu adalah teman ayah Kris. Dan bukan hanya Kris dan Lay yang kembaran model tasnya, tapi Luhan pun sama. Hanya beda warna. Kalau dipakai bebarengan, pasti orang-orang bakal mikir, ‘Ih, belinya kodian, ya?’.

“Lo diijinin ama ortu lo, ya, Kris?” tanya Lay yang sibuk mengganti persneling.

“Pasti, lah. Mana mungkin permintaan gue ditolak. Gue, kan, anak kesayangan mamih en papih gue, Lay.” Ujarnya dengan dada membusung. (untung bukan perutnya yang membusung, bisa-bisa dikira busung lapar. =_=)

“Wah, gue iri ama lo, Kris. Apa-apa boleh. Gue, mah kebalikan. Apa-apa nggak boleh. Bete nggak, sih?”

“Hmm… biasa aja, sih. Toh, gue nggak pernah ngerasain bete gara-gara permintaan gue nggak dikabulin.” Balasnya dengan agak mencemooh.

“Dih, sombong. Kalo lo bukan sobat gue dari jaman masih orok, pasti lo udah gue tendang dari mobil ini.” Sungutnya kesal dengan sikap Kris.

Lay mendengus dan membelokkan mobilnya ke parkiran sekolah. Sudah ada sekitar lima mobil dan sebuah mini bus berkumpul di lapangan parkir yang luas itu.

“A-yo, wassup?” sapa Kris dengan gaya sok cool yang dibanggakannya. Teman-temannya membalasnya sekenanya. Rupanya Kris bukan termasuk murid yang digemari di angkatannya. Hanya Lay yang mau berteman dekat dengannya.

Sambil petantang petenteng, Kris mendekati sekelompok cewek-cewek manis dan cute, “Hai, cewek,” sapanya sambil mengedipkan mata dengan genitnya.

“Kelilipan kecoak, ya, Kris?” tanya seseorang diantara mereka.

“Nggak, tapi kelilipan badak, Ber!” semburnya kesal.

“Oh, pantesan kedip-kedip nggak jelas gitu. Ayo, girls, kita naik mobil gue,” ajak cewek itu dan berbalik meninggalkan Kris.

“Woy, Amber!” panggil Kris.

“Apaan?” balas cewek bergaya cowo itu dengan lantang.

“Ngetes kuping! Hahahaha,”

Amber mendengus dan mengabaikan guyonan garing teman sekelasnya itu.

Dua orang guru mereka sudah mulai mengabsen. Kris dan Lay memasuki mobil bersama tiga orang teman sekelas mereka, Chen, Tao dan Kai.

Perjalan menuju kaki gunung merbabu sekitar dua sampai tiga jam.

Sesampainya di kaki gunung itu, mereka beristirahat sejenak sebelum akhirnya memasang tenda.

“Kris, cariin kayu bakar, dong. Buat api unggun ntar malam,” seru ketua kelompok Anak Beruang Hilang, Suho.

“Gue? Nyari kayu bakar? Hellooooo… gue ikut ke sini bukan buat nyari kayu bakar. Suruh yang lain aja.” Ucap Kris.

Akhirnya Suho mengalah dan dia menyuruh Kai mencari kayu.

Kelompok Beruang Madu Cantik yang diketuai oleh Amber, sedang sibuk menyiapkan makan. Dan mereka membutuhkan air. Karena hanya Kris yang kelihatan nganggur, maka Amber meminta Kris mengambilkan air dari mata air dekat lokasi.

What? Lo nyuruh gue ambil air? Gotong-gotong ember berat gitu? Sorry, ya. Tenaga gue nggak akan gue buang-buang percuma buat kerjaan hina dina kayak gitu. Maaf, ya, Ber.” Katanya seraya melenggang pergi.

“Oh, gitu, ya? Awas kalo lo minta makan ama kita!” seru Amber kesal.

Semua berusaha sabar ketika menghadapi sikap manja dan egois Kris. Dan semua merutuki nasib sial mereka. Kenapa Kris Wu harus ikut?

Api unggun sudah dinyalakan, tenda sudah tegak berdiri, dan semua duduk-duduk santai sambil ngobrol. Udara pegunungan di malam hari terasa sangat dingin. Kris sejak beberapa menit yang lalu kelihatan diam tanpa bahasa apapun selain bahasa tubuh.

Badannya digoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Bibir bawahnya digigit-gigit. Lay yang melihatnya merasa ada yang aneh.

“Kris, lo kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa, kok. Gue kedinginan doang, kok.” Sahutnya, tapi wajahnya mulai pucat.

“Lo kebelet, ya? Noh, kencing di balik semak-semak itu,” Lay nunjuk ke deretan semak-semak yang cukup tinggi.

“Lo nyuruh gue kencing sembarangan? Nggak level, ya. lo pikir gue sopir angkot yang kencing di pohon-pohon pinggir jalan?” semburnya gemas dan terhina.

“Ya udah, lo kencing di botol air mineral kosong aja, nih. Terus lo buang ke jurang. Beres, kan?” usul Lay lagi.

“Nggak sudi gue dengerin usulan lo, nggak ada yang beres!”

Lay mengangkat bahunya dan bergabung bersama teman-teman yang lainnya.

Hasrat buang air kecilnya sudah nggak bisa ditahan lagi. Maka Kris berjalan merembet-rembet sampai akhirnya dia yakin bahwa sosoknya nggak kelihatan oleh teman-temannya.

Sambil celingukan, Kris membuka risleting celananya dan hendak memelorotkannya, tapi dia takut kalau ada yang lihat, akhirnya di maju selangkah lagi.

Masih kurang tersembunyi rupanya, lalu dia melangkah lagi. Sampai langkah keempat tiba-tiba….

Grosaaaaakkkkkk….

Kris kepleset dan nyungsep menuruni sebuah lereng yang nggak terlalu curam. Tubuh krempengnya menggelundung sampai ke dasar cerukan itu. Dan Kris nggak melihat apapun selain kegelapan.

Kris pingsan.

^^^

“Cangkul cangkul cangkul yang dhalam, tanahnya longgar kenthang kutanam…” suara merdu dan medhok seseorang menyusup melewati gendang telinga Kris yang pingsan.

Samar-samar dia mendengar derap kaki mendekatinya. Tapi kepalanya terlalu pening dan berkunang-kunang. Badannya kaku dan pegal, nggak bisa gerakkan satu tulang pun.

“Adhuh, adhuuuuh…. Iki ono sengget pelem nyungsep nang kene!” celoteh orang itu menghampiri Kris. ( ini ada *kayu panjang buat ngambil mangga*nyungsep  di sini)

“Adhuuuh gustiiiii…. Jebule iki anake wong.” Orang bermata bulat itu makin panik. (ternyata ini anak orang)

Kris mendengar ada derap langkah kaki yang lain, kali ini sepertinya lebih dari satu orang. Dia nggak bisa membuka matanya, jadi dia hanya mengira-ngira.

“Ono opo, Pak?” tanya seorang remaja tinggi dengan ekspresi wajah berseri-seri.

“Pak, iku bambu runcing peninggalan mbah buyutku, yo, Pak?” seorang bertubuh mungil dengan mata sipit menunjuk onggokan tubuh Kris yang membujur kaku di atas semak-semak. (pak, itu bambu runcing peninggalan kakek buyutku, ya pak?)

“Ngawur! Iku kayu egrang sing biasa digawe mbah Suman. Tapi iki mung siji tok,” sergah cowok satunya sambil menepuk dahi cowok sipit itu. (ngaco, itu kayu egrang yang biasa dibuat kakek suman. Tapi yang ini cuman satu, doang)

“Wis, wis! Malah bahas egrang. Iki anake wong, rewangi bapak ngangkat bocah iki. Koyone kepleset dek nduwur,” laki-laki bermata bulat menegur mereka. (sudah-sudah! Malah bahas egrang. Ini anak orang, bantuin bapak ngangkat anak ini. Sepertinya dia kepleset dari atas)

Akhirnya tiga orang itu menggotong Kris menuju rumah mereka.

Tubuh Kris diletakkan di atas kasur yang digelar di lantai, dengan seprai seadanya dan bantal yang sudah tipis dan bau iler.

Kris nggak sadarkan diri lagi. Entah karena sakit kepalanya atau karena bau iler.

“Chanyeol, koyone bocah iki wong kota,” bisik si mata sipit. (sepertinya anak ini orang kota)

“Kok, kowe ngerti, Baek?” tanya si tukang senyum yang bernama Chanyeol.

“Wajahe ganteng, ora koyo kowe. Nek kowe, kan, wajah-wajah ndeso. Hahahaha,” balas Baekhyun, si pemilik mata sipit. (wajahnya ganteng, nggak kayak kamu. Kalo kamu kan muka-muka kampungan)

“Halah, koyo kowe ora ndeso, Baek. Ayo, rewangi bapak nandur kentang!” Chanyeol menjambak rambut Baekhyun dan mendorongnya keluar kamar sempit itu. (halah, kayak kamu nggak kampungan, Baek. Ayo, bantu bapak nanem kentang.)

Beberapa jam kemudian, Kris akhirnya sadar. Dia paksa dirinya untuk duduk, dan langsung mengaduh-aduh karena badannya sakit semua. Tiba-tiba dari luar kamar itu masuklah tiga orang laki-laki yang penampilannya kontras. Satu bermata seperti orang kaget all the time, satunya lagi setinggi pintu dengan muka cengengesan kayak orang lagi fly, dan yang satu lagi bermata sipit banget sampai bingung, itu mata atau cuman digambar garis, doang.

“Wis sadar, Dik?” tanya si mata orang kaget sambil mendekati Kris. (sudah sadar, dik?)

“Mas, nami sampeyan sinten?” tanya Baekhyun, “Kulo Baekhyun. Putrane bapak Kyungsoo,” (mas, namamu siapa? Aku baekhyun. Anaknya bapak kyungsoo,)

“Hah?” Kris cengok. Dia sama sekali nggak faham apa yang mereka tanyain.

“Heh, Baekhyun, kowe ojo goblok, mas ganteng iki wong kota, ngomonge bahasa Indonesia! Piye, toh?” Chanyeol mendorong bahu Baekhyun gemas. (heh, baekhyun, kamu jangan bodoh, mas ganteng ini orang kota, ngomongnya bahasa indonesia)

Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk.

“Dik, nama kamu siapa? Dan kamu dari mana?” tanya Kyungsoo sambil nyentuh dahi Kris. Mengecek apa masih demam atau nggak.

“Nama… namaku… siapa namaku… AKU SIAPA???? NAMAKU SIAPA??? KENAPA AKU NGGAK BISA INGAT???” pekikan miris mengiris hati menggema di kamar dengan cat tembok yang mengelupas itu.

Kyungsoo sudah panik dan berlinang air mata. Chanyeol dan Baekhyun malah hom-pim-pah alaihum gambreng, Do Kyungsoo pakai baju rombeng, menebak-nebak siapa nama pemuda kota itu.

“Heh, ChanBaek! Ojo dolanan! Iki bocah klalen jenenge sapa. Keno… am… amelia? Eh, dudu kui. Am… ampela? Ah seje maneh. Am… amne… aha! AMNESIA!” Kyungsoo berseru lantang dan bangga karena sukses mengingat istilah hilang ingatan. ( heh, chanbaek! Jangan mainan! Anak ini lupa namanya siapa. Kena.. am… amelia? Eh bukan itu. am.. ampela? Ah bukan lagi. Am… amne.. amnesia!)

“Sopo kui amnesia? Pacare bapak sing anyar, yo?” tanya Baekhyun, yang langsung menerima tabokan di bokongnya dari Kyungsoo. (siapa itu amnesia? Pacar bapak yang baru, ya?)

“Heh! NAMAKU SIAPA?!!” pekik Kris kesal.

“Kulo mboten ngertos nopo-nopo, Dik.” Kyungsoo menghela nafas berat sambil usap-usap bahu Kris. (aku nggak ngerti apa-apa, dik)

“Pak, bapak wae sing ngei jeneng nggo mas ganteng iki,” usul Chanyeol. (pak, bapak aja yang ngasih nama buat mas ganteng ini)

Kyungsoo berpikir sambil mengulum bibir bawahnya yang tebal kayak sol sepatu baru punya Kris.

“Hmmm…. Mulai sekarang, bapak kasih kamu nama BEJO.” Setelah sekian menit dan jam, akhirnya Kyungsoo berhasil nemu nama yang cucok bo buat Kris.

“Lho, kok, Bejo, Pak? Ndeso banget!” protes Baekhyun.

“Bejo itu ada kepanjangannya. Bejo ora mati pas nyungsep ning jurang. Itu nama panjangnya,” kata Kyungsoo sambil memilin-milin bibir atasnya dengan jarinya. (?) (bejo itu ada kepanjangannya. Bejo nggak mati pas nyungsep ke jurang.)  *bejo=untung

Baekhyun dan Chanyeol bertepuk tangan gembira, seolah Kyungsoo berhasil menang sebagai juara pertama dalam kontes nyinden di kampung.

“Bejo… Bejo… Bejo…” Kris mengulang-ulang nama yang diberikan Kyungsoo padanya agar mengingatnya.

“Nah, Bejo. Sekarang kamu ingat asal kamu dari mana? Nanti bapak antar,” tanya Kyungsoo.

Kris berusaha mengingat, tapi hanya awan gelap yang mengisi kepalanya. Gelap. Nggak bisa mengingat apapun.

Kris menggeleng lemah.

Kyungsoo membesarkan hati Kris, dia bilang kalau Kris masih syok dan butuh waktu buat pemulihan. Kris setuju.

^^^

“BEJOOOOOO! MAIN YUUUUK.” Suara-suara berisik mengganggu Kris dari kegiatannya mencabuti bulu ayam kampung hasil ternak Kyungsoo.

“IYOOOO SEKEDAAAAP! AKU WISUH SIIIIK!!!” jeritnya dari belakang rumah. (iya sebentar. Aku cuci tangan dulu)

Setelah selesai cuci tangan pakai sabun aroma lemon, Kris atau yang lebih dikenal sebagai bejo itu keluar menyambut panggilan teman-temannya.

“Hai, Sehun. Makin kece kowe,” Kris mencolek dagu Sehun.

“Ih, Mas Bejo lenjeh. Ayok, dolanan ning lapangan. Aku duwe layangan anyar. Mas Bejo juga tak gawekke.” Sehun, si anak tetangga yang ganteng dan imut itu melompat-lompat riang sambil merangkul lengan Kris. (ih, mas bejo genit. Ayo main di lapangan. Aku punya layangan baru. Mas bejo juga aku bikinin)

Kris, Sehun, Chanyeol dan Baekhyun berjalan menuju lapangan yang sebenarnya adalah padang ilalang yang luas. Tanah punya pengusaha kaya dari kota.

“Iki lho, Mas Bejo. Layangn nggo sampeyan, Mas. Apik, kan?” Sehun sumringah waktu menyodorkan layangan untuk Kris. (ini lho, mas bejo. Layangan buat kamu, mas. Bagus kan?)

Kris mengangkat layangan itu dan melihat gambarnya. Sebuah naga merah dengan semburan api keluar dari mulutnya. Sebenarnya Kris melihatnya sebagai cacing bersayap menyemburkan api.

“Iki gambar opo, Sehun?” tanya Kris dengan dahi mengernyit. (ini gambar apa, sehun?)

“Iku gambar naga, Mas. Aku mbayangke mas Bejo bisa mabur koyo naga dadi biso ngajak aku keliling dunia. Hehehe. Aku bosen ning kampung, Mas.” Sehun tiba-tiba tampak sedih. (itu gambar naga, mas, aku bayangin mas bejo bisa terbang kayak naga jadi bisa ajak aku keliling dunia. Aku bosan di kampung, mas)

“Mas Bejo janji, mengko mas bakal ngajak Sehun, Baekhyun, Chanyeol karo Pak Kyungsoo keliling dunia. Oke?” Kris merangkul bahu Sehun dan tersenyum. (mas bejo janji nanti mas bakal ajak sehun, baekhyun, chanyeol dan pak kyungsoo keliling dunia)

Sehun kembali ceria, Chanyeol dan Baekhyun salto-salto sambil jejeritan nggak jelas di depan mereka. Kris tertawa bahagia.

^^^

“Chanyeol, Baekhyun, kalian ojo metu dek omah, yo. Bapak karo Bejo arep ning kota, ngirim kobis karo kentang ning pasar. Mengko sore bapak bali, kok.” Kyungsoo menitip pesan pada anak-anaknya dan dia memakai topi bututnya dan jaket usangnya.

Kris berpamitan pada Baekhyun dan Chanyeol, lalu ikut Kyungsoo naik mobil pick-up hitam. Di bak mobil itu sudah penuh dengan gundukan kentang dan kol. Tanaman hasil panen kebun Kyungsoo yang subur.

Semilir angin dari jendela yang terbuka menerpa rambut Kris. Dia memejamkan mata menikmati sejuknya hawa pagi perbukitan.

“Bejo, kowe seneng ora tinggal karo aku?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. (bejo, kamu senang nggak tinggal sama aku?)

Kris menoleh dan menatap Kyungsoo. “Inggih, pak. Kulo remen sanget.” Balasnya sambil tersenyum tulus. (iya, pak. Aku sangat senang)

“Aku juga seneng, Bejo. Kowe luwih pinter tenimbang Baekhyun karo Chanyeol. Kadang aku mikir, kok nasibku apes nemen, yo? Ditinggal mati bojo, eh malah ditinggali anak sing ora biso diandalke. Aku bejo biso ketemu kowe, Jo.” Kyungsoo menepuk bahu Kris lembut.

(aku juga senang, bejo. Kamu lebih pintar daripada baekhyun dan chanyeol. Kadang aku mikir, kok nasibku sial banget, ya? ditinggal mati istri, eh malah ditinggalin anak yang nggak bisa diandalkan. Aku beruntung bisa ketemu kamu, Jo)

Kris tersenyum, “Tapi Chanyeol lan Baekhyun sayang karo bapak. Kulo uga sayang bapak,” (tapi chanyeol dan baekhyun sayang sama bapak. Aku juga sayang bapak,)

Kyungsoo tampak terharu. Dan menarik nafas dalam, lalu fokus pada kegiatan menyetirnya.

“Bejo, tolong anterno iki ning kios bapak Wu. Iku sing plange ijo royo-royo,” perintah Kyungsoo sambil menyerahkan sekeranjang kol yang masih segar. (bejo, tolong anterin ini ke kios bapak Wu. Itu yang plangnya ijo)

“Siap, Boss!” Kris berdiri tegak sambil mengangkat tangannya memberi tanda hormat. Kyungsoo terkekeh.

Orang-orang di pasar pada ngeliatin Kris semua. Kok, bisa-bisanya ada kuli angkut yang begitu ganteng, tampan, cakep, dan nyaris sempurna itu? Mereka mikir lebih baik dia jadi model.

Kris tertatih-tatih membawa keranjang yang beratnya sekitar 30 kg itu ke kios yang ditunjuk Kyungsoo.

“Pak, ini kolnya, dari pak Kyungsoo,” kata Kris kepada seorang bapak-bapak beruban yang maksa pakai higlight hitam di rambutnya.

“Oh, makasih, Chanyeol.” Sahut bapak itu masih membelakangi Kris. Begitu bapak itu berbalik menghadap Kris, matanya membulat karena syok.

“Kamu bukan Chanyeol!” katanya sambil nunjuk Kris.

“Memang bukan.” Balas Kris agak takut.

“Kamu Kris!”

“Kris? Maaf, pak. Saya Bejo.”

“KRIIIIIIIISSSSSS!!!!! Mamih mu sudah putus asa nyariin kamu! Kabur ke mana kamu?!!!” bapak itu histeris. merengkuh Kris dan memeluknya. Kris berusaha mendorong tubuh bapak-bapak itu.

“Saya bukan Kris, Pak. Saya Bejo. B-E-J-O, BEJO!”

“Kamu Kris, titik! Ayo pulang!” bapak itu menggenggam tangan Kris dan menyeretnya.

“BAPAAAAAK! AKU AREP DICULIIIIIIK!!!” jerit Kris saat melihat Kyungsoo sedang sibuk menawar harga dengan pedagang Kentang. (bapak. Aku mau diculik)

“BEJOOOOOOOO!!!!!!” Kyungsoo berlari mengejar Kris dan bapak-bapak itu.

“Maaf, Pak. Mau dibawa kemana anak saya?” kata Kyungsoo setelah berhasil mencegat mereka.

“Ini anak hilang! Dia Kris, anak kandung adikku. Dia hilang dua bulan yang lalu!” kata bapak itu.

“Mana buktinya kalau anak ini beneran, Kris?” tantang Kyungsoo. Dalam hati dia membatin, ‘jarang-jarang nemu orang cakep buat dijadiin anak’

“Gimana kalau kita ke kantor polisi. Bapak bisa kena tuduhan nyimpen anak orang, dan kasus penculikan.”

“Saya nggak salah. Jadi saya nggak takut. Ayo ke KUA,” Kyungsoo menjawab dengan berani.

“KUA? Mau nikah, Pak?” tanya Kris bingung.

“Salah, yo? Wis lah, sak onone kantor, ayo!” Kyungsoo menggaruk bibirnya. (salah ya? sudahlah, seadanya kantor, ayo)

Kyungsoo menitipkan mobilnya kepada salah seorang sahabatnya dan dia beserta Kris dan bapak-bapak yang ternyata adalah paman Kris itu bersama menuju kantor polisi.

Kris, Kyungsoo, dan paman Kris diinterogasi secara bergantian. Lalu salah seorang polisi menelepon orangtua Kris untuk dimintai kesaksian, apakah benar cowok itu anak mereka atau bukan.

“KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIISSSSSS!!!!!!” jeritan seorang wanita mengagetkan semua orang yang berada di kantor polisi. Wanita dengan gaun ketat membungkus tubuh moleknya, wajah berseri karena rajin memakai krim-krim mahal itu menghambur ke arah Kris dan memeluknya erat. Wanita itu menghujani wajah Kris dengan kecupan-kecupan yang meninggalkan jejak lipstik di sekujur wajah Kris.

“Bapaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk! Ono tante-tante girang doyan brondong, Paaaak! Kulo wediiiii!” Kris menjerit ngeri dan menggapai-gapai tangan Kyungsoo. (bapak. Ada tante-tante girang doyan brondong, pak. Aku takut)

“Apa? Kamu ngatain mamih tante girang? Mamih nggak jadi sedih lagi! Dasar anak durhaka! Sudah kabur, ngilang, dan sekarang ngatain mamih?!!! Dasar anak nggak tahu diuntung kamu!” si mamih dengan napsu memukuli Kris dengan tas mungilnya.

“Ibu, tenang, Bu. Kita duduk dan bicarakan ini pelan-pelan.” Seorang polisi berwajah mirip Choi Siwon salah minum obat itu memisahkan ibu yang mengamuk itu dari anaknya.

Setelah tenang, Ibu Kris duduk. Kris duduk di tempat yang agak jauh darinya. Dia duduk merapat di samping Kyungsoo. Ayah Kris duduk di samping ibunya, mengusap-usap bahunya.

“Oke, karena kalian sudah tenang, maka kami akan membahas kasus ini dengan lebih bermartabat dan profesional,” ujar polisi mirip Choi Siwon.

“Coba ibu ceritakan semuanya dari awal, sejak hari sebelum Kris hilang,”

Ibu Kris menuturkan semuanya satu demi satu, sejak Kris menyodorkan surat sampai mewek-mewek sampai besok paginya sudah nggak ada di kamarnya.

Lalu dia bertanya pada pihak sekolah, dan ternyata mereka mengira Kris pulang sendiri ke rumahnya. Teman-teman Kris sempat dimintai keterangan oleh polisi dua bulan lalu.

Setelah dua bulan, ibu Kris pasrah.

Setelah ibu Kris selesai, polisi menyuruh Kris menceritakan apa yang dia ingat.

“Gini, Pak. Yang pertama saya ingat adalah sepasang mata bulat mirip bola pingpong ngeliatin saya. Kejadian-kejadian sebelumnya saya sama sekali nggak ingat. Tapi keluarga pak Kyungsoo begitu baik sama saya, Pak. Saya dianggap seperti anaknya sendiri, secara dua anaknya nggak ada yang beres, sih. Hehe.” Masih sempatnya dia bercanda.

Lalu giliran Kyungsoo yang bercerita. Akhirnya diambil kesimpulan bahwa semua yang terjadi adalah suatu kecelakaan. Kris melanggar larangan ibunya, Kris terjerembab dalam lereng dan mendarat di dekat perkebunan Kyungsoo, si petani kol dan kentang, Kris menderita amnesia dan dirawat oleh Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo dianggap bersalah karena nggak melaporkan keberadaan Kris. Untungnya orangtua Kris nggak menuntut Kyungsoo.

“Pak’e…. Bejo ora pengin pisah dek pak’e.” Kris memeluk Kyungsoo begitu erat dengan mata berurai air mata. (pak, bejo nggak mau pisah dari bapak)

“Sami mawon, Bejo. Tapi mereka iku keluarga aslimu, Jo. Lan jenengmu iku Kris, seje Bejo. Tapi selamane kowe tetep Bejo nggo aku.” Kyungsoo ikut berderai air mata. (sama saja, bejo. Tapi mereka itu keluarga aslimu. Dan namamu itu kris, bukan bejo. Tapi selamanya km tetaplah Bejo bagiku.)

Mau nggak mau ibu Kris terharu juga. Rupanya Kris dirawat dengan tulus oleh Kyungsoo, si petani dekil tapi berbibir seksi.

Ibu Kris membisiki ayah Kris sesuatu.

“Ehem… aku ada tawaran buat pak Kyungsoo,” kata ayah Kris.

“Inggih, Pak Wu?” tanya Kyungsoo sopan. (iya, pak wu?)

“Gimana kalau pak Kyungsoo pindah ke kota. Kerja di rumahku. Anak-anak bapak sekalian dibawa ke sini, biar mereka bisa sekolah dan juga bantu-bantu kerja di rumah.”

Mata Kyungsoo yang sudah mirip orang kaget, sekarang benar-benar makin mirip orang kaget.

“Ciyus? Miapa? Enelan?” celetuknya dengan gaya kekota-kotaan.

“Bapak salah ngunjuk obat, yo?” bisik Kris. (bapak salah minum obat, ya?)

“Tapi nanti saya tinggal di mana, Pak?”

“Ya di rumahku. Nanti aku sediain satu tempat buat pak Kyungsoo dan anak-anak, gimana? Mau, kan?”

“Iyo, Pak’e. Gelem, yo?” Kris membujuknya agar mau tinggal bersamanya. (iya, pak. Mau, ya?)

Akhirnya Kyungsoo menganguk dan setuju dengan tawaran ayah Kris.

“Pak Kyungsoo bisa nyetir mobil, Kan?” tanya ibu Kris.

Kyungsoo mengiyakan.

“Bagus. Nanti pak Kyungsoo jadi sopir pribadi keluarga.” Katanya.

Kyungsoo senang, karena dia pasti bakal naik mobil keren dan mahal, bukan pick-up bobrok miliknya.

Karena semua berakhir dengan damai dan kekeluargaan, maka polisi menyilakan mereka pulang ke alamnya masing-masing.

Sesampainya di rumah, Kris diserbu dua kakaknya, Luhan dan Xiumin.

“Kriiiiissss… adik gueeeeeh…. Kenapa lo muncul sekarang? Setahun lagi baru nongol, gitu.” Seru Luhan seraya memeluknya.

“Iya, Kriiiis. Tadinya lo baliknya setahun lagi,” imbuh Xiumin.

Dan mereka berdua mendapat pukulan dari ibunda mereka yang sangat menyayangi Kris.

^^^

Rumah Kris tampak ramai dan hingar-bingar musik mengisi heningnya malam.

Semua orang sedang berkumpul dan berpesta menyambut kepulangan Kris.

“Kriiiiiiis! Lo bikin gue nangis sampai kejang-kejang gara-gara tiba-tiba ngilang!” Lay memeluknya erat.

Kris menatapnya bingung, “Kowe sopo?” (kamu siapa?)

“Kriiiiiisssss… lo lupa gue? Dan kenapa lo ngomongnya kayak orang udik gitu?” erang Lay kesal.

“Dan lagi,” kata Kris tegas, “Namaku Bejo bukan Kris!”

Dan tanpa ngomong apa-apa lagi, Kris pergi.

“Lay, itu Kris kena amnesia gara-gara nyungsep ke dalam lereng,” jelas Luhan.

“Bisa sembuh nggak, tuh?”

“Semoga nggak pernah sembuh,” celetuk Xiumin yang mengapit Lay.

“Kenapa?”

“Karena Kris yang versi Bejo jauh lebih berguna daripada Kris versi dulu.” Sahut Luhan.

“Kok, gitu?”

“Karena sekarang Kris nggak manja dan kolokan. Nah, kalau dia ingat semua lagi, bisa-bisa kita harus ngadepin Kris yang manja, kolokan..”

“Sok kecakepan…” tambah Lay.

“Sok keren…” imbuh Luhan.

“Sombong…” tukas Xiumin.

“Garing pula,” celetuk Lay menambahi daftar minus Kris.

“Hahaha… jadi…. Lebih baik Kris versi dulu atau versi Bejo?” tanya Xiumin dengan seringai usil di wajah tembemnya.

“HIDUP BEJOOOOOOOOOO!!!” Luhan dan Lay bersorak dan ber-high five.

Bejo… alias Kris… tak tahu menahu tentang pembicaraan tiga orang itu, karena dia sedang sibuk bercanda dengan Baekhyun dan Chanyeol.

“Papih…”

“Iya, Mamih…”

“Semua gara-gara ucapan mamih waktu itu, Pih,”

“Ucapan apa mamih?”

“Kris kualat, Pih. Padahal kalau mamih nggak larang dia, pasti kejadiannya nggak akan kayak gini,”

“Sudahlah, Mih. Semua ada hikmahnya. Sekarang mamih punya anak bungsu yang nggak manja, dan mau membantu. Ambil sisi postifnya aja. Meski harus urus tentang perubahan namanya, jadi Wu Bejo Kris, tapi bagaimanapun, dia tetap Kris kita mamih.”

“Iya, pih. Mamih ngerti. Makasih ya papih…”

Dan mereka berpelukan mesra.

^^^

Chanyeol dan Baekhyun bersekolah di SMA favorite, karena ternyata mereka cerdas-cerdas, dan Kris masuk universitas ternama. Kyungsoo menjadi sopir pribadi yang kompeten dengan dandanannya yang rapi dan kece.

Lay makin dekat dengan Kris versi Bejo, dan kemana-mana selalu berdua. Tadinya mereka dipanggil KrAy sekarang jadi BeLay. Dan mereka disukai teman-teman mereka yang lain.

Luhan dan Xiumin juga makin sayang dengan Bejo yang bertolak belakang dengan Kris yang lama.

Semua kejadian itu ada hikmahnya.

Dan menjadi Bejo sungguh membuat orang disekitarnya menjadi bejo alias beruntung.

THE END

A/N : Huakakakaka maaf yaaaa gaje bangeeet. Dan maaf buat Kriiiiis. Kamu selalu kunistakan. Hahaha

 

XD

 

I hope you like it

 

Advertisements