^^^

^^^

Aku memakai benda pemberian Baekhyun itu dan benar saja, cahaya dari telapak tanganku menjadi lebih terang dan kuat dari sebelumnya. Aku segera mengarahkannya ke serigala putih yang mengamuk itu. Dengan segenap tenagaku, aku mencoba menahannya bersama Luhan dan Baekhyun. Serigala putih itu meronta, menggeram dan sesekali mengeluarkan lolongan mengerikan.

Lay sudah bergabung dengan kami, ia mengucap mantra-mantra yang tak begitu jelas kudengar, dan Kai juga ikut membantu Lay mengikat dan meneyegel serigala siluman itu dengan ucapan-ucapan yang tak kupahami.

Aku sempat melirik naga Kris dan Chanyeol yang sudah berubah menjadi phoenix dan berdua terbang di angkasa, berputar-putar mencari lagi zombie di tempat lain.

Tenagaku terkuras habis demi menahan serigala itu, aku juga melihat Luhan yang tampak pucat serta Baekhyun yang terengah-engah. Lay dan Kai tak berhenti mengitari serigala putih yang meronta-ronta itu dan mengikatnya dengan mantra.

Hampir kehilangan kesadaranku, aku mendengar bisikan-bisikan di telingaku. Aku edarkan pandanganku, namun sepertinya yang lain tak menyadarinya. Mereka terlalu berisik menggeram, mengerang dan memaki. Tapi bisikan itu seolah berasal dari dalam telingaku. Aneh.

Aku mencoba mengikuti bisikan itu.

Jesu, Rex admirabilis. El triuphator nobilis. Dulcedo ineffabilis. Totus desiderabilis. La luz de cualquier luz. La Luz ilumina la oscuridad. Dioses de La Luz dan su fuerza me’ (cahaya dari segala cahaya,cahaya penerang kegelapan. Dewa cahaya berikan kekuatanmu padaku)

Aku tak mengerti kenapa aku bisa mengucapkan kata-kata asing itu? Belum pernah sekalipun aku mempelajari kata-kata yang terdengar bagai bahasa latin di telingaku. Sejak kapan aku bisa berbahasa latin?

Di tengah kebingunganku itu, naluriku mengatakan untuk terus mengulang ucapan itu.

Kuucapkan dengan lebih lantang sambil terus mengarahkan tanganku ke Sehun yang masih berwujud serigala putih.

“JESU, REX ADMIRABILIS. EL TRIUPHATOR NOBILIS. DULCEDO INEFFABILIS. TOTUS

DESIDERABILIS. LA LUZ DE CUALQUIER LUZ. LA LUZ ILUMINA LA OSCURIDAD. DIOSES DE LA LUZ DAN SU FUERZA ME…”

Semakin keras aku mengucapkannya, semakin besar deru angin yang menggulung butiran pasir ke udara. Kurasakan tenagaku pulih dan bahkan bertambah kuat. Aku terus mengulang-ulang mantra itu.

Cahaya yang berasal dari bulan seolah menyerap ke dalam tubuhku, mengalir bersama aliran darahku disetiap denyutan jantungku. Cahaya itu menyalur dan keluar dari tanganku.

Serigala itu melolong kesakitan.

Apakah aku menyakitinya? Melukainya?

Aku ingin menghentikan pancaran sinar dari tanganku tapi aku tak mampu. Kekuatanku terlalu kuat untuk dihentikan tiba-tiba. Tenagaku seolah menyeruak keluar dan menambah kekuatan cahaya yang membelenggu Sehun.

Aku sungguh tak mengenali diriku lagi. Siapa aku? Kenapa aku punya energi sebesar dan sedahsyat ini?

“JESU, REX ADMIRABILIS. EL TRIUPHATOR NOBILIS. DULCEDO INEFFABILIS. TOTUS DESIDERABILIS. LA LUZ DE CUALQUIER LUZ. LA LUZ ILUMINA LA OSCURIDAD. DIOSES DE LA LUZ DAN SU FUERZA ME…”

Kuteriakkan mantra itu sekali lagi dan sepertinya cahaya yang sangat luar biasa kuat terpancar dari kedua tangan dan mataku. Cahaya itu mengarah tepat ke serigala itu, dan kudengar lolongan kesakitan sebelum semuanya menjadi gelap.

^^^

Cahaya menyilaukan menimpa wajahku, rasa hangat menyentuh kulitku, kubalik tubuhku menghindari sinar itu. Kutarik selimut lembut yang menutupi tubuhku dan menutup wajahku. Aku terlalu lelah unutk bangun dari ranjang yang nyaman ini. Ah, pasti ibu sedang menyiapkan pancake kesukaanku, dengan topping whipped cream dan irisan strawberry segar. Hmm… ditemani segelas susu coklat hangat yang makin menyempurnakan pagi ini. Kuhirup dalam-dalam aroma pancake yang sedang dimasak. Sungguh menggugah selera. Terdengar bunyi berisik dari perutku, dan aku baru sadar bahwa aku sangat lapar. Kupaksa tubuhku untuk duduk. seketika rasa nyeri luar biasa menyerang kepalaku. Aku mengaduh dan mengerang sambil memegangi kepala. Ruangan seolah berputar-putar tanpa kendali.

“Aah… Nona, sudah sadar,”

Suara itu mengagetkanku. Sejak kapan kamarku boleh dimasuki seorang pria?

Sejak kapan ibu memperbolehkan teman laki-lakiku memasuki kamarku?

Sejak kapan pula aku dipanggil ‘nona’?

Aku menoleh ke arah datangnya suara itu dan aku melihat pemuda dengan eye-smile yang menggemaskan. Byun Baekhyun.

Otakku mereka ulang kejadian sebelumnya, dan aku pun menghela nafas berat.

Ternyata yang telah terjadi kemarin bukanlah mimpi.

Baekhyun menghampiriku dan ia menunduk dan mendekatiku. Refleks aku memundurkan tubuhku, dan tangan Baekhyun menyentuh dahiku. Wajahnya tampak khawatir, “Kau baik-baik saja, Nona?” tanyanya.

Aku mengangguk. Baekhyun tersenyum lega lalu ia berbalik dan melaporkan kondisiku kepada yang lain dengan ceria.

Aku melihat pemuda-pemuda misterius itu di seberang kamar.

Sepertinya aku belum pernah berada di kamar ini.

Wow, kamar ini sungguh mewah dan sangat indah. Dindingnya dihiasi gambar bunga-bunga mungil yang cantik. Sebuah pintu yang terbuka memperlihatkan sebuah balkon yang berbentuk lengkung. Persis balkon dalam cerita Romeo and Juliet. Tirai elegan berwarna senada dengan bunga-bunga itu menutupi jendela besar yang menjorok ke arah taman. Namun, sayang. Taman itu sudah tidak ada lagi. Semua gersang dan kering.

Aku yakin kamar ini pastilah dahulu milik seorang puteri kerajaan. Sungguh indah bagai negeri dongeng yang biasa ibu ceritakan padaku.

Lamunanku buyar ketika Lay menghampiriku, membawakanku secangkir minuman hangat.

“Minumlah. Ini akan memulihkan tenagamu,” ujarnya sambil duduk di tepi ranjang dan membantuku menyesap isi cangkir.

Benar saja, baru seteguk kuminum, kurasakan aliran darahku mengalir deras, dan sakit kepalaku hilang seketika. Semua rasa pegal yang tadi kurasakan pun telah sirna.

Pasti ibu dan ayah akan suka dengan minuman ini. Mereka yang semakin tua sering merasakan nyeri dan pegal pada tulang dan sendi-sendi mereka. Pastilah minuman ini bisa membuat mereka bugar dan serasa muda kembali.

Aku tersenyum akan pemikiranku itu.

Namun, ada pikiran lain yang menggangguku. Aku melihat bahwa baju yang aku pakai kemarin sudah tak ada. Sebagai gantinya, aku memakai gaun satin biru muda yang sangat cantik. Aku bertanya-tanya, siapa diantara mereka yang menukar bajuku. Dan pastilah mereka melihat tubuhku. Ya ampun. Mereka atau salah satu antara mereka telah melihat tubuhku!

Wajahku memerah. Malu dan… kesal.

Setelah cangkir kosong, Lay menyerahkannya kepada D.O yang hendak ke dapur. Semoga ia menyiapkan sarapan untukku.

Aku kelaparan.

“Umm… sebenarnya… apa yang telah terjadi?” tanyaku. Menuntut jawaban dari siapapun yang berada di kamar ini.

“Kamu semalam pingsan, Nona. Mungkin karena kamu belum terbiasa mengalami pertempuran seperti tadi malam. Karena memang sangat menguras energi.” Sahut Chanyeol yang sedang berusaha menghangatkan segelas susu dengan kekuatan apinya, dan segera saja ia di tegur Suho.

“Dan, kami sangat berterima kasih padamu, Nona. Karena bantuanmu semalam, akhirnya kami bisa menyegel si serigala sialan itu,” tukas Baekhyun yang terlihat kesal. “Kamu sungguh hebat. Bisa mengeluarkan cahaya sedahsyat dan sekuat itu. Cool!” lanjutnya dengan senyum.

Aku tersenyum.

Sebenarnya aku sendiri belum memahami makna dari semu akejadian yang sudah kualami selama di tempat aneh ini.

Aku hanya mengikuti alur saja.

“Benar. Tanpamu, kemungkinan Lay dan Kai akan gagal menyegel serigala putih ganas itu.” ucap Chanyeol sambil menunjuk sosok Sehun yang berdiri di dekat pintu dengan canggung. Berkali-kali ia menjilati bibirnya untuk menekan rasa gugupnya.

Mataku mengikuti arah jari panjang Chanyeol. Sehun tak terkesan menyeramkan sama sekali. Aku agak kaget melihatnya begitu manis dan canggung. Wajahnya tak berbeda jauh dari pemuda di sampingnya, Luhan. Hanya saja, Sehun lebih tinggi.

Itukah serigala putih yang hendak menerkamku semalam?

Pasti ada yang salah dengannya.

“Kenapa dia malu dan tidak berani menatapku?” tanyaku pada Chanyeol.

“Oh, itu karena dia yang menukar gaunmu yang kotor terkenal serpihan tubuh zombie.” Balas Chanyeol santai, seolah menggantikan pakaian seorang gadis adalah hal yang wajar. Ingin rasanya aku memukul kepalanya.

“Jadi dia sudah lihat… YA TUHAAAAN!!!” jeritku sambil melempar bantal ke arah Sehun yang terkejut dan merasa sangat tidak enak dengan situasi ini.

Setelah tenang, aku pun berusaha mengenyahkan pikiranku tentang pemuda yang telah melihat tubuhku. Ingin rasanya menyerahkan diriku pada zombie-zombie itu daripada menanggung malu.

Aku edarkan pandanganku lagi, tapi sepertinya ada yang kurang. Aku melihat sembilan orang di kamar. D.O sedang berkuat di dapur.

Hanya Kris dan Kai yang tak tertangkap mataku.

“Mana Kris dan Kai?” kupikir mereka mengalami bahaya semalam. Entah diserang zombie atau apalah.

“Oh, mereka sedang menghadap ke para pimpinan. Sang Ketua memanggil mereka untuk melapor. Sudah menjadi rutinitas Kris sebagai ketua kelompok kami.” Xiumin, yang tertua di antara mereka, menjawab dengan memamerkan gigi-gigi mungilnya. Entah kenapa aku selalu merasa gemas dengan Xiumin. Ingin rasanya aku mencubit pipi tembemnya.

“Kapan mereka pulang?” tanyaku ke pada Suho. Pemuda berparas bagai malaikat. Ia sedang menekuri halaman sebuah buku tebal yang tampak kuno.

“Hmm… sebentar lagi juga kembali,” sahutnya tanpa melepas matanya dari tulisan-tulisan itu.

Aku mengedikkan bahu dan mencoba berbincang dengan Baekhyun dan Chanyeol yang menyeritakan kembali peristiwa tadi malam. Karena kondisiku yang tak sadarkan diri, maka aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu.

Ternyata setelah aku pingsan, Sehun berhasil diikat dengan mantra pengikat dari Lay dan Kai. Mantra itu semacam kurungan yang tak terlihat, sehingga Sehun tak bisa kemana-mana. Para zombie yang berasal dari gua itu sudah habis dibabat Kris, Chanyeol, D.O, Chen, Tao, Xiumin.

Dua pemuda itu tampak sangat antusias dalam mengurutkan kejadian demi kejadian. Mereka sangat ekspresif.

Saat sedang asik mendengarkan dua pemuda cerewet itu, tiba-tiba langit-langit istana terbelah.

Aku memekik dan berusaha menyelamatkan diri. Aku pikir ada gempa atau ada monster yang menyerang. Aku terlalu paranoid semenjak tersesat di tempat ini.

Ternyata ada naga yang mengepakkan sayap berkulitnya itu dan mendarat.

Tepat sebelum kakinya menyentuh lantai, sosok naga itu berubah digantikan sosok pemuda tampan yang mampu membuat siapapun menahan nafas dan ingin segera melopat dari atap gedung. Aku sendiri heran dengan pemikiranku itu. Hehe

Sedetik kemudian, Kai sudah berdiri di belakang Kris. Pemuda berkulit kecoklatan itu memang suka muncul dan menghilang sesuka hati. Andai aku punya kekuatan seperti itu, pasti akan kugunakan untuk muncul di rumah para idolaku dan mengambil foto-foto mereka di saat mereka sedang tidur atau…. Mandi? Hahaha pikiran yang nakal.

Aku kembali fokus pada dua orang yang baru muncul itu.

Suho menutup buku yang dibacanya, dan ia berdiri lalu menghampiri Kris. Ia menyuruh Kris menunduk agar ia bisa membisiki temannya yang bertubuh jangkung itu.

Kris mengangguk dan menegakkan punggungnya kembali.

“Ehem, ehem. Mohon perhatiannya, teman-teman. Kris ingin memberitahukan sesuatu,” Suho sang wakil ketua tampak sangat berwibawa. Masih dengan senyum manisnya, ia tetap bisa menunjukkan aura kepemimpinannya sebagai wakil.

Kami semua mendekati dua pemuda dengan perbedaan tinggi badann yang signifikan itu lalu mencari posisi duduk senyaman mungkin.

Kris tersenyum sekilah dan berterima kasih, “Teman-teman, dan Nona, ehem, ehem… Tadi aku dan Kai menghadap para petinggi untuk melaporkan kejadian tadi malam. Dan mereka memerintahkan kita untuk segera bertindak sebelum semua menjadi semakin tak terkendali lagi. Kita, ber12 ditambah anda, Nona, diberi tugas berat untuk menyelesaikan suatu misi. Misi yang nantinya akan menyelamatkan tempat ini.” Kris berbicara sambil menatap kami satu persatu, seolah meyakinkan dirinya bahwa kami benar-benar menyimak.

Aku?

Kenapa aku dibawa-bawa dalam misi apapun itu, yang tadi Kris sebut?

Apa hubunganku dengan semua ini?

“Maaf, tapi… sebenarnya kalian ini siapa? Misi apa? Dan mereka siapa? Lalu apa hubunganku dengan misi ini?” aku bertanya. Meminta jawaban yang jelas dari mereka. Terutama dari Kris dan Suho. Dua orang yang sekarang saling tatap, saling meminta persetujuan untuk menjelaskan semuanya padaku.

Rupanya ada sesuatu mengerikan yang sedang terjadi. Dan aku terlibat di dalamnya.

Aku yang tersesat dan tidak tahu apapun, tiba-tiba terjerat dalam kejadian ini.

Mampukah aku menjalankan misi misterius itu?

To Be Continued

Advertisements