Cast : *Main : Suho (Kim Joon Myun)

                          Kai (Kim Jong In)

                          Lee Taemin

                          Lee Donghae

                          With other SM artists

 

Genre : Drama. Angst.

 

 

** Soundtrack : Bruno Mars – Count on Me

^v^v^

Bel pintu berbunyi, kuletakkan piring yang sedang kucuci dan membuka pintu. Seorang cowok tinggi berambut pirang, berwajah tampan dan sorot mata dingin dan tajam. Ia hanya menyodorkan sebuah kotak kayu antik dan sebuah amplop coklat.

“Ini apa? Kamu siapa?” tanyaku kepada cowok yang kelihatannya nggak jauh lebih tua dari aku.

“Sebelumnya, gue mau bilang turut berduka cita. Dan ini titipan buat Kim Joonmyun. gue hanya nyampein amanah ini.” Balas cowok itu dengan ekspresi yang tak bisa aku jelaskan.

“Berduka cita? Dan kamu siapa?” ulangku lagi.

“Gue Kris. Mamamu meninggal. Kotak sama amplop ini wasiat dari mama buat lo.”

“Hah?!”

^v^v^

 

If you ever find yourself stuck in the middle of the sea, I’ll sail the world to find you

If you ever find yourself lost in the dark and you can’t see, I’ll be the light to guide you

…..

Suara lembut Bruno Mars mengisi atmosfir mobil yang kutumpangi, membuat jiwaku hanyut dalam lirik yang sarat makna itu.

You can count on me like one two three, I’ll be there…

And I know,  when I need it,  I can count on you like four three two, and you’ll be there…

 

Tanpa kusadari bibirku ikut mendendangkan lagu itu. Ku menoleh ke belakang dan melihatnya sedang terlelap. Bibirku menyunggingkan senyum. Rupanya ia lelah karena menempuh perjalan jauh. Matahari sudah hampir tertelan gelapnya malam, dan mobil yang kutumpangi berhenti di depan sebuah rumah mungil bercat hijau muda dengan pagar kayu setinggi pinggangku. Kubuka pagar, kuseret koper besar dengan susah payah, dan berusaha mengangkatnya menaiki lima anak tangga menuju pintu masuk. Sopir mobil yang baik hati itu membantuku membawakan barang-barang bawaanku.

“Jongin~ah, kita sudah sampai. Rumah baru kita. Turun, Yuk,” kutarik lengannya perlahan, dan membantunya turun dari mobil. “Bagus, ya, rumahnya?” dan Jongin hanya menatap rumah itu. Aku menghela nafas.

Berdua memasuki rumah. Sederhana tapi indah dan nyaman.  Kami melewati ruang tamu mungil. Lalu memasuki ruang keluarga yang cukup luas. Sebuah sofa panjang nyaman terletak di tengah ruangan, menghadap ke sebuah lemari tv, yang lengkap dengan tv, sound-system, dan perangkat dvd. Sebuah jam dinding bundar tertambat di atas tv.

Kuletakkan barang-barangku di ruang keluarga, lalu aku meneliti tiap ruangan di rumah itu. Kumasuki dapur. Ruangannya tak terlalu luas, bercat putih bersih. Dapur mungil nan nyaman. Semua perlengkapan memasak sudah lengkap.

Kakiku membawaku ke ruangan lain. Kamar tidur. Ada dua kamar, masing-masing bercat biru laut dan krem. Aku memilih kamar bercat krem, karena Jongin lebih menyukai warna biru. Lalu aku melihat kamar mandi, dan tempat itu pun sangat rapi dan bersih. Rupanya rumah ini sempat dibersihkan dulu.

Aku kembali lagi ke ruang keluarga, dan melihat Jongin sedang duduk termenung menatap tv.

“Jongin~ah, mandi dulu, ya? Kakak siapin air hangatnya dulu. Habis mandi kita makan, terus istirahat. Besok adalah hari baru bagi kita berdua. Oke?” kutunggu jawaban dari Jongin. Namun, ia hanya mengedipkan matanya dan sedikit mengangguk.

Aku menepuk pelan kepalanya, dan beranjak ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk adikku.

^v^v^

Pagi hari di rumah baru membuatku agak canggung. Semua terasa baru dan aneh. Bahkan Jongin tampak sangat kusut hari ini. Dia sempat mengamuk karena ranjangnya yang tak seperti biasanya. Ia melempar bantal ke segala arah, mengacak seprai dan selimut. Aku hanya mencoba menenangkannya. Untunglah ia bisa tenang. Saat ini dia sedang menyantap sarapannya.

“Jongin. Makannya jangan belepotan gitu. Yang rapi, dong,” tegurku lembut sambil mengusap dagunya yang terkena kuah sup. Ia hanya menggumam seraya menelan makanannya.

Aku sendiri sedang tak berselera makan, tapi aku paksakan mulutku mengunyah seiris roti gandum dan menyesap kopi panas.

Hidupku terasa sangat membosankan. Aku hidup berdua Jongin. Tak tahu ayahku ke mana, dan mama baru meninggal beberapa hari yang lalu. Kami tak mengenal keluarga ayah maupun mama. Kami benar-benar sebatang kara, saling bergantung satu sama lain. Aku tak sempat melanjutkan kuliah karena harus bekerja untuk membiayai hidup kami.

Capek rasanya. Aku punya beberapa teman, tapi mereka sudah sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Ingin punya kekasih, tapi aku tak pernah sempat berkenalan dan menjalin hubungan dengan cewek. Lalu aku hidup untuk apa? Sungguh M.E.M.B.O.S.A.N.K.A.N!!!! Ingin rasanya menjerit. Tapi aku takut dikeroyok tetangga. Hehehe. Ah… kenapa aku tak mencoba berkenalan dengan tetangga baruku? Tapi… aku malu. Aku yang bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa… apa mereka mau berteman denganku? Entahlah…

Praaaaangggg!!!

Suara nyaring itu mengagetkanku. Dan kulihat pecahan mangkuk berserakan di lantai. Jongin hanya menatapnya, dengan sendok masih digenggaman tangan kanannya.

“Ya, ampun, Jongin. Ini udah piring yang ke-162 yang kamu pecahin. Ahhhh…” aku mengacak rambutku. Frustrasi. Jongin ceroboh. Ia sering memecahkan piring, gelas, mangkuk, dan lainnya. Aku bangun dari dudukku dan mengambil sapu dan pengki, lalu mulai menyapu pecahan beling itu.

Hari ini aku akan mencari kerja, tapi aku harus mengajak Jongin. Dan itu cukup merepotkan. Namun, aku tak punya pilihan lain. Akhirnya setelah berganti pakaian, aku dan Jongin berjalan menyusuri pusat pertokoan dan restoran di tengah kota.

Beberapa café, mini-market, kedai dan kios membutuhkan pegawai baru. Aku mencoba mendaftar ke semua tempat itu, tapi kata ‘tidak’ yang kudapatkan setelah aku berkata bahwa aku harus mengajak adikku.

Aku pulang dengan hati kesal karena tak mendapatkan pekerjaan apapun. Ugh!

Besok harus mencoba lagi. Andai saja ada yang bisa menjaga Jongin selama aku bekerja, pasti semua akan beres. Namun, aku belum mengenal siapapun di lingkungan ini.

Oh, Tuhan beri aku kekuatan.

^v^v^

Secercah cahaya mentari pagi menyambut kedua mataku yang setengah terbuka. Aku sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Namun, aku sedang terperangkap hawa malas, jadi aku biarkan tubuhku terbaring di ranjangku yang nyaman. Aku menguap beberapa kali sebelum bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu secara otomatis, kedua kakiku membawaku ke kamar Jongin. Kubuka pintu perlahan dan melongokkan kepalaku ke dalam. Jongin sedang terlelap. Wajahnya tampak damai dan tenang. Aku menghampirinya. Menyingkirkan helai rambut dari dahinya dan mengecupnya lembut.

Hari ini aku harus mencari lowongan kerja lagi. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.

“Jongin~ah. Sudah pagi, nih. Bangun, yuk.” Ucapku seraya menepuk pipinya pelan. Jongin hanya mengerang sebelum membalikkan tubuhnya membelakangiku.

Susah membangunkan Jongin kalau sudah tidur nyenyak seperti ini. “Jongin~ah! Bangun! Atau kakak gelitikin, nih!” ancamku dengan suara agak keras. Jongin bergeming. Akhirnya aku menggelitik pinggangnya dan telapak kakinya, ia berjengit sebelum menendangku.

“KIM JONGIN, BANGUN!!!!” habis sudah kesabaranku. Aku meneriakinya tepat di telinganya. Dan masih butuh waktu beberapa detik sebelum adikku yang tampan ini membuka matanya.

“Akhirnya melek juga. Ayo, bangun, dasar pemalas. Kakak masih harus keliling nyari kerja, Jongin,” kataku sambil menarik lengannya hingga ia terduduk. Ia mengucek matanya dan menguap. Aku membantunya turun dari ranjangnya dan mengantarnya ke kamar mandi.

“Mandinya jangan lama-lama. Kalau sudah, kita sarapan bareng di luar. Kakak belum belanja. Oke?” Jongin hanya menatapku sebelum menutup pintu kamar mandi.

Hhhh… capek, deh.

Pagi ini aku dan Jongin menyantap sarapan di sebuah restoran sederhana. Aku memesan Kimbab untuk Jongin dan aku sendiri memilih Bibimbab untuk menu sarapanku. Aku sengaja memilih makanan berat agar rasa kenyangnya bertahan lebih lama, maklumlah sedang masa-masa pengiritan. Sebelum aku mendapat pekerjaan maka aku belum bisa berfoya-foya.

Jongin memakan kimbabnya dengan lahap. Aku tersenyum menatapnya. Ia terlihat sangat imut bila sedang makan makanan kesukaannya.

Cepat-cepat kuhabiskan sarapanku lalu aku memulai perjalananku menjari pekerjaan. Aku dan Jongin berjalan menyusuri jalan yang berbeda dari yang kemarin kami lalui. Jongin sesekali menggumamkan sesuatu. Dan saat kutanyai lagi, ia hanya terdiam dan menatap lurus ke depan. Dengan gemas aku merangkul bahunya yang beberapa senti lebih tinggi dariku. Kadang aku minder karena adikku lebih tinggi dariku. Hehehe.

Setelah pencarian yang cukup menguras tenaga, akhirnya aku menemukan sebuah kedai burger sederhana, tapi tampaknya cukup ramai dengan pelanggan yang rata-rata masih remaja seumuran Jongin. Pemilik kedai itu kewalahan dalam melayani pelanggan karena salah satu pegawainya mengundurkan diri. Dan untungnya pemilik kedai itu tak keberatan jika aku mengajak serta Jongin. Syukurlah dia mau mengerti kondisi Jongin, karena rupanya ia mempunyai keponakan yang senasib dengan Jongin.

Setelah mengisi data pribadi pada formulir yang disorokan padaku, aku berjabat tangan dengan pemilik kedai yang ramah itu dan aku pun disuruh mulai bekerja besok pagi.

“Terima kasih banyak, Tuan Park. Saya akan bekerja dengan giat dan bertanggung jawab.” Ucapku sambil membungkukkan badanku. Tuan Park tersenyum lebar hingga lesung pipinya tampak menghiasi pipi kirinya.

Aku dan Jongin keluar dari kedai itu dan aku pun merasa ingin merayakan hari keberuntunganku ini. Akhirnya aku dan Jongin membeli es krim, kue dan jus. Ya, aku tak bisa membeli makanan sembarangan karena Jongin sedang berada dalam diet ketat. Aku pun hanya bisa membeli beberapa bungkus kue beras dan susu kedelai untuk Jongin.

Lalu di rumah aku menyalakan musik dan menari-nari bersama Jongin. Aku yang memaksanya menari. Hehehe. Dan setelah itu kami makan bersama, menonton film, lalu karena malam makin larut, maka sudah waktunya bagi Jongin untuk tidur.

Aku menyelimuti tubuh adikku dan mengecup dahinya. Aku hendak meninggalkannya ketika tangannya mencekal tanganku.

“Ada apa, Jongin~ah?” tanyaku lembut dan duduk di sampingnya.

“….”

“Hmm… pasti kamu minta Kakak nyanyiin kamu sebuah lagu, kan?” tanyaku lagi.

“Lagu…”sahut Jongin datar. Tanpa ekspresi. Matanya menatap langit-langit kamar. Ia tak menoleh maupun menatapku.

“Oke, deh. Kakak nyanyiin kamu satu lagu. Tapi abis itu, kamu harus tidur, ya?” dan ia hanya mengedipkan matanya.

Aku menarik nafas panjang sebelum mengalunkan lagu yang senantiasa menggema dalam kepalaku. Lagu yang entah mengapa begitu meresap dalam hatiku. Aku menggumamkannya terus-menerus.

“If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,

I’ll sail the world to find you.

If you ever find yourself lost in the dark and you can’t see,

I’ll be the light to guide you

 

Find out what we’re made of

When we are called to help our friends in need

 

You can count on me like 1 2 3, I’ll be there

And I know when I need it I can count on you like 4 3 2,

And you’ll be there

Cause that’s what friends are supposed to do, oh yeah

 

If you toss and you turn and you just can’t fall asleep

I’ll sing a song beside you

And if you ever forget how much you really mean to me

Everyday I will remind you

 

Find out what we’re made of

When we are called to help our friends in need

 

You can count on me like 1 2 3, I’ll be there

And I know when I need it I can count on you like 4 3 2,

And you’ll be there

Cause that’s what friends are supposed to do, oh yeah

 

You’ll always have my shoulder when you cry

I’ll never let you go, never say goodbye…”

Sebelum aku menyelesaikan bagian reff terakhir, Jongin sudah tidur. Tangannya menggenggam tangan kananku. Aku menatapnya penuh sayang sebelum mengecup dahinya lagi dan meninggalkannya menyelam dalam dunia mimpi.

^v^v^

Aku malu. Kesal. Marah!

Semua emosi itu merasukiku. Dan semua itu karena Jongin. Bocah itu mengamuk di kedai dan berhasil membuat salah satu pelanggan ketakutan.

Good job, Kim Jongin.

Entah apa yang merasuki bocah itu hingga mengamuk dan membalik meja salah satu pelanggan. Ingin rasanya aku memukulnya. Bahkan aku hampir menamparnya, tapi Tuan Park mencegahku. Pria awal 30an itu menasehatiku agar tak terlalu keras terhadap Jongin. Tapi Jongin sudah besar, bukan anak balita lagi. Jongin sudah hampir 17 tahun dan ia harus bisa bersikap baik di tempat umum. Dan kejadian tadi benar-benar sangat memalukan. Aku hanya ingin membuat Jongin mengerti bahwa ia tak seharusnya mengamuk di tempat umum.

Tuan Park begitu sabar saat berusaha menenangkan Jongin yang bagai kerasukan itu. Pria baik itu meminta maaf kepada pelanggan yang kaget dan ketakutan itu, bahkan ia tak meminta orang itu membayar makanan yang ia pesan.

Aku menatap Jongin dengan marah. Tunggu saja nanti setelah sampai di rumah. Aku akan menghukumnya. Dasar bocah bandel! Rutukku dalam hati.

“Joonmyun, kamu jangan kasar sama Jongin. Karena cara itu nggak akan mempan. Dia butuh ketegasan tapi juga kelembutan. Kalau pakai cara keras ala preman gitu, yang ada dia malah makin ngamuk dan nggak akan bisa sembuh. Yang sabar, Joonmyun. Yang sabar,” Tuan Park menasehatiku di ruang kerjanya yang mungil tapi nyaman.

Aku merenungkan kata-kata Tuan Park, dan kurasa pria bijaksana itu ada benarnya juga. Aku ingat sewaktu Jongin masih berusia 13 tahun, saat ia memasuki usia remaja. Ia seringkali membuat ulah di sekolah. Sampai akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah. Dan sejak saat itu ia tak bersekolah lagi.

Saat itu aku sering memarahinya, membentaknya bahkan memukulnya. Bayangkan saja, umurku ketika itu 17 tahun dan sedang bersiap-siap menghadapi ujian akhir SMA. Aku sedih dan menyesali perlakuan kasarku pada Jongin.

Aku tak memahami kekurangan yang dimiliki Jongin pada masa itu. Namun, setelah berkonsultasi dengan beberapa ahli, akhirnya aku mengerti dan berusaha sabar untuk menghadapinya.

Tuan Park tersenyum saat aku mengiyakan nasehatnya dan berjanji akan lebih bersabar dalam menghadapi Jongin.

Setelah membereskan kekacauan yang dibuat adikku tercinta, aku dan Jongin pulang ke rumah. Sebelumnya, kami mampir ke toko swalayan dan berbelanja bahan-bahan makanan.

Sesampainya di rumah, aku mengajak Jongin duduk di sofa. Aku duduk menghadapinya dan berusaha mengajaknya berbicara. Mencoba untuk menasehatinya agar bersikap baik di luar rumah.

Tapi, ia hanya menatapku. Bukan menatap mataku, tapi menatap ruang kosong. Seolah aku tak ada di depannya. Entah ia mengerti semua ucapanku atau tidak. Ah… semoga saja ia mengerti.

Aku mengela nafas dan merengkuh Jongin dalam dekapanku.

“Jongin~ah, Kakak sayang banget sama kamu,” bisikku di telinganya. Dan kurasakan dua lengan memeluk pinggangku. Aku tersenyum dan mengecup puncak kepalanya.

Kakak sayang kamu, Jongin. Sangat sayang…

^v^v^

Ting tong… ting tong…

Tumben pagi-pagi sudah ada yang mampir?

Sambil merapikan rambutku yang masih agak basah, aku menghampiri pintu dan memutar kenopnya. Sepasang cowok dengan tinggi badan yang hampir sama, menatapku dengan senyum lebar dan mata berbinar. Kalau tebakanku tak keliru, cowok berparas cantik berusia kurang dari 20 tahun, sedangkan cowok berambut coklat dengan poni menutupi dahinya, kira-kira sudah di atas 20 tahun. Aku membalas senyuman mereka.

“Hai, apa kabar? Kamu belum lama pindah, kan?” tanya cowok berambut agak panjang dengan wajah cantik.

“Hai. Iya, aku baru pindah ke sini beberapa hari yang lalu,” jawabku masih memegangi pintu yang terbuka setengah.

“Kenalin, aku Taemin. Lee Taemin. Rumahku dua rumah dari sini. Itu yang pagarnya warna biru tua.” Cowok itu menyodorkan tangan kanannya, mengajakku bersalaman.

“Hai, Taemin. Aku Joonmyun. Salam kenal,” balasku tak kalah ramahnya.

“Hei, Taemin, kenapa nggak ngenalin gue juga? Dasar, nggak sopan!” cowok bermulut lebar itu menyikut Taemin dan menoleh lagi ke arahku, “Hehehe, sorry. Sepupu gue ini emang suka nggak sopan. Maklum, anak remaja jaman sekarang udah pada nggak punya sopan santun. Hehehe. Oh, ya, kenalin, gue Donghae. Lee Donghae. Selamat datang di perumahan kami, Joonmyun.” Ia berbicara tanpa henti. Dan lucunya lagi, bicaranya agak cadel. Aku ingin tertawa, tapi nanti cowok itu tersinggung.

“Hai, Donghae. Ya, terima kasih banyak atas keramah-tamahannya.” Balasku sopan, karena Donghae tampaknya memang lebih tua dariku.

“Oh, ya. Ini ada titipan dari mamaku. Chicken pie. Menu mamaku yang paling istimewa, aku yakin kamu pasti suka.” Cowok bernama Taemin memberiku sebuah bungkusan. Saat benda itu menyentuh tanganku, rasa hangat menembus kain pembungkus itu. Wah, aroma menggiurkan tercium dari bungkusan itu.

“Waduh, kok, jadi ngerepotin gini. Makasih banyak, ya. Tolong sampein ke ibumu, ya, Taemin,” ucapku seraya tersenyum, “eh, kok jadi berdiri di luar gini. Masuk dulu, yuk,” ajakku seraya membuka pintu lebar-lebar agar dua cowok itu masuk rumah.

“Wah, rumahnya cute, kayak rumah boneka,” komentar konyol meluncur dari mulut Taemin. Dan kulihat Donghae menjitaknya dengan sepenuh hati, dan menyuruhnya tutup mulut. Aku terkekeh. Mereka tampak sangat berbeda, namun mereka sepertinya sangat akrab.

“Ya, mau apa tinggal di rumah gede, kalau cuma berdua? Ya, kan?” sahutku dengan nada santai. Taemin mengangguk dan meledek Donghae.

“Tuh, kan. Yang punya rumah aja adem ayem. Kamu malah yang heboh sendiri.” Taemin sudah menghindar dulu sebelum jari-jari Donghae menjambak poninya.

“Hahaha. Sudahlah, Donghae. Taemin itu muji, bukannya ngeledek. Ayo, duduk dulu. Aku buatin minum sebentar.” Aku persilakan dua saudara itu duduk di sofa di ruang tamu. Dalam perjalananku menuju dapur, samar-samar kudengar omelan Donghae. Cowok itu mengomeli Taemin yang terlalu blak-blakan.

Aku mengambil 3 kaleng soda dari kulkas dan membawanya ke ruang tamu. Dua cowok itu sedang mengobrol seru. Kuletakkan minuman di atas meja bundar di depan mereka, dan ikut bergabung dengan mereka.

Obrolan kami semakin seru, ketika tiba-tiba volume tv mengagetkan kami.

“Eh, siapa itu?” Taemin bangun dari duduknya dan melongokkan kepalanya ke dalam. Ke ruang keluarga. Ke arah sumber suara itu.

“Oh, itu Jongin. Adikku. Dia baru bangun tidur,” jawabku seraya mengikuti langkah Taemin ke ruang keluarga. Dan di sanalah Jongin duduk di lantai yang tertutup permadani. Matanya menatap layar tv.

Taemin dengan lincahnya melompat dan tiba-tiba ia sudah berada di samping Jongin. “Hai, kamu pasti Jongin, kan? Kenalin, aku Taemin,” senyum ceria di wajah Taemin menyapa Jongin. Cowok itu mengulurkan tangannya, mengajak Jongin berjabat tangan.

Namun, mata Jongin masih tertancap pada layar tv dan ia mengacuhkan Taemin. Taemin menurunkan tangannya dan menatap Jongin dan aku bergantian.

“Kita bicara di depan aja, Taemin.” Ajakku. Donghae yang berdiri di sampingku terlihat salah tingkah. Sepertinya ia salah paham terhadap sikap Jongin. Dan mau tak mau aku harus menjelaskan kondisi adikku.

Taemin sudah duduk di sofa. Ia menatapaku, menuntut penjelasan. Bagiku terasa agak sulit untuk menjelaskan apa yang diderita Jongin kepada orang yang baru kukenal.

“Jadi… Jongin kenapa nggak mau balas sapaanku? Sombong banget, sih?” gerutu Taemin, yang disikut Donghae.

“Bukan sombong. Jongin nggak sombong atau sok. Tapi… dia nggak di sini, Taemin.” Balasku dengan suara pelan. Pasti setelah penjelasanku ini, Taemin dan Donghae tak akan sudi berteman denganku lagi. Ah, masa bodoh.

“Lalu maksudnya apaan?” Taemin mendesakku.

“Lee Taemin! Yang sopan! Gue laporin ke Tante baru kapok lo,” kudengar Donghae menggeramkan kata-katanya ke telinga Taemin.

“Oke, guys. Aku memang harus jelasin semua. Jadi, Jongin ini menderita autisme. Kalian pasti pernah dengar istilah itu, kan?” mataku meneliti perubahan raut wajah Donghae dan Taemin. Dan persis seperti dugaanku, kedua cowok itu terbelalak menatapku. Lalu ekspresi wajah Taemin berubah. Ia merasa bersalah.

“Bukan kamu aja yang ngira Jongin itu sombong. Tapi dia memang ada di dunianya sendiri. Dunia yang nggak pernah bisa aku masuki. Dia hidup di sini, makan, minum, wujudnya bisa aku sentuh, tapi jiwa sama pikirannya entah di mana.” Makin berat bagiku untuk ungkap semua. Aku berhenti di situ. Tak ingin meneruskan lagi.

“Aku minta maaf, Joonmyun. Aku lancang,” gumam Taemin dengan kepala tertunduk dalam.

“Makanya jadi orang, tuh, jangan sok tahu, terus asal nyablak. Untung Joonmyun baik, kalau gue, mungkin udah gue kruwes-kruwes lo, Min,” omel Donghae lagi. Rupanya ia kesal dengan cara bicara Taemin yang tanpa tedeng aling-aling itu.

“Sudahlah. Kalian nggak usah ribut. Aku nggak marah atau tersinggung, kok.”

“Hmm… Joonmyun~ah, apa lo udah periksain Jongin ke dokter ahli?” tanya Donghae penuh perhatian.

“Sudah. Tapi itu sudah lama banget. Terakhir kali periksa sekitar 3 tahun lalu. Aku akhirnya nyari info sendiri lewat internet. Dan aku nyoba buat ngerawat Jongin sendiri.”

“Lho, orangtuamu emangnya pada ke mana?” celetukan Taemin membuatnya menerima pukulan di belakang kepalanya dari Donghae.

“Donghae, jangan kasar sama Taemin.” Tegurku, “Ayahku nggak tahu ada di mana. Mamaku baru meninggal beberapa waktu lalu. Jadi aku sama Jongin sebatang kara sekarang. Jongin bergantung padaku, dan aku bergantung padanya.” Jelasku dengan susah, karena leherku terasa sakit. Aku berusaha menahan agar air mataku tak menetes. Bukan air mata sedih, tapi air mata kemarahan.

Ya, aku marah sama orangtuaku.

Marah sama Mama.

Marah sama Ayah. Aku sendiri risih menyebutnya ayah. Aku hampir tak mengenalnya.

Salahkah aku bila marah pada mereka? Dosakah bila seorang anak membenci orangtua yang menelantarkannya? Aku merasa berhak marah dan membenci mereka.

Kenapa?

Karena mereka tega meninggalkan aku. Lebih kejam lagi, Mama meninggalkan Jongin setelah melihat dan menyadari bahwa Jongin tak senormal anak-anak lainnya.

Apa yang Mama pikirkan saat pergi di tengah malam, di saat kami terlelap. Hanya meninggalkan secarik kertas dan sebuah amplop berisi uang? Di manakah hati seorang ibu yang katanya mencintai anak-anaknya tanpa syarat? Semua itu omong kosong!

Apa Jongin pernah meminta dilahirkan dengan kondisi seperti itu, hah?!

Dadaku terasa sesak. Aku tak sanggup menahan amarahku ini. Akhirnya aku berpura-pura akan menyiapkan sarapan untuk Jongin. Aku permisi ke dalam, dan di dapur aku menyalakan keran, tanganku mencengkram pinggiran tempat cuci piring. Kugigit bibir bawahku, menahan desakan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk mataku. Aku menangkupkan tanganku dan menampung air yang mengalr dari keran dan mencuci mukaku dengannya. Sensasi dingin air itu mengenyahkan air mataku yang hampir menetes.

“Joonmyun, lo nggak apa-apa?” sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku menoleh dan bertatapan dengan Donghae.

“Aku nggak apa-apa, kok. Makasih udah nanyain,” kupaksakan senyuman di bibirku.

“Gue tahu kalau semua yang lo hadapin selama ini sangat berat, tapi lo berhasil bertahan sampai sejauh ini. Gue salut ama lo, Joonmyun. Gue ngadepin si curut Taemin seharian aja bisa pusing tujuh keliling. Tapi lo bisa kuat ngerawat Jongin sendiri selama bertahun-tahun. Lo hebat, Man.” Donghae menepuk-nepuk bahuku. Binar matanya mengungkapkan kejujuran ucapannya. Dan entah apa yang kupikirkan saat ini, atau mungkin aku tak berpikir apa-apa?

Tiba-tiba aku menutup wajahku dan menangis tersedu-sedu. Bahuku berguncang hebat. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding dapur yang dingin. Sudah lama aku tak menangis seperti ini. Sudah lama tak ada seseorang yang mendengarkanku, memahamiku, dan memberiku dukungan.

Donghae mendekatiku dan merangkul bahuku. Ia mengusap-usap lenganku. Aku terus saja menangis.

Joonmyun bodoh. Memalukan!

Menangis di depan orang yang baru kukenal adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia ini. Namun, si ‘jenius’ Joonmyun sedang melakukannya… SEKARANG!

“Keluarin semua beban lo, Joonmyun. Lo nggak sendiri. Ada gue, ada Taemin. Lo nggak sendiri, Joonmyun,” ia ucapkan itu berulang-ulang dengan suara sengaunya yang lucu. Dan si bodoh Donghae membuat si ‘jenius’ Joonmyun  makin tak kuasa menghentikan tangisannya.

Ah, image tegarku runtuh, luluh lantah, hancur berkeping-keping di depan Donghae, dan… Taemin yang sekarang sudah berdiri di ambang pintu dapur.

Sempurna! Great job, Kim Joonmyun!

Great applause for Kim Joonmyun! Yeah!

^v^v^

Mampukah Joonmyun menyembuhkan Jongin? Akankah pertemanan Donghae, Taemin serta Joonmyun bertahan lama?

TO BE CONTINUED

Advertisements