oOo

A/N : This is part two. Jangan lupa komennya, ya.

Selamat membaca

oOo

Tirai yang dibuka paksa, membuat pancaran mentari pagi menerobos masuk ke dalam kamar bernuansa ungu muda itu, dan menerpa sosok yang sedang bergelung di balik selimut.

“Lay! Bangun! Mau ikutan ngerjain adik kelas, nggak?” pekik Luhan, sahabat Lay, dan juga saingan Lay dalam memikat hati seorang Kris, si kapten tim voli dan ketua organisasi siswa.

“Kita bukan panitia, Lu Lu! Emangnya boleh ikutan ngerjain?” jawab Lay masih dengan suara mengantuknya. Matanya masih merah, dan rambutnya berantakan.

“Ayooooo! Nanti keburu mulai! Kayaknya seru banget lihat tampang-tampang culun kayak curut kedinginan, hahaha,”  Luhan berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Lay hanya menunduk dan kembali mendengkur pelan. Luhan menampar pelan pipi Lay demi mambuat cowok kelas XI itu bangun dan segera mandi.

Ini tahun ke dua Luhan dan Lay di sekolah menengah atas. Mereka bukan lagi anak kelas X yang masih takut dengan kakak kelas, atau menjauhi tempat-tempat tongkrongan kakak kelas. Mereka sekarang adalah kakak kelas. Dan mereka ingin menggunakan status baru mereka itu kepada adik-adik kelas yang baru.

Luhan menyeret paksa Lay dari ranjang nyamannya dan menuntunnya ke kamar mandi.

Luhan menyiapkan seragam Lay yang sudah disetrika rapi oleh pembantu rumah tangganya dan meletakkannya di atas ranjang.

Remaja itu tampak sibuk membenahi barang-barang Lay yang berserakan.

Si pemilik kamar itu keluar bersarungkan handuk. Tubuhnya putih bagai pualam, halus tanpa ada satu bercak pun. Luhan sama sekali tak merasa canggung dengan keadaan Lay yang setengah telanjang itu. Ia masih ingat ketika kelas satu SMP, mereka berenang di sungai tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka.

Mereka juga sering mandi bersama. Jadi tak ada yang menarik dari tubuh Lay di mata Luhan.

Bahkan seperti saat ini ketika Lay dengan santainya membuka handuknya dan memakai pakaiannya di depan Luhan yang duduk bertopang dagu sambil berbincang tentang rencana mereka mengerjai adik kelas mereka dengan berpura-pura menjadi panitia MOS (Masa Orientasi Siswa).

Dua pemuda itu bersepeda ke sekolah dan bertemu dengan beberapa teman sekelas mereka.

Mereka berdiri bersandarkan dinding dan mengamati barisan-barisan anak baru yang tampak mungil dan takut-takut.

“Muka kita dulu pasti kayak mereka gitu, deh. Ngenes banget. hehehe,” ujar Luhan teringat setahun lalu ketika mereka berharap bisa kembali ke masa SMP saja.

“Masih pengin balik ke masa-masa SMP, Lu Lu?” Lay menyikut Luhan dan mengedipkan sebelah matanya.

“Ogah! Kan, nggak ada Kris. Hehehe,”

“Tos!” Lay dan Luhan tertawa.

“Lay… Kris kayaknya nggak tertarik sama kita, deh. Ini udah setahun tapi dia sama sekali nggak gubris kita. Jangan-jangan dia udah punya pacar?” bisik Luhan dengan gaya pembawa acara gosip selebritis di tv.

“Eh, bisa jadi dia pacaran sama Kai!” celetuk Lay dengan mata terbelalak.

“Si item itu? Ah, nggak mungkin! Kai kayaknya lagi dekat sama Kyungsoo,” Luhan menyanggah pernyataan Lay.

“Ngaco! Aku malah dengarnya Kyungsoo lagi jalan ama Suho! Kamu dengarnya dari siapa?”

“Baekhyun. Kamu?”

“Chanyeol,”

Berdua berpandangan, menghela nafas dan memutuskan untuk tidak melanjutkan bahasan mereka tentang skandal Kai-Kyungsoo-Suho itu.

‘Kalian disuruh baris-berbaris begini biar kalian tahu apa yang namanya disiplin! Paham!’ dari tengah lapangan, Xiumin berseru. Ia salah satu panitia MOS.

‘Paham, Kaaaaak!’ sahut para siswa baru yang masih mengenakan seragam SMP.

Luhan menoleh ke arah barisan itu dan matanya silau oleh sosok anak laki-laki berkulit putih bagai susu. Dengan hidung mungil yang sempurna, bibir merah muda, dan ia segera luluh dan terpesona dengan mata bocah itu.

“Puji Tuhan… Lay… kamu lihat cowok yang berdiri di depan barisan nomor dua? Namanya… baca Lay namanya.” Luhan mendorong bahu Lay.

“Nggak pakai kacamata. Nggak jelas, Lu Lu.” Lay memicingkan matanya, berusaha membaca tulisan yang tertera di papan nama yang dikalungkan di dada bocah itu.

“Oh… Se… sialan, jangan gerak-gerak bisa nggak, sih, tuh bocah? … Se… Hun? Oh Sehun?”

“Iya, kayaknya. Namanya cute.”

“Seperti akuuuuuu…”

“Jijik!” Lay membekap wajah Luhan dengan tangannya.

Luhan tak berhenti mengawasi Sehun, siswa baru… adik kelasnya.

“Matanya tajam banget…  setajam pisau cukur papaku…” Luhan memuji remaja itu.

“Iya, kamu udah bilang itu seratus kali…” Lay mulai bosan dengan kicauan Luhan tentang betapa sempurnanya paras pemuda itu.

“Laaaay…. Demi Tuhan… itu tatapannya tajam banget, setajam…”

“Pisau cukur rambut ketek aku…” imbuh Lay tanpa intonasi.

Luhan menoleh dan membekap mulutnya untuk menahan tawa membahananya.

“Ngacooo! Masa ganteng-ganteng dikasih perumapaan pisau cukur ketek kamu? Dasar! Hehehe. Ah… Lay… Kris buat kamu semua, deh. Aku udah nemu target baru yang lebih muda, lebih segar dan lebih kece.”

“Main lempar-lempar Kris ke aku, ya kalau dia mau sama aku. Nah, kalau nggak? Terpaksa gigit kuku kaki Chanyeol, deh. Hhhh…” Lay mengeluh. Luhan melenguh karena melihat Oh Sehun, si target baru mengibaskan poninya dan menggigit bibir merahnya.

oOo

Tao sedang menyesap vanilla latte, dan Lay duduk di lantai sambil menggigit kukunya.

“Jadi… kamu seriusan suka, Kris? Apa istimewanya dia, sih? Perasaan dia biasa aja, cenderung jorok malah. Kalau tidur suka garuk-garuk ketek, udah gitu berisik banget, suka cuap-cuap nggak jelas. Aneh banget, deh,” kata Tao dengan bibir penuh busa minumannya.

Lay mendesah dan menyandarkan punggungnya ke kaki Tao. “Awalnya naksir-naksir doang, Tao, tapi… lama-lama kepikiran dia terus. Apalagi sekarang dia sering nyapa aku, kadang ngajak ngobrol agak lama. Tapi kayaknya dia nggak nganggep aku lebih dari seorang teman. Dia pernah cerita tentang orang yang dia suka, nggak?” ia mendongak untuk melihat wajah Tao yang datar-datar saja.

Lay merasakan sebuah tangan memainkan rambutnya, “Kris orangnya tertutup banget, Lay. Dia jarang cerita masalah-masalah pribadinya, terutama perasaan-perasaanya, jadi aku sama sekali nggak tahu dia suka siapa. Sorry, aku nggak bisa bantu banyak, Lay,”

Dada Lay terasa sesak. Ia tahu bahwa Tao tak mungkin menodong Kris dengan pertanyaan siapa yang sedang ia sukai. Sedangkan Lay mengharapkan perhatian Kris lebih dari apapun di dunia ini.

Perasaan sukanya berubah menjadi cinta seiring waktu berjalan.

Yang jadi masalah adalah, Lay terlalu malu untuk terang-terangan menunjukkan perasaannya. Ia hanya bisa menatap Kris dari kejauhan.

Cowok tampan itu begitu jauh tak terjangkau. Lay membenci dirinya yang pengecut dan kurang percaya diri jika berhadapan dengan Kris.

Lay agak iri dengan Luhan. Sahabatnya itu selalu mengikuti adik kelas mereka, Oh Sehun. Bocah pemalu yang begitu manis dan disukai kakak-kakak kelas perempuan. Meski Sehun masih malu-malu, tetapi bocah itu sudah sering mengobrol dan bercanda dengan Luhan.

Mereka memang terlihat menggemaskan, meskipun Luhan belum mengungkapkan rasa sukanya. Belum siap, katanya.

Lay ingin bisa seakrab itu dengan Kris. Cinta pertamanya. Tetapi pembawaan Kris yang sulit dijangkau karena sifat introvert-nya itulah yang membuat Lay sulit mendekatinya.

Hatinya perih tiap melihat Kris bisa akrab dengan Kai, Suho dan Chanyeol.

Ya, Chanyeol, sahabatnya sendiri, yang juga anggota tim voli kebanggaan sekolah.

Chanyeol, Kris dan Kai adalah trio pencetak skor tim sekolah mereka. Tim voli sekolah Lay sering memenangkan pertandingan voli antar sekolah menengah atas.

Maka bukanlah hal yang aneh jika Chanyeol begitu dekat dengan Kris.

Chanyeol tahu tentang perasaan cinta Lay terhadap Kris, dan ia sedang mengusahakan agar Kris menyadari bahwa ada seseorang yang mengharapkan perhatiannya.

.

.

.

.

“Setahun lebih, Baek, dan si dongo itu nggak nyadar kalau perhatianku ke dia itu lebih daripada ke yang lain. Kenapa dia nggak nyadar, sih, Baek?” Lay menyelonjorkan kakinya di atas paha Baekhyun yang duduk santai sambil mengemil kacang.

“Karena dia dongo.” Sahut Baekhyun tanpa memandang Lay. Ia sedang menatap layar tv yang menayangkan serial komedi kesukaan mereka berdua.

“Iya… dia dongo, dan bego, dan nggak peka. Tapi aku nggak bisa nyerah sekarang, Baek. Perasaanku makin kuat… Heh! Baekhyun! Dengerin curhatanku, dodol!” ia menyentakkan kakinya, membuat stoples berisi kacang yang dipeluk Baekhyun goyang dan menumpahkan isinya. Baekhyun melirik Lay tajam dan melempar wajah Lay dengan kacang yang sedang digenggamnya.

“Nyatain langsung ke dia apa susahnya, sih? Orang tipe Kris itu biasanya nggak peka, mereka nggak paham sama yang namanya sindiran. Mereka itu straight-forward people. Nggak mempan pakai bahasa kiasan, harus lugas dan to the point! Kris itu nggak kayak Suho! Kalau Suho dia peka banget, bahkan dari cara kamu natap dia, dia bisa tahu kalau kamu suka sama dia atau nggak.” Jelas Baekhyun dengan agak kesal, karena sikap Lay yang pengecut.

Suho?

Kenapa tiba-tiba Baekhyun membahas Suho si mantan ketua organisasi siswa yang terkenal kalem, lembut dan sabar itu?

Pertanyaan itu tiba-tiba menyeruak dari pikiran Lay. Tetapi ia sedang ingin fokus ke masalah ke-tidak-pekaan Kris.

oOo

Remaja berkulit putih itu duduk termangu di tepi jendela kelas yang menghadap ke taman berbunga. Sebelah kakinya menjuntai di sisi jendela, punggunya bersandar di kusen jendela. Hawa sejuk musim gugur menerpa wajah tampannya dan menyibak helai-helai poninya.

Beberapa dedaunan mulai berguguran diterpa angin lembut. Tetapi hati bocah itu terasa begitu hangat. Ia tersenyum lembut seraya menatap awan yang berarak melintasi birunya langit.

Perasaan apakah ini?

Mengapa jiwanya terasa nyaman dan tentram?

Karena diakah?

Mungkin…

Karena adanya orang berisik itu, jiwa Oh Sehun lebih hidup…

Dan bahagia…

oOo

Pemuda berwajah awet muda itu mondar-mandir di kamarnya yang tak terlalu luas itu. Sesekali ia tersandung tepi karpet, ia tampak sedang berdebat dengan seseorang.

“Baekki! Kamu lagi di mana, sih? Ke sini cepetan, bawa celana jeans barumu sama kemeja kotak-kotak birumu!” ia diam sejenak menunggu lawan bicara selesai menjawab, “Heh! Aku butuh outfit itu! Buruan ke sini, Baekhyun!”

Akhirnya ia menutup ponselnya dan masuk kamar mandi.

Tak lama Baekhyun datang sambil bersungut-sungut, ia melempar bungkusan ke arah Luhan yang hanya mengenakan boxer.

I love you, Baekhyun! You are my life savior!” seru Luhan menghambur ke arah Baekhyun.

“Whoaaaaaa… no hugging! I’m straight!” tangannya menahan dada Luhan agar cowok itu tak mendekat. “Mau ke mana, sih? Ribet banget.”

“Mau nonton Sehun rehearsal buat tampil besok,” jawabnya sambil mengancingkan celana jeans pinjamannya.

Baekhyun benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu. “Memangnya dia besok nampilin apa, Luhan?”

“Dance battle antara kelompok Sehun sama kelompoknya Yunho. Kelas X VS kelas XII.” Ungkap Luhan.

Baekhyun paham mengapa Luhan ingin menonton adik kelasnya melakukan persiapan untuk acara besok.

Klub dance memang termasuk salah satu klub yang keren. Beberapa siswa memiliki bakat dance yang luar biasa, sebut saja teman sekelas Sehun, Lee Taemin. Baru kelas X tetapi ia sudah mampu membuat semua orang terpukau dengan gerakan tubuhnya yang luwes mengikuti hentakan musik. Begitu juga Jung Yunho, senior mereka yang sudah mengikuti berbagai ajang kompetisi dan selalu memenangkan lomba-lomba itu. Lay dan Luhan juga ikut di klub dance, hanya saja Lay sedang terlalu sibuk memikirkan perasaannya terhadap Kris sehingga ia tak begitu peduli dengan kegiatan klub. Sedangkan Luhan justru makin semangat karena kehadiran Sehun di klub itu.

Luhan sudah siap dengan celana dan kemeja pinjamannya, dan ia menyeret Baekhyun keluar kamar, dan berdua menaiki sepeda mereka dan berangkat ke sekolah.

Di aula sekolah, Luhan dan Baekhyun duduk di kursi yang mereka comot dari sisi ruangan luas itu. Mata dan mulut Luhan terbuka lebar ketika melihat Sehun meliuk-liukkan tubuh kurusnya mengikuti musik hip-hop, meski ada Taemin dan Yunho dan beberapa gadis cantik semacam Hyohyeon dan Yuri maupun Luna dan Victoria, remaja itu sama sekali tidak melirik mereka. Di matanya hanya nampak Oh Sehun.

Dan begitulah Luhan benar-benar jatuh cinta pada seorang Sehun, adik kelasnya.

Apapun yang dilakukan Sehun maupun dikatakannya, selalu membuat Luhan makin terperosok.

Dan ia berharap Sehun juga menyukainya. Karena selama ini Sehun hanya bersikap sopan saja kepadanya. Hanya sebatas kakak kelas dan adik kelas.

Benarkah hanya sebatas itu?

Luhan memikirkan pertanyaan itu sepanjang hari.

oOo

Liburan kenaikan kelas sudah berakhir, satu tahun telah terlewati. Dan Lay, Luhan dan yang lainnya menjadi penghuni kelas XII. Luhan dan Tao mengambil jurusan IPA, sehingga harus berpisah dari Lay, Baekhyun dan Chanyeol yang memilih jurusan IPS. Dan Lay bersyukur karena memilih IPS dibanding IPA, karena ternyata Kris jadi sekelas dengannya di tahun terakhir mereka bersekolah.

Grogi. Itulah yang pertama dirasakan Lay saat melihat Kris duduk di bagian belakang kelas. Ia memang selalu duduk di bagian belakang karena tinggi badannya yang keterlaluan itu. Lay menjadi serba salah karena merasa bahwa bisa saja Kris sedang mengawasi sikapnya. Lay tak bisa sebebas dulu ketika belum sekelas dengan Kris. Ia akan cuek dan melucu, serta bersikap santai. Kali ini ia harus bisa menunjukan citra diri yang baik di hadapan Kris. Cowok yang masih disukainya hingga detik ini.

“Pssst… Yeollo! Tolong perhatiin Kris! Jangan sampai dia ngeliatin aku pas aku lagi ngupil atau apa. Ntar dia keburu ilfeel sama aku,” bisiknya pada Chanyeol yang baru saja hendak melewati mejanya.

Chanyeol yang berpostur tinggi itu juga duduk di belakang, bersebelahan dengan Kris.

“Siiiip! Serahin semuanya sama aku, Lay!” balas Chanyeol sebelum melanjutkan jalannya ke kursinya.

oOo

“Hey… lo udah ngerjain tugas Sosiologi?”

Lay tersentak saat orang yang selalu membuat jantungnya berdebar tak beraturan itu duduk di sampingnya.

Lay tak mampu mengucap apapun, ia hanya mengangguk dan menyodorkan buku tugas ke hadapan Kris.

Kris menggumam terima kasih, tetapi matanya menatap Lay, “You’re not a big talker, are you?”

Lay menggeleng, lalu mengangguk, lalu menggeleng lagi. Ia bingung.

Dan Kris tertawa renyah.

Sikap Kris begitu biasa terhadap Lay, sama seperti ia memperlakukan teman-teman sekelasnya, hanya saja Kris memang lebih akrab dengan Chanyeol dan Kai. Bertiga sering terlihat bersama.

Hati Lay bergejolak saat melihat bagaimana Kris merangkul Chanyeol atau mengacak rambut Kai. Ia cemburu ketika Kris dan Chanyeol berbisik-bisik saat pelajaran berlangsung. Meski Lay duduk di barisan ketiga, tetapi ia masih bisa menoleh sedikit dan melihat mereka.

“Wah, tulisan lo rapi banget, Lay. Bandingin, deh, ama tulisan gue. Hehehe,” Kris meledek tulisannya sendiri, yang menurut Lay itu adalah coretan anak umur satu tahun. Tapi mana mungkin ia berkata seperti itu?

Kris menyalin tugas Sosiologi itu di buku tulisnya, sambil terus mengoceh tentang banyak hal, Lay hanya mengangguk dan menimpali jika perlu.

Thanks. You saved my life,” Kris berdiri dan menepuk bahu Lay, kemudian ia meremasnya sedikit sebagai ungkapan terima kasihnya yang tulus.

Bunga-bunga musim semi seolah bermekaran di hati Lay. Pipinya merona dan jantungnya jungkir balik karena terlalu girang. Ia bahagia karena Kris menatapnya dan tersenyum hanya untuknya, ditambah lagi sentuhan tangan besarnya di bahunya.

Lay bahkan rela jika malaikat maut menjemputnya saat itu, sehingga ia bisa mati dalam keadaan bahagia.

Tapi kalau aku mati, kapan bisa ketemu Kris lagi? Nggak jadi mati, deh.

Batin Lay seraya menggelengkan kepalanya.

oOo

Lay menatap langit gelap di atasnya, bulan purnama bersinar begitu terang. Begitu indah menghias kelamnya langit malam. Malam itu begitu cerah, tak ada awan yang terlihat.

“Bulannya cantik banget, ya, Lu Lu? Tapi kalau kita ke sana langsung, kok, nggak bagus ya? Gersang, nggak ada apa-apanya. Kayak hatiku…”

Luhan terkekeh, “Such a drama queen..”

Lay menarik pelan rambut Luhan. Dua orang itu sedang telentang menatap langit malam. Mereka ingin menghabiskan malam itu menatap indahnya bulan puranama. Luhan merebahkan kepalanya di atas perut rata Lay, mereka tampak begitu tenang dan santai.

“Serius, Luhan… Sampai detik ini Kris sama sekali nggak ngasih perhatian lebih ke aku.” ia mengeluh pada sahabatnya.

Luhan bertanya kepadanya apakah Kris sama sekali tak melakukan interaksi apapun dengannya?

Lay menceritakan bahwa Kris sering mengajaknya mengobrol, dan pemuda tampan itu tak jarang meminjam buku Lay untuk menyalin tugas atau PR. Tapi hanya sekadar itu saja interaksi mereka. Tak pernah sekalipun Kris menanyakan hal-hal pribadi tentang Lay.

“Bukannya itu bukti nyata kalau dia nggak tertarik sama aku?” ujar Lay disela helaan berat nafasnya.

“Aku juga lagi bingung sama Sehun, Lay,” Luhan ikut mengeluh. Lay mengusap lembut rambut Luhan.

“Bukannya Sehun akrab sama kamu?”

Luhan menggeleng, membuat perut Lay tergelitik. “Dia cuma nganggep aku kakak kelas. Masa aku mau nekat nembak dia? Bisa-bisa dia malah ilfeel sama aku, atau malah jijik dan takut. Bisa jadi dia udah punya pacar, cewek pula. Toh, nggak semua cowok di sekolah kita suka sesama jenis, iya, kan? Mungkin Kris juga gitu, Lay.”

“Nasib kita sama-sama ngenes, ya, Lu Lu…. Cinta bertepuk sebelah tangan memang bikin enek.”

Luhan mengiyakan dan mereka menghela nafas berat dan kembali mengagumi keindahan bulan.

oOo

Lelah…

Itulah yang dirasakan Lay dan Luhan. Bukan hanya belajar mati-matian demi menghadapi ujian akhir, mereka juga menahan sakitnya cinta yang tak sampai. Lelah fisik dan batin sedang menyerang mereka. Membuat tubuh mereka kehilangan beberapa kilogram berat badan.

Galau ujian dan galau cinta. Dua penyakit pemicu stress bagi dua remaja delapan belas tahun itu.

Baekhyun dan Chanyeol akhirnya menyerah. Mereka tak lagi mengharapkan cinta dua gadis idaman mereka itu. Dua sahabat itu kalah cepat dari Minho si pangeran kelas XII IPS B, dan Changmin si jenius dari kelas XII IPA A.

Tao sama sekali tak peduli dengan urusan percintaan, dalam pikirannya hanya latihan, latihan dan makan. Belajar merupakan suatu kewajiban baginya, dan hal-hal yang berbau cinta-cintaan akan merusak hati dan pikirannya sehingga ia tak bisa berkonsentrasi.

.

.

.

.

Sewaktu istirahat, Lay duduk di tepi lapangan dengan buku sejarah yang sudah agak kumal, ia hanya menatap kosong ke arah beberapa adik kelasnya bermain bola di tengah lapangan. Sesekali angin menerbangkan debu yang membuat matanya kelilipan.

Ia mengucek matanya hingga memerah dan berair. Ia memaki pelan karena matanya terasa pedih.

“Nangis, ya?”

“Bisa nggak, sih, nggak muncul tiba-tiba terus asal ngomong?” sembur Lay gemas dengan kebiasaan Kris itu.

Selalu saja pemuda itu muncul tiba-tiba dan mengucapkan sesuatu yang akan membuat Lay terlonjak kaget.

“Mata lo merah banget, kelilipan, ya? Sini gue tiupin,” dan tanpa menunggu reaksi apapun dari Lay, Kris mendekatkan bibirnya dan meniup mata Lay.

“Udah?” tanyanya dengan tangan masih menangkup wajah Lay yang memerah.

Perlahan bagai robot, Lay mengangguk dan menggumam terima kasih.

“Aah… what a lovely day… kita udah hampir tiga tahun sekolah di sini. Kayaknya baru kemarin gue pindah ke sini, eh bentar lagi mau lulus terus balik lagi ke Kanada. Gue rencananya mau kuliah di sana, sih.” Kris menoleh ke arah Lay yang duduk tegak dengan kaki rapat. Ia terlihat tegang dan gugup. Namun, pernyataan Kris tentang rencananya kembali ke Kanada membuat batin Lay tersiksa.

Good luck, Kris. Umm… aku ke perpustakaan dulu, ya.” Lay berbalik dan berlari, tidak menghiraukan panggilan Kris. Air mata merebak, tetapi Lay mengusapnya dengan kasar.

Buat apa nangis, Lay? Kamu yang terlalu bego sampai jatuh cinta sama cowok nggak peka macam dia! Kamu yang tolol, Lay! Buang-buang waktumu demi cowok yang sama sekali nggak suka sama kamu! Tolol! Bodoh!

Lay memaki dirinya sendiri karena kebodohannya mencintai orang yang hanya menganggapnya teman sekelas. Itu saja.

Tetapi Lay tak bisa menipu hatinya, ia begitu mencintai Kris. Sangat mendambakannya.

oOo

Bulan berganti bulan, dan tibalah masa-masa ujian akhir. Luhan dan Lay sudah berusaha mengesampingkan urusan asmara mereka. Luhan telah menjauhi Sehun sejak dua bulan lalu, ia benar-benar menenggelamkan dirinya dalam tumpukan lembar soal latihan. Rumus-rumus fisika dan matematika ia hafalkan dan mengerjakan ratusan soal hingga benar-benar menguasainya. Ia juga meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya lewat kursus privat di rumahnya. Ia dan Lay hampir tiap malam selalu belajar bersama. Terkadang Tao juga ikut bergabung. Baekhyun masih tetap santai dalam menghadapi ujian kelulusan, tetapi sudah ada peningkatan. Chanyeol yang tampak agak tersandung dalam masalah nilai-nilai pelajarannya. Ia terlalu mementingkan tim voli dan klub theaternya.

Malam ini adalah malam terakhir Lay dan Luhan belajar bersama. Besok pagi adalah hari pertama ujian akhir. Dua cowok itu merasa percaya diri dapat mengerjakan sebagian besar soal-soal ujian, karena mereka sudah mengerahkan segalanya untuk belajar.

Mereka berusaha untuk bersantai dan me-refresh otak mereka yang lelah. Lay memutuskan untuk menonton film komedi.

Lima belas menit kemudian, film itu dianggurkan, dua pemuda itu sibuk membahas rencana pernyataan cinta mereka sebelum mereka meninggalkan sekolah mereka untuk selamanya.

“Nanti setelah pengumuman kelulusan, kamu nyatain perasaanmu ke Kris, dan aku nyatain ke Sehun. Urusan ditolak atau diterima itu resiko. Yang penting kita nanti nggak nyesel selamanya.”

“Tapi kalau ditolak, kan, nyesek juga, Luhan.”

Luhan mengerang kesal, “Bukannya nanti dia mau pindah ke Kanada? Kalian nggak akan ketemu lagi. Misal dia nolak kamu, ya udah, itu hak dia. Nah, gimana kalau ternyata dia nerima kamu? Hayo? Kita sama sekali nggak tahu tentang masa depan kita. Jadi yang penting kita usaha aja dulu. Setuju?” ia mencengkram bahu Lay dan menatapnya penuh harap.

Lay mengangguk dan tersenyum.

“Makasih support-nya, Lu Lu. You’re the best! Can I kiss you? Hehehe,”

Luhan bergidik, “Save it for Kris, aja!”

Ia terkekeh melihat Lay yang cemberut, lalu ia mendekat dan mengecup pipi sahabatnya itu.

“Itu ungkapan terima kasihku karena udah nemenin aku sampai sekarang. Aku nggak akan korbanin persahabatan kita ini demi apapun juga. I promise,” Luhan mengacungkan jari kelinkingnya dan disambut jari kelingking Lay. Dan mereka berjanji akan selalu bersahabat sampai kapanpun. Lay memeluk Luhan erat.

Bestfriends forever,” ucapnya setelah melepas pelukannya. Lalu mereka menonton film yang sudah berjalan lebih dari lima puluh menit itu.

oOo

Riuh rendah sorak sorai para siswa kelas XII saat melihat hasil pengumuman kelulusan mereka terdengar hingga ke kantor kepala sekolah. Angkatan tahun ini lulus 100 %, dan hal itu sunggu membanggakan. Acara coret-coret baju pun digelar. Para siswa yang lulus mencoret-coret dengan spidol warna warni, dan cat semprot aneka warna. Wajah-wajah mereka tampak begitu bahagia. Para guru hanya bisa mengelus dada.

Tapi jauh dari keriuhan itu tampak dua pemuda saling berhadapan di bawah pohon besar di belakang gedung utama sekolah.

“Umm… Lay, lo manggil gue ke sini buat tanya sesuatu sama lo. Gue harap lo jawab sejujurnya,” ujar Kris.

“Iya. Tanya aja,” balas Lay pura-pura santai. Padahal hatinya sudah tak karuan rasanya.

“Is there any feeling left in your heart for me, Lay?” tanya perlahan, kemudian menggigit bibir bawahnya dan menatap Lay penuh harap.

Lay menatap Kris tak percaya.

Ini mimpi.

Batin Lay.

“Lay?” desaknya.

“Maksudmu… kamu tau tentang…” kalimatnya menggantung di udara. Kris mengangguk dan tersenyum malu. “Kenapa nggak bilang? Dan dari kapan?” Lay harus tahu alasannya.

Kris tertawa canggung dan menggaruk kepalanya, “Honestly, I liked you since we had an eye contact while we played domino at Tao’s that day, remember? Awalnya gue memang udah penasaran sama lo karena senyuman lo itu manis banget. Tapi waktu lo nyoret muka gue pakai tepung dan wajah lo begitu dekat, dan mata kita bertatapan, saat itu gue nggak bisa singkirin lo dari benak dan hati gue.” Ungkapnya dengan pipi bersemu merah.

Seorang Kris bisa tersipu seperti itu adalah pemandangan langka, dan Lay beruntung bisa menjadi orang yang melihatnya langsung.

“Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku, Kris?” Lay merasa dikerjai.

“Karena waktu itu gue tau kalau Luhan juga suka gue. Dan gue tau dari Tao kalau lo berdua sahabat dekat. Gue sama sekali nggak tega kalau harus milih lo, sementara Luhan ngerasa dicampakkan, terus kalian berantem, tonjok-tonjokan sampai bonyok. Seriusan, gue kapok ngeliat kejadian kayak gitu. Dulu waktu gue di Kanada, teman gue nembak cewek, eh ternyata sahabat si cewek itu juga suka ama temen gue itu. Akhirnya dua cewek itu berantem di sampai cakar-cakaran dan masing-masing ngumbar aib temannya. Teman gue milih pindah dari sekolah itu dan gue nggak pernah ketemu dia lagi.” Baru kali ini Lay mendengar cerita dari kehidupan pribadi Kris. Dan ia makin yakin kalau Kris benar-benar menyukainya.

“Kris, aku sama Luhan bukan orang bego yang rela korbanin persahabatan demi ngerebutin seseorang. Aku sama dia bersaing secara sportif. Lagian Luhan sejak awal kelas dua udah jatuh cinta sama Sehun.” Sembur Lay kesal karena Kris menyamakan dirinya dengan gadis-gadis tolol itu.

“Buset! Gue buang-buang waktu dua tahun percuma, dong? Sial banget gue! Lagian lo, kan, cowok. Kenapa nggak nembak gue duluan, sih? Ah, nggak asik, lo! Sekarang gue bakal kuliah di Kanada. Kapan bisa ketemu lo lagi, Lay? Sia-sia semua penantian gue.” Kris terlihat kesal dan menendang batu kecil.

Mata Kris terbelalak kaget ketika ia merasakan sepasanga tangan memeluk lehernya dan sesuatu yang lembut dan hangat menekan bibirnya.

“Did… did you… just… kiss me?” tanyanya terbata-bata sambil menunjuk bibirnya.

Lay mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. “Aku nunggu terlalu lama, Kris.”

Kris menariknya mendekat dan menciumnya agak lama.

“Gue bahagia bisa sekelas sama lo, bisa duduk di barisan belakang adalah suatu anugerah buat gue. Karena gue bisa perhatiin tiap gerak gerik lo. Oh, ya, gue nggak akan lupa waktu lo pengin garuk-garuk pantat lo, tapi lo tau kalau gue bisa liat apa yang lo kerjain, jadi lo cuman bisa goyang-goyangin pantat di kursi. Sumpah, gue sampai ngeluarin air mata gara-gara nahan tawa. Dan Chanyeol udah remes-remes paha gue saking nggak kuat nahan ngakaknya. Hehehehe.” Ledek Kris, membuat Lay malu.

“Sialan! Buat aku duduk di depan itu suatu siksaan batin! Hehehe. Tapi kamu nggak punya ini, kan?” ujarnya seraya mengeluarkan ponselnya.

Lay menghadapkan layar ponselnya ke wajah Kris, dan seketika Kris berseru dan mengejar Lay yang sudah berlari menghindar.

“KENAPA FOTO MUKA GUE PENUH TEPUNG ITU MASIH ADA? DELETE THAT FUCKING UGLY PHOTO!!!!!!”

“NOT A CHANCE!!!! FOTO INI BAKAL AKU SIMPEN SELAMANYA!!!” balas Lay dari kejauhan.

Kris berhasil menangkap Lay, dan merebut ponselnya. Lalu ia menemukan foto nistanya itu dan menghapusnya.

“Hhh… hapus aja. Udah aku simpen di laptopku, kok. Malah tampilannya lebih besar. Hehehe,”

“Kutu kupret, lo!” umpatnya, tapi ia kemudian menarik tengkuk Lay dan membekap mulutnya dengan ciuman panjang yang ia impi-impikan sejak dua tahun lalu.

“Kris… aku sempat mau nyerah. Tapi hatiku nggak bisa. So I’m saving all my love for you. Ternyata nggak sia-sia penantianku selama ini. Thank you, Kris,” ucap Lay yang sedang berada dalam dekapan Kris.

oOo

Luhan menarik pergelangan tangan Sehun dan mengajaknya ke gudang sekolah. Letaknya di samping bangunan utama sekolah. Tempat itu memang hampir tak didatangi siswa maupun guru, sehingga strategis untuk tempat membolos atau hanya sekedar merokok bagi para siswa-siswa bengal.

Sehun menatap Luhan dengan bingung. Apa yang sedang direncanakan Luhan, ia benar-benar tak tahu.

Luhan berdiri canggung di depannya, tangannya terbenam dalam kantong celananya.

“Hmm… Se… Sehun… aku… aku mau bilang kalau aku… aku…”

“Kak Luhan… aku juga, Kak.” Sehun memotong ucapan Luhan.

Luhan mengernyit, “Kamu juga kenapa, Sehun?”

Sehun merasakan sensasi panas merambati wajahnya, “Sehun juga suka Kak Luhan…”

“Hah?” reaksi Luhan sunggu di luar dugaan Sehun.

“Bukannya Kak Luhan mau bilang kalau… Kakak suka sama aku?”

Sehun mulai merasakan himpitan di dadanya. Suasananya terasa berbeda, begitu mencekam dan menyesakkan. Ia mulai berpikir bahwa asumsinya kurang tepat.

“Aku suka sama kamu? Kata siapa?” Luhan balas bertanya, membuat Sehun makin hancur hatinya.

“Jadi… Kak Luhan nggak suka sama aku? Berarti… aku salah paham selama ini? Ya, Kak?” suaranya sudah tercekat seperti orang menahan tangis.

Luhan terkekeh dan mengibaskan tangannya, “Ya, jelas lah, aku memang nggak suka kamu Sehun.”

Hati Sehun sudah remuk redam. Matanya berkaca-kaca.

Ternyata ia salah mengartikan kebaikan Luhan, perhatiannya, kehadirannya di tiap ia latihan, kebersamaan mereka yang begitu ia sukai, semua itu hanya sikap Luhan sebagai kakak kelas yang baik. Sehun terlalu bodoh menganggap bahwa Luhan menyukainya. Ia memang terlalu polos.

“Ya, Sehun. Aku sama sekali nggak suka kamu!” imbuhnya dengan suara datar dan tegas,

Dan air mata Sehun menetes. Remaja kelas XI itu menggertakkan giginya, menahan isakannya di dalam tenggorokannya. Dadanya sesak, ia hampir tak sanggup bernafas.

“Tapi lebih dari itu, Sehun. Aku cinta kamu, dan kamu mungkin nggak akan bisa ukur seberapa dalamnya cintaku ke kamu ini.” Lanjutnya setelah meremukkan dan mematahkan hati bocah polos di depannya itu.

Sehun mengerjapkan matanya, membuat beberapa tetes air matanya mengalir menuruni pipi halusnya, “Kakak lagi ngerjain aku, kan? Kakak sama sekali nggak cinta aku, kan?”

Luhan tersenyum dan mendekati Sehun, mendongak sedikit dan menyapukan bibirnya ke bibir Sehun.

I love you, Sehun. Aku malah nyangkanya kamu yang nggak suka sama aku. Karena sikapmu sama yang lain juga sama. Makanya aku kaget tadi waktu kamu nyatain kalau kamu suka aku. Hehehe. Aku kerjain aja sekalian. Hehehe,”

Air mata Sehun mengalir lagi, dan Luhan bingung.

“Kenapa nangis lagi? Kan, aku udah bilang kalau aku cinta kamu,”

“Iya, tapi setelah ini kakak nggak ada di sekolah ini lagi. Pasti rasanya sepi nggak ada Kak Luhan.” ujarnya di sela isakannya.

Bocah itu memang lebih tinggi dari Luhan, tetapi jiwanya masih polos dan apa adanya. Dan Luhan mencintainya sepenuh hati. Ia bersyukur karena Sehun bersekolah di sekolah yang sama dengannya sehingga mereka bisa bertemu dna saling menyukai.

“Aku mau kuliah, kamu kelarin sekolahmu, lulus dengan nilai terbaik, nanti kamu susul aku ke universitas tempat aku kuliah.”

“Kalau misal nggak keterima di universitas Kakak, gimana?”

“Kamu masuk universitas manapun, nanti aku pindah. Dan setelah itu kita nggak boleh berpisah lagi. Janji?”

Wajah Sehun tampak cerah, “Janji!” dan mereka mengaitkan jari kelingking mereka.

“Dan, Sehun… just call me Luhan from now on. Aku sudah bukan kakak kelasmu lagi. Oke?” ia mengedipkan matanya.

“Oke, LUHAAAAAAN!!!!” seru Sehun di telinga Luhan. Dan bahu Sehun tak luput dari tonjokan pelan Luhan.

Dua pemuda itu berpelukan sekilas, lalu ikut bergabung lagi dengan teman-teman mereka. Di sana Luhan melihat Lay dan Kris bergandengan tangan dengan baju yang penuh coretan dan sorot mata mereka terlihat begitu bahagia.

Luhan tersenyum dan bersyukur, karena cinta mereka telah sampai dan dibalas oleh orang-orang yang mereka cintai.

Ternyata tidaklah sia-sia mereka menyimpan dan menjaga perasaan cinta mereka yang bertepuk sebelah tangan itu, karena pada akhirnya cinta tulus mereka terbalas.

THE END

A/N : HOREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE HAPPY ENDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGG!!!!!!

Aku cinta happy ending. Hehehe.

Ngebut banget aku nulis FF ini. Karena memang masih semangat. Dan kemarinnya habis ngobrol lama sama sahabatku, yang bikin aku teringat kisah masa SMP yang masih lugu haha.

Tapi kenyataannya, aku dan sahabatku nggak pernah jadian sama cowok itu.

Gerombolanku memang lima orang cewek, yang jadi Tao adalah sepupu cowok itu. Jadi awalnya aku nggak tau kalau ternyata kecenganku itu sepupunya sahabatku satu geng. Hahaha. Karena mukanya beda, hahaha yang cowok itu mukanya miriiiip banget sama Jimmy Lin, yang biasa main film bareng Bo Bo Ho itu lhooo.

Terus dua temenku setipe banget sama BaekYeol di sini, berisik, nggak demen belajar tapi seru. Dan aku sama sahabatku itu suka saling menistakan satu sama lain, persis LuLay pas ledek-ledekan. I MISS MY BESTFRIEND. HUEEEEEE.

 

Inti dari FF ini adalah, jangan sampai persahabatan rusak hanya karena seorang cowok. Coba kalo waktu itu aku berantem sama sahabatku? Dan ujung-ujungnya itu cowok malah jadian sama cewek lain, apa mungkin hubunganku sama temanku itu baik-baik aja sampai sekarang?

Lebih penting sahabat dari pacar kalau menurutku sih.

 

SALAM SAYANG DARI UDEL LUHAN BUAT SAHABATKU!!!

 

Luv ya

:*