Setelah Luhan menghilang ke dalam, semua orang kembali menekuri makanan mereka. Aku menatap mereka satu-persatu. Berbagai pertanyaan menyerbu otakku.

Di manakah aku sesungguhnya?

Siapa pemuda-pemuda berkekuatan aneh ini?

Rasanya aku seperti melihat mereka entah di mana. Ataukah ini yang dinamakan deja-vu?

Entahlah.

“Aaaarrgghhh.” Geramku sambil mengacak rambutku frustrasi.

Rupanya tindakanku membuat mereka terkejut dan menatapku bingung.

“Nona, ada apa? Kenapa kau tak menyentuh makananmu? Apa karena rasanya tidak enak? Jika iya, maka aku akan memasak lagi. Masakan kesukaanmu,” ujar D.O.

“Ah, bukan itu. Aku hanya pusing. Terlalu banyak pertanyaan yang berputar-putar di dalam otakku,” kataku sambil tersenyum lemah.

“Apa yang ingin kau tanyakan, Nona?” Kris, si naga tampan itu bertanya. Tangan kanannya menopang dagunya, dan kedua matanya menatapku tajam.

“Sesungguhnya pertanyaanku sangat banyak. Karena semua yang terjadi di sini sangat aneh bagiku. Namun, yang pertama membuatku sangat penasaran adalah, dari mana bahan-bahan makanan ini? Sedangkan sejauh yang kulihat sampai saat ini adalah tak ada orang lain selain kalian, tak ada tumbuhan. Makhluk hidup yang sempat kulihat hanyalah tikus-tikus gendut menjijikkan dan burung gagak serta elang.” Akhirnya aku berhasil menanyakan hal ini. Karena aku waswas dengan menu yang mereka sajikan.

 

D.O terkekeh, “Oh, semua bahan makanan ini diambil Kai dari tempat lain yang  sangat jauh dari sini. Selain bisa bertransformasi menjadi serigala hitam, Kai juga bisa berteleportasi dari satu tempat ke tempat lain.” Jelasnya sambil memelototi Kai yang menyambar steak yang tersisa. Bukankah ia sedang dihukum tak boleh memakan steak?

Setelah yakin akan keamanan dan kelayakan masakannya, aku pun mulai melahap habis isi piringku. Lezatnya luar biasa. Perut laparku segera penuh. Aku makan dengan rakus. Persis orang kesetanan. Semua pemuda itu menatapku. Mereka mengernyit melihatku yang makan tergesa-gesa.

Aku tersipu malu, “Maafh.. akhu mhemhang shudahh lapharh sejhakh tadhi.. hehehe.” Aku menyeringai bodoh sambil mengusap mulutku yang belepotan.

“TIDAAAAAAAK!!! SEHUUUUUN AAAAHHHHH!” suara jeritan melengking terdengar dari dalam.

Aku tersedak makanan yang sedang kukunyah, semua terperanjat. Kai tiba-tiba menghilang dari tempat duduknya dan muncul kembali dengan Luhan dalam dekapannya. Pemuda bertubuh kurus itu tampak pucat dan panik.

“Ada apa dengan Sehun?” tanya Chen khawatir.

“Se-Sehun… K-kabur.. dia… merusak jeruji besi jendela kamarnya. Dan merusak segel penahannya,” jelas Luhan. Tubuhnya gemetar, Kai memeluknya, menenangkannya.

BraaaakkkkK

Kris menggebrak meja dan berdiri, dan menghambur ke arah Luhan. Ia mencengkram kerah baju Luhan, “APA KAMU BILANG? SEHUN KABUR? CEROBOH KAMU, LUHAN!” raung Kris. Matanya menyorot tajam. Luhan semakin pucat dan gemetar.

“Sudahlah, Kris. Jangan salahkan Luhan.” Suho menghampiri Kris dan memegang tangannya, ia menyingkirkan tangan Kris dari Luhan.

“Hah! Gawat, Kris! Matahari sebentar lagi terbenam!” pekik Xiumin yang melongok ke luar jendela.

Tampaknya semua yang ada di ruangan ini panik. Aku yang tak tahu apa-apa, hanya menghabiskan makananku.

Aku lihat Kris menarik lengan Tao, “Tao, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” Kata Kris tegas.

“Tapi, kekuatanku tidak mempan pada Sehun.” Ucap Tao. Wajahnya tampak kecewa.

“Aku tahu. Tapi setidaknya kamu bisa memperlambat matahari terbenam, Tao.” Balas Kris sambil menepuk bahu pemuda berambut hitam itu.

Suho tampak sungguh khawatir. Ternyata Sehun adalah anggota termuda di kelompok mereka. wajar saja jika semua khawatir akan keberadaannya.

Aku mendengar jentikan jari lalu semua berubah menjadi patung. Ternyata Tao menghentikan waktu, dan semua orang tak bergerak. Tapi aku bisa menggerakkan tanganku dan mengambil segelas air dan meminumnnya.

“APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN, NONA?” seruan Tao membuatku memuncratkan air dari mulutku. Apa ia harus berteriak seperti itu?

Aku berdiri dan menatap Tao sambil tersenyum jahil. Lalu aku menghampiri Kris yang mematung dengan jari telunjuk terangkat. “Aku penasaran sama Kris ini. Apa benar dia manusia sungguhan atau pahatan dari jaman yunani kuno. Hehehe,” ucapku sambil mencolek pipi Kris yang ternyata sangat halus.

Tao mendekatiku, dengan mata tajamnya ia mengitariku sambil menatapku dari atas hingga bawah, dahinya mengernyit, matanya memicing, “Kenapa kamu tidak terpengaruh penghenti waktuku?”

“Mana kutahu,” jawabku sambil mengangkat bahu. Tanganku sibuk mencolek-colek pipi Xiumin, menekan hidung mungil Luhan, meraba-raba rambut halus Kai. “Sudah sana pergi dan jalankan tugasmu,” usirku.

Tanganku tiba-tiba ditarik Tao. “Kyaaa! Sakit! Lepaskan tanganku!” jeritku sambil mengibaskan tanganku. Tapi Tao mencengkeramnya.

“Tidak akan kubiarkan kamu tinggal di sini sendirian. Bisa gawat. Aku khawatir kakak-kakakku akan habis kamu raba-raba. Ayo, bantu aku mencari Sehun! Dua orang lebih baik. Aku ke arah timur, kamu ke arah utara.”

Aku sempat protes. Hari hampir gelap dan aku takut pergi sendiri. Aku meminta ikut bersamanya, tapi Tao menyuruhku berpencar.

“Kalau ada hantu gimana?” tanyaku.

“Tidak akan ada hantu. Waktu sudah kuhentikan. Ini… bawalah tongkat wushu ini bersamamu untuk berjaga-jaga, dan..” ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya, “ini jam pasir sebagai penanda berlakunya penghentian waktu. Jika butir pasir terakhir turun, maka waktu akan berjalan kembali seperti semula. Dan kamu harus sudah ada di dalam sini. Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita belum kembali ke rumah ini. Ayo, cepatlah, waktu kita hanya 45 menit.”

Setelah penjelasan panjang itu, aku mengalungkan jam pasir mungil itu dan menenteng tongkat wushu, aku berpisah dari Tao. Ia berlari ke arah timur, dan aku memulai pencarianku ke arah utara. Entah apa yang akan aku temui selama perjalananku mencari Sehun. Yang aku sendiri tak tahu seperti apa rupanya.

^^^

Aku menyusuri lorong-lorong antar bangunan yang sebagian besar sudah berupa reruntuhan. Aku menajamkan pendengaranku. Namun, anehnya, setelah aku berpisah dari Tao, tiba-tiba pendengaran dan penciumanku kembali seperti sebelumnya. Tidak peka lagi.

Meski indera pendengar dan penciumanku melemah, aku masih bisa merasakan aura suram menyelimutiku. Aura negatif yang membuat bulu kudukku berdiri. Lagi-lagi hawa dingin menerpa wajahku, membuatku menggigil. Hari semakin sore dan mentari… dua mentari tak lama lagi akan bergulir ke barat.

Langkah kakiku membawaku ke tempat yang tak terlalu asing bagiku. Tempat menyeramkan yang tadi siang kudatangi. Gua terkutuk itu makin kuat menguarkan aura jahatnya. Tak ada niat dalam hatiku untuk mendekati tempat itu, aku hampir saja memutar tubuhku menjauhi gua menyeramkan itu ketika aku melihat ada sosok pemuda berdiri di depan mulut gua. Memunggungiku. Tubuhnya tinggi dengan rambut kecoklatan yang begitu halus diterpa semilir angin, dapat kulihat warna kulitnya yang begitu putih, hingga kukira dari pori-pori kulitnya memancarkan cahaya pucat. Mungkin itu akibat efek sinar mentari sore.

Apakah pemuda itu yang bernama Sehun?

Batinku. Ragu-ragu kudekati dirinya.

“Berhenti! Jangan mendekat lagi!” pemuda itu menegurku tanpa menoleh.

Aku tetap berjalan mendekatinya.

“Aku bilang berhenti, Nona. Menjauhlah dari tempat ini!” ia meninggikan suaranya. Ia tak menoleh untuk melihatku, tapi ia tetap menatap gua itu. Seolah menanti sesuatu muncul dari dalamnya.

“Kamu Sehun, kan?” tanyaku penuh rasa ingin tahu akan rupa wajahnya.

Akhirnya ia menoleh, “Kalau iya memangnya kenapa?” tanyanya congkak. Untung saja ia begitu tampan. Kedua matanya menyorot tegas dengan alis matanya yang menambah kesan tegas wajahnya. Hidungnya termasuk mancung bila dibandingkan beberapa temannya, meski tak semancung si naga tampan, Kris. Dan bibirnya mungil berwarna pink muda. Tak ada senyuman maupun tatapan ramah darinya.

“Kalau kamu memang Sehun, ayo ikutlah denganku. Semua orang panik. Mereka mencarimu,” kataku mulai maju beberapa langkah mendekati Sehun.

Ia menggeleng dan mengibaskan tangannya seolah mengusirku, “Kamu saja yang pulang. Penghenti waktu Tao tidak bertahan lama. Sebaiknya kamu pulang sekarang jika kamu masih ingin hidup dan biarkan aku di sini.”

Aku melihat jam pasir yang dikalungkan di leherku, dan benar kata Sehun. Butiran pasir sudah hampir habis. Sebentar lagi waktu akan bergulir seperti biasa.

“Aku tidak akan pulang jika tidak bersamamu, Sehun.” Aku bersikeras mengajaknya pulang. Aku tak tahu caranya memanggil teman-temannya yang lain. Jadi sudah seharusnya aku membawanya pulang bersamaku.

“Kenapa kamu begitu keras kepala, Nona? Apa kamu sudah bosan hidup? Pulanglah jika kamu masih mencintai nyawamu!”

“Tidak mau! Aku sudah mencarimu dan karena kamu sudah kutemukan, maka aku akan membawamu pulang!” aku berkacak pinggang dan memelototinya. Aku gemas dengan sikap keras kepala pemuda tampan itu.

“Aku tidak akan pulang bersamamu, Nona. Kamu tidak tahu seperti tempat ini sesungguhnya. Tempat ini terlalu berbahaya untukmu, kembalilah ke duniamu. Ke tempatmu berasal. Pergilah! Sebelum semua terlambat. Sebelum kamu menyesalinya.”

Ada sesuatu yang janggal pada suaranya.

Suaranya menjadi lebih berat dan agak parau.

Aku mengecek kembali jam pasir pemberian Tao, dan butiran pasir terakhir telah jatuh di dasar tabung ini. Itu tandanya waktu sudah berjalan kembali.

Matahari sudah terbenam beberapa waktu lalu, dan sinar terangnya digantikan cemerlangnya cahaya bulan purnama. Perasaanku makin tak enak, apalagi saat deru angin makin kencang membawa serta pasir-pasir halus.

Aku memutar otak, bagaimana caranya memberi tahu yang lain bahwa aku sudah menemukan orang yang mereka cari. Ah, aku teringat akan kekuatan cahaya yang kumiliki. Telapak tanganku kutengadahkan ke langit, dengan harapan aku bisa memancarkan cahaya hingga mereka yang berada jauh dari sini bisa melihatnya dan segera mendatangi tempatku ini.

Tapi, kenapa tak ada yang muncul dari tanganku. Ada apa ini?

Aku mencoba lagi dan lagi.

Nihil. Tak ada cahaya.

“Percuma, Nona. Tanpa menggunakan benda itu, kamu tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu jika di dekatku.” Suara Sehun terdengar sunggu dingin dan mengerikan. Aku menggigil. Wajah pemuda itu begitu tampan, tapi kenapa auranya begitu mencekam? Udara di sekitarnya terasa sangat dingin dan aneh.

Instingku menyuruhku mencengkram kuat tongkat wushu milik Tao. Entah kenapa aku merasa bahwa pemuda itu akan menyerangku. Hanya perasaanku saja. Tapi…

Sehun yang sebelumnya menghadapku sekarang berbalik memunggungiku lagi. Dan angin berderu muncul dari dalam gua itu, menyebabkan rambut halus Sehun tersibak dan berantakan. Angin itu juga menerpa wajahku. Bau busuk menyengat mengisi penciumanku. Rasa mual segera menyerangku. Aku menahannya sekuat tenaga.

Kudengar suara-suara aneh, seperti orang tersedak. Parau, kering, mengerikan. Suara-suara yang bisa membuatmu bermimpi buruk selama berhari-hari. Sehun tampak bergeming di depan mulut gua. Dan suara-suara itu makin jelas dan dekat.

Satu persatu muncul makhluk-makhluk dari dalam gua.

Makhluk yang sama seperti yang beberapa jam lalu mencengkram kakiku di dalam sana, bermunculan.

Aku menahan nafas. Kenapa ada makhluk-makhluk itu di dalam gua?

Tubuh makhluk-makhluk itu banyak yang tak utuh, ada yang tangannya terlepas saat mereka berjalan tertatih-tatih mendekati Sehun, ada pula yang kulitnya tak utuh lagi dan mengelupas di sana-sini, ada yang mulutnya mengeluarkan darah hitam kental, pakaian makhluk-makhluk itu terkoyak-koyak dan tercabik-cabik. Semua begitu mengerikan dan membuatku semakin mual.

Sehun tampak sangat tenang dalam menghadapi kawanan zombie itu, makhluk yang biasa kulihat dalam film-film. Ketika zombie-zombie itu berada kurang sejengkal dari posisi Sehun, pemuda itu menyerang mereka dengan kekuatan anginnya. Dengan kedua tangannya ia membentuk puasaran angin yang kencang dan menghantam mereka.

Begitu tubuh-tubuh busuk mereka terhantam angin buatan Sehun, tubuh-tubuh itu hancur menjadi potongan-potongan dan berhamburan ke segala arah. Darah kental dan anyir memenuhi udara malam itu. Dan bagai hujan daging busuk menimpa tubuhku. Gaun putihku ternoda oleh serpihan tubuh para zombie itu. Aku menjerit sepenuh tenaga. Suaraku sudah tak kukenali lagi. Teriakanku begitu melengking dan mengerikan. Aku jijik melihat potongan tubuh bergelimpangan itu. Onggokan daging bertebaran di sekitarku, sebagian mengenai kakiku, kepalaku dan seluruh tubuhku terciprati darah anyir itu.

Aku menangis ketakutan. Namun, Sehun tidak berusaha menolongku atau setidaknya menghindarkan aku dari hujan menjijikkan itu.

Tapi yang kulihat adalah sebaliknya, dari mulut Sehun terdengar lolongan panjang bagai serigala. Aku terpana… bukan… aku terhenyak saat melihat Sehun mencengkram kepalanya dan ia mendongak ke arah langit. Menatap bulan purnama.

Perlahan tubuhnya membesar. Aku melihat tulang belakangnya melengkung aneh, tak seperti manusia biasa. Lalu bajunya mulai terkoyak, dari bagian belakang celana muncul sebuah ekor berbulu putih yang merobek celananya, lalu sepasang kaki berubah menjadi kaki dengan cakar dan bulu tebal, kedua tangannya sekarang menapak tanah, dan dari kepalanya muncul dua telinga besar. Pakaian yang tadinya menutupi tubuhnya sudah berceceran di sekelilingnya, dan digantikan bulu-bulu tebal berwarna putih. Sehun… Serigala itu melolong lagi sebelum berbalik menghadapiku.

Aku mundur perlahan saat serigala putih itu menatapku dengan kedua mata binatangnya yang dingin dan siap menerkam mangsanya.

Lututku lemas, aku tak bisa bergerak. Kugenggam tongkat wushu Tao dan mengarahkannya ke serigala itu.

Serigala itu menggeram sambil memamerkan deretan gigi taring tajamnya. Moncongnya terbuka, sesekali liurnya menetes. Matanya sungguh bringas dan liar. Berbeda dengan serigala Kai. Yang ini jauh lebih menyeramkan dan…. Jahat.

Aku ingin berteriak tapi suaraku hilang entah kemana. Terlalu takut telah membuatku lumpuh. Aku hanya berdiri bagai orang bodoh dengan tongkat wushu di tanganku. Tak mampu berbuat apapun, meski hanya menjerit.

Serigala itu masih mendekatiku. Geramannya membuatku tak mampu berpikir lagi. Tiba-tiba serigala itu melompat menerkamku, aku hanya menutup mata dengan kedua tanganku.

Tak ada kesempatan untuk kabur dan menyelamatkan diri.

Aku pasrah.

Mungkin memang sudah waktuku mati tercabik-cabik cakar dan taring serigala ini.

Aku menunggu tikaman rasa sakit di leherku. Namun, aku tak kunjung merasakan apapun.

Sebaliknya, aku mendengar raungan mengerikan dari arah belakangku dan desiran angin kencang berhembus dari sampingku. Dan kemudian kudengar suara ribut seperti ada yang bergumul. Kuturunkan tanganku dari wajahku dan aku memekik kaget saat melihat dua serigala, putih dan hitam sedang bergumul dengan ganasnya.

Mereka saling gigit dan cakar.

Sementara dua serigala itu berusaha saling mencabik lawannya, zombie-zombie makin banyak bermunculan dari dalam gua terkutuk itu.

Mereka makin mendekat. Aku ingin lari tapi aku khawatir akan keadaan Kai, si serigala hitam itu.

Aku melihat tongkat di tanganku, haruskah aku melawan zombie-zombie itu dengan ini? Mereka terlalu banyak untuk kulawan seorang diri. Sedangkan diriku tak pernah sekalipun berkelahi.

Dari arah belakangku terdengar rintihan kesakitan, aku menoleh dan melihat Kai terbaring sambil mencengkeram lengannya yang tersayat kuku runcing serigala putih itu. darah segar mengucur deras dari lukanya. Rupanya kuku serigala itu mengenai nadinya hingga terlalu banyak darah yang keluar. Aku panik, terutama ketika serigala putih itu mulai mengincarku. Ia menjilat moncongnya sambil terus mentapaku lapar.

Dari arah lain kudengar ada derap kaki mendekati serigala putih itu, ketika kulihat ternyata itu adalah seekor rusa perak yang gagah dengan tanduknya yang indah berhenti di depan serigala itu dan berubah wujud menjadi… Luhan?

Dan ia merentangkan lengannya. Serigala putih itu terpental cukup jauh.

Belum hilang rasa takjubku, muncullah seekor unicorn putih dengan tanduk di dahinya. Unicorn itu sangat cantik dengan surai dan ekornya yang berkilauan diterpa cahaya bulan.

Kuda bertanduk itu segera berubah menjadi Lay dan berjongkok di dekat Kai. Tanpa membuang satu detik pun, Lay meletakkan telapak tangannya di atas luka menganga Kai dan dari telapak tangannya muncul kilau keperakan. Lambat laun luka Kai menutup dan sembuh.

Dari arah atas kudengar suara pekikan dan saat kudongakkan kepalaku, kulihat burung berapi menukik tajam ke tempat kami berada.

Tepat sebelum burung phoenix itu mendaratkan kakinya, seorang pemuda melompat turun dari punggungnya. Ia adalah Baekhyun. Sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku, Baekhyun mendekati Luhan dan mengeluarkan cahaya dari tangannya dan mengarahkanny ake serigala yang mengamuk itu. Ia dan Luhan seolah sedang mengikat serigala itu.

Phoenix pun berubah menjadi Chanyeol. Semua terjadi begitu cepat. Aku bingung dan pusing dibuatnya. Aku mundur beberapa langkah saat rombongan zombie kelaparan itu makin mendekat.

Dengan kekuatan apinya, Chanyeol menyembur para zombie itu. Dan mereka pun hangus terbakar dan menjadi onggokan abu.

Ternyata kekuatan Chanyeol masih belum bisa membasmi zombie-zombie itu, untunglah sang naga datang membantu. Dengan berwujud naga, Kris terbang mengelilingi para zombie dan menyemburkan api dari moncongnya. Dua pemuda itu bekerja sama menghabisi makhluk-makhluk mengerikan itu.

Chen juga muncul dengan sambaran kilatnya yang meledakkan tubuh zombie-zombie itu hingga luluh lantah, Xiumin membantu dengan membekukan makhluk-makhluk itu dengan kekuatan es yang dimilikinya.

Dan para zmbie beku itu akan dihancurkan oleh D.O dengan kekuatan penghancurnya yang luar biasa. Hanya sekali injakan di tanah, maka getarannya mampu menghancurkan tubuh zombie itu.

Tao tak mencoba lagi menghentikan waktu, tapi ia dengan lincahnya berputar dan menukik dengan tendangan kakinya serta sabetan pedangnya, mengoyakkan tubuh busuk para zombie.

Zombie yang bermunculan dari gua itu tampak seperti tak akan habis. Mereka selalu keluar lagi dan lagi.

“D.O! HANCURKAN PINTU GUANYA! BIARKAN MEREKA TERPERANGKAP DI DALAMNYA!” seru Chanyeol memerintah sahabatnya itu.

D.O dengan segenap kekuatannya menginjak tanah dan getarannya yang luar biasa kuat itu berhasil menggoyangkan dinding gua. Dinding mulut gua pun rontok dan menutup rapat pintu masuk ke dalam gua mengerikan itu. zombie-zombie yang terlanjur keluar segera mereka bantai hingga tak tersisa.

Semua kengerian itu belum selesai. Luhan dan Baekhyun tampak hampir kehabisan tenaga mereka dalam menahan srigala putih itu. Serigala itu tampak terlalu kuat untuk ditanganki dua orang itu.

Baekhyun tiba-tiba memanggilku dan melemparkan sebuah benda yang berkilauan. Rupanya sebuah gelang atau apalah itu, dengan bentuk matahari di tengahnya. Aku mengenali benda ini.

Benda yang waktu itu dipakai Baekhyun di tangannya.

“PAKAI ITU DAN BANTU KAMI MENGIKAT SERIGALA SIALAN INI!” serunya sambil terengah-engah.

Segera kupakai benda itu dan mendekati mereka, dan benar saja dari tanganku muncul cahaya yang sangat terang, lebih terang daripada sebelumnya.

Kuarahkan cahaya itu ke serigala Sehun dan bersama Baekhyun dan Luhan kami menahan Sehun.

^^^

Apakah mereka akan berhasil mengikat Sehun dan mengembalikannya seperti semula??

To Be Continued

Advertisements