Cast : Suho (Kim Joon Myun)

           Kai (Kim Jong In)

          Lee Taemin

          Lee Donghae

          And other

 

Genre : Drama. Angst.

 

 

 

^v^v^

Annyeong, ini part terakhir dari Fic Count On Me. Semoga endingnya memuaskan.

Plot dan alur adalah murni milikku. Begitu pula dengan cast di dalamnya. Mereka milikku. Jadi apapun bisa terjadi terhadap mereka.

I wish I own them in this real life. TT__TT

^v^v^

Prev..

Aku menunggu cukup lama sebelum akhirnya kedua mata hitam Jongin menatap lurus ke mataku. “Peluk.” Dan akhirnya ia mau mengungkapkan keinginannya sambil menatap langsung dalam mataku.

Serta merta aku merengkuhnya dalam sebuah pelukan erat.

“Jongin pintar.” Pujiku setelah melepas pelukanku. Kutatap kembali mata Jongin. Dan… ya, ia kembali lagi ke dalam dunianya. Tapi sedikit demi sedikit ia pasti bisa lebih baik.

Yang dibutuhkan Jongin adalah konsistensi dan kesabaran. Dan aku pasti bisa menjalankan dua hal itu.

 

^v^v^

Hampir tiga minggu telah berlalu, dan setiap hari Jongin menjalani terapi. Setiap hari sabtu, senin dan rabu, Jongin akan melakukan sesi terapi musik dengan bimbingan Jong Dae. Bangganya hatiku saat mendapat laporan dari terapis baik hati itu bahwa Jongin sudah bisa memainkan sebuah lagu sederhana, lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Twinkle twinkle Little Star.

Kata Jong Dae, sikap Jongin juga sudah agak berubah. Ia mulai mau menjawab beberapa pertanyaan sederhana dengan jawaban yang sederhana pula. Jika ia suka sesuatu, maka ia akan mengulang kata itu. misal, ia suka makan es krim, maka ia akan mengulang kata es krim. Jauh lebih baik daripada sebelumnya, dimana saat itu ia tak mengucapkan apa-apa. Dulu, jika tak suka maka ia akan mengamuk dan mengeluarkan tantrum yang akan berlanjut dengan melempar barang ke segala arah. Namun, setelah menjalani terapi, kalau ia tak suka, maka ia akan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, hingga membuatku khawatir lehernya bisa patah saking kuatnya ia menggeleng. Lebih baik barang yang hancur daripada lehernya yang putus. Hehehe.

Karena terlihat ada perkembangan pada diri Jongin, maka Jong Dae semakin intensif membantu adikku. Dan lagi, Jong Dae tak meminta bayaran dariku. Mana bisa aku tak memberinya imbalan atas usaha kerasnya membantu adikku?

‘Uangku sudah terlalu banyak. Aku cuma ingin membantu banyak orang.’ itulah jawaban yang aku terima darinya. Memang ia memperoleh kekayaannya bukan karena menjadi terapis, tapi karena ia mempunyai usaha yang menguntungkan. Pekerjaannya sebagai terapis ia lakukan untuk mewujudkan cita-citanya semasa remaja, bukan untuk mengeruk keuntungan.

‘Mana aku tega minta bayaran dari orang yang sedang kesusahan? Mereka datang ke sini buat minta bantuan karena mereka membutuhkan, ya, kan?’ lagi-lagi jawabannya membuatku makin kagum padanya.

Lain halnya dengan terapi tari yang dibimbing oleh sahabat Donghae yang konyol tapi keren, Hyukjae,  yang dijalani Jongin tiap hari Selasa, Kamis dan Jumat. Aku sengaja membuatnya sangat sibuk. Awalnya Jongin mengamuk dan mogok untuk bekerjasama. Tapi aku sudah bertekad harus bisa tegas dan berhenti memanjakannya. Usianya sudah hampir 18 tahun, sebentar lagi akan memasuki usia dewasa, sudah seharusnya ia bisa mengurusi dirinya sendiri. Selain itu aku berharap Jongin bisa berguna bagi orang lain. Aku membaca bahwa banyak penderita autis yang bisa bekerja dan sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Dan aku ingin Jongin seperti orang-orang itu.

Dengan kolaborasi sikap tegasku dan sikap mendukung dari Taemin, maka Jongin akhirnya mau mengikuti tiap sesi terapinya, tapi… dengan syarat Taemin menemaninya. Oleh karena itu aku mengatur agar sesi terapi Jongin dilakukan di sore hari agar tak mengganggu kegiatan sekolah Taemin. Cowok itu sedang belajar mati-matian demi menghadapi ujian akhir.

Hyukjae dan Taemin memuji perkembangan Jongin. Memang tak berkembang dengan pesat, tapi di tiap minggunya selalu ada secuil perkembangan, dan itu sudah cukup membuatku optimis akan kesembuhan Jongin.

Beberapa hari yang lalu ada satu kejadian lucu yang diceritakan Taemin padaku. Saat itu adik perempuan Hyukjae yang sekelas dengan Taemin datang membawa makanan dari rumahnya. Ketika gadis manis itu menyapa Jongin, ia menatapnya tanpa berkedip. Dan yang membuat Taemin geli, Jongin mengikuti gadis itu kesana kemari. Tatapannya kosong, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat bagai tersenyum. Begitulah yang dikatakan Taemin. Gadis itu pasti merasa risih karena diikuti Jongin.

Aku tertawa membayangkan betapa kesalnya cewek itu karena dikuntit kesana kemari oleh seorang cowok penderita autis. Tapi menurutku itu sesuatu yang baik bukan? Jongin mulai tertarik pada lawan jenis. Sesuatu yang normal bagi seorang remaja yang sudah mengalami mimp basah. Yup, penderita autis juga mengalami yang namanya mimpi basah. Selain itu, aku baru tahu bahwa penderita autisme kebanyakan adalah anak laki-laki.

Selama ini kami memang jarang berhubungan dengan yang namanya wanita. Aku sendiri sudah lupa kapan terakhir berkencan dengan seorang gadis. Rasanya bagai berabad-abad yang lalu saat kurasakan bibirku mengecup bibir seorang gadis. Aku sempat merasakan first kiss-ku saat acara prom night sebelum kelulusanku. Aku terkenang kembali peristiwa itu.

Ah, untuk apa aku mengingatnya lagi? Aku harus fokus bekerja.

Aku sudahi lamunan tak pentingku dan mulai menyiapkan kedai Tuan Park sebelum orang-orang bermunculan untuk mengisi perut kosong mereka dengan burger lezat di tempat ini.

^v^v^

Hari-hari berikutnya dijalani Jongin dengan ceria. Ia lebih banyak tersenyum dan mengucapkan kata-kata. Aku, Jong Dae serta Hyukjae merasa senang karena Jongin sudah bisa mengungkapkan keinginannya, meski ia belum mampu mengatakan apa yang dirasakannya. Ia belum bisa mengutarakan perasaan sedih, senang, marah dalam kata-kata. Ia akan menangis jika sedih, tertawa jika senang dan berteriak jika marah. Namun, aku tak akan berputus asa. Semua akan kukorbankan demi kemajuan Jongin.

Pagi ini aku mengajak Jongin ke tempat kerjaku seperti biasa. Aku dan Tuan Park sepakat untuk mengajarkan Jongin berinteraksi dengan orang-orang dengan cara berdiri di dekat pintu masuk,  membungkuk hormat dan tersenyum ramah pada tiap orang yang melewati pintu itu.

Kata Tuan Park, cara itu cukup efektif dalam membiasakan keponakannya untuk berhubungan dengan orang lain. Maka ia mengusulkan cara itu untuk melatih Jongin.

Mulanya Jongin agak susah disuruh berdiri diam, karena ia cenderung aktif. Ia tak betah berada di satu tempat untuk waktu yang lama. Namun setelah seminggu lebih, Jongin sudah bisa tersenyum dan membungkuk hormat kepada pelanggan yang masuk maupun keluar.

Tinggal mengajarinya mengucapkan selamat datang dan terima kasih.

Wah, pekerjaan rumahku banyak dan berat.

Joonmyun, semangat!!!!

Oke, ini konyol. Aku menyemangati diriku sendiri. Tapi tak apalah, toh, aku memang  membutuhkan rasa optimisme yang tinggi. Kalau tidak, mana sanggup aku bertahan hingga sekarang, ya, kan?

^v^v^

Di ruang studio tari milik Hyukjae, Taemin serta Jongin sudah bersimbah keringat. Di bulan ke-tiga terapi tari Jongin, cowok itu mengalami banyak kemajuan. Ia sudah mampu menghafal gerakan-gerakan dance yang diajarkan Hyukjae. Mereka memulainya dengan gerakan-gerakan sederhana, lalu lama-lama gerakan dance-nya makin rumit, dan Jongin termasuk cukup cepat menghafalnya. Cowok berkulit kecoklatan itu terlihat sangat menikmati kegiatan barunya itu.

Sore itu, setelah latihan usai, Jongin duduk bersandarkan cermin besar di ruangan itu. Ia selonjorkan kakinya yang pegal. Taemin duduk di samping kanannya, mengipasinya dengan selembar karton yang ia comot entah dari mana.

“Jongin, kamu tahu nggak, kalau kamu hebat banget. Kamu itu berbakat? Dalam waktu dua bulan kamu sudah bisa kuasain gerakan dance MAMA punya EXO. Kata Hyukjae, setelah ini dia bakal ngajarin kitadance Lucifer-nya SHINee. Hmm… kamu siap?” tanya Taemin sambil menatap Jongin tepat di matanya. Joonmyun menyuruhnya berkomunikasi dengan Jongin sesering mungkin, dan melakukan kontak mata setiap saat.

“Siap.” Balas Jongin, tapi matanya menatap pintu yang ada di seberangnya.

Taemin menghela nafas, lalu ia menggeser duduknya ke depan Jongin dan kedua tangannya menangkup pipi Jongin. “Kalau ngomong liat mataku, Kim Jongin!” tegasnya gemas.

Manik hitam Jongin bergerak dan berhenti tepat di mata Taemin, kedua cowok seumuran itu saling tatap. “Siap.”

“Terima kasih, Jongin.” Ucap Taemin seraya tersenyum dan menepuk pelan pipi Jongin.

“Hai, Kak. Ini makanan dari Mama.” Gadis manis berambut pendek meletakkan rantang di atas meja kecil di sudut ruangan yang tertutup cermin itu.

“Thanks. Sekarang kamu pulang, shuuuuh,” usir Hyukjae dengan melambaikan tangannya, dan merengkuh rantang berisi makanan yang aromanya menggugah selera.

Sang adik hanya mendengus dan menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya, lalu ia berjalan mendekati Taemin dan Jongin. Ia duduk di samping Taemin dan berdua tampak seru membicarakan kejadian di kelas mereka pagi tadi.

“Jongin. Kamu?”

“Hah?” adik Hyukjae melongo saat melihat tangan kanan Jongin terulur ke arahnya. Tak segera disambutnya uluran tangan cowok itu, melainkan gadis itu menatap Jongin dan tangannya bergantian.

“Jongin. Kamu?” ulangnya lagi. Matanya menatap lutut Taemin yang bersila di depannya. Bukan ke wajah gadis itu.

“Kim Jongin! Berapa kali aku bilang, kalau bicara sama orang harus liatin matanya! Kalau kamu nggak nurut, dia nggak mau kenalan sama kamu, lho,” ancam Taemin sambil melirik gadis di sampingnya itu.

“Jongin. Kamu?” terucap juga kata-kata itu dari mulut cowok dengan senyum manis itu, dan yang terpenting adalah ia menatap langsung kedalam mata gadis itu.

“Nah, gitu dong. Good job, Jongin,” puji Taemin. Lalu ia menyikut lengan gadis di sebelahnya agar membalas uluran tangan Jongin.

“Hai, Jongin. Aku Min.” jawab gadis itu ramah. Padahal ia sudah mengenal Jongin sejak lama.

“Min,” ulang Jongin. Dan ia tersenyum. Matanya berbinar. “Es krim?” tanya Jongin.

“Maksudnya, apa kamu suka es krim?” jelas Taemin.

“Oh, iya, aku suka banget es krim. Aku suka rasa vanilla. Kamu?” Min mencoba membuat percakapan dengan Jongin.

“Coklat.” Jawabnya singkat. “Cantik.” Celetuknya lagi. Kali ini pipinya bersemu merah.

“Dia bilang kalau kamu cantik. Yah! Jongin, dari mana kamu tahu kata cantik?” Taemin menepuk lengan Jongin.

“Wah, terima kasih, Jongin. Kamu juga tampan, kok.” Min membalas pujian Jongin.

Tapi Jongin menggeleng lalu menunjuk Taemin, “Cantik,”

Hyukjae, Min, Donghae yang baru memasuki ruangan bersama Joonmyun tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Taemin cemberut.

“Aku tampan! Bukan cantik! Jongin ngaco.” Sembur Taemin. Ia berpura-pura marah.

Dan hal yang membuat Joonmyun ingin menangis bahagia adalah karena Jongin tertawa. Suara tawanya aneh, agak pecah dan bergetar. Namun, bagi cowok dengan senyum bagai malaikat itu, tawa adiknya adalah suara terindah yang pernah didengarnya seumur hidupnya. Dan ia berharap bisa sering mendengar suara itu. Suara tawa Jongin.

^v^v^

Pagi harinya, aku mengantar Jongin menemui Jong Dae. Jongin berlatih memainkan gubahan komposer ternama, Ludwig Van Beethoven, Fur Elise .

Sekarang Jongin sudah bisa membaca not music. Dan yang membuatku makin salut dengan ketekunan Jong Dae membantu Jongin adalah ia juga melakukan sesi terapi wicara terhadap Jongin. Tak heran jika Jongin sudah makin cerewet sekarang. Bahkan ia sudah bisa membantahku jika aku menyuruhnya tidur lebih cepat.

Aku sendiri makin sibuk dengan pekerjaanku sehingga jarang berada di samping Jongin. Tapi tiap hari libur tiba, aku akan menghabiskan hariku bersamanya.

Terbersit dalam benakku untuk menyekolahkan Jongin. Meski usianya sudah terlalu tua untuk memulai sekolah lagi, tapi tak ada kata terlambat.

Yang jadi masalah adalah apakah ada sekolah reguler yang mau menerima anak berkebutuhan khusus seperti Jongin? Entahlah.

“Jongin~ah, yang nurut sama Jong Dae, ya?” pesanku padanya sambil mengacak rambutnya.

“Kakak cerewet!”

“Oh, jadi Jong Dae ngajarin kamu bilang gitu ke Kakak? Iya?”

“Berisik!”

“Hhhh… sekalinya bisa ngomong malah bikin kesel. Jongin, Jongin.” Gerutuku seraya mencubit pipi Jongin. Jong Dae terkekeh geli mendengar ucapan Jongin.

“Kakak kerja dulu, ya. Bye, Jongin. Jong Dae,” ucapku sebelum melangkah keluar rumah megah Jong Dae, dan pergi ke tempat kerjaku.

^v^v^

Tak terasa hampir satu tahun berlalu sejak dimulainya terapi musik pada Jongin. Remaja itu sudah bisa bercakap-cakap dengan orang-orang terdekatnya. Sudah mampu melakukan kontak mata. Dan ia sangat disiplin karena Joonmyun selalu bersikap tegas dan konsisten.

Taemin dan Donghae merasa senang karena mereka telah turut membantu Joonmyun dalam menelateni Jongin.

Jong Dae menyarankan Joonmyun menggunakan jasa guru privat untuk memberi Jongin kesempatan untuk belajar seperti anak-anak lain. Maka mulailah Jongin belajar membaca dan menulis. Berhitung bahkan menggambar. Terapi musik dan tari masih terus dilakukan, karena bagaimanapun juga, dua hal itu telah menjadi hobi remaja itu.

Setiap hari Jongin disibukkan dengan  berbagai kegiatan. Malam harinya ia akan tertidur kelelahan di meja makan bahkan sebelum menghabiskan suapan terakhirnya. Joonmyun merasa agak bersalah karena memforsir adiknya. Tapi Joonmyun ingin mengganti waktu-waktu belajar Jongin yang hilang sebelum semua terlambat.

Dan semua yang ia lakukan memang ada hasilnya. Jongin jauh lebih baik daripada sebelumnya.

^v^v^

Aku berjalan melewati dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, kulihat bingkai foto yang tertambat di dinding. Aku memeluk Jongin dari belakang. Matanya berbinar menatap ke arah kamera, bibirnya menyunggingkan senyum lebar, di samping kiriku ada Donghae, dan di sebelah Jongin berdirilah Taemin, cowok cantik itu menjulurkan lidahnya ke arah kamera. Tanganku meraba foto itu, aku tersenyum. Rasanya baru kemarin Hyukjae menjepretkan kameranya ke arah kami. Jongin terlihat sangat normal. Tak ada lagi tatapan kosong menerawang darinya. Tak ada lagi kebisuan. Tak ada lagi keheningan.

Yang ada hanya tawa, canda, omelan, gerutuan, dan semua emosi yang menghiasi hari-hariku bersama Jongin.

Taemin sudah berkuliah dan mengambil jurusan  yang berhubungan dengan art and dance. Donghae pun telah diterima bekerja di perusahaan milik keluarga Kim Jong Dae. Dan aku?

Aku akhirnya bisa kuliah. Dan mengambil jurusan yang aku idam-idamkan semenjak mengetahui kondisi Jongin. Psikologi. Bisa jadi karena sifat penyabarku yang dominan maka akan cocok jika aku menjadi seorang psikolog. Ya,kan? Intinya aku bahagia.

Dan… bangga.

Kenapa? Karena aku berhasil menjadi orangtua bagi adikku. Aku berhasil mendidiknya, menghidupinya dan merawatnya dengan baik.

Aku patut bangga.

Kulirik jam di pergelangan tangan kiriku dan sudah waktunya bagiku mengunjunginya. Kukeluarkan mobil baruku… ehem… mobil bekas sebetulnya, tapi masih bagus. Lalu aku melewati jalan yang dulu setiap pagi dan sore selalu kulalui. Untuk menemani kesendirianku di dalam mobil, kunyalakan radio dan mulai mendengarkan alunan lagu-lagu lama yang sedang diputar…

Setelah sekian lama… aku mendengar lagu itu lagi, lagu yang memberiku semangat dan kesabaran serta keikhlasan. Lagu yang menyentuh relung hatiku.

…. You can count on me like 1 2 3, I’ll be there…

And I know, when I need it I can count on you like 4 3 2, and you’ll be there…

Ya, lagu itu…

Kuingat betapa aku beruntung bisa menemukan sosok-sosok yang begitu perhatian pada aku dan adikku. Donghae dan Taemin. Kapanpun aku butuh bantuan, mereka akan selalu ada.

Dan kapanpun Jongin butuh bantuan, aku akan selalu ada untuknya.

Yup, I can count on Donghae and Taemin. And Jongin can count on me.

Lagu itu pun telah digantikan lagu lain, si penyiar menyebutkan penyanyi dan judul lagunya, kalau tak salah, Miley CyrusTrue Friends. Wah, jadi ingat dua sepupu lucu itu, Donghae dan Taemin. Kangen mereka. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat libur dan bertemu mereka.

Kupelankan laju mobilku dan berhenti di depan studio dance milik Hyukjae. Tempat ini makin ramai saja. Remaja cowok dan cewek baru saja selesai latihan dan mereka berbondong-bondong keluar. Setiap kali ada yang melewatiku, tercium aroma keringat yang membuatku mengernyitkan hidungku. Setelah semua sudah keluar dari tempat itu, aku pun sedikit berlari menuju ruangan tempat Hyukjae biasa melatih murid-muridnya.

Jantungku berdegup makin cepat. Aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya. Sudah sebulan aku tertahan di kota tempatku kuliah. Dan aku sangat, sangat rindu pada Jongin. Lenganku sudah ingin memeluknya. Bibirku sudah tak tahan untuk mengecup dahinya. Rinduku sudah tak terbendung lagi.

Aku hampir saja tersungkur karena tersandung kakiku sendiri, tanganku mencengkram pegangan pintu untuk menjaga keseimbanganku, lalu setelah aku berdiri tegak lagi, kubuka pintu dan melangkah masuk.

Nafasku memburu, jantungku makin kuat mememukul tulang rusukku. Dan mataku melihatnya, ia yang sedang mengusap wajah, leher dan lengannya dengan handuk putih.

Ia mengibaskan rambutnya yang basah oleh keringat dengan begitu seksi. Pasti para gadis akan pingsan jika melihatnya. Lalu kedua mata hitamnya melihatku. Dan detik berikutnya aku sudah berada dalam dekapannya. Bau keringatnya yang tajam menusuk hidungku, tubuh lengketnya menempel pada tubuhku, membuat bajuku terkena keringatnya. Tapi aku sangat merindukan semua itu. Aku memeluknya sangat erat hingga dadaku sesak.

Kujauhkan tubuhku sedikit, dan mengangkat tanganku. Kutangkup wajahnya dan menariknya mendekat, dan mengecup dahinya.

“Akhirnya kita ketemu lagi,” desahku lega seraya berjalan mengiringinya ke sebuah sofa kecil.

“Tsk, baru juga sebulan, Kak.” Dengusnya sambil duduk dan menyilangkan kakinya dengan penuh gaya.

“Jadi… kamu nggak kangen sama Kakak? Ya sudah, Kakak pergi lagi.” Ancamku seraya bangun dari dudukku.

“Weeeits, tunggu, Kak. Aku cuma becanda. Aku juga kangen banget sama, Kakak. Jadi, gimana kuliahnya?” tanyanya sambil menelengkan kepalanya. Ia tampak sangat imut jika sedang seperti ini.

“Lancar. Kakak malah sering dapat nilai tertinggi di kelas. Hebat, kan?” ujarku dengan dada membusung.

“Nggak nyangka, ternyata Kakakku pintar. Hehehe.” Balasnya usil, membuatku menjitak kepalanya.

“Jongin~ah, gimana kerjaanmu di sini? Kayaknya murid-muridmu makin banyak, deh,”

“Yups, terima kasih sama aura dan tubuh seksiku ini. Hahaha,”

“Sejak kapan kamu jadi narsis gini, Jongin?” tanyaku sambil memutar bola mataku.

“Sejak namaku jadi Kai. Sekarang semua orang di sini manggil aku Kai. Bukan Jongin.” Jawabnya serius.

“Memangnya apa masalahnya dengan nama Jongin?”

“Itu masa laluku, Kak. Cuma Kakak yang boleh panggil aku Jongin. Taemin sama Donghae juga boleh panggil aku pakai nama lamaku. Tapi yang lainnya nggak boleh. Aku mau mereka kenal aku sebagai Kai yang normal, bukan Jongin yang autis.” Suaranya jadi makin dewasa sekarang. Tak kusangka adikku yang polos sekarang sudah berusia 21 tahun.

3 tahun telah berlalu, dan Jongin sudah menjadi Kai. Pria muda dengan bakat dance yang luar biasa, membuatnya menjadi seorang koreografer yang populer. Ia bahkan mendapat tawaran menciptakan koreo untuk penyanyi-penyanyi maupun grup-grup ternama. Tak ada yang percaya jika sebelumnya Jongin menderita autis yang parah. Aku bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjadi normal. Walaupun tak seratus persen normal seperti orang-orang pada umunya, tapi setidaknya ia sangat berbeda dengan beberapa tahun silam.

“Aku tahu, Jongin. Tapi jangan kamu lupain masa lalumu, karena kita sebagai manusia akan selalu belajar dari masa lalu untuk jadi lebih baik di masa depan. Oke?” aku menasehatinya, karena bagiku ia masih perlu banyak belajar tentang hidup.

“Iya, Kak. Thanks.” Dan senyumnya membuatku melambung. Aku bahagia tak terkira. Ia tersenyum padaku dengan menatap langsung ke dalam mataku. Hal yang dulu tak pernah ia lakukan.

“Jongin~ah, makan, yuk. Kita beli burger di tempat Tuan Park.” Ajakku dan ia menyambutnya antusias.

“Tapi… aku harus tetap diet, Kak.” Wajahnya berubah sendu saat menyadari bahwa agar penyakitnya tak muncul lagi, ia harus menghindari produk makanan yang mengandung gluten.

“Tenang aja. Tuan Park juga sedia menu ramah orang autis. Ayo, Kai! Let’s go!” aku menarik lengannya hingga ia berdiri di atas kakinya, lalu ia lingkarkan lengannya di bahuku. Kami berjalan menuju mobilku yang terparkir di depan.

Sepanjang perjalanan, Kai… maksudku Jongin, bercerita tentang seorang gadis yang sedang didekatinya. Dan bisa kutebak siapa gadis itu.

“Jadi selama ini kamu belum nyatain perasaanmu sama Min? ckckck. Payah kamu, Kai!” cibirku meremehkan keberaniannya.

“Aku nunggu dia putus dari pacarnya, Kim Joonmyun!” ia cemberut dan melirikku dengan kesal.

“Sekarang sudah putus?” tanyaku, dan ia mengangguk.

“Aku beneran suka dia, Kak. Tapi… apa dia mau sama cowok autis kayak aku?” dan kebiasaan buruknya muncul. Tangan kirinya perlahan terangkat dan berhenti di mulutnya, lalu ia mulai menggigiti kuku jari telunjuknya.

“Dasar. Urusan dia suka atau nggak itu belakangan. Yang penting kamu kasih tahu dia perasaanmu. Daripada kamu menyesal.” Jongin pun sepertinya meresapi ucapanku. Dia menggumam terima kasih sebelum turun dari mobil. Kami sudah sampai di kedai tempatku bekerja beberapa waktu lalu.

Dan kami habiskan siang itu sambil makan burger dan mengobrol dengan Tuan Park dan keponakannya yang pengidap autis, Park Chanyeol, yang sekarang sudah bersikap layaknya orang normal. Sama seperti Jongin. Meski cowok bernama Chanyeol itu agak hiperaktif.

Aku dan Jungsoo eh Tuan Park, merasa lega sekaligus bahagia melihat dua orang kesayangan kami sudah bisa bersikap layaknya orang normal tanpa ada kekurangan apapun. Dan usahaku tak akan berhenti sampai di sini. Karena aku akan selalu menjadi penjaga dan pelindung Jongin. Menjadi kakak tempatnya meluapkan segala emosinya, kesedihannya, kebahagiannya maupun kemarahannya. Aku akan terus menjadi orangtua satu-satunya bagi Jongin. Akan selalu berada di sisinya kapanpun ia butuh aku.

Ya, Kim Jongin, you can always count on me.

And I know that now,  I also can count on you.

 

Dan masih ada lagi, aku bertekad akan menjadi seorang terapis bagi para penderita autis lainnya. Karena aku tahu betapa sulitnya mengurusi dan menghadapi penderita autis.

Good luck, Joonmyun.

Ucapku dalam hati, seraya menatap Jongin atau yang sekarang lebih suka dipanggil dengan judul Kai, sedang tertawa bersama Chanyeol, keponakan Tuan Park.

Terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku, Kim Jongin.

I love you, my little brother…

 

 

 

THE END

 

 

^v^v^

Advertisements