Cast : *Main : Suho (Kim Joon Myun)

                          Kai (Kim Jong In)

                          Lee Taemin

                          Lee Donghae

                          With other SM artists

 

Genre : Drama. Angst.

 

 

 

** Soundtrack : Bruno Mars – Count on Me

^v^v^

^v^v^

Dari rumah berpagar biru tampak sebuah sepeda melesat keluar, diiringi sebuah teriakan dari dalam, “Lee Taemin, cuci piring duluuuuuu!!!!!”

Seorang cowok menghampiri ibu-ibu yang baru berteriak sekuat tenaga itu, “Biar Donghae aja yang nyuci, Tante,”

“Hhhh… kenapa si Taemin buru-buru gitu? Tiap siang sampai sore pergi terus. Ke mana aja, sih?” tanya ibu-ibu berambut ikal sebahu itu.

“Oh, Taetaem main ke rumah tetangga sebelah, Tante. Ada cowok seumuran dia. Tahu nggak, Tante? Yang tinggal di rumah itu cuma dua orang kakak beradik. Nggak punya orangtua. Benar-benar sebatang kara. Dan lebih kasihannya lagi, tuh, cowok yang seumuran Taetaem menderitaautisme.”cerita Donghae sambil membilas piring dan gelas yang sudah ia sabuni.

“Ya, ampun. Kasihan banget. Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin, Hae? Kan, Tante bisa kirim masakan buat mereka. Hmm… kamu sekarang anterin masakan ke sana, deh. Tante siapin dulu, ya.” dan ibu itu menyiapkan rantang lalu mengisinya dengan masakan. Setelah Donghae selesai dengan tugas mencuci piringnya, ia pun menenteng rantang itu dan berjalan menuju rumah Joonmyun dan Jongin.

^v^v^

Aku terharu dengan sikap Taemin yang dengan telaten mengajak Jongin mengobrol. Meski Jongin hanya menatapnya dengan tatapan kosong sambil menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang secara berulang-ulang. Namun, Taemin tetap bercerita tentang kejadian-kejadian seru di sekolahnya.

Aku sedang menuang banana-milkshake ke dalam mug ketika Donghae masuk dan meletakkan rantang di atas meja.

“Ini dari Tante, katanya kalian harus banyak makan.” Ujar Donghae dengan senyuman lebar di bibirnya. Aku merasa tak enak karena telah merepotkan keluarga Taemin. Namun, Donghae akan selalu memukul belakang kepalaku kalau aku berkata seperti itu. Ia bilang bahwa aku konyol jika merasa seperti itu, karena sebagai tetangga dan teman yang baik, sudah seharusnya saling membantu.

Tak habis-habisnya aku bersyukur pada Tuhan karena mempertemukan aku dengan keluarga yang baik ini.

“Terima kasih banyak, Donghae. Aku bikinin banana-milkshake juga, ya?” tawarku pada cowok yang murah senyum itu. ia mengangguk antusias menanggapi tawaranku. Lalu aku membuat dua porsibanana-milkshake untuk kami berdua.

“Umm… Donghae,” ucapku setelah minumanku habis.

“Iya, Joonmyun?” ia menatapku.

“Aku besok mulai kerja shift malam, tapi aku nggak mungkin ajak Jongin ke tempat kerja. Aku kalau pagi, kan, kerja di tempat Tuan Park. Tapi penghasilannya belum cukup buat ngerawat Jongin. Jadi, aku ngelamar kerja sebagai kasir di toko swalayan. Aku bisa minta tolong kamu buat jagain Jongin nggak?” aku tak berani menatap wajah Donghae saat mengatakannya.

“Hei, ngapain lo liatin lantai? Lo malu minta tolong ama gue? Jangan konyol, ah! Ya jelas aja gue bisa bantu jagain Jongin. Toh, lo kerja mati-matian juga buat kebahagiaan Jongin.” Ujar Donghae yang dengan gemas menepuk punggunggungku berulang-ulang.

“Terima kasih, Donghae. Terima kasih banyak.” Aku tak tahu harus berkata apa lagi.

“Tsk, makasih, makasih melulu. Santai aja, Bro.” ia meremas bahuku pelan, “Jadi, lo mulai kerja jam berapa sampai jam berapa?”

“Mulai jam 9 malam sampai jam 12 malam. Tapi kalau hari minggu malah lebih lama lagi. Sampai jam 2 malam.” Jawabku sambil menghela nafas. Bisa kubayangkan waktu tidurku yang harus kukorbankan.

“Wah, begadang terus, dong. Hmm… jadi gue datang ke sini sebelum jam 9. Sip, deh.”

“Thanks, Hae.” Kataku lagi.

“Lo bilang makasih lagi, gue gigit, lho!” ancamnya dengan mata memicing. Aku tertawa dan mendorong bahunya pelan.

Sementara aku mengobrol dengan Donghae, Taemin tampak sedang melakukan gerakan-gerakan aneh di depan Jongin.

“Hae, itu si Taemin lagi ngapain, sih?” tunjukku ke arah Taemin.

“Oh, dia lagi nari. Pamer gerakan barunya. Padahal gue udah bilang ama dia kalau gerakannya itu malah mirip orang kesetrum daripada orang nari. Tapi dia tetap ngotot kalau gerakannya itu keren. Nah, lo sendiri, deh, yang menilai,” dengus Donghae meledek Taemin.

Aku terkekeh mendengar komentar Donghae pada sepupunya itu. Aku bangun dari dudukku dan menghenyakkan pantatku di samping adikku. “Jongin~ah, kamu liat tarian Taemin? Mirip orang kesetrum, ya? Hahahaha,” candaku seraya menyenggol lengan Jongin.

Taemin yang mendengarnya langsung cemberut, “Ini gerakan keren banget tau!” protesnya sebelum melakukan beberapa gerakan lainnya, yang menurutku lumayan keren.

“Jongin~ah, kamu pengin bisa nge-dance kayak Taemin?” tiba-tiba Donghae bertanya. Ia duduk di depan Jongin dan menatap langsung ke dalam matanya.

Jongin tetap diam. Donghae menyuruh Taemin memutar lagu favoritnya dan menari mengikuti dentuman musik. Taemin menurut dan melakukan apa yang disuruh.

Aku tak mengerti tujuan Donghae menyuruh sepupunya yang kurus itu menari. Aku makin bingung saat mendapati Donghae menatapa Jongin dengan intens. Apa sih yang dipikirkan cowok cadel ini?

“BINGO!!!!!” pekik Donghae penuh kemenangan, membuatku hampir terjungkal dari dudukku.

“Apaan, sih. Hae? Bikin kaget aja!” gerutuku sambil menepuk pelan dadaku yang berdebar.

“Hehehe, sorry. Lo nggak lihat reaksi Jongin barusan?” aku menggeleng, dan Donghae melanjutkan dengan bersemangat, “Barusan matanya berkedip-kedip dan sedetik dia ngikutin arah gerakan Taemin. Dan… kakinya bergerak ngikutin beat lagu tadi. Cuma beberapa detik, tapi dia bereaksi.”

“Maksudmu dia bereaksi terhadap musik?” tanyaku dengan dahi berkerut.

“Sepertinya, sih, iya.” Sahut Donghae sambil menggosok-gosok dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.

Tapi saat kulihat Jongin, ia terlihat seperti biasa. Tenggelam dalam dunianya. Semoga saja apa yang dikatakan Donghae benar.

Taemin merasa bersemangat dan mulai melakukan gerakan-gerakan lain. Namun, Jongin tak menunjukkan reaksi lagi.

Tak lama setelah itu, Taemin dan Donghae berpamitan. Dan tinggallah aku dengan Jongin.

Aku ajak adikku ke kamarnya. Ia duduk di pinggir ranjangnya dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Perlahan tapi pasti jari telunjuk tangan kirinya terangkat dan berhenti di mulutnya. Lalu ia mulai menggigiti kukunya.

Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Oleh karenanya aku selalu rajin memotong kukunya.

Aku duduk di depannya.

“Jongin~ah,” panggilku, tak mengharapkan sahutan darinya, tapi aku suka menyebut namanya. Aku menangkup pipinya dan menghadapkan wajahnya padaku agar aku bisa menyelami kedua matanya.

“Kita beruntung bisa ketemu Donghae dan Taemin. Hmm… kamu suka Taemin?” tanyaku masih tetap memegangi pipinya.

“Taemin.” Ucapnya dengan monoton. Tanpa ada emosi maupun intonasi. Persis robot.

“Kakak juga suka Taemin. Dia lucu, baik, ceria, apa adanya, dan dia pintar nge-dance. Jongin mau belajar dance kayak Taemin?” tanyaku lagi.

Butuh waktu kurang dari semenit bagi Jongin untuk menyahut, “Jongin dens.”

“Hahaha, oke. Besok Kakak suruh Taemin ajarin Jongin dance.” Aku tertawa lepas. Meski wajahnya tanpa ekspresi, tapi aku sempat melihat binar di matanya yang hitam kelam. Aku tak kuasa menahan diriku untuk tak memeluknya. Lalu aku membantunya merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya.

Sudah menjadi ritualku dan Jongin untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Kali ini aku menyanyikan lagu lawas, namun masih enak di dengar. Lagu yang dipopulerkan oleh Michael Learns To Rock (MLTR), Sleeping Child. Dan lagu ini sudah sering kulantunkan untuk meninabobokan Jongin sejak beberapa tahun lalu. Aku berdehem untuk melancarkan tenggorokanku, dan sambil mengusap-usap rambut halusnya, aku bernyanyi…

“The milky way upon the heavens

Is twinkling just for you

And Mr. Moon he came by

To say goodnight to you

I’ll sing for you, I’ll sing for mother

We’re praying for the world

And for the people everywhere

Gonna show them all we care

 

Oh my sleeping child, the world so wild

But you’ve build your own paradise

That’s one reason why I’ll cover you

Sleeping child…

I’m gonna cover my sleeping child

Keep you away from the world so wild…”

 

“Aku akan selalu menjagamu, Jongin~ah…” bisikku di telinganya. Ia sudah terlelap. Wajahnya damai dan polos.

Aku bertekad akan menyembuhkannya. Aku harus menyembuhkannya!

^v^v^

Donghae dan Taemin sudah berdiri di ruang keluarga. Jongin sudah tidur di kamarnya, dan Joonmyun telah mengenakan seragam kasir. Ia memakai jaket tebalnya dan berpamitan pada dua sahabatnya itu. Donghae berjanji akan menjaga Jongin dengan baik, sehingga tak ada alasan bagi Joonmyun untuk khawatir.

Setelah Joonmyun meninggalkan rumah, Taemin duduk di depan tv, dan Donghae ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk mereka berdua.

Untuk mengisi waktu mereka, Donghae dan Taemin berbincang tentang berbagai hal, lalu mereka membahas Jongin. Taemin mengeluarkan ponselnya dan ia mulai menjelajahi situs pencarian Google.

“Lo lagi ngapain, ToTaempole? Chatting ama cewek-cewek, ya?” tuduh Donghae sambil mendekati Taemin dan mengintip layar ponsel cowok berumur 18 tahun itu.

“ToTaempole apaan, sih? Sembarangan! Aku lagi nyari-nyari tentang autisme, nih. Aku mau tahu tentang hubungan musik dengan autisme.” Jawabnya dengan wajah serius. Taemin menemukan satu artikel tentang informasi yang dicarinya. Ia menggigit bibir bawahnya, alisnya bertaut. Ia serius membaca isi artikel itu.

“Eh, gue liat juga, dong!” Donghae merebut ponsel Taemin dan membaca artikel itu. Serta merta ia merengut dan mengembalikan ponsel ke Taemin. “Sial! Artikelnya pakai bahasa Inggris. Mana gue ngerti!”

“Makanya jangan main serobot aja. Sok tahu, sih!” gumam Taemin kesal.

Lalu Taemin menjelaskan isi artikel itu, ia menerjemahkannya agar Donghae paham.

“Di Amerika Serikat, terapi musik adalah penerapan seni musik secara ilmiah oleh seorang terapis yang menggunakan musik sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan terapis tertentu melalui perubahan perilaku. Dengan bantuan alat musik, pasien juga di dorong untuk berinteraksi, berimprovisasi, mendengarkan atau aktif bermain musik. Dari hasil penelitian Martin Gardiner, musik dapat membuat anak lebih pintar, membantu otak lebih fokus. Selain untuk kognitif, musik dapat meningkatkan kecerdasan emosional.” Taemin menarik nafas sebelum melanjutkan, ia menatap Donghae, memastikan cowok itu mendengarkan dan memahami tiap katanya, “musik dapat menyehatkan jiwa, menciptakan kegembiraan, dan lain sebagainya. Musik dapat digunakan untuk anak berkebutuhan khusus agar dapat menyalurkan emosinya secara positif.”

Donghae tampak takjub dengan informasi dari Taemin itu, “Wow, ternyata musik bisa jadi terapi. Keren. Gimana, ToTaempole? Bisa kita coba?”

“Boleh. Apa salahnya kalau dicoba? Nanti kamu bilang ama Joonmyun, jadi kita bertiga ngajarin Jongin bermusik. Aku mau ngajarin dia dance juga, ah. Musik dan tari selalu bersinambungan.” Tukas Taemin dengan penuh antusiasme.

“Hayuk hayuk hayuk! Siapa tahu ternyata Jongin berbakat,” Donghae bertepuk tangan heboh.

“Ya, sapa tahu dia berbakat, nggak kayak Lee Donghae. hehehe,” dan kepalanya segera jadi korban pukulan Donghae.

Jarum jam pendek mulai mendekati angkat 12. Sebentar lagi Joonmyun akan pulang. Taemin tertidur di lantai berbantalkan perut Donghae yang sedang tiduran. Dan cowok berusia 25 tahun itu menonton film yang sedang tayang di salah satu saluran tv. Bunyi ceklik pada pintu membuatnya duduk dan membangunkan Taemin. Joonmyun sudah pulang.

Donghae segera berdiri dan menyambut Joonmyun. Wajah pemuda itu tampak lelah dan mengantuk. Namun, senyuman tak pernah hilang dari bibirnya. Atau memang ia tampak seperti selalu tersenyum? Donghae tak tahu. Ia hanya merasa kasihan sekaligus bangga pada Joonmyun. Di saat ia seharusnya kuliah, ia malah bekerja, membanting tulang untuk menghidupi adiknya. Ia merasa malu pada Joonmyun. Karena ia sendiri hingga umur 25 tahun belum menyelesaikan skripsinya dan belum bekerja. Memalukan! Dengan melihat kegigihan Joonmyun, terbersitlah semangat dan optimisme dalam diri Donghae. Dan cowok itu bertekad akan segera menggapai cita-citanya.

“Hai, Joonmyun.” Sapanya.

“Hai, Donghae. Gimana Jongin? Apa dia bangun?” tanyanya seraya membuka jaketnya dan menyampirkannya di punggung kursi.

“Nggak bangun, kok. Tadi jam 11-an gue ngecek ke kamarnya. Dia masih tidur. Lo istirahat dulu, gih. Muka lo awut-awutan. Hehehe,” Joonmyun terkekeh lalu mengangguk.

Donghae dan Taemin berpamitan. Joonmyun mengantar mereka hingga ke pagar, “Donghae. Taemin! Makasih banyak sudah jagain Jongin. Aku berhutang banyak ama kalian, nih, hehe.”

“Nggak usah ngaco, ah. Kita balik dulu, ya. Met istirahat, Joonmyun,” kata Donghae seraya melambaikan tangannya. Lalu ia dan Taemin berlari-lari kecil ke rumah mereka.

^v^v^

Beberapa hari yang lalu Donghae dan Taemin memberitahuku tentang terapi musik terhadap penderita autis. Aku sempat membaca tentang itu, tapi aku tak berpikiran untuk mencobanya. Dua cowok itu memaksaku untuk mencobanya pada Jongin.

Tak ada salahnya mencoba, kan? kata Taemin meyakinkanku.

Akhirnya aku menyetujui usul mereka. Sementara aku dan Taemin menemui teman Tuan Park, yang juga memberikan terapi untuk keponakannya, Donghae menjaga Jongin di rumah. Jongin sudah merasa nyaman dengan kehadiran Taemin dan Donghae di rumah. Mereka memang sering menghabiskan waktu mereka di rumahku.

“Taemin, benar ini rumahnya?” kupandangi rumah dengan desain klasik yang unik. Taemin mengangguk dan menarik tanganku memasuki gerbang yang tinggi.

Seorang wanita beruban membukakan pintu dan tersenyum sangat ramah, ia menyilakan kami masuk. Mataku menyapu ruang tamu yang elegan dengan satu set sofa klasik berwarna merah marun dengan aksen keemasan. Sofa itu tampak sangat mewah. Mataku tak absen menelusuri beberapa lukisan indah yang pastinya berharga sangat mahal. Aku digiring memasuki ruang tengah yang jauh lebih besar. Perabotan indah dan elegan tersebar di beberapa sudut ruangan. Ada sebuah grand piano tepat di samping tangga melingkar yang anggun. Aku takjub dengan eksterior maupun interior rumah ini. Begitu mewah. Namun, terkesan hangat dan nyaman. Dan benar saja, seperti dugaanku, pasti pemilik rumah ini berjiwa hangat dan ramah.

Seorang pria sekitar akhir 20-an keluar dari sebuah ruangan. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya membentuk garis lengkung. Mata yang tersenyum. Aku segera merasa nyaman. Taemin dan aku membungkuk sopan saat pria itu berdiri di depan kami.

“Selamat datang di rumahku. Aku Kim Jong Dae. Jungsoo, maaf… maksudku Tuan Park sudah menelpon dan bilang kalau kalian ingin bertemu denganku. Silakan duduk”

“Terima kasih, Tuan Jong Dae.” Sahut Joonmyun sopan.

“Shhh… nggak usah pakai Tuan segala. Jong Dae saja sudah cukup.” Katanya sambil tertawa pelan.

Aku dan Taemin duduk berhadapan dengan Tu… mmm… Jong Dae, maksudku.

Aku mulai menjelaskan maksud kedatanganku, dan pria muda itu menyimak dengan penuh perhatian. Ia mengangguk sesekali, menandakan bahwa ia masih mendengarkanku. Setelah lebih dari 5 menit aku bercerita tentang kondisi Jongin, Jong Dae tersenyum, dan ia setuju untuk mengajarkan Jongin bermain musik.

“Piano. Itu alat musik paling gampang untuk dipelajari. Jadi, adikmu bakal belajar memainkan piano dulu. Setelahnya dia bisa mencoba alat-alat musik lainnya.”

“Umm… tapi, gimana kalau selain belajar musik, Jongin juga belajar tari?” tanya Taemin yang sejak tadi hanya diam menyimak kami.

Alis Jong Dae naik,rupanya ia tertarik dengan usul Taemin, “Hmm… boleh, juga. Memangnya kamu tahu orang yang bisa ngajarin penderita autis menari?”

“Kalau ngajarin penderita autis, sih, nggak. Tapi dia mentorku sekaligus sahabat sepupuku. Dia punya studio tari. Nah, aku bisa minta tolong dia buat ngajarin Jongin secara privat,” jelasnya dengan mata berbinar.

“Boleh juga. Ya, semua kita serahkan pada Joonmyun. Gimana?” tanya Jong Dae seraya menatapku.

“Oke. Nggak ada salahnya dicoba. Kita selaraskan pelajaran musik dan tari. Mudah-mudahan efeknya bisa bagus.” Ujarku optimis.

^v^v^

Di sebuah ruangan luas dengan deretan cermin besar yang menempel di dinding, terlihat dua cowok sedang berbicara.

“Hyukjae, lo bantuin adik teman gue, ya? Please,” Donghae berdiri di depan seorang cowok kurus.

“Yang mana? Yang autis itu?” Donghae mengangguk, “Taemin sering cerita tentang anak itu.” lanjutnya.

“Kata terapis musiknya, dia bisa sembuh lebih cepat kalau terapi musiknya dikombinasi sama tarian. Dan daripada gue ngubek-ngubek sana sini buat nyari terapis, mending gue minta tolong ama lo, Hyuk.” Mohonnya.

Hyukjae menimbang-nimbang, dan ia merasa tak ada ruginya untuk mengajari anak itu menari. “Oke, lo bawa bocah itu ke sini besok.”

“Serius, nih, Hyuk?” pekik Donghae. Hyukjae mengangguk. “Whoaaaaah, thanks, Bro! Lo benar-benar keren, tau nggak? Aaaah, gue nggak salah sobatan ama lo, Hyuk. Peluk. Peluk. Peluk!” Donghae mendekati Hyukjae dan memeluknya erat.

“LEE DONGHAE! PLEASE NGGAK USAH LEBAI, DEH!!!!” raung Hyukjae seraya mendorong tubuh sahabatnya itu jauh-jauh.

^v^v^

Agak ragu bagiku untuk melepas Jongin sendiri bersama Taemin dan Hyukjae, mentornya. Namun,  semua itu demi kesembuhan Jongin. Aku ingin ia tak terlalu menggantungkan hidupnya padaku. Ya, jika Tuhan memberiku umur panjang. Tapi bagaimana kalau tidak?

Karena itulah aku harus bisa melepas adikku. Agar ia mandiri.

Pagi ini Taemin dan Donghae mengajak Jongin dan aku ke studio dance milik sahabat Donghae, Hyukjae. Kesan pertama yang muncul saat kulihat cowok itu adalah… kocak dan konyol. Aku kira Taemin sedang mengerjaiku. Bagaimana bisa seorang cowok dengan seringai konyol itu bisa mengajarkan Jongin menari?

Tapi asumsi negatifku itu hilang seketika saat Hyukjae mulai melikukkan tubuhnya mengikuti iringan musik hip-hop. Tubuhnya begitu luwes, gerakan tangan dan kakinya rumit, tapi sangat keren. Mana bisa aku menari seperti itu? Aku akui bahwa Hyukjae itu K.E.R.E.N.

Aku dan Donghae melihat bagaimana Jongin bereaksi terhadap dentuman musik dari beberapa buah speaker besar di beberapa sudut ruang berbentuk persegi panjang itu.

“Lihat kaki Jongin!” Donghae menyenggol bahuku seraya mengedikkan dagunya ke arah Jongin.

“Eh, iya. Kakinya gerak-gerak ngikutin irama. Liat tangannya, Hae. Tepuk-tepuk pahanya sesuai ketukan musiknya. Ini pertanda baik, kan, Donghae?” tanyaku optimis.

“Pasti. Dan gue yakin, Hyukjae dan Taemin bisa bikin Jongin bisa berkomunikasi sama kita. Dan nggak tenggelam lagi dalam dunianya.”

Aku mengamini ucapan Donghae.

Setelah melakukan survei tadi, aku segera ke tempat kerjaku. Tuan Park sudah datang. Aku meminta maaf atas keterlambatanku, dan kuceritakan alasanku. Tuan Park tampak senang dengan ide mengajak Jongin melakukan terapi musik dan tari. Dan pria penyabar itu mendoakan agar Jongin bisa cepat sembuh.

Melayani pelanggan hingga sore hari membuatku lelah. Dan nanti malam aku masih harus bekerja di toko swalayan hingga tengah malam. Dan lagi-lagi, aku harus merepotkan Donghae dan Taemin untuk menjaga Jongin. Semoga usaha kami dalam menyembuhkan Jongin berhasil. Aku tak ingin merepotkan orang-orang di sekitarku terus-menerus.

Di rumah, Jongin sudah duduk manis di teras, ditemani Taemin yang sedang mengajaknya mengobrol. Cowok berwajah cantik itu bahkan menyalakan musik untuk memancing perhatian Jongin. Dan usahanya itu cukup berhasil. Jongin bisa menanggapi ocehan Taemin dengan mengulang beberapa kata yang diucapkan Taemin. Suatu perkembangan yang baik.

“Hai, Jongin. Hai, Taemin. Lagi ngobrolin apa, sih? Kayaknya seru.” Ujarku seraya merangkul Jongin dan duduk di sampingnya.

“Aku lagi cerita-cerita tentang dance.”

“Oh, iya. Tadi Jongin bandel, nggak?” tanyaku. Teringat bahwa tadi seharian aku meninggalkannya bersama orang-orang baru.

“Nggak bandel sama sekali. Tahu nggak, Joonmyun? Tadi Jongin diajarin beberapa gerakan. Awalnya nggak mau ngikutin. Tapi aku tuntun pelan-pelan baru deh dia mau gerak. Tapi ya itu, sorot matanya kosong.” Sahutnya lesu.

“Semua ada prosesnya, Taemin. Nggak bisa instan. Apalagi dengan kondisi seperti adikku yang ganteng ini. Pasti butuh waktu lebih lama. Yang penting kita konsisten dan sabar,” jelasku memberi Taemin secercah optimisme. Taemin mengangguk menyetujui pendapatku. Dan ia mulai bercerita lagi tentang betapa Hyukjae sangat sabar dalam mengajarkan Jongin gerakan-gerakan dasar tari. Memang butuh waktu lama untuk membuat Jongin memahami perintah-perintah yang diberikan padanya. Aku bersyukur jika Hyukjae telaten dan bersabar dalam menghadapi Jongin.

“Joonmyun, aku pulang dulu, ya. Jam 6 aku ada kursus bahasa Inggris. Mungkin nanti malam aku nggak bisa nemenin Jongin. Karena aku harus belajar buat ulangan besok. Sorry banget, Joonmyun.”

“Ah, nggak apa-apa. Aku malah ngerasa bersalah kalau kamu sampai nggak bisa belajar gara-gara jagain Jongin. Terima kasih banyak, Taemin. Good luck buat ulangan besok, ya,” sahutku seraya mengantarnya ke pintu gerbang.

“Good luck to you too, Joonmyun.” Dan cowok baik itu berlari ke rumahnya.

Aku merangkul Jongin dan mengajaknya masuk, dan aku segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Jongin.

Kumulai memotong sayuran dan menanak nasi. Asap mengepul di dapur menguarkan aroma sedap sup ayam kesukaan Jongin. Di saat aku sedang mencuci peralatan memasak, dua lengan melingkari pinggangku. Kurasakan hangat menjalari punggungku. Aku tahu betul lengan siapa itu. Jongin.

“Hmm, Jongin? Kamu kangen sama Kakak, ya?” aku melonggarkan pelukannya dan berbalik menghadapnya. Aku mengusap wajahnya dengan sayang dan menatapnya. Ia tak menatap mataku, ia menatap jendela kecil di belakangku.

“Jongin kangen sama Kakak, ya?” tanyaku lagi sambil memaksanya menatap mataku.

“Kangen..” ucapnya.

“Jongin mau peluk Kakak?” tanyaku lagi sambil memegangi wajahnya agar menatapku.

“Peluk..” ulangnya lagi.

“Kalau mau peluk Kakak, Jongin harus liat mata Kakak!” tegasku, masih menangkup wajahnya.

Aku menunggu cukup lama sebelum akhirnya kedua mata hitam Jongin menatap lurus ke mataku. “Peluk.” Dan akhirnya ia mau mengungkapkan keinginannya sambil menatap langsung dalam mataku.

Serta merta aku merengkuhnya dalam sebuah pelukan erat.

“Jongin pintar.” Pujiku setelah melepas pelukanku. Kutatap kembali mata Jongin. Dan… ya, ia kembali lagi ke dalam dunianya. Tapi sedikit demi sedikit ia pasti bisa lebih baik.

Yang dibutuhkan Jongin adalah konsistensi dan kesabaran. Dan aku pasti bisa menjalankan dua hal itu.

^v^v^

Bagaimana perkembangan Jongin setelah menjalankan terapi musik dan terapi secara intensif? Apakah membaik atau tak ada perubahan?

Nantikan di part selanjutnya…

 

TO BE CONTINUED

 

Advertisements