Cast : EXO

Wu Yue Fan

Huang Zhi Ran

^^^

^^^

“Hei, Kyungsoo. Bangun, dong!” seorang cowok tinggi membangunkan temannya yang sedang terlelap.

“Ngh… apaan, sih, Kris?” gerutunya sambil menarik selimut menutupi kepalanya.

“Bantuin gue! Ayo, bangun!” ujar Kris, menarik selimut Kyungsoo.

Kyungsoo duduk. Matanya masih terpejam. Mulutnya terbuka lebar. Ia menguap.

“Ngapain lo bangunin gue, Kris? Gue baru merem dua jam, tau!” ucapnya kesal

“Gue butuh bantuan lo, Kyungsoo. Temenin gue di dapur, deh!” paksa Kris yang tanpa segan menarik lengan Kyungsoo hingga cowok bermata besar itu turun dari ranjang nyamannya.

Dengan enggan Kyungsoo mengikuti Kris ke dapur. Lalu ia menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Ia sandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan lagi matanya.

“Yah! Do Kyungsoo, jangan tidur lagi!” Kris menepuk pipi Kyungsoo. Berusaha menyadarkan cowok berbibir sensual itu.

“Ini jam berapa, Kris?” gumam Kyungsoo sambil berusaha membuka matanya yang terasa berat.

“Jam empat,” jawabnya singkat.

“WHAT THE HELL!!!! Lo bangunin gue jam empat dini hari? Lo sakit jiwa, Kris. Sakit sesakit-sakitnya orang sakit jiwa!” ia berdiri dan memekik. Matanya terbuka lebar. Ia menatap Kris tak percaya.

“Udah kelar kumurnya?” balas Kris dengan nada datar dan tatapan –gue-nggak-butuh-orang-lebay-saat-ini-.

“Udah, ah. Gue mau tidur lagi. Bye!” Kyungsoo berbalik hendak meninggalkan dapur, ketika ia merasakan ada yang menarik bagian belakang kerah piyamanya.

“Eits! Mau ke mana lo? Enak aja. Lo duduk sini, bantuin gue bikin kue,”

Kyungsoo mendongak, menatap Kris dengan tatapan terpana. “Lo mau bikin kue?” matanya berkedip-kedip aneh.

“Yups. Kue ulang tahun. Bantuin yah, Kyungsoo. Ntar gue ajak lo ke tukang loak, jadi lo bisa ngeborong barang-barang daur ulang.” Kris memberinya senyum palsu termanisnya.

“Hmm… bantuin nggak, yaaaa?” jari telunjuknya mengetuk-ketuk dagunya, matanya melirik ke atas seolah sedang menimbang-nimbang.

“Heh, nggak usah sok dibutuhin gitu, deh. Norak!” ujar Kris dan menjitak dahi Kyungsoo.

“Emang lo butuh bantuan gue, kan?”

“Nggak jadi! Gue nyari di internet juga bisa. Sana tidur!” dengan gemas Kris memutar tubuh Kyungsoo dan mendorong punggungnya, mengusirnya dari dapur.

Tapi Kyungsoo terkekeh dan masuk dapur lagi, lalu mengangkat tubuh pendeknya ke pantry, dan duduk. “Oke, gue bantuin. Ada angin apa lo pengin nyoba bikin kue ulang tahun? Buat siapa?”

“Angin mamiri! Emangnya gue nggak boleh bikin kue?” jawabannya masih judes, membuat Kyungsoo gemas dan kekehannya berubah menjadi tawa.

“Bukan gitu, Kris. Tapi tumben banget lo mau bikin sesuatu, bukannya lo paling anti ama yang namanya dapur? Jadi, pasti ada yang istimewa nih, ya?” tebak Kyungsoo sambil menggerak-gerakkan alisnya.

“Sok tau lo! Hmm… hari ini Yue Fan ulang tahun. Dan gue, sebagai majikan yang baik, pengin ngasih dia sesuatu. Dan gue kepikiran bikin birthday cake buat dia. Masalahnya gue sama sekali nggak bisa bikin kue. So, gue mohon bantuan lo.” Kris mendekati Kyungsoo dan menggenggam tangannya. Menatapnya penuh harap.

“Sip, sip. Gue bantuin. Bahan-bahannya udah lengkap belum?” ia turun dari pantry dan mulai membuka dan menutup lemari dapur serta kulkas. Dan ia menemukan semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue. Ia bersyukur bahwa Lay tak lupa berbelanja kemarin.

“Oke, mari kita mulai membuat kue. Ambil mixer. Loyangnya diolesin mentega terus di alasin kertas kue. Hah? Nggak ada? ya udah, kamu taburin tepung aja dikit biar nggak lengket.” Kyungsoo memberi instruksi dengan sigap. Ia terbiasa membuat kue.

“Kyungsoo, biar gue aja yang ngolah semua. Lo ngasih tau aja gimana-gimananya.” Tukas Kris yang sekarang pipinya sudah ternoda tepung.

“Wah, niat banget.  seperti bukan majikan, lebih mirip pacar mau ngasih kue valentine. Hehehe. Oops, sori,” ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya saat menerima tatapan –lo-ngomong-lagi-maka-lo-mampus- dari Kris.

Kyungsoo pun kembali serius memberi tahu Kris bagaimana mengocok telur hingga mengembang, bagaimana membuat butter cream untuk topping kuenya, dan banyak hal baru bagi Kris.

“Sekarang, masukin ke oven. Dicek suhunya.” Kata Kyungsoo, mengamati Kris yang canggung memasukkan loyang ke dalam oven yang panas. Setelah Kris berhasil, Kyungsoo bertepuk tangan. Sangat kekanakan.

“Lo kelamaan ngumpul bareng Baekhyun ama Chanyeol, jadi ikutan childish kayak mereka, deh.” Dengus Kris seraya mencuci tangannya yang bau amis karena tadi ia meremas telur, bukan memecahkannya.

“Dari pada kelamaan ngumpul ama lo, bisa-bisa gue dapet predikat the next bitch-face .”

“Sialan! Eh, ini kue matengnya lama nggak? Terus kira-kira jadi bagus nggak bentuknya? Pokoknya kalau jadinya jelek, gue mau bilang ini bikinan lo.” seringai licik muncul di wajahnya.

“Terus teman-teman bakal percaya kalau gue, master chef Kyungsoo, gagal bikin kue? Plis, deh, Yi Fan. Semua juga tau kalau lo nggak bisa masak,” Kyungsoo menepuk bahu Kris yang duduk di sampingnya, “kuenya mateng 45 menit lagi. Gimana, seru kan, bikin kue?”

“Ribet! Enakan beli jadi.”

“Lalu kenapa lo nggak beli? Malah bangunin gue di tengah gelapnya malam, disaat gue sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, berselimut mimpi nan indah…” ujarnya dengan tangan terangkat, bagai sedang berpuisi.

“Sok puitis! Gue sengaja nggak beli karena…”

“Nggak ada duit?” potong Kyungsoo

“Bukan! Tapi karena…”

“Males keluar buat pesennya?” potongnya lagi

“Bukan juga! Tapi karena…”

“Lo mau ngerjain gue doang, kan?” sergahnya. Memotong kalimat Kris

“Lo motong omongan gue sekali lagi, gue jejelin loyang  ke mulut dower lo!” sentaknya gemas. Kyungsoo menjengit kaget dan meminta maaf.

“Asal nyablak, sih! Gini, gue sengaja bikin sendiri karena gue pengin Yue Fan tau kalau gue…”

“Tulus suka en sayang ama dia?” sebuah suara sangat lembut menyapa telinga Kris.

Kris menoleh ke sumber suara itu dan ia memelototi orang itu.

“Bisa diem nggak, sih, Joonmyun?” desisnya kepada Suho sambil melirik Kyungsoo yang tak tahu menahu tentang pergolakan batin Kris.

“Suho, ada apa, sih?” tanya Kyungsoo dengan wajah polosnya.

“Kris tinggi banget, gue iri.” Sahut Suho yang menerima tatapan seorang pembunuh dari Kris.

Kyungsoo manggut-manggut setuju, karena ia juga termasuk daftar orang yang iri akan postur tinggi Kris, bersama Baekhyun, Luhan, Lay, Chen dan pastinya Xiumin juga.

Tak terasa matahari sudah menyinari bumi, semua member sudah bangun dari lelapnya tidur mereka. Termasuk dua pembantu mereka, Yue Fan dan Ran.

“Hmm… wangi banget. D.O masak apa pagi ini? Perutku bunyi, nih,” kata seorang member EXO-M yang paling ngabis-abisin stok makanan di dorm EXO.

“D.O nggak masak apa-apa, kok. Lo duduk manis aja di sofa. Ntar kalau udah waktunya makan, lo bakal dipanggil,” tegur Chanyeol yang sebenarnya tak tahu menahu tentang kondisi dapur pagi itu.

“Chanyeol, jangan galak ama Tao. Gue pites lo kayak kutu!” ancam Kris seraya keluar dari dapur.

Chanyeol terpesona dengan penampilan ajaib Kris. Hanya butuh waktu sepersekian detik baginya untuk mulai tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya limbung ke lantai.

Baekhyun dan Kai serta Sehun menyusul aksi heboh Chanyeol, dan bersama tergelak sambil menunjuk Kris.

“Memangnya gue selucu itu, ya?” gumamnya pada dirinya sendiri.

Kris mencari Yue Fan. Setelah bertanya pada Ran, ia akhirnya tahu bahwa gadis mungil berwajah datar itu sedang mandi. Maka ia kumpulkan semua orang yang ada di sana, dan menyuruh mereka menyiapkan beberapa hal untuk menyambut Yue Fan. Ia berniat memberinya kejutan. Sebuah kue ulang tahun olahannya.

Sekitar 15 menit kemudian, Yue Fan yang tampak segar dan harum, melangkah keluar dari kamar mandi. Ia merasakan suatu kejanggalan. Sepertinya ia mendengar banyak suara ketika ia berada di kamar mandi, tapi sekarang tampak lengang dan sepi.

“Ran? Kamu di mana?” panggilnya sambil melangkah ke ruang keluarga. Dan…

“SURPRISE!!!!” 12 member EXO beserta Ran sudah mengellinginya dan mengucapkan selamat ulang tahun.

“Happy birthday, Yue Fan.” Kris muncul dengan cake hasil jerih payahnya. Senyum bangga menghiasi wajah tampannya.

Yue Fan menatap cake dan Kris bergantian, lalu ia terkekeh geli.

“Kok, malah ngikik?” tanya Kris dengan dahi berkerut.

“Ini kue beli dari mana? Bulat nggak, kotak juga nggak.” Ujar Yue Fan sambil menahan tawa.

“Trapesium, Fan. Hahaha,” tambah Chanyeol.

“Trapesium muka lo, Yeol!” bentak Kris, “Oke, ini memang hasilnya nggak seperti yang gue harapkan, tapi itu bukan berarti lo bisa seenaknya ngehina hasil karya gue. Usaha gue.” Lanjutnya dengan berapi-api. Yue Fan tercekat. Ia tak menyangka bahwa Kris yang membuat kue itu. “Dan lo tau? Gue semaleman nggak bisa tidur nyenyak karena kepikiran buat bikin kue ini. Gue kecewa ama lo, Fan.”

“K-Kris…?” bisik Yue Fan. Suaranya bagai tertahan di tenggorokannya.

“Dan ini kado buat lo. Tapi kayaknya lo juga nggak akan suka. Kan, selera lo tinggi. Elit. High class. Happy birthday, anyways.” Katanya lagi sebelum meninggalkan dorm.

Yue Fan memanggil Kris, tapi cowok semampai itu tak menghiraukannya. D.O mendekati Yue Fan dan merangkul bahunya dan membisikinya.

“Dia bela-belain bangunin aku jam 4 pagi buat ngajarin dia bikin kue.”

“Serius?” D.O mengangguk. “Ya, ampun. Kris pasti marah banget sama aku. Padahal aku cuma becanda.”

Suho menghampiri mereka dan menyuruh Yue Fan mencari Kris dan meminta maaf.

“Aku nyari Kris dulu, ya. Suho, tolong simpen dulu kuenya. Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah,” ujarnya seraya melirik Tao yang sudah menatap kue dengan  penuh gelora.

Suho tersenyum dan mengangguk. Ia pun menyimpan kue itu setelah Yue Fan memotong dua iris kue untuk dirinya.

Kris berjalan sambil menendang beberapa kerikil dengan penuh emosi. Hatinya bergejolak. Pelipisnya berdenyut. Ia menyadari bahwa reaksinya tadi sangat berlebihan. Namun, ia tak mampu mengontrol emosinya. Mungkin karena ia kurang tidur. Bukankah ia terbiasa tidur selama 10 jam sehari seperti yang dilaporkan Lay kepada media?

Yue Fan merenggut jaket yang sedang dilipat Xiumin, memakainya dan melesat menerjang pintu yang terbuka, menyambut dinginnya udara pagi.

Mata minusnya memicing mencari-cari sosok Kris. Yue Fan menyesal ia tak sempat memakai contact lens-nya, sehingga ia harus berusaha ekstra keras demi melihat Kris di kejauhan.

Akhirnya sosok menjulang Kris tampak, dan Yue Fan berjalan menghampirinya. Ia memegang kotak berisi kue ulang tahun hasil karya Kris di pagi buta.

“Kris?” tak ada jawaban, ia memanggil lagi. “Kris? Masih marah, ya?”

Sosok tinggi itu bergeming. Tak ada balasan.

Ia menggapai sosok tinggi itu…

Yue Fan membelalakkan matanya, memfokuskan tatapannya pada sosok di depannya.

“Oalaaah, sialan. Ternyata tiang listrik.” Ia merasa malu. Untung jalanan masih sepi.

Kris sedang berdiri. Punggungnya bersandar pada batang pohon peneduh di sisi jalan. Lengannya terlipat di dadanya. Matanya terpejam. Dari jarak yang cukup dekat, Yue Fan dapat melihat Kris menggigit bibir bawahnya, dan sesekali menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Ia terlihat sangat kesal. Yue Fan merasa tak enak. Ia berdehem untuk memberitahukan keberadaannya.

“Lo?” tanya Kris

“Iya…”

“Mau ngapain?”

“Aku mau ngasih kamu ini,” ia membuka kotak yang sejak tadi dibawanya. “potongan pertama… buat orang yang spesial.”

“Huh? Bukannya bentuknya aneh? Ngapain mau dimakan? Nggak mau. Buang aja. Gue ngak doyan kue!” dengusnya judes sambil berbalik dan memunggungi Yue Fan.

“Heh! Gue ke sini mau minta maaf ama lo, tapi lagak lo tengil banget, sih, Kris?!” aura galak Yue Fan keliatan. Kris sampai kaget.

Kris gelagepan. Ia tak menyangka kalau Yue Fan akan menyemprotnya dengan galak.

“Oh, jadi lo mau minta maaf? Lo ngerasah bersalah, dong? Good for you,”

“Lo… ahhh… tauk, ah!” Yue Fan kesal dan hendak meninggalkan Kris.

“Fan…”

Yue Fan berhenti. Masih memunggungi Kris. “Apaan?!”

“Gue mau dong disuapin potongan kue pertama,” ucap Kris. Yue Fan berbalik menghadap Kris. Mendongak menatap Kris. Memastikan bahwa cowok itu serius. Dan ternyata sebuah seringai aneh menyapanya.

“Senyum kok nggak niat,” dengus Yue Fan seraya membuka kotak kue. Ia mengambil sepotong kue dan mendekatkannya ke mulut Kris. Kris menekuk lututnya agar Yue Fan tak kesusahan menggapai mulutnya, ia membuka mulutnya selebar yang ia mampu dan mengigit kue buatannya.

“Hmmhhh… engaaakkkhhh..” katanya tak jelas.

“Jangan ngomong kalau mulutnya lagi penuh. Nggak sopan!” tegur Yue Fan, dan Kris tergelak. Lalu Kris mengambil potongan kue satunya dan mendekatkannya ke mulut Yue Fan.

“Eh, nggak usah. Biar aku sendiri,” Yue Fan mundur selangkah.

“Biar fair. Aaa, dong.” Dan Kris terus memaksa agar Yue Fan mau membuka mulutnya.

Yue Fan pun kalah dan ia mengiggit kue dari tangan Kris.

“Enak nggak, Fan?”

“Enhaaakkhh… lhaghii, ghongh…” jawabnya dengan mulut penuh. Bahkan ada yang ikut melompat keluar dari mulutnya, membuat Kris mengernyit jijik.

“Ngomelin gue, tapi dirinya sendiri lebih parah. Dasar Wu Yue Fan!”

“Dasar Wu Yi Fan!” balasnya setelah menelan kuenya

“Bantet!”

“Egrang!”

“Judes!”

“Bitch-face!”

“Cute!”

“Gigi kuda!”

“Yah!”

“Hahahahaha…” berdua tertawa. Mungkin kalau ada member lain yang melihat cara dua orang ini berinteraksi, pasti akan muncul tanda tanya besar di kepala mereka.

“Seriusan, nih, Kris. Aku minta maaf. Aku niatnya mau bercanda, doang. Tapi jujur aja, itu cake bentuknya random banget. Dibilang bulat nggak pantes, dibilang kotak lebih nggak jelas lagi. Hehehe.”

“Yang penting rasanya enak, kan? Dan seharusnya lo liat niat gue. Gimana gue sampai hampir dimasukin oven ama D.O gara-gara gue bangunin dia jam 4 pagi.” ia berjalan bersisian dengan Yue Fan. Tangannya merangkul bahu Yue Fan. Agak sulit sebenarnya, karena perbedaan tinggi badan yang signifikan itu seharusnya Kris hanya bisa merangkul kepala Yue Fan, tapi karena kemurahan hati author, maka Kris berhasil merangkul bahu Yue Fan.

“Lebay! D.O nggak bakal tega masukin kamu ke oven,”

“Kenapa nggak?”

“Sayang ntar nggak bisa dipake buat bikin kue lagi karena udah terkontaminasi aura bitchy kamuuuuu…. Nyiahahahahahaha.”

“WU YUE FAN KAMPREEEEET!!!!” jerit Kris kepada Yue Fan yang sudah berlari menjauhinya.

^^^

Suho duduk di sebelah Kris di sofa kerajaan dua leader itu. Ia sedang menonton film kesukaannya.

“Lo nggak bosen nonton film ini beratus kali?”  Kris mengedikkan dagunya ke arah tv.

“Nggak, tuh. Gue demen banget ama film ini.” Sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv. Film The Pirates Of The Carribean, tentang sekumpulan bajak laut yang diperankan dengan baik oleh aktor Johny Depp memang menjadi film favorit Suho. Ia tak segan menontonnya hingga berkali-kali.

“Eh, Suho. Enaknya gue ajak Yue Fan ke mana, ya?” Kris merubah posisi duduknya dan menghadap Suho. Temannya yang sedang fokus menonton, menjawabnya dengan bergumam.

“Heh, liatin gue!” Kris menangkup wajah Suho dan memaksanya menatap langsung ke wajah tampannya.

“Lo mau patahin leher gue, ya? Bentar, gue pause dulu filmnya!” setelah menekan tombol pause pada remote dvd, Suho duduk menyamping agar bisa melihat wajah Kris dengan jelas. “Lo bingung mau ngajak Yue Fan ke mana?”

Kris mengangguk.

“Ajak ke tempat-tempat yang belum dia datengin.” Usulnya.

“Tapi mana gue tau dia udah ke mana aja. Lo investigasiin, gih!” suruhnya tanpa beban.

“Kenapa jadi gue yang rempong ngurusin kisah cinta lo? Eh-eh, lo punya nope-nya Maeji nggak, Kris?” bisiknya.

“Nggak. Dan sama sekali nggak pengin punya! Mending gue nyimpen nope penjual sayur daripada nope si upik abu norak itu.” dengusnya seraya memutar bola matanya.

“Sadis! Dia baik dan rame. Nyambung banget ngobrolnya. Terus gue suka ama senyumnya, terus…”

Kris menunjuk bibirnya, menyuruh Suho diam, “Gue mau minta saran ama lo, bukannya mau dengerin curhatan lo, Kim Joon Myun~Ssi!”

Suho tersenyum, “Oke, gue coba tanya Ran aja, deh.” Ia bangun dari sofa dan mencari Ran yang ternyata sedang adu mulut dengan Sehun.

“Kenapa tiap gue liat lo berdua, selalu dalam kondisi lagi berantem, Hah?!” tegurnya dengan wajah bosan namun masih ada senyum di matanya. Geli melihat Luhan yang berusaha menengahi mereka.

“Sehun yang mulai dulu! Aku lagi ngobrol ama Luhan, tiba-tiba si Thehun muncul dan ngomelin aku. Gimana nggak kesel coba!” nyolotnya seperti biasa, sambil melotot-melotot.

“Heh, Item! Thiapa yang nggak kethel liat lo ngobrol thambil remeth-remeth tangan Lu Lu gue?!” Sehun membela dirinya sendiri. (Th = S)

“THTOP!” jerit Suho dan Luhan bersamaan. “Eh, jadi ikutan Sehun,”

“Ran, aku mau ngomong serius ama kamu. Ikut aku! Dan kamu, Sehun. Nggak usah lebay!”

Sehun dan Ran saling bertukar pandang dengan sengit. Suho dan Luhan menggelengkan kepala mereka. Bosan.

Ran diseret Suho melewati Baekhyun dan Chanyeol yang sedang bercanda sambil bertepuk tangan dengan sangat, amat sangat kekanakan.

Suho dan Ran juga melewati Xiumin yang sedang menjahit celana Lay yang bolong waktu acara Music High. Chen yang sedang berlatih vokal di depan tanaman hias kaktus pun tersedak demi melihat sang leader menyeret si hitam-hitam pahit Huang Zi Ran.

Suho hampir menabrak Kai yang asik berlatih goyang patah-patah. Ran yang tak berani memberontak, pasrah saja mengikuti Suho ke manapun ia dibawa. Ke KUA pun ia akan pasrah.

“Ya, ampun, Suho. Jalan, kok, nggak liat-liat, ini sup kaki udangnya hampir tumpah, nih!” seru Lay dengan suara halusnya.

“Sori, aku buru-buru,” jawabnya singkat dan terus saja menyeret Ran ke luar. Ke teras.

“Suhooooo….!!!!” Pekik Ran. Sok manja.

“Apaaaa???”

“Ngapain nyeret-nyeret dirikuuuuuhhhh!”

“Nggak usah manja! Gini, deh. Aku mau tanya sesuatu tentang Yue Fan. Jadi, kamu jawab apa adanya. Ini demi kebaikan dia.” ucap Suho seraya mencengkram pelan bahu Ran.

“Mau tanya apaan?” tanyanya dengan wajah datar.

“Tempat mana aja yang belum dikunjungi Yue Fan?”

“Ya banyak banget, lah! Dia belum ke Paris, Monaco, Itali, ke pasar deket sini juga belum.” Masih setia dengan wajah datarnya. Entah apa yang dipikirkan Ran dengan memasang tampang seperti itu. Mungkin ia merasa dirinya tampak menawan dengan ekspresi seperti itu, padahal sih, hanya Tuhan yang tahu.

“Bukan itu yang aku maksud, Huang Zi Ran yang pintar banget! maksudnya itu tempat-tempat di kota ini.”

“Ooooh, ituuu… hmm… Yue Fan emang jarang pergi-pergi, sih. Kalau di rumah, dia lebih sering buang-buang waktunya buat twitteran, baca fanfiction yaoi, terus tidur sambil mimpiin biasnya, terus makan, terus BBM-an nggak kenal waktu. Palingan perginya ke supermarket buat beli camilan, terus disimpan di lemari bajunya, biar nggak dimintain siapa-siapa. Gitu, deh.” (FAKTA)

“Nah, kalo kamu?” tantang Suho.

“Wah, kalau aku juga sebelas-duabelas ama Yue Fan. Tapi aku lebih parah lagi. Aku bisa tidur seharian,” seringai bangga menghiasi wajah kusamnya.

“Jiah, bukannya sebelas-duabelas ama kebo abis beranak? Hehehehe.” Komentar usil Suho membuat seringai di wajah Ran menguap.

“Aku nggak mau bantuin kamu!” ancamnya seraya menghentakkan kakinya dan hendak meninggalkan leader bergolongan darah AB itu.

“Whoaaa… stop di situ!” ia mencekal lengan Ran dan menariknya mendekat, “jawab dulu pertanyaanku, dong. Ini buat bantuin Kris juga. Kamu pengin liat Yue Fan jadian beneran ama Kris, kan?” rayunya

“Hmm… pengin, sih. Dan aku juga pengin jadian ama…”

“Hmm?” Suho mengatupkan bibirnya dengan sangat manis, dan matanya berkedip-kedip menggemaskan. Membuat Ran menahan nafasnya demi melihat betapa manisnya cowok berkulit putih di depannya itu.

“Ama seseorang. Ehem.. si Yue Fan belum pernah ke taman safari lagi sejak tiga tahun yang lalu, pas acara study tour sekolah,” jawabnya cepat, untuk menutupi kegugupannya.

“Terus ada lagi nggak?”

“Dia suka banget nonton di bioskop. Jajan. Oh, ya, dia suka banget baca komik dan hunting komik di toko buku.” Ran mulai santai mengumbar kesukaan  Yue Fan.

Suho tersenyum puas dengan semua informasi yang diperolehnya dari Ran, pembantunya, yang sebenarnya bukan pembantu sungguhan.

Lalu Suho segera mencari Kris, dan setelah bertanya kepada sebagian member yang sedang bersantai di ruang keluarga, ia menemukan Kris sedang membaca buku di ranjangnya.

“Hei, Suho. Gimana? Udah dapet informasinya?” ia menutup bukunya dan melemparnya ke meja samping ranjangnya. Ia duduk bersila dan menyuruh Suho duduk.

“Bereees.” Mata Kris berbinar-binar, ia menyeringai aneh. “Yue Fan udah lama nggak ke taman safari,” lanjut Suho.

“Hah? Kayak anak kecil banget kalau nge-date ke taman safari.” Tukas Kris dengan alis bertaut.

“Ummm… ini informasi yang gue dapat dari Ran. Jadi, Si Yue Fan ini suka ke toko buku, bioskop, suka jajan juga. Terserah lo mau ajak dia ke mana.” Imbuh Suho dengan senyum sabar membingkai wajah tampannya.

Kris berpikir keras.

Enaknya gue ajak ke mana, ya? Ke bioskop aja kali, ya? bisa gelap-gelapan.

Sebuah ide konyol muncul di benaknya, namun ia tepis pikiran aneh itu.

Lalu ia kembali menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengajak gadis itu ke toko buku dan menghadiahnya beberapa buah buku? Atau makan-makan sepuasnya?

“Lo nggak perlu seserius ini, Kris. Kayak mau rencanain konser aja. Kalau kata gue, sih, lo ajak dia ke taman safari, terus pulangnya nonton berdua, ke toko buku buat ngeborong komik, candle light dinner, terus pulang, deh. Sampai rumah, lo kelonin dia tidur sekalian. Hahahaha. Muka lo lawak banget kalau cengok!” tunjuknya ke muka Kris.

“Hmm… gue pikir-pikir lagi, deh. Thanks, by the way atas info dan sarannya. Gue mau mandi dulu,” dan Kris pun melanjutkan aktifitas pagi harinya. Suho tersenyum bahagia. Ia memang berharap Kris segera menemukan seorang gadis yang bisa menemaninya dalam suka dan… suka.

Kasihan kalau Yue Fan ikut berdukaria.

Pikir Suho licik, dan ia terkekeh menertawakan pikirannya.

^^^

“Wu Yue Fan!! Lama banget, sih? Itu Kris udah nungguin di mobil.” Panggil Ran dengan suara berisiknya.

Yue Fan membuka pintu kamar dan berdiri di depan Ran. “Pantes nggak kalau pakai ini?”

“Hmm… bentar!” ia berbalik menuju ruang keluarga dan detik berikutnya ia kembali menggandeng Tao. “Pantes nggak kalau Fan pakai baju itu?”

Tao menatap Yue Fan dari kepala hingga kaki. Ia memberi tanda agar Yue Fan berputar sehingga ia bisa melihat keseluruhan penampilan Yue Fan.

“Sip! Kamu keliatan anggun pakai baju itu. Sudah sana, ada Naga spesial, tuh, lagi nunggu kamu di mobil.” Ran dan Tao tertawa melihat ekspresi kesal di wajah Yue Fan.

Kris membunyikan klakson dengan tak sabar. Akhirnya gadis yang akan diajaknya berkencan itu muncul juga. Mata tajam Kris membulat saat melihat penampilan Yue Fan.

Gadis mungil nan manis itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna biru pastel yang sangat simple, wajahnya nampak segar dengan sapuan tipis blush-on pink. Membuat wajahnya berseri. Tak lupa ia menggoreskan eye-liner di matanya untuk memberinya kesan tegas. Olesan lipstik sewarna bibir menyapu bibirnya, dan ia pun terlihat sangat menawan. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai alami. Sebuah tas mungil oranye dengan kepala jerapah di bagian depannya ia selempangkan di bahunya, dan sepasang wedges cute senada dengan gaunnya, membuatnya beberapa sentimeter lebih tinggi.

Kris berdecak tanpa mengalihkan pandangannya dari tas norak Yue Fan yang saat ini sudah duduk dengan canggung di sampingnya.

“Kris, jangan liatin aku kayak liat alien gitu, dong!” Yue Fan tampak gusar.

“Sorry, gue cuma kaget liat penampilan lo. Simple tapi anggun. Sering-sering dandan kayak gini, kan, bagus, Fan. Jadi keliatan jelas ceweknya. Hehehe.” Balasnya sambil menggaruk belakang kepalanya dengan wajah bodoh.

“Kita mau ke mana, sih?”

“Jalan-jalan.”

“Lha, iyaaa, ke mana?”

“Oh, gimana kalau lo yang tentuin kita enaknya ke mana. Pokoknya untuk hari ini, your wish is my command, deh.” Mata Kris berbinar.

“Waaah, lo mau jadi jin lampu aladin buat gue? Serius, lo? Apapun yang gue mau?” percikan ide jahil muncul di benaknya. Membuatnya menyeringai licik.

“Yah! Seringaimu mencurigakan! Lo jangan mikir buat ngerjain gue, ya! awas aja, ntar,” ancam kris.

Yue Fan tergelak. Ia tertawa hingga matanya menyipit. Ia tertawa lebar tanpa berencana untuk menutup mulutnya.

“Aiisshhh! Penampilan bagai seorang puteri, tapi ngakaknya kayak kuli!” dengus Kris yang segera menerima pukulan di bahunya.

“Sial!” maki Yue Fan.

“Abis, lo nggak ada jaim-jaimnya, sih. Di mana-mana, yang namanya cewek itu selalu jaga image pada saat kencan pertama. Nah, lo? Nyablak sana-sini tanpa ada niatan buat tampil lebih sopan dan kalem, ckckckck. Cewek jaman sekarang emang rada-rada aneh,”

“Wu Yi Fan… udah ada orang yang bilang kalau lo bawel  banget belum?” balas Yue Fan sedatar mungkin. Tapi ia tersenyum. Senyuman sok polos. Kris terbahak-bahak mendengar pertanyaan Yue Fan.

“Gue, kan, leader. Ya wajar lah kalau gue bawel.” Ujarnya membela diri.

“Suho juga leader tapi dia nggak bawel kayak lo. Udah gitu, Suho itu murah senyum, sabar…” Yue Fan mengabsen semua sifat baik Suho.

“Lo pacaran ama Suho aja, gih!” sembur Kris kesal.

“Hahaha… cemburu, ya?”

“Nggak!”

“Ah, iya,”

“Nggak!”

“Ah, maca ciii?”

“Berisik! Gue lagi nyetir, nih!” wajahnya semerah tomat.

“Biarpun Suho punya segudang senyum, tapi aku lebih suka senyumnya seorang duizhang paling keren yang pernah aku kenal.” Ucap Yue Fan seraya tersenyum pada Kris.

Kris menoleh dan menjulurkan lidahnya ke arah Yue Fan, “Ngejatuhin dulu terus dinaikin lagi. Plin-plan!”

“Heh! Siapa yang naikin lo? Enak aja!”

“Woy, bukan itu maksudnya, tolol!” wajah Kris makin merah.

“Lo cowok macam apaan ngatain seorang cewek cantik, manis, imut nan menawan ini tolol?!” dengan gemas Yue Fan memukuli lengan Kris.

Setelah Kris beberapa kali minta maaf sambil memekik kesakitan, Yue Fan pun melepaskan cowok itu.

“Duizhang.”

“Ya, Fan?”

“Lapar…”

“Makan, dong,” Kris menerima tatapan paling datar yang pernah Yue Fan lontarkan padanya. “sorry. Gue becanda, Fan. Jangan ngambek gitu, ah. Kelamaan ama Ran, sih, jadi ketularan sifat buruknya. Ini gue lagi nyari tempat yang enak buat makan. Lo mau makan apa, cantik?”

“Nggak usah ngerayu! Gue pengin makan donat atau bacon sandwich.”

“Hah?! Mau makan D.O ama Baekhyun? Jangan, dong! Ntar EXO kekurangan lead vocal-nya lho.”

“Lucu, ya? Ha ha ha!” ala Squidword.

“Ih, judes banget, sih, jadi cewek?”

“Kayak lo nggak judes ini!” balasnya. Kris hanya menghela nafas.

“Nah, itu tempatnya. Gue demen banget makan di sini. Tao juga suka banget makan di sini, Fan,”

“Hmm… perasaan Tao itu dibawa ke mana aja tetap bakal makan. Dia itu pemakan segala. Hehehe,”

“Jangan ledek Tao!”

“Kenyataan, kok.”

“Tapi tetap jangan ledekin dia. perasaannya terlalu sensitif, ntar dia mewek, ujung-ujungnya gue yang repot ngerayu dia buat diam, daaaan… duit gue melayang buat sebuah tas Gucci keluaran terbaru.”

“Siapa suruh manjain dia? Nah, kalau gue ngambek terus nangis-nangis, apa lo bakal beliin gue tas Gucci?”

“Nggak!”

Why not?”

“Gue cukup cium lo aja, dan lo pasti bakal diam dan nggak ngambek lagi, hahaha.”

“Kepedean, sih, jadi orang?” ia melengos dan tiba-tiba barisan pepohonan di sisi jalan raya tampak begitu menarik baginya. Yue Fan mengulum senyum. Hatinya menari saat Kris mengucapkan kalimat itu.

Kris tersenyum dan memarkir mobilnya. Ia turun dan Yue Fan menyusulnya.

Mereka memasuki kedai itu. Aroma coffee latte menyambut dua orang itu. Seorang waiter menyilakan mereka duduk di salah satu meja dekat jendela.

“P-pesan apa?” tanya waiter gugup. Rupanya ia mengenali leader EXO-M itu.

Black coffee satu, cheese sandwich satu. Lo pesan apa, Fan?” Kris menyerahkan daftar menu ke Yue Fan. Dan gadis itu meneliti menu yang tercantum.

“Umm… aku pesan coffee latte extra creamy sama beef bacon sandwich with extra barbeque sauce”

Dan waiter itu mencatat semua pesanan lalu membungkuk sopan sebelum berbalik menyerahkan kertas pesanan ke rekannya.

“Lo sukanya yang extra-extra, ya?” celetuknya sambil mengusap-usap dagunya.

I’m starving, if you wanna know!”

Nope! You’re greedy.” Ledek Kris.

Shush, will you?” semburnya.

“Hahaha… you know what? You’re really cute when you’re pouting. You looked so squishy I helplessly want to pinch you.” Katanya sambil menggigit bibir bawahnya dan menatap Yue Fan dengan jahil.

“Huh! Bite me!” dengus Yue Fan dan memutar bola matanya.

Kris mulai mengobrol tentang banyak hal, dan yang paling membuat Yue Fan tertarik adalah cerita saat dirinya masih tinggal di Kanada.

“Eh, lo masih suka kontak-kontakan ama teman lo dulu, nggak?” tanyanya dengan tangan menopang dagu. Matanya berkedip-kedip menanti jawaban Kris.

“Hmm… nggak, tuh. Gue nelepon emak gue aja jarang, apalagi teman-teman jadul gue. Tapi kayaknya mereka tahu kondisi gue sekarang,”

“Pasti mereka bangga. Salah satu teman mereka jadi artis terkenal. Wah, coba gue bisa satu sekolah ama lo, pasti asik.”

“Lo nggak perlu satu sekolah ama gue. Bukannya sekarang lo lagi jalan ama gue? Dong-dong kok dipelihara!” Kris mengetuk-ketuk dahinya dengan gemas.

“Ini pesanannya. Selamat menikmati,” waiter yang tadi, meletakkan dua cangkir kopi dan dua piring berisi sandwich di atas meja. Kris dan Yue Fan mengucapkan terima kasih dan mulai melahap pesanan mereka.

Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara kunyahan mereka yang mendominasi. Sesekali Kris menyesap kopinya, melirik Yue Fan yang sedang konsentrasi melahap sandwich isi daging asap miliknya, dan sudut bibirnya pun terangkat.

“Lo cewek apa bukan, sih?” tanyanya tiba-tiba. Yue Fan yang sedang menggigit rotinya, berhenti, bagai adegan film yang di pause. Tangannya masih berada di depan mulutnya. Matanya terbelalak menatap Kris.

“Mhakhshugnya?”

“Makan tapi blepotan. Tuh, saosnya netes ke dagu. Ceroboh banget! lo sebelas-dua belas ama Tao! Nih, dilap!” ia menarik selembar tisu dari kotak di depannya dan menyodorkannya ke Yue Fan. Gadis itu mengusap saus yang mengotori dagunya dan melanjutkan makannya seolah tak terjadi apa-apa.

Benar-benar nggak ada jaimnya sama sekali.

Gumam Kris dalam hati.

Setelah sarapan, Kris dan Yue Fan kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

“Duizhang…”

“Yup?”

“Nonton yuk.” Ajaknya

“Males, ah!”

“Kan, lo suka nonton film juga, siiiih. Ayo, doooong, Duzihang Kris,” rengeknya.

“Nonton apaan? Memangnya ada film bagus?” ia tampak kurang tertarik.

“Ya, mampir aja dulu, kan, nggak ada ruginya, Kris. Bukannya lo tadi bilang kalau  my wish is your command?”

Kris menghela nafas panjang, “Well, as you wish, Princess!” dan Kris pun pasrah. Ia sudah berjanji akan menuruti apapun keinginan Yue Fan.

Akhirnya Kris mencari bioskop terdekat dan memarkir mobilnya. Ia bersama Yue Fan meneliti tiap poster film yang sedang tayang.

“Gimana? Mau nonton yang apa?” tanya Kris tak sabar.

“Filmnya nggak asik semua. Apa itu? Mama Minta Pulsa, Kalo Nggak Dikasih Mama Minta Nyawa? Hahaha, ajak Tao nonton ini aja. Mending kita ke toko buku aja, deh. Aku mau beli komik Topeng Kaca volume 22, 23, 24. Udah ketinggalan jauh nih, aku.” tukasnya seraya menarik tangan Kris dan mengajaknya keluar bioskop. Kris merasakan tatapan dari orang-orang di tempat itu. Bahkan ia mendengar bunyi ceklak-ceklik dari ponsel maupun kamera pengunjung bioskop.

Kris hanya berdoa semoga manajer tak membunuhnya.

Dengan mobil hitamnya, Kris mengantarkan Yue Fan ke toko buku terbesar di kota itu. Segera saja Yue Fan menuju rak komik, dan dengan teliti mencari komik yang diincarnya. Untuk mempersingkat waktu, Kris berusaha membantunya mencari komik yang dimaksud.

“Fan, yang  ini bukan?” tanyanya sambil mengacungkan tiga buah komik tebal. Mata Yue Fan berbinar-binar, dan mengangguk antusias. Ia berterima kasih pada Kris.

“Mau beli buku yang lain, nggak?”

“Hmm… kalau buku ‘How to Make Our Duizhang Smile More Often’ ada, nggak?”

“Lo aja yang bikin, ntar gue bantuin lo nyari penerbit yang bagus.” Wajahnya datar tanpa antusiasme saat mengucapkan kalimat itu.

“Hehehe… atau gue ngarang ini aja, ‘How to Erase The Bitch-Face From The Duizhang’. Hahahaha.”

“Lo pengin liat gue cengengesan mulu kayak Chanyeol, ya?” sembur Kris gemas.

“Hahaha… one Chanyeol is more than enough, I guess. Jadi lo stick with your bitch-face, deh. Hehehehe,”

Setelah sesi ejek mengejek usai, Kris yang sudah membayar komik yang Yue Fan pilih, mengajak Yue Fan ke tempat lain.

“Kita ke mana lagi, nih?”

“Hmm… bingung…”

“Lo paling pengin ke mana? Tempat yang pengin banget lo datengin, deh,”

“Perancis. Terutama Paris.”

“Buseeet! Jauh amat! Maksud gue, tuh, yang dekat-dekat sini aja. Tapi kenapa lo pengin banget ke Paris?”

“Pertama, gue pengin banget liat menara Eiffel dari dekat…”

“Lo liat gue aja kerepotan apalagi liat menara setinggi itu, hahaha.” Serobot Kris seenaknya. Membuat Yue Fan memaki pelan dan menepuk keras paha Kris.

“Sial anda! Yang kedua, gue penasaran ama museum Louvre. Gara-gara nonton The Da Vinci Code, gue jadi tertarik buat ke museum itu. Mau kangen-kangenan ama Madame Monalisa. Hehehe. Gue mau berdiri di depan lukisannya, terus gue mau bilang… ehem, ehem… bonjour, Mademoiselle.”

“Emangnya lo bisa bahasa perancis? Sok banget, deh. Lagian Monalisa bukannya dari Itali, ya?” Kris berucap disela cekikikannya.

“Dikit, sih. Ya, kan, Monalisanya udah lama di perancis, gimana sih, lo?”

“ Hahahaha”

“Terus aja ngakak. Dasar leader aneh. Lo bisa bahasa perancis?”

“Bisa, dikit doang, sih. Dulu sempat diajarin di sekolah.”

“Coba gue tes,” tantang Yue Fan.

“Siapa takut!”

Tu la trouve bien, ma nouvelle robe?” ucapnya dengan artikulasi yang cukup bagus. Kris menggumamkan ‘wow’ tanpa suara.

Oui,” jawab Kris.

“Lo paham apa yang gue bilang?”

“Nggak. Gue cuma iya-iya aja, deh. Hehehe.” Yue Fan mencubit lengan Kris dengan gemas.

“Itu artinya, apa pendapatmu tentang gaun baruku ini.”

“Gue taunya cuma J’et aime, doang.”

Yue Fan melirik Kris sinis, dan melanjutkan obrolannya. “Alasan ketiga kenapa gue pengin ke Paris adalah… gue mau ngeborong parfum. Terus makan roti yang terkenal enaknya. Hehehehe.”

“Lo benar-benar cewek paling nggak romantis yang pernah gue kenal. Di mana-mana, cewek minta ke Paris, tuh, dengan alasan tempatnya yang romantis. Nah, lo malah ke museum liatin barang budug peninggalan masa lampau. Terus mau ngeborong parfum. Kayak di sini nggak ada yang jual parfum wangi. Terus makan roti. Haddeh, ngapain jauh-jauh ke Paris kalau cuma mau numpang makan roti doang?” cerocos Kris tanpa henti.

“Lo lagi nge-rap buat lagu baru ya, Kris?”

“Bodo!”

“Eh, Kriiiiiiiiissssss!” Yue Fan mencengkram lengan Kris dan menunjuk ke sebelah kiri Kris, ke luar jendela mobil.

“Hei, hati-hati, dodol! Jangan asal teriak gitu! Apaan, sih?” gerutu Kris.

“Kita main ke sana, yuk!”

Kris menoleh ke kiri dan melihat sebuah bianglala raksasa menjulang tinggi.

Amusement park? Are you sure?” Yue Fan ngangguk semangat. “So the amusement park it is. Let’s go!” ia menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobilnya.

^^^

Baekhyun dan D.O gerah melihat Chanyeol mondar-mandir di depan mereka sejak setengah jam yang lalu. Mereka sudah berkali-kali menyuruhnya duduk dan diam. Tapi, cowok bertubuh tinggi itu tak menggubris dua sahabat dekatnya itu.

“Chanyeol! Lo kalau nggak berhenti saat ini juga, siap-siap gue timpuk pake talenan!” pekik D.O tak sabar.

“Jangan! Tapi timpuk pakai panci presto aja, Kyungsoo,” usul Baekhyun, yang menerima tatapan membara dari Chanyeol.

“Panci presto mahal. Talenan, kan, murah meriah,” bisik D.O

“Sekalian aja sedapur lo timpukin ke muka tampan gue, Kyungsoo!” sentaknya, lalu ia menatap Baekhyun dengan pandangan terluka dan kecewa, agak lebay, sih, “Dan lo, Baek. Lo yang ngaku-ngaku sobat gue, bisa tega ngusulin Kyungsoo buat nimpuk gue pake panci presto yang biasa dibuat masak bandeng presto favorit gue? Tega, lo, Baek. Tega! Dan lagi, lo bukannya nyari tau penyebab gue gelisah begini, eh malah ngomporin si bibir boros! Kejam lo, Baek.”

“Yak, si drama queen –eh, king, beraksi.” Kai menggumam ketika melewati Chanyeol.

“Diam lo tukang buka baju di mana saja!” semburnya kepada Kai, yang sedang bertelanjang dada. Memamerkan kulit kecoklatannya yang eksotis nan seksi.

“Ada apa lagi, sih? Kalian pada nggak liat kalau aku lagi latihan nyanyi?” protes seorang cowok dengan wajah yang seolah selalu tersenyum.

“Chen, kita semua tau kalau lo lagi latihan nyanyi.” Balas Kai dengan malas.

“Lalu, kenapa masih pada berisik?” tanya Chen.

“Karena lo dari tadi nyanyi potong baebaek angsa nggak kelar-kelar. Sorong ke kiri, sorong ke kanan mulu. Kapan maju ke depannya?”

“Bibirmu yang maju, Kai. Udah, ah, aku mau latihan di kamar aja!” Chen ngambek dan masuk kamarnya yang ia pakai berdua leader EXO-M, Kris.

Xiumin dan Luhan yang baru kembali dari bermain bola di lapangan belakang dorm heran melihat Chen marah-marah sebelum akhirnya membanting pintu kamar sekeras-kerasnya.

“Pasti Kai gangguin Chen-Chenku lagi, kan?” Xiumin maju mendekati Kai. Tangannya bertengger di pinggangnya. Mata sipitnya menatap Kai.

“Nggak, kok. Yang bikin Chen marah itu gara-gara Chanyeol berisik. Lo tau sendiri gimana gedenya suara Chanyeol.” Bantahnya dengan tampang tanpa dosa.

“Enak aja! Kai yang usil ngatain gue. Xiumin, lo tendang Kai, aja. Dia yang ganguin gue!” seru Chanyeol dengan suara beratnya.

“Suho mana?” tanya Xiumin sambil memijat pelipisnya yang berdenyut karena menghadapi Kai dan Chanyeol. Xiumin khawatir ia akan cepat tua bila berlama-lama bersama Kai dan Chanyeol.

“Aku di sini, Min Seok. Ada apa lagi ini? Setiap aku tinggal sebentar aja, selalu ada yang ribut terus berantem. Capek dengarnya. Si duizhang mana? Harusnya dia udah pulang.” Sahut Suho yang baru keluar dari kamarnya. Rambutnya agak berantakan, rupanya ia baru bangun tidur.

“Kris belum pulang. Ini barusan Chen berantem sama Kai. Tapi Kai bilang kalau Chanyeol yang berisik. Terus Chanyeol bilang, Kai yang usil duluan. Pusing aku ngurusin anak-anak EXO-K. Liat kita, dong. EXO-M, saling menyayangi, akur, pengertian. Jadi nggak berantem melulu kayak kalian.” Jelas Xiumin.

“Hei, hei, hei… Xiumin… ingat… WE ARE ONE!” Luhan mengingatkan dengan gaya resmi EXO saat memperkenalkan diri.

“Sorry. Aku khilaf. Ya, mau gimana-gimana juga, kita tetap satu. Suho, aku ke dalam dulu, daripada makin pusing dan ngomongnya kacau lagi.” Suho tersenyum dan menepuk pipi Xiumin.

Suho menghampiri Chanyeol dan mendongak menatapnya. “Kita ngomong di kamarku!” perintahnya.

Chanyeol mengikuti Suho masuk ke kamarnya. Lalu ia duduk di ranjang yang biasa ditiduri Sehun. Bocah itu sedang berbelanja dengan Tao. Mereka hendak mencari kado untuk Yue Fan.

“Kamu bikin ribut apa lagi sama Kai, hmm?” suara lembutnya menyejukkan hati Chanyeol yang sedang gundah gulana (?)

Chanyeol menarik nafas dalam sebelum memulai penuturannya, “Gue…  gue…”

“Kamu kepikiran Yue Fan yang lagi jalan bareng Kris, kan?” tebakan Suho membuat Chanyeol tersentak. “Aku terlalu kenal kamu, Yeollie~ah. Kadang kamu nggak perlu ngomong apapun juga, aku sudah bisa tau apa yang kamu pikirin dan rasain.” Ia tersenyum penuh sayang.

“Lo memang kakak terbaik gue, Joon Myun. Iya, gue kepikiran dia. Meski gue udah berusaha lupain perasaan gue ke dia, tapi nggak semudah itu dengan adanya dia di sini. Suaranya, harum parfumnya, bahkan suara langkah kakinya udah bikin jantung gue berdetak dua kali lebih cepat. Mana bisa gue lupain rasa suka gue ke dia, coba?”

“Jadi kamu berharap Yue Fan pergi dari sini? Kalau iya, aku bisa bicara baik-baik sama dia. Aku yakin dia bakal ngerti.”

“Jangaaaan! Biar dia tetap di sini. Nggak apa-apa, kok, selama gue nggak liat dia ciuman ama Kris aja, sih. Nggak ikhlas gue kalau masalah itu.” tanpa ia sadari, Chanyeol menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya.

“Hahahaha, Chanyeol, Chanyeol. Ada-ada aja. Sekarang gini aja, kamu siapin kado buat Yue Fan, jadi ntar pas dia pulang, kamu kasih ke dia. Oke? Aku mau keluar sama manajer sebentar. Jangan nyari ribut sama Kai lagi! Aku pergi dulu, ya, Yeollie,”

Dan Chanyeol merebahkan tubuhnya di atas ranjang Sehun dan memejamkan matanya. Membiarkan dirinya dibuai semilir angin yang berhembus melalui jendela, dan membuatnya terlelap.

^^^

Sementara itu  di taman hiburan, Yue Fan menyeret Kris ke hampir tiap wahana yang dilihatnya.

“Kriiiiis. Naik giant cup yuk,”

“Ogah, ah. Itu bikin mual!”

“Gue udah sedia kresek, nih,” ujarnya sambil menunjuk tas mungilnya.

“Ugh…” Kris menggeram dan mengikuti Yue Fan menuju wahana itu.

Lalu dengan wajah masam, ia duduk di sebuah cangkir raksasa dengan Yue Fan menyeringai jahil di depannya.

Perlahan cangkir itu berputar, makin lama makin cepat membuat kepala Kris berkunang-kunang. Yue Fan mencengkram tangan Kris, begitupula dengan Kris. Ia mencengkram tangan Yue Fan, wajahnya tampak pucat. Ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya ketika putaran cangkir itu makin kencang. Kris menahan gejolak perutnya agar jangan sampai memuntahkan sandwich keju yang dilahapnya tadi.

Entah berapa menit cangkir itu berputar, bagi Kris seolah berjam-jam lamanya. Ia mendengar suara teriakan girang Yue Fan. Dan dalam hati ia memaki dirinya karena telah mengucap janji akan menuruti semua permintaan Yue Fan.

Setelah penantian bagai tanpa akhir itu, Kris bernafas lega saat putaran cangkir melambat dan akhirnya berhenti.

“Wah, asik banget. Bikin pusing, tapi seru, ya.” pekik Yue Fan, “Lho, Kris? Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya saat melihat wajah Kris yang pucat pasi dan matanya yang berair.

“Gue nggak ap… hmmppphh.” Dan Kris pun mencari toilet terdekat.

“Ini minum dulu,” Yue Fan membelikan Kris sebotol air mineral. Dan dengan berjinjit, ia mengusap sudut bibir Kris dengan tisu.

Thanks. Gue tadi mual banget. Tolong jangan paksa gue naik permainan sialan itu lagi,” ucapnya setelah meminum air. Yue Fan mengangguk.

“Kriiiiiisssss….”

“Apa lagi?”

“Naik roller-coaster, yuk,” ajaknya

What? Are you out of your mind? You want me to ride that terrifying thing? Not a chance!” pekiknya dengan mata terbelalak sambil menunjuk kereta yang meliuk-liuk di atas.

Stop whining, Kris! So embarassing!” tegur Yue Fan. Tak lupa ia memukul lengan Kris.

Kris memaksa Yue Fan menaiki wahana lain. Tapi, lagi-lagi Yue Fan memilih wahana yang mampu membuat perut terasa mual. Kris menolak. Yue Fan bersikeras.

Ia pun menggunakan kartu mati Kris. Yaitu janji cowok itu untuk menuruti apapun keinginannya. Kris ingin menjerit sekerasnya ketika bokongnya menduduki kursi roller-coaster dan pengamannya menahan tubuhnya di kereta itu.

“Kris, yang tabah, yah, hehehe.” Ujar Yue Fan usil.

“Yue Fan, gue boleh gigit lo, nggak?” geramnya dengan jengkel, membuat Yue Fan terbahak dan mendorong bahu Kris.

Roller-coaster itu pun mulai berjalan, merambat naik perlahan, Kris mencengkram pegangan di depannya. Bibirnya bergerak-gerak. Rupanya ia sedang berdoa. Lalu ketika kereta itu sampai ke puncak rel, Kris menarik nafas dalam-dalam, kereta pun meluncur, menukik tajam dengan kecepatan penuh. Kris tak mengenali suaranya sendiri. Ia berteriak sepenuh hati, jiwa dan raganya. Suaranya berubah nyaring dan melengking. Ia menjerit tanpa henti di tiap belokan, liukan dan luncuran kereta roller-coaster itu. Yue Fan ikut menjerit, tapi dengan gembira. Berbeda dengan Kris yang ketakutan. Dan yang membuat Yue Fan sempat tercengang sesaat sebelum menukik lagi adalah pekikan Kris,

“Untung gue suka lo, Yue Fan. Kalau nggak, pasti lo udah gue lempar dari atas sini…. AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” dan teriakan berisiknya mengisi telinga Yue Fan. Berdengung-dengung. Dan jantung Yue Fan makin berpacu.

Wahana menyeramkan itu pun berhenti. Kris dan Yue Fan turun. Lutut Kris bergetar hebat. Matanya nyalang menatap Yue Fan yang terkikik melihat wujudnya yang kacau. Rambut berdiri, wajah pucat, pipi basah oleh air mata.

“Kris… lo marah, ya?” tanya Yue Fan hati-hati saat melihat wajah Kris yang cemberut.

“Menurut lo?”

“Jangan marah, dong. Kan, kita mau senang-senang.” Kata Yue Fan seraya memegang tangan Kris.

“Senang-senang jidatmu, Fan! Gue nggak suka main kayak gituan. Sekarang giliran lo nurutin gue!” tegas Kris.

“Oke, deh. Lo mau main apaan?” Yue Fan menelengkan kepalanya ke kiri, menunggu Kris yang sedang serius berpikir.

“Bom-bom car!” tukasnya.

“Hmm… oke! Satu lawan satu!” Yue Fan menantang Kris. Cowok itu tersenyum senang, lalu berdua menuju loket bom-bom car.

“Gue yang mobil merah, Kris!” seru Yue Fan.

“Nggak! Gue yang mobil merah. Lo yang ijo aja!”

“Ogaaah! Gue nggak suka warna ijo! Lo aja yang warna ijo!”

“Lo aja!”

“Nggak mau! Lo aja yang ijo!” balas Yue Fan tak mau kalah.

“Heh, kalian mau naik nggak, sih? Ini orang-orang pada nunggu!” bentak seorang bapak yang sedang menaikkan anaknya ke mobil berwarna biru.

“Gue yang merah!” desis Yue Fan.

“Ugh! Oke. Kali ini gue ngalah!” geram Kris.

Lalu Yue Fan dan Kris menaiki mobil kecil masing-masing, dan aliran listrik dinyalakan. Mobil-mobil mulai berjalan dan saling menabrak. Kris dan Yue Fan terlihat sangat bersemangat menabrakkan mobil mereka. Yue Fan berkali-kali terdesak oleh mobil Kris, tubuhnya tersentak ke depan dan ke belakang tiap kali Kris menabraknya dengan keras.

“Tadi muntah-muntah, nangis-nangis, sekarang mau balas dendam ama gue, ya, Kris?” teriak Yue Fan gemas sambil menabrakkan mobilnya ke mobil hijau Kris yang norak.

“Iya! Lo tadi bikin gue tersiksa. Sekarang gue bales!” ia balik menabrak Yue Fan.

Beberapa menit berselang, mobil pun berhenti karena tak ada aliran listrik lagi. Semua orang keluar dari mobilnya dan melangkah meninggalkan tempat itu.

“Sumpah lo ganas banget, Kris. Sedendam itukah dirimu padaku?” canda Yue Fan.

“Hahaha… harusnya gue lebih sadis lagi, ya?! Ah, hausnya. Beli minum yuk.” Kris mengulurkan tangan kanannya, dan Yue Fan menyambutnya. Bergandengan tangan mereka pun menuju ke penjual minuman dingin. Kris membeli dua botol jus dingin dan berdua menenggaknya hingga tandas dalam sekali teguk.

“Kris, itu ada penjual es krim. Aku mau dong. Terus gimana kalau kita naik itu?”

“Oke. Kita bisa liat sunset dari atas. Nggak kerasa, ya, udah senja. Tapi masih ada enam jam lagi buat gue temenin lo hari ini.” Ujar Kris seraya berjalan menuju penjual es krim.

“Jadi misi lo buat nemenin gue sampe tengah malam, nih? Keren.” Yue Fan bertepuk tangan.

“Iya, kalau lo nggak keberatan. Gue, sih, mau aja, asalkan jangan disuruh naik yang aneh-aneh lagi.” Yue Fan mengacungkan dua jarinya membentuk tanda damai.

Kris dan Yue Fan memilih es krim yang mereka sukai, dan berjalan menuju bianglala raksasa.

Mereka menunggu beberapa menit sampai wahana itu berhenti dan beberapa orang turun. Lalu mereka naik dan pintu pun di tutup. Bianglala itu mulai bergerak pelan.

“Lo nggak takut naik ini, kan, Kris?” tanya Yue Fan sebelum menjilati es krim coklatnya yang bertabur choco-chip.

“Nggak. Gue paling suka naik ini. Eh, liat, itu dorm kita. Kai lagi telanjang dada ngedance sama Lay,” tunjuknya ke satu titik di bawah mereka.

“Ngaco! Itu bukan Kai ama Lay. Tapi itu mata D.O yang melotot, noh, keliatan sampai sini, kan?” ujarnya sok serius dengan menahan semburan tawanya.

“Lebih ngaco lagi kalau itu mah. Itu bukan D.O, tapi itu Chanyeol lagi manjat genteng buat ambil celana dalam Baekhyun yang di lemparnya ke atas.” sahutnya makin kacau. Kris menggigit bibir bawahnya untuk mencegahnya tertawa keras.

“Ngapain Yeol lempar celana dalamnya Baek ke genteng?” pura-pura penasaran.

“Menurut mitos, biar nggak turun hujan, sebaiknya lempar celana dalam ke atas genteng. Chanyeol dari kemarin pengen main layangan, tapi tiap siang hujan terus, jadilah dia nyoba mitos itu, dan ternyata hari ini nggak hujan kan?”

“Hujannya jijik ama celana dalamnya Baekhyun, kali, Kris?”

Kris dan Yue Fan bertatapan sejenak sebelum akhirnya mereka menyemburkan gelak tawa mereka.

Yue Fan tak mampu menahan air matanya. Ia tertawa sampai pipinya basah. Ternyata Kris juga sama, ia terbahak-bahak hingga berderai air mata.

“Ya, ampun. Gue nggak nyangka kalau ternyata lo bisa gokil juga, Kris.” Ucap Yue Fan setelah tawanya mereda.

“Gue bisa gini kalau udah ngerasa nyaman ama seseorang, Fan.” Ia tersenyum lembut dan tulus.

Yue Fan salah tingkah, ia menggigit es krimnya, “Ouch!”

“Kenapa, Fan?”

“Ngilu,”

“Lagian es krimnya lo gigit. Dijilat aja.”

“Iya. Gue tau.” Dan ia pun menjilati es krimnya yang hampir habis.

“Yue Fan, lihat, deh. Bagus banget warna langitnya.” Ia condongkan tubuhnya mendekati Yue Fan. Gadis itu tersipu saat merasakan hembusan nafas hangat Kris di pipinya. Lengan cowok itu merangkul bahunya. Ia hirup aroma parfum yang telah bercampur keringat akibat bermain seharian dengannya. Yue Fan menelan ludah dengan susah. Ia pun mengalihkan perhatiannya dari Kris dan menatap langit senja melalui kaca yang melingkupi mereka.

“Wah, bagus banget.” ungkapan tulus meluncur dari bibir Yue Fan.

Kris tersentak ketika menyadari betapa dekatnya ia dengan Yue Fan. Ia melirik gadis itu dan jantungnya berdegup kencang.

Sejurus kemudian, Kris duduk lagi di samping Yue Fan.

“Ehem… Fan,”

“Hmm?”

“Ugh… you got something here,” Kris menunjuk sudut bibirnya.

Here?” Yue Fan mengusap sudut bibirnya.

No… di sini..” dan ibu jarinya mengusap es krim  yang menempel di sudut bibir Yue Fan.

Tubuh Yue Fan menegang akibat sentuhan Kris. Ia refleks memundurkan tubuhnya. Namun lengan Kris memeluk pinggangnya.

“Yue Fan… kamu mau jadi pacarku?” bisik Kris hati-hati.

“Mmm… bukannya dari tadi kita lagi pacaran, ya?” tanyanya bodoh.

“Lho? Bukannya waktu itu lo bilang kalau lo belum nerima gue secara resmi? Gue kira lo masih mau mikir dulu, mau pilih gue atau Chanyeol.” Ia tampak bingung.

I chose you, you moron dragon!” ucapnya sambil terkekeh.

Really?” ia tak percaya

Yue Fan mengangguk sambil tersenyum.

“Berhubung kamu udah resmi jadi pacarku, can I kiss you, now?” pintanya

You dare to kiss me, then I’ll chop you dead!” balasnya dengan galak.

Go ahead and chop me, yang penting aku udah cium kamu,” dan dengan satu tarikan di pinggangnya, bibir Yue Fan menyentuh bibir Kris.

Mereka terdiam. Yue Fan secara refleks memeluk leher Kris dan memiringkan kepalanya. Kris memeluknya makin erat dan hanyut dalam ciuman itu.

Semburat senja telah menghilang tergusur gelapnya malam, dan digantikan kerlip ribuan lampu kota yang meriah.

Wahana yang dinaiki Kris dan Yue Fan berhenti, dan mereka pun turun. Wajah keduanya tampak merah.

Let’s have dinner,” Kris memecah kecanggungan di antara mereka.

“Oke. I’m starving to death,” Yue Fan menimpali.

Kris mengajak Yue Fan ke sebuah restoran yang cukup mewah dan memesan menu-menu yang istimewa.

Kali ini kesunyian menyelimuti mereka, hanya denting sendok dan garpu yang terdengar. Namun, mata kedua orang itu saling menatap dan bibir mereka menyunggingkan senyum. Kata-kata tak perlu diucapkan lagi. Karena mereka sudah tau isi hati masing-masing.

^^^

Nun jauh di sana, di dorm EXO, Suho terlihat mondar-mandir sambil melirik jam dinding berulang-ulang.

“Suho, bisa anteng nggak, sih?” sembur Kai yang sedang menonton acara komedi di tv.

“Kenapa Kris belum pulang, ya?” gumam Suho.

“Mereka check in di hotel, kali?” celetuk Lay dengan tampang polosnya. Ia sedang sibuk mencoba celananya yang sudah dijahit Xiumin dengan ber-split-ria.

“Heh, sembarangan!” Lay menerima lemparan sandal rumah dari Chanyeol yang sedang duduk di samping Baekhyun.

“Lu Lu, memangnya Krith pergi ke mana, thih? Aku udah beli kado buat Yue Fan. Udah nggak thabar pengen ngathih kadonya, nih,” rengek Sehun manja seraya menarik-narik lengan Luhan.

“Thabar, ya Thehun. Aiiiish! Sialan, kenapa aku jadi ketularan kamu, sih, Hun?” Luhan menjewer kuping Sehun pelan.

Tao tampak tenang. Dia sedang melahap semangkuk besar mie kuah buatan D.O.

Chen yang sempat ribut dengan Kai, kali ini sudah tenang, dan mulai menyanyikan lagu baru.

Menjelang tengah malam, Kris dan Yue Fan tiba di dorm. Suho tertidur di sofa karena terlalu lelah menunggu dua orang itu.

“Suho? Pindah ke kamar, ya?” Kris menepuk lembut pipi Suho.

Suho mengerjapkan matanya, menguap dan memandang Kris dan Yue Fan bergantian.

“Kalian dari mana aja, sih, jam segini baru pulang?” tanyanya dengan suara serak.

“Jalan-jalan. Makan-makan. Gitu, deh,” jawab Kris sambil membantu Suho bangun dari duduknya. Ia masih limbung dan belum betul-betul sadar dari tidurnya. Lalu ia memasuki kamarnya dan tidur di ranjangnya.

“Yue Fan, kamu tidur, ya sekarang,”

“Hmm… ya. Kamu juga.” Balasnya, “Duizhang…”

“Yes?”

Thank you for everything. I have a wonderfull day today.” Bisiknya.

I’m happy if you’re happy, Yue Fan. Good night,”

Good night, Kris,”

Yue Fan membuka pintu kamarnya dan masuk. Ketika pintu hampir menutup, Kris memanggilnya,

“Apa lagi, Kris?”

Kris mendekati pintu yang setengah terbuka, membungkuk dan mengecup dahi Yue Fan, “Sleep tight, Princess. And see you tomorrow,” dan ia pun berbalik dan memasuki kamarnya.

Yue Fan menutup pintu kamarnya, dan segera melompat ke kasurnya. Ia menutup wajahnya dengan bantal dan memekik histeris sambil menendang-nendang udara.

Wajahnya memanas saat mengingat ciumannya dengan Kris. Ia merasa malu, tapi mau. (hahaha)

Senyuman seolah tak bisa hilang dari wajah Yue Fan yang sekarang sudah terlelap.

Bagi Yue Fan, hari ini adalah hari terbaiknya. Ia merasa bersyukur bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama leader EXO-M yang sangat disukainya itu.

^^^

END OF SPECIAL EDITION

See you next time in another EXOPLANET series.

Advertisements