^^^

Hai, FF ini berdasarkan mimpi sahabat aku, Kim Fa-Jar (@LaysSweatTears). Karena isinya seru dan keren, meski cukup menyeramkan, makanya dengan persetujuan dari yang bersangkutan, aku bikin fanfictionnya.

Selamat menikmati hidangan…

^^v

 

^^^

Aku menatap sekelilingku. Pemandangan tampak aneh dan asing, udara terasa sangat panas dan terik, hingga membuat kedua mataku sakit. Aku menyesali kecerobohanku. Seharusnya aku tak memasukkan topiku ke dalam tas ranselku. Sekarang kepalaku terasa panas seolah otakku ikut mendidih karena panasnya sengatan sinar matahari.

Kenapa udara sangat panas di tempat ini?

Aku mendongak dengan melindungi mataku dari silaunya sinar bintang terbesar itu.

Aku menyipitkan kelopak mataku, aku berusaha membuka mataku lebar-lebar, karena aku ingin meyakinkan penglihatanku tentang apa yang baru saja kulihat.

Matahari itu tampak sangat besar dan begitu dekat, dan bukan hanya itu saja keanehannya. Aku menoleh ke sisi lain dan melihat ada sebuah matahari lagi.

Dua matahari?

Apa-apaan ini? Di mana aku? Sejak kapan matahari ada dua? Ini sungguh aneh.

Rasa bingung dan heranku belum sirna ketika tiba-tiba aku mendengar suara pekikan dan geraman dari atas. Kudongakkan kepalaku dan sebuah makhluk bersayap sangat besar sedang terbang menukik ke arahku dan sesekali menyemburkan api dari moncongnya.

Nagakah itu? Naga?

Jantungku berdegup kencang menghantam rusukku. Aku, yang dalam kondisi kehausan, memaksa diriku berlari menghindari serbuan naga ganas itu. Aku terus berlari, mengayuh kedua kakiku yang sudah terasa pegal dan lemas itu demi menyelamatkan diri. Tapi naga keras kepala itu terus menguntitku, terkadang ia melayang santai di belakangku, jauh di atas sana, terkadang ia akan mempercepat laju terbangnya dan mendekatiku. Aku berlari bagai kesetanan. Dan naga sialan itu seolah meledekku, sengaja membuatku kelelahan sebelum akhirnya aku jatuh pingsan dan dengan santainya ia akan melahapku.

Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru, namun rupanya keberuntungan sedang tidak memihakku. Aku berada di tengah padang pasir. Hanya pasir dan pasir yang tertangkap pandanganku. Tidak ada tempat untuk berlindung dan bersembunyi dari naga itu.

Aku sudah terlalu lelah, lapar dan dehidrasi. Rasa putus asa karena hampir mendekati waktuku mati, aku menangis. Menangis karena belum ingin mati. Aku belum meminta maaf sama orangtuaku. Belum mengembalikan buku yang kupinjam dari sahabatku. Belum bertemu kekasihku yang masih di luar kota. Sudah sangat jelas aku belum siap mati. Aku menangis hingga dadaku hampir pecah saking sesaknya. Aku berderai air mata sambil merapal do’a. Berharap sang naga tiba-tiba kenyang dan kehilangan nafsu makannya.

Di balik kucuran air mataku, samar-samar aku melihat bangunan-bangunan yang cukup menjulang di kejauhan. Sebuah kota? Atau jangan-jangan itu hanya sebuah fatamorgana di tengah teriknya panas matahari ini? Tak ada salahnya mencoba dan berharap.

Kupercepat lariku, sesekali aku melihat ke atas, dan naga itu masih mengikutiku, ia mendekat dan menyemburkan apinya ke arahku. Aku memekik histeris dan berlari menghindarinya, meski lututku seakan telah lepas dari kakiku, aku terus berlari, pinggangku nyeri, paru-paruku terasa sangat sakit, aku kesulitan bernafas.

Jarak menuju kota itu makin dekat, dengan sisa-sisa tenagaku, aku pun berhasil memasuki gerbang besar kota itu. Sambil terengah-engah mengumpulkan oksigen, aku menjatuhkan tubuhku ke tanah berpasir itu… kuselonjorkan kedua kakiku yang mati rasa karena kelelahan berlari. Tenggorokanku sangat kering. Aku kehausan.  Untunglah naga itu tak mengikutiku, rupanya ia menghindari manusia, makanya ia menjauh dan melepaskanku. Aku bernafas lega. Dan menyandarkan punggungku ke dinding yang dingin.

Meskipun aku merasa telah lolos dari cengkraman naga itu, tapi kenapa perasaanku terasa sangat tak nyaman?

Saat aku sedang berkubang dalam perasaan tak nyaman yang menyergapku mendadak itu, tiba-tiba pintu gerbang raksasa itu menutup dengan sendirinya, seolah ada yang mendorongnya dengan kuat. Tapi aku tak melihat siapapun. Sejurus kemudian aku merasakan terpaan hawa hangat yang membawa serta aroma busuk dan anyir. Kukernyitkan hidungku dan mengibaskan tanganku di depan hidungku, berusaha menyingkirkan bau aneh itu.

Namun, aroma itu makin menusuk. Dengan ujung bajuku, aku menutup hidungku dan berusaha bernafas dengan mulutku.

Berhubung tadi aku sangat lelah dan sedikit pusing, aku tak memerhatikan sekelilingku. Ternyata kota itu terlihat sangat tua. Ada satu kastil yang cukup besar, aku hanya bisa melihat puncak menaranya. Rumah-rumah kumuh dan rusak memenuhi tiap sudut kota itu. Beberapa gerobak berisi benda-benda yang sudah sangat lapuk dan rusak. Sejauh mataku memandang, aku tak melihat seorang pun di jalanan yang terbenglakai itu.

Sungguh aneh dan… menyeramkan.

Jangankan manusia, seekor binatang pun tak terlihat, bahkan tanaman hijau juga tak ada. apakah kota ini sebuah kota mati?

Biasanya… kota mati itu… berhantu…

Bulu kudukku meremang, tubuhku menggigil.

Tiba-tiba udara yang sebelumnya sangat gerah dan menyengat berubah menjadi dingin. Perubahan cuaca yang aneh. Langit yang tadinya terang benderang dengan dua matahari yang menyinari, mendadak berubah mendung dengan awan-awan gelap menggelayut.

Aku berada di mana ini? Kenapa semua sangat aneh?

Setelah melepas lelah, aku memutuskan untuk mencari sesuatu untuk menyirnakan rasa dahaga yang begitu membunuhku.

Tertatih-tatih, aku menyusuri jalanan tak beraspal kota ini. Mencari tanda-tanda kehidupan ternyata sangat sulit di tempat ini. Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Namun, aku tak mau berputus asa. Aku melanjutkan pencarianku.

Entah karena situasi yang terlalu sunyi atau aku mendadak mempunyai kekuatan super, aku bisa mendengar suara-suara dengan jelas.

Suara gemericik air mengalun indah di telingaku, aku berjalan mengikuti sumber suara itu.

Air…

Akhirnya aku akan membasahi kerongkonganku dengan air yang segar…

Langkahku terasa ringan saat suara itu makin jelas. Itu tandanya sumber air sudah dekat.

Ayunan kaki berhenti di depan sebuah cekungan yang kuyakin itu adalah pintu masuk ke dalam sebuah gua. Aku tahu kalau air yang terdapat dalam gua sangat jernih dan pastinya sejuk dan segar. Semangat aku memasuki gua itu, tapi aku tetap berhati-hati, karena di dalam cukup gelap. Semakin aku memasuki gua itu, bunyi gemericik air semakin dekat. Suara itu menggema di seluruh penjuru gua. Aku menapaki dasar gua yang tak halus itu, perlahan tapi pasti, aku sampai di sumber air itu.

Aku berjongkok dan meraup air dalam telapak tanganku dan mencipratkannya ke mukaku. Aku hendak mereguk air itu ketika bau anyir tercium hidungku. Aku mengendus berulang-ulang, dan aroma itu makin kuat dan membuat perutku bergejolak.

Entah apa itu, tiba-tiba ada sesuatu yang basah dan lembek mencengkram pergelangan kakiku. Aku tersentak kaget dan melihat apa yang memegangku.

Sebuah tangan kurus dengan kulit yang mengelupas di sana-sini hingga daging di bawahnya terlihat. Kulit tangan itu berwarna kebiru-biruan, berair, keriput, dan baunya luar biasa busuk. Aku menjerit ketakutan dan berusaha menendang tangan itu. Namun, cengkramannya terlalu kuat untuk sebuah tangan sekurus itu. Perlahan sebuah kepala muncul dari dalam air, sebuah wajah tanpa mata. Karena cahaya remang-remang dalam gua itu aku tak mampu melihat bentuk wajah orang atau… makhluk itu.

Aku heran. Apa aku ini seorang mutan? Karena tiba-tiba muncul cahaya dari telapak tanganku. Hmm…. Seperti yang terdapat pada tangan Iron Man. Tapi dengan bentuk yang berbeda, seperti ada cahaya memancar dari pori-pori telapak tanganku. Aku sempat mengagumi keajaiban itu, tapi rasa licin dan dingin yang mencengkram kakiku segera menyadarkanku. Aku arahkan cahaya dari tanganku ke wajah yang tampak hingga leher itu. Aku mengerang keras. Perutku sudah memberontak ingin memuntahkan isinya.

Wajah makhluk yang tampak seperti manusia, sangat kurus, bagai tengkorak berbalut kulit. Kulit yang membiru, keriput, berair, mengelupas dan…. Tanpa bola mata.

Tapi kedua lubang hampa itu seolah menatapku. Perlahan makhluk itu merayap keluar dari air. Aku menendang dengan ganasnya, ingin segera berlari dari tempat itu.

Makhluk itu terus menahan kakiku. Kurasakan pergelangan kakiku berdenyut nyeri karena cengkraman terlalu kuat itu. Bahu orang… makhluk mengerikan itu tampak, disusul dadanya. Sosok itu mengenakan sesuatu yang tampak seperti kemeja putih (yang sudah tak putih lagi) yang terkoyak di berbagai tempat, memperlihatkan kulit tubuhnya yang mengerikan. Aroma menjijikkan itu menyergapku, mencekikku. Makhluk itu bersuara. Suara yang dalam dan parau, seperti tersedak air.

“Nona… bunuhlah aku. Aku mohon, Nona. Aku sudah tak sanggup hidup seperti ini lagi. Bunuh aku, Nona,” ucapan sosok menjijikan itu membuatku bergidik. Ia memintaku membunuhnya? Ia bahkan tak tampak hidup bagiku. Ia… hantu? Hantu yang tak sadar kalau dirinya sudah mati?

Makhluk itu memohon berulang-ulang, aku semakin ngeri dan ingin segera pergi. Rasa haus dan laparku sudah sirna semenjak kakiku dicengkram olehnya.

“Iya! Iya! Baiklah! Tapi lepaskan dulu kakiku!” pekikku seraya menendangnya kasar hingga ia melepaskan kakiku. Tanpa menoleh lagi, aku ambil langkah seribu dan sambil tersandung-sandung aku menjauh dari danau aneh itu.

Beberapa langkah sebelum mencapai mulut gua, aku melihat sekoloni tikus yang sangat gemuk dan sangat-sangat menjijikkan. Tikus adalah binatang yang paling aku benci. Dan aku memuntahkan isi lambungku. Aku sudah tak tahan lagi. Semua ini terlalu menjijikkan.

Sambil meraba-raba dinding gua yang kasar, aku tersentak oleh hembusan hawa dingin yang membuatku menggigil dan detik berikutnya ada beberapa ekor tikus mematung… lebih tepatnya, membeku. Tikus-tikus itu terbungkus lapisan es yang cukup tebal. Belum selesai otakku mencerna keganjilan itu, muncullah seberkas sinar yang menyambar tikus-tikus beku itu. Sebuah kilatan cahaya yang menghancurkan tikus-tikus apes itu.

Aku merasa semua keanehan ini sudah lebih dari cukup, aku segera berlari hingga terpeleset beberapa kali sebelum bisa keluar dari gua itu dan wajahku diterpa sinar mentari yang tak terlalu menyengat.

Kuhirup udara sebanyak mungkin. Lalu aku menjauh dari gua itu. Bolehkah aku menyebutnya gua terkutuk?

Beberapa burung gagak dan elang terbang mengitari kepalaku. Aku mendongak untuk melihat kawanan burung pemakan bangkai itu. Kemudian sambaran kilat menyambar dan mengenai burung-burung itu. Burung-burung itu berjatuhan. Gosong. Aku memekik kaget dan segera berlari mencari perlindungan.

Aku berjalan kembali menyusuri jalanan yang sepi. Aura aneh seolah mengikutiku. Bukan hanya itu, aku juga merasakan seperti ada mata-mata yang mengawasiku. Namun, tak tampak siapapun atau terdengar satu gerakanpun. Benar-benar sunyi senyap. Hanya desiran hawa dingin yang masih menguarkan aroma busuk yang mengganggu. Aku memutuskan lebih baik untuk segera angkat kaki dari tempat ini. Tapi…

Aku tak ingat jalan keluarnya.

Aku mencoba kembali ke gerbang utama. Butuh waktu agak lama sebelum akhirnya menemukan gerbang itu. Baru saja kakiku mendekati pintu raksasa itu, hidungku mencium aroma sedap masakan. Aku mengindahkannya. Tapi perutku berkata lain. Sudah jelas sekali aku lapar dan haus.

Lagi-lagi… otak mengalah pada perut. Tekad bulatku untuk keluar dari kota ini diundur hingga perutku mendapatkan jatah makanan. Segala hal pada diriku menjadi aneh saat terdampar di kota ini. Pendengaran menajam, dan penciuman pun menjadi lebih peka. Seperti anjing pelacak. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Aku yang semula sangat ngeri akan segala jneis makhluk yang menyeramkan, termasuk di dalamnya arwah gentayangan dan hantu, saat ini menjadi lupa akan rasa takutku itu. Semua karena desakan rasa lapar yang melilit lambungku. Perih.

Aku tak tahu ke mana kakiku membawaku, hanya insting penciumanku yang menuntunku ke arah aroma sedap itu.

Setengah sadar, aku sudah berada di depan sebuah bangunan megah dan paling mewah bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan lainnya. Sebuah mansion atau istana? Aku tak tahu pasti, yang pasti di dalam sana ada makanan. Ada minuman. Dan ada tempat untuk melepas penat.

Ada sebersit rasa takut dan ragu menghinggapi perasaanku. Meski bangunan itu tampak elegan, namun sensasi angker terasa sangat mencekam. Haruskah aku memasuki tempat itu? Jika aku gunakan logika, maka apapun yang akan aku lakukan bisa jadi hasilnya sama. Yaitu… mati.

Jika aku memutuskan untuk pergi dari sini tanpa mengisi perutku dengan makanan, maka sudah pasti aku akan mati kelaparan di tengah gurun pasir yang gersang.

Kalau aku memberanikan diriku memasuki rumah itu, dan ternyata di dalamnya ada makhluk yang tak segan-segan membunuhku? Maka hasilnya sama saja. Aku pasti mati. Tapi setidaknya, aku mati dalam kondisi kenyang. Ha ha ha. Miris.

Aku mengendap-endap ke dalam bangunan itu, kebetulan gerbangnya terbuka setengah. Aku menyelinap melewati dua papan pintu dengan ukiran rumit dan lambang-lambang aneh itu, dan mataku terbelalak ketika melihat interior rumah megah itu. Bukan rumah, tapi istana lebih tepatnya.

Bangunan itu memiliki pilar-pilar raksasa, persis seperti yang terdapat pada bangunan-bangunan jaman romawi kuno, tempat tinggal para dewa dan dewi. Aku mengagumi interior istana itu. Namun, di tempat sebesar ini kenapa tak ada seorang pun yang terlihat? Bukankah di istana selalu banyak pelayan? Menteri-menteri atau anggota kerajaan? Sungguh aneh.

Saat aku tenggelam dalam pikiranku, sayup-sayup kudengar suara orang berbicara. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku makin berhati-hati dalam melangkah. Aku tak ingin mereka melihatku.

Langkahku terhenti di depan sebuah pilar yang besar, yang menghalangi panadanganku. Aku melihat ada sekelebat sosok berbaju putih berjalan hilir mudik di balik pilar itu. setelah kuperhatikan, ternyata tempat di balik pilar itu adalah dapur yang luas dan mewah. Aroma masakan lezat itu seolah menarikku mendekat ke sumbernya.

Aku bersembunyi di balik pilar itu dan mengintip. Seorang pemuda berkulit putih bersih, dengan rambut hitam yang disisir rapi. Ia sedang menunduk di atas meja, sepertinya sedang menata makanan di dalam piring. Ketika ia tegak kembali, aku bisa dengan jelas melihat kedua matanya yang belo, dan sepasang bibir sensual.

Mataku tak mampu mengalihkan pandangan dari pemuda itu. Ia tersenyum setelah menata makanan di atas meja. Senyum puas dan bangga. Ia tampak sangat tampan. Apalagi senyumnya sunggu menawan dengan dihiasi lesung pipi di kanan.

Aku merasa pemuda ini mirip sekali dengan orang yang kuperbutkan dengan kawanku. Ah, ini hanya kebetulan.

Grrraaaaawwwwllllll….

Suara geraman mengerikan membuatku membeku. Perlahan aku menoleh ke belakangku dan kulihat seekor serigala berbulu hitam yang cukup besar untuk ukuran serigala pada umumnya sedang berjalan dengan keempat kakinya yang dapat kulihat kuku-kuku tajamnya sesekali menggesek lantai marmer yang indah itu. Mulut binatang buas itu terbuka lebar memamerkan taringnya yang siap mencabik-cabik kulit mulusku.

Tanpa menunggu refleksku (yang kali ini lamban), aku berlari dan bersembunyi di balik punggung si tukang masak yang tampan itu. Aku meracau kepada pemuda itu bahwa aku bukan pencuri ataupun orang jahat. Sesekali aku melongok dar balik bahu pemuda berbibir sensual itu, untuk melihat si serigala. Ternyata serigala itu masih mendekatiku.

“Hhhh.. sudahlah, Kai. Kau sudah membuat gadis ini ketakutan. Dan sepertinya dia hampir terkencing-kencing. Apa kau akan bertanggung jawab?” ujar seorang pemuda yang muncul entah dari ruangan mana. Ia mermata besar dan berbibir tebal.

Serigala itu menggeram sekali lagi sebelum aku melihatnya kehilangan bulunya dan kedua kaki depannya berubah menjadi tangan manusia, dan moncong bertaringnya menjadi sepasang bibir yang tak kalah sensualnya dengan pemuda yang tadi menegurnya. Serigala itu berdiri di atas dua kaki, hanya mengenakan celana selutut tanpa baju yang menutupi bagian atas tubuhnya. Kulit kecoklatan akibat terpapar sinar matahari (mengingat ada dua matahari di tempat ini), dan perut bak dipahat. Kedua mata serigalanya berubah menjadi hitam dan tampak mengantuk. Bulu-bulu hitam digantikan rambut hitam yang halus dan jatuh menutupi dahinya.

Serigala… mmm… pemuda yang tampan.

“Yaaah… D.O membosankan! Aku hanya main-main saja. Hiburan. Kota ini terlalu sepi dan membosankan,” sungut pemuda bernama Kai itu seraya mendekati pemuda yang ternyata bernama D.O itu. Ia lingkarkan lengannya di lengan D.O, manja.

“Tapi kau tak seharusnya membuat gadis tak berdosa ini ketakutan! Lihat betapa ia pucat dan gemetar seperti itu. Kalau terjadi sesuatu padanya, apa kau sanggup bertanggung jawab? Jangan-jangan kau berharap dijadikan serigala panggang oleh Kris?” D.O gusar dengan sikap Kai yang membuatku ketakutan. Dan ketika nama Kris disebut, Kai tampak mengerut ngeri. Ia menggeleng keras dan melepas pelukan lengannya.

“Kau tak usah takut lagi. Semua sudah aman. Kai hanya main-main. Maklumlah, dia masih anak-anak, belum bisa berpikir dewasa.” Ujar D.O seraya menghampiriku dan menepuk pelan bahuku.

“Aku sudah 18 tahun!” seru Kai tak terima dibilang anak-anak. Aku ingin tertawa, tapi rasa takutku masih belum hilang.

“Hmm… Nona, kau sudah aman. Kau sudah bisa melepaskan pelukanmu.” Pemuda berlesung pipi yang sejak tadi kupeluk itu berdehem salah tingkah. Aku segera melepas pelukanku. Dan kurasakan pipiku memanas.

 

Krrrkkk… krrrrkkk…

Kali ini suara merdu dari perutku membuat ketiga pemuda itu menoleh ke arahku. Ke arah perutku.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Salah tingkah.

“Hehe… maaf. Peliharaan dalam perutku berisik karena belum dapat makanan.” Ujarku dengan seringai bodoh.

“Waaah… kamu pelihara apa hingga bisa muat di dalam perutmu?” tanya pemuda yang tadi kupeluk itu sambil mendekatiku, hendak menyentuh perutku.

“Lay… kenapa kau lugu sekali? Gadis ini ingin mengatakan bahwa ia lapar. Memalukan!” D.O menjitak kepala pemuda tampan bernama Lay itu.

Lay hanya mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O.

D.O menoleh kepadaku dan tersenyum manis, “Aku tahu kamu lapar. Tapi sebaiknya kamu bersihkan dirimu dulu. Kami akan menunggumu di meja makan.” Lalu ia menoleh ke Kai dengan tatapan galak, “Dan kau, Kai! Sebagai hukuman, kau siapkan baju bersih untuk nona manis ini! Dan lagi, kamu tidak mendapat steak untuk makan malammu!” tegas D.O. Kai melenguh kesal. Namun, pemuda serigala itu menghilang dan beberapa detik kemudian muncul kembali dengan setelan baju bersih untukku.

“Ini baju bersih yang bisa kamu pakai, sementara bajumu yang kotor dicuci.” Kata D.O. “Lay, antar dia ke kamarnya. Sekalian tunjukkan letak kamar mandinya.”

“Siap, Bos!” seru Lay dengan gaya hormat pada komandan. Aku terkikik melihat betapa imutnya pemuda itu. Lalu aku mengambil baju dari Kai dan mengikutinya ke kamar mandi.

Setelah selesai membasuh diri, aku yang telah berganti pakaian kembali ke ruangan tadi. Aku memakai gaun sutra putih sederhana, dengan beberapa rimple di bagian atas lengannya. Ketika sampai di ruangan itu, aku melihat ada beberapa pemuda lain.

Ada lima pemuda yang sudah duduk di kursinya masing-masing. Aku sempat bingung hendak duduk di mana, apalagi aku belum mengenal orang-orang itu.

Lalu seorang pemuda berkulit putih pucat dengan senyuman yang mampu merontokkan kristal-kristal es yang membeku, melambai ke arahku dan menyilakanku duduk di kursi kosong di depannya.

“Silakan duduk. Aku Suho. Pengendali air, dan asisten ketua dalam kelompok ini. Salam kenal,” ucapnya sangat ramah, membuatku segera merasa nyaman dan aman.

“Haaaai… kalau aku, Xiumin. Pengendali es, alias tukang es. Hahaha. Salam kenal,” pemuda yang duduk di sebelah kanan Suho, berpipi tembam dan bermata sipit mengenalkan dirinya dengan ceria. Ia tersenyum begitu lebar hingga gigi-gigi mungilnya tampak sangat menggemaskan.

“Luhan. Telekinesis.” Gumam pemuda berwajah bagai anak remaja itu tak bersemangat. Ia tampak lesu dan seperti sedang banyak pikiran yang mengganggunya.

Mataku beralih ke orang lainnya, ia tertawa canggung saat mengenalkan dirinya.

“Kalau aku adalah Tao, si kungfu panda yang romantis dan imut, bbuing-bbuing,” aiiih, betapa imutnya pemuda tinggi berambut hitam pekat dan bermata tajam ini? Aku tersenyum ceria padanya.

Lalu dari sebelah Tao seorang pemuda bermata sipit menggoyang-goyangkan tangannya dengan penuh semangat, dan ia agak memekik ketika memperkenalkan dirinya,

“Haloooo. Aku Baekhyun, dan aku bisa menghasilkan cahaya dari tanganku. Seperti ini!” dan ia memamerkan pancaran cahaya keperakan dari telapak tangannya. Aku terkesiap.

“Aku juga bisa…” kataku sambil mengangkat tanganku dan dari telapak tanganku muncul cahaya yang mirip dengan yang dikeluarkan Baekhyun.

Baekhyun bertepuk tangan girang hingga sesekali melompat dari duduknya. “Hebaaat. Kukira hanya aku saja pengendali cahaya di dunia ini. High five!” serunya.

Dari arah jendela terdengar kepakan sayap. Aku menoleh dan melihat seekor elang dengan warna bulu keemasan yang indah mendarat di kursi sebelah kiriku. Dan kedua sayap lebarnya menyusut dan berubah menjadi sepasang lengan manusia. Tubuhnya pun jadi seperti manusia biasa. Persis seperti Kai yang berubah dari serigala.

“Kenalkan. Aku Chen. Maaf mengagetkanmu.” Ia mengulurkan tangan kanannya dan kusambut. Ia tersenyum manis sekali. Mengapa pemuda-pemuda ini memiliki senyum menawan, ya?

“Kamu juga punya kekuatan seperti yang lainnya?” tanyaku penasaran.

“Oh, iya. Aku mampu mengendalikan aliran listrik dari halilintar dan menyalurkannya kemanapun yang aku suka.” Lalu ia angkat tangan kanannya dan menunjukkan sebuah cincin berbentuk kalajengking, “sumber kekuatanku dari cincin sakti ini,” jelasnya. Aku mengangguk.

Kagum akan keistimewaan yang mereka miliki.

Udara yang tadi terasa sejuk berubah menjadi gerah dan sedikit pengap.

“Ah, kenapa hawanya berubah jadi panas seperti ini?” celetukku seraya mengibaskan tanganku di depan wajahku. Berharap mampu membuat udara tak terlalu panas.

“Oh, ini biasa terjadi jika dua orang itu ada dalam ruangan.” Ujar Baekhyun menunjuk Chen dan seekoe burung Phoenix yang tertutup api disekujur tubuhnya yang sedang menukik tajam menerobos jendela besar yang terbuka lebar itu.

Phoenix itu masuk dan ….

Gubraaaakkk…. Praaanngg…

 

Dan phoenix itu menabrak lemari yang berisi pecah belah itu hingga pecah berantakan.

Burung berapi itu menghilang dan digantikan sosok pemuda bertubuh tinggi dengan rambut kecoklatan yang bergelombang. Seringai konyol menghiasi wajahnya. Matanya menatap orang-orang yang berada di meja makan dengan linglung. Ia mengusap-usap kepalanya yang nampak memar akibat benturan tadi.

“A-yo, waddup! Aku Chanyeol, si happy virus pengendali api,” tukasnya sambil menyemburkan api dari tangannya. Tiba-tiba Suho menyiramnya dengan air. Membuat Chanyeol terperanjat.

“Suho! Kenapa kau siram aku dengan airmu itu?” protesnya kesal, namun tak berani membalas karena Suho lebih tua darinya.

“Sudah berapa kali kubilang, jangan main api di dalam ruangan!” sentak Suho galak. Lalu ia berbicara lagi dengan suara yang dipelankan, “Nanti kalau Sehun marah dan dia hembuskan angin tornado dengan kekuatannya, apimu itu akan menyebar dan menghanguskan rumah kita. Mengerti!”

Chanyeol meminta maaf dan membuka bajunya yang basah, memeras habis airnya, dan memakainya lagi.

Kekacauan tadi baru berakhir, ketika aku mendengar kepakan lagi dari luar jendela. Aku menoleh dan melihat seekor naga.

Naga yang tadi memburuku!

Tenggorokanku tercekat. Tanganku berkeringat dan jantungku berdegup tiga kali lebih cepat. Rupanya naga itu berhasil melacak keberadaanku. Pasti ia mengenali bauku. Apa yang akan terjadi bila naga itu menyerang kami? Para pemuda ini akan jadi korban.

“Nona, kenapa wajahmu menjadi pucat seperti itu?” tanya Tao dengan pandangan khawatir.

“I-itu… di-di-di luar… na-naga…” aku tergagap sambil menunjuk naga yang makin mendekat itu. cakarnya sudah mencengkran kusen jendela.

“Iya, lalu ada apa dengan naga itu?” tanya Baekhyun tanpa ada kekhawatiran dalam suaranya.

“Na-naga itu ingin memangsaku! Naga sialan itu mengejarku tadi, hingga akhirnya aku bersembunyi di sini,” jelasku. Aku makin takut.

“Hey! Siapa yang mengataiku sialan?!” sebuah suara sangat dalam dan ehem… seksi menyapa telingaku. Aku menoleh ke arah jendela dan…

Dewakah itu?

Seorang titisan dewa yang sangat tampan. Bertubuh tinggi semampai, berkulit putih bersih. Kedua matanya tajam seolah mampu membaca pikiranmu. Hidung mancung yang terpahat dengan sempurna. Sepasang bibir menggiurkan yang mampu membuatku menatapnya terlalu lama.

Aku tersadar kembali saat Chen menyenggol lenganku dan berbisik, “Jawab pertanyaannya,”

Aku berdehem untuk melancarkan tenggorokanku, “Aku tidak mengataimu sialan, hmm… Tuan. Aku mengatai naga sialan itu yang tadi mengejarku dan hendak memangsaku. Ke mana naga itu pergi? Apakah kau telah mengusirnya?”

Siluman dewa itu memutar bola matanya dengan bosan, dan menatapku tajam. Bibirnya terkatup rapat dan alisnya hampir bertaut. Ia melangkah dengan anggun, bagai peraga busana tampan yang biasa aku lihat di fashion tv. Tiap ayunan kaki semampainya, ia mengeluarkan aura maskulin yang membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya. Ia sungguh tampan.

Ia makin mendekatiku. Aku salah tingkah. Bagaimana tidak? Ditatap pemuda setampan dirinya adalah sesuatu yang langka bagiku.

“Pssttt. Dia itu si naga tadi. Naga yang mengejarmu. Dia adalah Kris. Ketua kelompok kami,” jelas Chen masih sambil berbisik.

Mataku hampir lepas keluar saking lebarnya aku melotot.

“Yep! Berhubung semua sudah berkumpul, mari kita makan. Nona ini sudah kelaparan. Ayo, Kris. Sekalian makan,” ajak D.O mencairkan suasana yang sempat tegang.

Aku bertanya-tanya, bukankah tadi ada yang menyebut nama Sehun? Lalu di mana orang itu?

Tak sengaja mataku melihat Luhan. Ia sedang menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Tampak sekali ia sedang tak berselera. Setetes air turun dari dagunya, menetes ke atas piringnya.

Ia menangis? Kenapa?

Kuperhatikan lagi sekelilingku, dan aku menyadari bahwa Lay juga tak memakan makanannya, ia justru melakukan gerakan-gerakan dengan tangannya ke atas makanan itu. Seperti sedang memberi tenaga dalam atau apalah itu. Seberkas cahaya putih dari tangannya itu lambat laun berubah menjadi kehijauan lalu lenyap sama sekali.

Yang lain seolah tak memedulikan apa yang sedang Lay lakukan, mereka tetap menyantap hidangan dengan tenang. Sesekali Baekhyun dan Chanyeol bersenda gurau dan Kris akan menegur mereka dengan suara dalamnya. Tak satupun memerhatikan Lay dan Luhan.

Sejurus kemudian, Lay memberikan piring itu pada Luhan, dan pemuda berparas remaja 12 tahun itu beranjak pergi meninggalkan meja makan.

Tadi aku sempat menebak-nebak tentang kelebihan Lay. Dan akhirnya aku mengetahuinya saat Lay menyentuh dahi Chanyeol yang memar ketika ia terbentur tadi, dan memar itu menghilang. Sembuh tanpa bekas.

Maka pastilah Lay seorang penyembuh. Dan ia telah memberi sesuatu pada makanan tadi.

Untuk siapa?

Sehun kah?

Aku bingung.

Terlalu banyak misteri di tempat ini.

^^^

To be continued

Advertisements