Cast     : EXO

 

Genre : Comedy

 

Length : One Shot (very short)

 

Author : Coco Pinky

 

^v^v^

 

Menyesuaikan situasi bulan ramadhan, muncul ide buat bikin FF gaje ini.

Intinya FF ini buat seseruan aja, jadi nggak ada niat buat menyinggung suatu agama atau golongan. Memang member EXO nggak mungkin menunaikan ibadah puasa. Berhubung ini namanya Fiksi, jadi harap maklum.

Ini FF lepas, jadi nggak bersambung. Meski masih berhubungan dengan couple-couple di FF sebelumnya, Dating On Exoplanet.

Enjoy the funny moment of this fic. Don’t forget to RCL.

Thank you…

 

^v^v^

Lebih dari 100 hari telah berlalu sejak mendaratnya ke12 cowok tampan itu di bumi. Dan pesona grup mereka telah mampu mendominasi banyak hati para wanita maupun pria. Berhubung EXO-Metropolis telah menyelesaikan misinya di Cina, mereka pun kembali bergabung dengan EXO-Kampung di Korea Selatan. Mereka ingin berpuasa bersama-sama.

Untuk sementara waktu kegiatan show maupun photoshoot dihentikan. Jadi para cowok tampan itu bisa bersantai.

*

Suara berisik terdengar dari dalam dapur. Suho yang sedang enak-enaknya tidur, terbangun karena suara itu. Dia keluar dari kamarnya dan mampir ke dapur.

Dengan mata setengah terpejam, Suho menghampiri seorang cowok bermata bulat dan berbibir penuh yang sedang memasak.

“Ya, ampun, Kyungsoo. Kamu rajinnya nggak ketulungan, deh. Ngapain tengah malam buta kayak gini masih sempat-sempatnya masak?” gerutuan Suho membuat Kyungsoo menoleh dan tersenyum konyol.

“Masak buat arisan kunti di kompleks ini, Suho. Hehehe.” Candanya.

Suho mendengus dan mencomot sebutir telur rebus dan memasukkannya ke mulutnya.

“Sherlhiuuusshhh, KhyungkhShooo.” Tegurnya dengan mulut penuh.

“Telan dulu baru ngomong. Nggak sopan!” sembur Kyungsoo dengan wajah mengernyit jijik. “Aku masak buat sahur, Kim Joonmyun,”

“Ya, ampuuun! Aku lupa!” Suho menepuk dahinya. “Kenapa nggak bangunin aku dari tadi? Ya, udah, aku bangunin yang lainnya dulu,”

Kyungsoo mengangguk dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Suho memulai misi beratnya membangunkan semua temannya.

Mula-mula Suho memasuki kamar Kris dan Chen. Ia menyiprati wajah Kris dengan air yang muncul dari tangannya. Membuat cowok berambut pirang itu mengamuk. Lalu Suho  menyiprati Chen.

Tiba-tiba tubuh Chen bergetar hebat dan ada asap yang muncul dari sela-sela rambutnya.

“Heh! Lo ngapain, Suho?” teriak Kris memarahi Suho yang panik menangani Chen yang menggelepar.

“Aku siram dia pakai air, Kris. Salah, ya?” tanyanya dengan wajah bingung.

“YA JELAS AJA SALAH! ITU CHEN KESETRUM, DODOL!!!!!” raung Kris dengan MAMA mode on.

“Mama mama mama mama, ampun!” Suho tergagap-gagap. “Aku lupa kalau Chen punya kekuatan listrik.” Ia mencoba membantu Chen berhenti gemetar dengan memeluknya erat.

“Kacau, ah! Lagipula ngapain lo bangunin gue dari beauty sleep gue? Awas aja, kalau kulit muka gue keriput dan kusam gara-gara lo!” Kris mengamuk-ngamuk tak jelas sambil berjalan mondar-mandir dan mengusap-usap wajah tampannya.

“Ganjen.” Gumam Suho pelan sambil memutar bola matanya. “Kita mau sahur. Udah bulan puasa, nih. Kemana aja, sih, kamu?” sungut Suho kesal. Setelah Chen tenang dan sadar, Suho keluar kamar dan berbelok ke kanan, lalu memutar kenop pintu kamar Baekhyun dan Chanyeol.

Dengan refleks, leader manis itu mengucurkan air ke wajah Baekhyun. Cowok bermata sipit itu gelagapan ketika ada air yang memasuki mulutnya yang terbuka. Cowok imut itu langsung bangun dan menggerutu sepenuh hati.

Lalu Suho menghampiri ranjang Chanyeol. Cowok bongsor itu tertidur lelap sambil menggigiti ujung selimutnya dan menggumam tak jelas. Ia bergerak-gerak dalam tidurnya.

“Yeollie~ah, bangun. Waktunya sahur.” Suho menggoyang bahu Chanyeol.

“Siram pakai air, dong. Jangan aku doang yang disiram.” Omel Baekhyun sambil mengusap wajahnya yang basah.

“Nggak berani, Baek. Kemarinnya aku bangunin dia pakai cara itu, eh aku disembur api ama dia. Hampir aja apinya kena mukaku, bisa-bisa alisku hangus dan jadi botak, terus bisa liat setan. Amit-amit, deh.” Ungkap Suho sambil bergidik ngeri mengenang kejadian itu.

“Jadi kamu semena-mena ama yang lemah, ya? Dasar licik! Lagian kamu nggak usah nunggu alismu botak, kalau mau liat setan, silakan bercermin aja! Huh!” Baekhyun kesal dengan Suho dan melemparnya dengan selimutnya yang basah. Lalu ia keluar kamar dan menggebrak pintu dengan keras. Suho menggeram kesal dengan ucapan Baekhyun.

“Kris monyong eh monyong!” seru Chanyeol yang terbangun karena suara gebrakan pintu. Matanya melotot dan jelalatan mencari Kris. Lalu ia melihat Suho yang menatapnya dengan tatapan –please-deh-jangan-lebai-. “Gue kaget, Suho. Jangan liatin gue kayak liat Kris pakai kebaya, dong!” ia menendang selimutnya dan duduk di pinggir kasurnya yang tak bisa menampung tubuh tingginya.

“Bangun! Kita mau sahur, nih. Keburu imsak, lho,” Suho menarik lengan Chanyeol hingga cowok tinggi itu berdiri. Sambil menggaruk-garuk rambutnya, Chanyeol mengikuti Suho keluar kamar.

Rupanya Kris sudah berhasil membangunkan Luhan dan Lay, serta Tao dan Xiumin. Suho kembali lagi ke kamarnya dan membangunkan si magnae, Sehun. Cowok tampan nan imut itu masih terlelap. Ia memeluk gulingnya dan tersenyum dalam tidurnya. Sesekali ia terkekeh. Suho menghela nafas.

Pasti Sehun lagi mimpiin Luhan. Batin Suho.

Cowok dengan senyum menenangkan hati yang risau (?) itu membangunkan Sehun. Ia menarik pelan guling yang berada dalam dekapan cowok itu.

“Nggghhh… Luhan, jangan pergi…” tangannya menarik ujung guling dan memeluknya lagi. Suho terkikik melihat adik kesayangannya itu.

“Woy, Luhan lagi nungguin kamu di meja makan, tuh.” Ucapnya di telinga Sehun.

Cowok muda itu menggeliat dan membuka matanya, lalu duduk tegak dan tersenyum lebar.

“Luhannie~, Thehunnie datang,” dan dengan sekali gerakan, Sehun sudah melesat melewati pintu kamar, dan menghilang dari pandangan Suho.

“Dengar nama Luhan disebut langsung semangat. Dasar Sehun!” ia menggeleng pelan dan keluar seraya menutup pintu. “Hhhh… tinggal ngebangunin Kkamjong. Huh, beginilah repotnya jadi leader.”

“Kkamjong. Yuhuuu… di manakah kau?” Suho melongokkan kepalanya ke dalam kamar yang ditempati Kyungsoo dan Jongin.

Tak ada jawaban.

“Hello, Kim Jongin. Wakey, wakey. Waktunya sahur.” Panggilnya lagi dengan suara lebih keras. Karena tak kunjung mendengar jawaban, Suho pun masuk ke dalam kamar. Ia menyalakan sakelar lampu dan mengedarkan pandangannya ke dua ranjang yang ternyata kosong. “Lah, ke mana si Kkamjong?”

Suho keluar kamar dan menghambur ke dapur. “Kyungsoo~ah, Kkamjong ilang!” pekiknya tertahan.

“Nggak ada yang ilang, Joonmyun. Jongin lagi aku suruh ke Belanda buat metik beberapa bunga tulip buat menghiasi meja makan kita. Jadi sahurnya lebih semangat,” Kyungsoo menjelaskan sambil tersenyum manis, memamerkan giginya.

“Bunga tulip? Kenapa nggak sekalian kincir anginnya dibawa ke sini, biar sahur kita lebih adem,” sindir Suho kesal. Kyungsoo tertawa dan menepuk pelan bahu Suho. Lalu dua orang itu dibantu Lay dan Xiumin, menyiapkan meja makan panjang di ruang makan.

Setelah meja siap dengan menu sahur, Jongin muncul dengan sebuket bunga tulip warna-warni. Kyungsoo menyambutnya dengan senyum penuh rasa terima kasih dan meletakkan bunga-bunga itu dalam vas yang cantik dan meletakkannya di tengah meja.

“Ah, serasa sahur di Holland.” Desah Kyungsoo puas.

“Besok aku pengin ngerasa sahur di Mesir, dong, Kyungsoo,” celetuk seseorang dari seberang Suho.

“Ntar nyuruh Jongin bawa mumi, terus ditaruh di tengah meja kayak bunga ini, ya, Baek?”

“Hahahaha, Chanyeol ngaco, deh. Kenapa nggak Piramid atau Sphinx aja?” Balas Baekhyun. Dan duo konyol itu ber-high five– ria.

Kris melirik Suho dan memutar kedua bola matanya ke arah yang berlawanan. (?)

Kyungsoo merasa tersindir dengan ucapan Baekhyun, ia menghampiri Baekhyun dan menarik piring cowok yang gemar memakai eye-liner itu dari depannya. “Nggak usah makan masakanku! Huh! Sahur pakai garam aja, sono!”

“Yaaaah, Kyungsoo ngambek. Maaf, deh. Aku, kan, cuma becanda,” sudut bibir Baekhyun turun, ia membuat wajahnya tampak sedih. Usahanya berhasil, Kyungsoo mengembalikan piring Baekhyun. Dan senyum cerah kembali lagi ke wajah Baekhyun.

Kedua belas cowok itu menyantap menu sahur mereka dengan riang gembira. Mereka tak henti-hentinya memuji kelezatan masakan Kyungsoo.

“Kyungie~ah, lo emang master chef kita, deh. Nggak di Exoplanet, nggak di bumi, lo emang rajanya koki. Gue makin mencintaimu, Kyungsoo~ah,” Jongin memeluk Kyungsoo. Namun, Kyungsoo mendorongnya karena ia sedang berusaha menyendokkan kuah sup ke mulutnya.

Kris mengernyit saat melihat ulah manja Jongin yang tak pada tempatnya. Ia menegur cowok berkulit kecoklatan itu agar tak mengumbar kemesraan di meja makan. Karena hal itu membuatnya mual.

Jongin menggerutu atas sikap Kris. Dan ia melanjutkan makannya. Menit demi menit berlalu, dan semua masakan yang terhidang sudah habis. Dengan perut penuh karena kekenyangan, Suho menyuruh masing-masing temannya untuk mencuci perkakas makannya sendiri.

Anak-anak EXO-Metropolis melakukan permainan batu-gunting-kertas untuk menentukan siapa yang akan mencuci piring. Dan Lay yang kalah, maka dengan hati berdendang, ia mencuci piring teman-temannya. Anak-anak EXO-Kampung melihat hal itu sebagai kesempatan bagus, maka mereka sekalian menitipkan piring dan gelas bekas mereka untuk dicuci Lay. Malang nian nasibmu, Lay.

*

Setelah sahur, mereka tidur lagi dan baru bangun ketika matahari sudah berada di atas kepala. Yang pertama bangun adalah Chen. Mengapa? Karena listrik mati. Ia merasa kepanasan.

“Ugh… gerah banget. Chen, benerin listriknya, gih. Gue nggak betah keringetan gini.” Kris menggerutu seraya melepas kaosnya.

Chen tersenyum dan keluar kamar. Ia menempelkan tangannya di meteran listrik dan menghidupkan listrik, dan pendingin ruangan menyala kembali, menyebarkan hawa sejuk ke masing-masing kamar.

Dan Kris tidur lagi. Targetnya adalah tidur 10 jam sehari untuk menjaga kesehatan dan keremajaan kulit wajahnya. Wajahnya saja yang judes, tapi ternyata dia ganjen banget.

Chen mengembara seorang diri di dorm. Ia masuk keluar kamar untuk membangunkan teman-temannya. Tapi semua masih tidur nyenyak. Mereka tak bangun-bangun hingga jam menunjukan pukul 3 sore.

Karena bosan, Chen akhirnya keluar dorm. Ia berjalan santai sambil melihat beberapa penjual kolak dan es buah berjejer rapi di pinggir jalan. Ia menghampiri salah satu stand yang dijaga oleh seorang gadis cantik. Ternyata gadis itu mengenali Chen sebagai member EXO, dan ia meminta tanda tangan.

Chen tersenyum ramah dan mengajak gadis itu bercakap-cakap. Dan akhirnya ia pulang dengan seplastik berisi beberapa bungkus kolak dan es buah. Gratis. Sebagai imbalan untuk beberapa foto dan tanda tangan.

Sesampainya di rumah, Chen disambut omelan Kyungsoo, “Kemana aja, kamu? Kenapa pergi nggak bilang-bilang? Terus kenapa nggak bangunin aku?”

Chen hanya tersenyum lebar dan menyodorkan plastik yang sedari tadi ditentengnya. Kyungsoo menatap plastik itu dan Chen bergantian. Lalu ia mengambil dan membukanya.

“Kamu beli di mana? Habis berapa duit?” selidik Kyungsoo.

“Di pinggir jalan. Dan aku dikasih ama cewek yang jualan.”

“Wah, Chen hebat bisa dapetin menu buka puasa secara gratis. Keren, deh,” puji Kyungsoo dengan mata berbinar-binar.

Kyungsoo mengajak Lay dan Xiumin ke dapur. Suho mengomel, “Yah, Kyungsoo. Kenapa pacarku selalu kamu suruh masak?”

Kyungsoo mengacuhkannya dan terus menyeret Lay dan Xiumin agar membantunya. Kris menghampiri Suho dan menepuk kepalanya, “Yang sabar, yah. Jangan marah-marah, ntar puasanya batal, lho.”

“Kamu mah enak, Kris. Chanyeol nggak disuruh masak. Jadi kamu bisa berduaan ama dia terus. Nggakfair!”

Kris menatap Suho dengan tatapan khasnya. Datar. Lalu menarik lengan Suho, mengajaknya ke ruang keluarga. Di sana Sehun sedang menyandarkan kepalanya di pangkuan Luhan. Cowok berwajah imut itu sedang membacakan cerita untuk Sehun. Berbeda dengan Baekhyun dan Chanyeol serta Tao, 3 cowok itu asik bermain domino, siapapun yang kalah akan dihukum dengan mencoret wajahnya denganeye-liner kadaluarsa milik Baekhyun.

Chen sedang melatih vokalnya, tapi ia berhenti di tengah jalan karena ia merasa kehausan.

“Jongin ke mana lagi, sih?” Suho mencari sosok Jongin.

“Jangan-jangan disuruh Kyungsoo ke Australia buat bawain anak kanguru, terus nanti ditaruh di atas meja makan. Biar buka puasanya serasa di Australia.” Celetuk Chanyeol, yang disambut derai tawa Baekhyun dan Tao.

“Salah! Tapi disuruh bawa Koala ama Boomerang, Hahahaha,” imbuh Tao dengan seringai konyolnya.

“Heh, jangan asal nuduh, ya, Yeol! Tao! Aku nyuruh Jongin ke Cina buat beli Bao Zi selusin.” Teriak Kyungsoo dan melongokkan kepalanya dari pintu dapur.

“Ada yang manggil aku?” Xiumin bertanya dengan tampang polos bagai bayi sedang diare.

Yang mendengar belaan Kyungsoo merasa kasihan dengan Jongin. Hanya karena bisa berpindah tempat sesuka hati maka cowok berkulit eksotis itu disuruh kesana kemari  membawa alamat. Semoga saja Jongin tak diberi alamat palsu.

Langit mulai gelap, semua sudah berkumpul di meja makan. Dari ujung hingga ujung terisi masakan dan jajanan yang enak. Dan semua dari berbagai tempat yang berbeda.

Spaghetti yang dibeli langsung dari Italia, Kebab yang diborong langsung dari Arab, Bao Zi yang dicomot dari Cina, Gudeg yang digondol langsung dari Yogyakarta, Rendang yang dicolong dari rumah makan Padang, Tom Yam Goong yang dibawa dari Thailand, Rattatouille yang dibeli dari Perancis, Chicken Tandoori yang diimpor dari India, Sushi dari Jepang, Burger dari AS, dan sisa Kerak Telor dari acara PRJ beberapa waktu lalu, dan pastinya Kimchi juga tersedia di meja.

“Waaaaahhhh… serasa keliling dunia.” Tao bertepuk tangan gembira.

“Iya, dan gue capek banget. keliling dunia buat dapetin makanan-makanan ini.” Sungut Jongin kesal.

“Nanti gue pijitin, deh, Jongin cayank.” Kata Kyungsoo. Dan gerutuan Jongin berubah jadi senyuman manja.

Sementara itu, Kris melirik Chanyeol dengan judes (karena Cowok itu sibuk nyocolin masakan dengan ujung jarinya), Lay menghela nafas sambil mencolek pinggang Suho (Dia sudah nggak sabar pengin makan), Baekhyun cekikikan dengan Tao (karena melihat Chanyeol dijewer Kyungsoo), Sehun menatap Luhan penuh hasrat (karena Luhan memang napsuin, sih), Xiumin dan Chen berbisik-bisik dengan keras tentang kekonyolan Jongin yang dengan manjanya ngelendotin  Kyungsoo.

“Ayo makaaaaaaan!”

“Bon apetite everyone,”

“Selamat makaaaaan!” ucap mereka serentak.

Siiiiiiiingggggg…..

“Shelamath mhakhanhhhh…” seru Tao dengan mulut penuh. Ternyata begitu waktunya berbuka tiba, Tao dengan polosnya menggunakan kekuatannya menghentikan waktu untuk membuat semuanya berhenti. Dan dia menyantap menu berbuka itu dengan lahapnya sebelum semua bergerak kembali.

“TAO SIALAAAAAANNNN!!!! LO ABISIN SEMUA MENU BERBUKA! DASAR KUTU KUPREEEEET!!!!!” jerit Kyungsoo, dibantu irama beatboxing dari Chanyeol dan Lay, serta backing vokal yang indah dengan harmonisasi yang menawan dari trio Baekhyun, Luhan dan Suho, dan diiringi teriakan melengking dari tenggorokan Chen, Xiumin dan suara bitchy dari Kris. Lalu ke manakah Jongin?

“Heh, Jongin. Ngapain lo molor di meja makan?” Sehun mencolek-colek pipi Jongin yang tertidur di meja makan, tak memedulikan teriakan dan nyanyian teman-temannya. Rupanya cowok berkulit exotic itu terlalu lelah untuk mengurusi kehebohan di sekitarnya.

Poor Jongin…

Demikianlah keseharian EXO selama bulan ramadhan di bumi.

Bagaimanakah suasana lebaran EXO? Kita nantikan saja beritanya…

THE END

 

A/N : Sorry for the short fic. Tapi ini emang FF iseng-iseng.

Thanks buat yang sudah baca dan ngasih tanggapan.

 

Advertisements