^^^

Pertanyaanku tentang siapa sebenarnya mereka perlahan terjawab juga.

Sang ketua kelompok yang tampan, Kris berusaha menjelaskan semuanya padaku.

“Kami berdua belas adalah utusan dari Exoplanet. Suatu tempat yang jauh dari sini. Misi kami adalah untuk mengembalikan kehidupan di tempat terbengkalai ini. Yang kami maksud dengan ‘mereka’ adalah The Dark Army. Mereka pasukan kegelapan milik seorang ratu yang bengis dan jahat. The Queen of darkness. Dan kenapa kamu jadi ikut terlibat dalam misi ini dikarenakan kamu adalah The Chosen. Hanya kamulah yang mampu mengendalikan The Light Power dengan benda itu. Hanya kamulah yang bisa membuka segelnya.” Ia menunjuk benda yang diberikan Baekhyun padaku. Aku masih belum memahami inti dari misi ini.

Kepalaku semakin berputar-putar rasanya. Urusan serigala belum selesai, sudah muncul the dark army dan the queen of darkness. Aku khawatir otakku tak bisa menampung terlalu banyak informasi aneh ini.

Namun, rasa ingin tahuku dan kegemaranku akan hal-hal berbau misteri seperti ini mendorongku untuk mengorek lebih banyak infromasi.

“Lalu seperti apakah sebenarnya tempat ini dahulu? Mengapa menjadi kota mati seperti ini? Lalu ke manakah semua penduduknya? Dan yang lebih penting adalah, bagaimana caranya mengembalikan kehidupan di tempat ini, sementara sudah tak ada kehidupan di sini?”

Rupanya Kris termasuk orang yang tak terlalu suka bicara, sehingga ia memberi Suho kehormatan untuk menggantikannya memberi penjelasan padaku. Dasar ketua yang malas.

Suho berdehem dan berdiri. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan sesekali tersenyum.

“Beberapa ratus tahun yang lalu…”

“Baekhyun, ambil popcorn sama soda. Lay ambilkan bantal. Sehun, beri sedikit hawa sejuk di sini,” potong Chanyeol yang dengan seenaknya menyuruh teman-temannya.

“Ada apa Chanyeol?” tanya Kris.

“Itu semua untuk menemani kita mendengarkan dongeng panjang Suho. Hehehe,” jawabnya dengan cengiran lebar di wajah tampannya. Aku menahan tawa dengan menggigit bibir bawahku.

Suho memandangnya galak sebelum melanjutkan ceritanya,

“Beberapa ratus tahun yang lalu tempat ini adalah suatu negeri yang bernama Dois Do Sol yang artinya negeri dua mentari.  Negeri ini termasuk negeri yang dikenal oleh banyak negara tetangga karena kemakmurannya. Negeri ini begitu subur dan makmur. Tanahnya begitu indah dan asri. Padang pasir yang mengelilingi tempat ini dahulunya adalah padang rumput yang begitu luas dan indah.

Tempat yang kita tinggali ini adalah sebuah kota tempat pusat pemerintahan berlaku. Negeri ini diperintah oleh seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Karena semua kebutuhan rakyatnya terpenuhi sehingga tidak ada yang merasa kekurangan, maka tidak pernah terjadi tindak kejahatan di tempat ini. Semua saling rukun dan bahagia.” Suho berhenti dan mengambil nafas, sekaligus menegur Baekhyun dan Chanyeol yang sedang memperebutkan sebuah bantal.

“Hingga suatu hari, sang Ratu kegelapan mendapat laporan dari beberapa pengawalnya bahwa mereka tidak berhasil melakukan tugas mereka dengan baik. Ratu itu ingin menyebarkan kejahatan di negeri ini. Semakin banyak kejahatan yang terjadi di tempat itu, maka kekuatan sang ratu akan bertambah, dan mampu mengalahkan kekuatan cahaya di tempat ini. Sehingga negeri ini akan diselubungi kegelapan abadi. Ratu itu murka setelah mendengar laporan itu. Akhirnya sang ratu mulai menyebar virus aneh yang mampu mengubah manusia biasa menjadi zombie. Mereka hidup, tapi tubuh mereka membusuk bagai sudah mati. Dan tiap mereka menggigit seseorang yang normal, maka orang itu akan berubah menjadi zombie. Oleh karena itu seluruh penduduk negeri ini berubah menjadi zombie. Sang raja bijaksana itu dibunuh dengan keji oleh sang ratu kegelapan, yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri yang iri akan kekuasaan sang raja.” Suho berhenti lagi untuk mengatur nafasnya. Ia berbicara agak cepat, seperti ingin segera menyelesaikan cerita itu.

“Oleh karena itu, kita harus bisa mengalahkan kekuatan ratu itu demi membebaskan orang-orang tak berdosa itu.” lanjutnya.

Aku menunggu, tapi Suho tak melanjutkan. Rupanya ia sudah lelah karena berbicara terlalu lama.

“Tapi… bukankah peristiwa itu terjadi ratusan tahun yang lalu? Apa mungkin mereka bisa hidup kembali?” tanyaku sangat penasaran dengan zombie-zombie itu. Tubuh mereka terlalu busuk untuk bisa kembali seperti semula.

Suho melambaikan tangannya ke arah D.O, menyuruhnya menjawab.

D.O mengangguk dan menjawab pertanyaanku, “Masih. Mereka masih bisa hidup kembali seperti sebelumnya. Kita hanya perlu melepas pengaruh kutukan ratu jahat itu. Kita bisa mengembalikan hidup mereka yang telah dirampas ratu berengsek itu,” Ia menunjuk ke arah jendela.

Aku mendekat ke arah jendela dan melongokkan kepalaku, aku melihat ratusan makhluk bertubuh busuk itu mencoba mendekati gerbang istana. Tapi mereka tampak seolah tertahan sesuatu yang tak terlihat. Seperti kubah dari kaca yang sangat tebal tapi tak kelihatan.

“Bukankah kemarin kalian menutup gua itu dan membantai sebagian besar dari mereka? Lalu apa yang mereka lakukan di sini?”

“Di sini ada 7 gua yang menjadi tempat para zombie itu, yang kemarin kita tutup adalah salah satu dari ketujuh gua itu. Kutukan ratu itu sungguh kejam. Para zombie itu tak bisa mati. Meski tubuh mereka hancur, mereka akan kembali lagi menjadi zombie. Seperti itu sejak bertahun-tahun ini.” Chanyeol angkat bicara. Bantal yang tadi ia ributkan bersama Baekhyun sudah berada dalam pelukannya, dan Baekhyun hanya cemberut di sampingnya.

Raut wajah Chanyeol berubah menjadi serius saat menjelaskan tentang zombie-zombie itu. Rupanya para zombie itu tak suka dengan keberadaan kami di wilayah mereka, selain itu mereka pasti lapar dan ingin memakan manusia segar. Hiii… pikiran itu membuatku bergidik.

“Untung saja, berkat perisai yang dibuat Lay, maka istana ini terlindungi. Para zombie itu tidak akan bisa menembus perisai itu dan masuk ke sini.” Imbuh Baekhyun seraya mengedipkan sebelah matanya yang ber-eyeliner tebal itu ke arah Lay. Pemuda berlesung pipi itu hanya tersenyum malu memamerkan lesung pipinya yang menggemaskan.

Aku masih ngeri tentang keberadaan zombie yang menyeramkan itu, maka aku ingin tahu lebih banyak tentang makhluk yang dikutuk itu.

“Hmm… Suho, Apa di siang hari mereka bersembunyi di dalam gua-gua itu?” tanyaku pada Suho yang tampak santai membalik halaman buku tebal di pangkuannya.

Pemuda berparas teduh itu mendongak dan menelengkan kepalanya menatapku. Ia menarik nafas dan membetulkan posisi duduknya, “Mereka terlalu banyak kalau untuk berdesakan tinggal di dalam gua. Hanya saja mereka biasanya tidak berkeliaran di siang hari. Mereka agak takut dengan sinar terik matahari. Jadi mereka akan bersembunyi di dalam gedung-gedung kosong dan reruntuhan di seluruh penjuru kota ini.”

Oh, jadi itu sebabnya aku merasa seperti ada berpasang-pasang mata mengikutiku. “Pantas saja aku disambut hawa aneh dan busuk ketika aku baru sampai di tempat ini.” Refleks aku mengernyitkan hidungku saat mengingat aroma busuk yang menyiksa penciumanku itu.

“Wah, untung saja mereka tidak menarikmu dan memakanmu hidup-hidup, Nona.”

“Hei, Baekhyun! Jangan sembarangan bicara.” Sentak D.O dari seberang ruangan. Dan Baekhyun hanya terkekeh sambil memamerkan gigi-gigi putihnya.

Merinding juga tubuhku saat membayangkan ucapan Baekhyun benar-benar menimpaku.

Aku menatap mereka satu persatu, agak heran juga melihat para pemuda itu tampak santai seolah tak ada hal yang mengganggu. Padahal ada ratusan atau mungkin ribuan zombie mengelilingi istana. Baekhyun dan Chanyeol sedang memojokkan Kai dan mengganggunya. Dan Kai akan menghilang dan muncul di belakang mereka dan menendang bokong mereka lalu menghilang lagi dan muncul di belakang Kris, sehingga Baekhyun dan Chanyeol tak berani membalasnya.

Lain lagi dengan Tao, pemuda bertubuh tinggi itu sibuk mengikuti D.O kemanapun pemuda bermata bulat itu pergi. Tao merengek meminta dibuatkan makanan kesukaannya.

Lay dan Luhan sedang serius membahas sesuatu sambil sesekali Luhan menarik Sehun agar duduk tenang di tengah mereka. sepertinya mereka sedang memikirkan solusi untuk mengontrol kekuatan Sehun.

Chen sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang dan mendendangkan sebuah lagu. Suaranya begitu merdu dan menenangkan, membuat rasa khawatirku sedikt berkurang.

“Apa kalian yakin kita mampu mengalahkan ratu itu dan tentaranya? Hanya kita bertiga belas?” tanyaku meragukan misi mereka.

Aku melihat Kris mendengus dan mengangkat sebelah alisnya dengan agak congkak, “Kamu meragukan kekuatan kami, Nona. Jika kekuatan kami digabung, maka kami pasti akan bisa mengalahkan ratu itu atau monster apapun yang menghadang kami. Jadi, jangan kamu remehkan kami, Nona manis,”

Untung saja ia berwajah tampan, jadi aku bisa memaafkan kecongkakannya itu.

“Aku hanya takut dengan semua ini. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku terdampar di tempat ini bersama 12 pemuda aneh dan misterius macam kalian.” Celetukku dengan suara datar dan tanpa ekspresi. Kutatap Kris dengan tatapan bosan.

Lagi-lagi ia mendengus dan berjalan melewatiku, menarik sebuah kursi dan mendudukinya dengan anggun. Tak lupa ia melipat kedua lengannya di depan dadanya dan menatapku tajam.

“Lalu… kamu memilih untuk mundur dari pergulatan ini, Nona yang terdampar di tempat ini?” tanyanya dengan intonasi yang sangat menyebalkan. Aku mengerang pelan. Kesal dengan pembawaan Kris.

“Aku tidak bilang akan mundur. Aku bukan pengecut, Kris.” Tukasku kesal. Kris hanya mengangkat sebelah alisnya dan cengiran menyebalkan menyapaku.

“Tenang, Nona. Dan Kris, tolong jangan kambuh penyakit menyebalkanmu yang khas itu,” ujar Luhan sambil memukul pelan bahu Kris. Lalu ia duduk di depanku dan menatapku serius. “Kita pasti bisa mengalahkan ratu kegelapan dan tentaranya. Kita harus optimis. Selain itu, kitalah yang terpilih untuk menjalankan misi ini. Bukan kelompok lain, kenapa? Karena para petinggi kami percaya bahwa kamilah yang terbaik. Kami dan kamu, Nona. Kita bisa jadi tim hebat yang mengalahkan ratu kejam itu.” Luhan terdiam sejenak, mengumpulkan nafasnya sebelum melanjutkan lagi.

“Lagipula, kekuatan cahaya tertinggi telah memihak kita. Dengan kekuatan cahayanya, kita bisa mengenyahkan kegelapan selamanya. Tapi…” ia tampak menahan luapan emosi yang tak menentu ketika matanya menyapu sosok Sehun yang menunduk menatap ujung kakinya.

“Tapi kenapa, Luhan?” tanyaku ingin tahu.

“Kita harus membebaskan Sehun terlebih dahulu. Tanpa Sehun yang seutuhnya, maka kekuatan kita tidak akan mencukupi. Sehun harus pulih dahulu.” Jelasnya dengan suara lirih. Sehun mendongak dan kedua mata tajamnya beradu pandang dengan Luhan. Mereka tetap seperti itu selama beberapa detik sebelum akhirnya Luhan mengalihkan pandangannya ke arahku lagi.

Yang kutangkap dari tatapan Luhan adalah rasa sakit teramat sangat. Sorot matanya terluka dan ada sedikit keputusasaan.

Lagi-lagi sebuah misteri muncul. Ada apa lagi dengan Sehun sekarang? Apa lagi?

“Memangnya ada masalah apa dengan Sehun sehingga kita harus membebaskannya? Membebaskannya dari apa?” tanyaku kepada Luhan. Tapi pemuda berwajah anak-anak itu tak menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Luhan berdiri dan tanpa berkata apapun, ia mendekati Sehun, dan menarik tangannya. Sehun berdiri di depan Luhan, dan menatap pemuda yang lebih pendek itu dengan bingung.

Tangan Luhan meraih bagian bawah kaos Sehun dan mengangkatnya melewati tubuh kurusnya hingga melewati kepalanya.

Sehun berdiri dengan bertelanjang dada, Luhan sama sekali tak menatap tubuh Sehun, ia hanya menatap kedua mata pemuda serigala itu dengan sedih.

Aku yang terkejut dengan pemandangan itu. Tubuh Sehun tidak seperti yang kuperkirakan. Putih bersih dan mulus, tetapi kulit tubuhnya itu kehitam-hitaman dan membusuk. Bukan hanya itu, tapi beberapa bagian di dada dan perutnya mengerut bagai daging kering yang sudah berjamur. Sungguh menjijikkan dan mengerikan. Persis seperti kulit zombie. Tapi anehnya, lengan, wajah dan lehernya saja yang masih utuh. Putih mulus tanpa goresan sedikitpun. Aku tercekat. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sini?

Kulihat Luhan sudah memakaikan kaos ke tubuh Sehun, dan Sehun hanya menunduk. Luhan mengangkat dagunya dan memaksanya menatapnya, lalu Sehun tersenyum lemah dan mengangguk. Detik berikutnya Sehun sudah berada dalam pelukan Luhan.

Hatiku sesak melihat mereka. Tampak jelas betapa Luhan sangat menyayangi Sehun, dan ia sudah pasti sangat sedih melihat orang kesayangannya menderita.

“Apa yang terjadi padanya? Kenapa kulitnya rusak seperti itu?” tanyaku kepada siapapun yang sudi menjawab.

Luhan hanya menghela nafas, mengangkat bahunya dan meninggalkan ruangan bersama Sehun.

Dan aku berharap mereka yang masih di ruangan itu bisa menjawab dengan jelas.

Kris menatap Suho, dan Suho menatap Lay. Akhirnya Lay bersedia menjelaskan, menggantikan ketua dan wakil ketua kelompok mereka.

“Berhubung Kris dan Suho malas menjelaskan tentang persoalan ini, maka terpaksa aku yang menceritakan semuanya padamu, Nona.” Ucap Lay di sela helaan nafasnya.

Aku tersenyum dan menunggunya memulai penjelasannya.

“Ratu kegelapan rupanya sudah mengetahui keberadaan kami dan pastinya dia juga tahu tentang misi kamu menggulingkannya dari posisinya sekarang. Bukan hanya menggulingkannya, tetapi menyingkirkannya dari dunia ini selamanya. Karena ambisinya untuk menguasai tempat ini, maka dia berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan misinya. Dia bertekad untuk menyingkirkan kami, para penghalang misi busuknya menguasai tempat ini.” Lay berdiri dan berjalan mondar-mandir di depanku. “Karena dia tidak ingin rencananya gagal, maka dia berniat membuat kami menjadi zombie. Tapi ratu itu salah perhitungan. Kami bukan makhluk bumi biasa. Kami berbeda. Gen kami sangat unik, dan kami memiliki kekuatan yang tidak dimiliki makhluk bumi.”

“Lalu…?” desakku ketika Lay tampak melamun, seperti sedang berada di tempat lain. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum tersenyum malu dan melanjutkan ceritanya. Kulihat Kris memutar bola matanya dengan bosan dan memijat pangkal hidungnya. Lay tampak gugup saat melihat Kris menyuruhnya melanjutkan.

“Pssst… Lay sempat menghilang tadi. Kebiasaan buruk. Hehehe,” kudengar Chanyeol berbisik pada Baekhyun, yang juga terkikik. Lagi-lagi D.O memelototi mereka.

Fokusku kembali lagi kepada Lay seutuhnya. Pemuda berlesung pipi itu mulai berbicara lagi.

“Kami sudah terlatih untuk mengendalikan kekuatan dalam tubuh kami sehingga kami bisa melawan serangan virus-virus terkutuk itu. Hanya saja, Sehun… dia belum mampu mengendalikan kekuatannya. Mungkin karena usianya yang begitu muda dan…”

“Manja.” Sambung Kai dengan cengiran jahilnya, membuatnya menerima tatapan jengkel dari Suho dan D.O.

“Bukan itu maksudku, Kai!” sergah Lay kesal karena dipotong tiba-tiba oleh pemuda berkulit kecoklatan itu.

“Sehun masih muda dan belum matang secara kejiwaan. Ya, bisa dibilang kejiwaannya belum stabil seperti Kai, meskipun mereka seumuran. Maka virus itu berhasil menginfeksi tubuhnya. Padahal diantara kami semua, Sehunlah yang paling dahsyat kekuatannya. Selain bisa mengendalikan angin, dia juga bisa berubah menjadi serigala putih yang gagah dan kuat. Tapi keganasan virus itu berhasil menyusup ke dalam sistem tubuhnya, dan aku sebagai ahli penyembuhan sama sekali belum bisa menyembuhkan Sehun. Aku hanya bisa memperlambat penyebarannya dengan memberinya antibodi dalam makanan dan minumannya.”

Lay menundukkan kepalanya, “Maafkan aku, teman-teman. Aku tidak berguna,” gumamnya.

“Jangan menyalahkan dirimu, Lay. Jika kamu bisa menyembuhkan Sehun, maka kamu pasti sudah menyembuhkan para zombie itu sejak lama.” Suho mendekati Lay dan menepuk bahunya. Mencoba membesarkan hatinya.

Teman-teman yang lainnya mengiyakan ucapan Suho. Mereka meyakinkan Lay bahwa apa yang terjadi pada Sehun bukanlah kesalahannya. Lay sudah berusaha semaksimal mungkin dan memang kekuatan ratu itu terlalu kuat.

“Apakah karena alasan itukah Sehun di karantina di kamarnya? Terpisah dari kita?” tanyaku penasaran.

Suara berat Kris membuatku menoleh ke arahnya, “Iya. Kami lakukan itu untuk mencegah virus itu menularimu, Nona. Tapi dugaan kami salah. Ternyata kamu punya kekuatan untuk menangkal virus terkutuk itu.”

“Lalu kenapa dia melarikan diri kemarin, dan mendatangi gua itu?” aku menunjuk Sehun yang sudah muncul kembali bersama Luhan.

“Aku hanya mengikuti panggilan saja. Ada suatu kekuatan yang memanggilku dan menuntunku ke gua itu. Dan aku tidak begitu mengingat apa yang telah terjadi selanjutnya. Kepalaku dipenuhi bisikan-bisikan aneh.” Jawab Sehun seraya duduk di kursi terjauh dariku.

“Para tetinggi meminta kami segera bertindak. Lihatlah kondisi tubuh Sehun, kekuatan ratu itu makin kuat. Dan kami harus mencegahnya. Jangan sampai kekuatan gelapnya menguasai tubuh Sehun dan merubahnya menjadi zombie. Karena tanpa Sehun, kekuatan kami bersebelas tidak akan mampu mengalahkan kekuatan ratu itu.” ucap Xiumin.

“Lalu bagaimana cara kita membebaskan Sehun? Haruskah kita melawan ratu itu tanpa Sehun?” tanyaku. Persoalan ini makin rumit saja. Membuat kepalaku pening.

“Sudah pasti tidak mungkin bagi kita untuk melawan ratu itu tanpa kekuatan Sehun, Nona.” Dengus Tao. Rupanya ia kesal karena aku terlalu banyak bertanya.

“Lalu?” tanyaku menuntut jawaban yang jelas dan lugas dari mereka. Namun, mereka hanya diam dan saling pandang satu sama lain.

Kai tiba-tiba berdiri mendadak dari duduknya dan menepuk dahinya. Semua tersentak dan menatapnya kesal bercampur penasaran.

“Ada apa, Kai?” tanya Kris.

“Aku baru ingat! Sebelum mendapati nona ini mengendap-endap dalam istana, aku sempat berteleportasi ke sana ke mari tanpa tujuan. Dan aku tersesat ke suatu tempat yang sangat gelap, dari aromanya yang pengap dan lembab, aku menebak-nebak tempat itu sejenis ruang bawah tanah. Karena tidak bisa melihat apapun, dan oksigen yang kurang, maka aku segera berteleportasi ke tempat lain.” Jelas Kai dengan wajah bersemangat.

Misteri apa lagi ini? Ruang bawah tanah? Kepalaku semakin pusing mencerna semua hal ini.

^^^

Apakah penemuan Kai bisa memberikan mereka solusi dalam membebaskan Sehun dari kutukan itu? ataukah justru masalah baru yang akan mereka hadapi?

TO BE CONTINUED

Advertisements