oOo

 

A/N : Di part ini akan banyak dialognya dibanding narasinya. Kenapa? Karena dialog adalah essence dari cerita ini. Celetukan-celetukan yang apa adanya antar dua cowok semi –labil ini wkwkwkw.

Aku terinspirasi ide ini waktu semalam aku oles-oles muka pakai krim. Penasaran sama apa yang dikerjain Kris dan Lay?

 

Silakan baca, aja.

;)

This fic also inspired by my favorite Michael Buble’s song titled Everything. The lyrics will be written in the fic. Please enjoy this ship :P

oOo

oOo

Duduk di kursi panjang di teras memang jadi kebiasaan Lay di tiap jam 10 pagi jika tidak ada mata kuliah yang harus ia ikuti.

Dan pagi ini Lay sudah ditemani segelas jus melon segar dan sebuah majalah yang membahas tentang film-film terbaru yang hendak rilis. Matanya serius membaca ulasan-ulasan film baru.

Sesekali ia menyeruput jusnya dan kembali fokus menyusuri halaman demi halaman majalah langganannya itu.

Brug..

Sesuatu diletakkan di depannya dengan agak keras. Lay tersentak dan mendongak dengan wajah kaget ke arah sosok tinggi menjulang yang sedang menyeringai usil.

“Apaan, ini?” ujarnya seraya menunjuk tas di atas meja kecil di samping kursinya.

“Produk perawatan kulit wajah,” sahutnya sambil menghenyakkan tubuh semampainya itu ke atas kursi satunya.

“Terus?” Lay menaikkan sebelah alisnya.

“Pakein!” balas cowok tinggi itu santai.

Lay menegakkan punggungnya dan memangku majalah yang sejak tadi ditekuninya.

“Kenapa musti aku yang makein itu?” ia mengerling ke arah tas berisi perlengkapan perawatan wajah.

“Karena gue malas ke salon. Mau facial doang bayarnya mahal. Mendingan lo aja yang makein. Mau, ya? Mau, kan? Pasti mau, deh?!” ia memohon setengah memaksa sambil menggenggam tangan kanan Lay.

Lay mendengus dan memutar bola matanya dengan tampang bosan.

“Kamu itu banci, ya?” celetuknya tiba-tiba, membuat lawan bicaranya menepuk keras tangan Lay.

“Sembarangan aja ngatain gue banci!” sungutnya dengan alis mata nyaris bertaut.

“Lagian di mana-mana cowok itu rajin fitness ke gym, lha, kamu malah ke salon buat didemek-demek mukanya sama mbak-mbak ganjen yang pakai rok pendek sampai pahanya ke mana-mana,” komentar Lay sambil membalas menepuk tangan Kris, kekasihnya.

Kris berdiri dan mengangkat lengan kaosnya hingga bisepnya terlihat.

“Lengan gue berotot, nih. Tiap hari manggul Chanyeol,” ia membela dirinya dengan alasan yang sangat konyol.

“Lengan segitu dibilang berotot. Gedean lenganku, Kris.” Dan Lay tak mau kalah, ia pun memamerkan otot bisepnya yang memang lebih besar dibanding lengan Kris.

“Iya, biarin. Yang penting muka gue mulus nggak jerawatan kayak lo. Noh, ada jerawat baru di pipi lo,” tunjuknya pada titik merah muda di pipi kiri Lay.

“Ini bukan jerawat! Sok tahu kamu, Kris! Udah ah, minggir-mingir. Kamu udah ganggu acara jam sepuluh sampai sebelasku, nih,” Lay bangun dari duduknya dan mendorong Kris ke dalan rumah lalu menutup pintunya. Dan ia kembali duduk di kursinya.

“Heh, buduk! Gue minta tolong facial-in gue, malah nyuruh gue masuk. Ayo, Laaaay. Ntar gue facial-in muka kucel lo, deh.”  Kris yang sudah keluar lagi itu sedang menarik-narik kerah kaos Lay hingga membuat pemilik lesung pipi itu gerah dan ingin membekap mulut Kris dengan majalah yang ia pegang.

Karena ditarik paksa, maka Lay terpaksa masuk ke dalam rumah. Ia disuruh duduk di sisi paling ujung sofa, sebuah bantal kecil diletakkan di pahanya, dan di atas meja ada kapas, waslap, sebaskom kecil air hangat dan tas yang berisi berbagai macam krim.

“Ribet!” gerutu Lay sambil memasangkan bandana ke kepala Kris. Lalu ia terkikik geli melihat dahi Kris yang terpampang di depannya. Kris hanya mengomel sambil mencubit hidung Lay.

Kepala Kris sudah berada di atas bantal kecil di atas paha Lay, kakinya yang terlalu panjang itu tak muat di sofa itu, maka sebagian kakinya menjuntai melewati sandaran lengan sofa panjang itu.

“Lo ambil susu pembersih yang tutupnya biru itu, Lay,” perintahnya seraya menunjuk tas harta karunnya.

“Kamu bersihin muka pakai susu? Susu apa, Kris?” tanya Lay sambil mengubek-ubek isi tas itu.

“Susu badak bercula satu! Bukan dari susu beneran, dongo! Tapi itu bentuknya kayak susu gitu! Itu yang milk cleanser.”

Lay mengambil botol yang dimaksud dan menuang isinya ke telapak tangannya.

“Heh! Nggak sebanyak ituuuuu! Ya Tuhaaaaan!” pekiknya saat melihat Lay menuang susu pembersih terlalu banyak. “Masukin lagi! Itu mahal banget harganya!”

Bibir komat kamit, tapi tetap saja Lay berusaha memasukkan sebagian krim pembersih itu ke dalam botolnya.

“Terus diapain?” tanya Lay malas.

“Diolesin ke muka, lah! Masa dijilat?” sembur Kris tak sabar.

Dan Lay menggsokkan kedua tangannya lalu mengusapkan krim itu ke wajah Kris.

“LAY! Bukan gitu caranya! Masa muka gue ditemplokin krim sebanyak itu? Dikit

dikit. Terus diusap-usap pelan dengan gerakan memutar. Ya, kayak gitu.”

Lay dengan sabar meratakan krim itu ke wajah kekasihnya yang narsis itu.

“Udah?” tanyanya.

“Ya, sekarang diusap pakai kapas sampai nggak ada sisanya,”

Lay menuruti instruksi Kris, dan mengangkat sisa-sisa krim itu dengan kapas.

Now what?”

“Sekarang lo ambil waslap, celupin air anget itu terus diperes, abis itu di kompres ke muka kece gue. Itu fungsinya selain buat ngilangin sisa-sisa susu pembersih, juga buat ngebuka pori-pori, jadi biar lebih gampang discrub,” jelasnya bagai seorang pegawai salon senior.

Lay mengangguk lemah. Bagi Lay hal-hal seperti ini sangatlah tidak penting. Bagi Lay yang terpenting adalah wajahnya tidak kusam dan lusuh. Tidak harus benar-benar mulus seperti yang Kris obsesikan.

“Udah. Sekarang ngapain lagi? Digodok?” Lay tampak mulai bosan.

“Jahat! Sekarang lo ambil face scrub yang tutupnya ungu muda itu, terus gosok-gosokin ke muka gue.”

Wadah dengan tutup ungu muda itu sudah berada di tangan Lay, “Ini fungsinya apa?”

“Buat ngilangin sel kulit mati sama komedo di hidung, nih,” ia menunjuk hidung mancungnya, sambil mendongakkan kepalanya dan matanya menatap Lay.

“Hah? Komedo? Apa, itu? Sejenis upilkah?”

“Upil lo, tuh! Ngaco! Komedo itu kayak kotoran yang nutup pori-pori terus jadi item-item gini.” Kris menarik tangan Lay dan memegang telunjuk kekasihnya yang kalem itu dan menggesekkan ujung jarinya pada hidungnya. “Kasar, kan? Ntar setelah discrub, langsung halus.” Ia tersenyum manis.

“Oh, itu. Kirain aku komedo itu binatang yang kayak dinosaurus,” Lay mengangguk penuh pengertian.

“Itu komodo, bego!” sembur Kris kesal.

“Oh, udah ganti berarti.” Sahut Lay polos. Membuat Kris mengerang dan menyuruhnya melanjutkan pelayanannya.

Lay mengoleskan krim dengan butiran scrub itu ke wajah Kris. Lalu menggosoknya.

“Heh! Heh! Pelan-pelan, dong! Sakit ini! Haddeeeeh! Lo gagu banget, sih, soal ginian?” Kris duduk menghadap Lay. Ia kesal karena Lay sama sekali tidak paham apapun tentang perawatan muka.

“Perasaan lo sering diajak Luhan ke salon, sih? Masa aturan facial aja nggak tahu?”

Lay hanya mengangkat bahu.

Kris mendesah berat, “Caranya gini, Say. Nggak usah digosok kenceng-kenceng, cukup diusap berputar-putar gini, santai aja, lama-lama kotorannya rontok sendiri. Jangan kayak nggosok keset!” Kris mengusap-usap dagu dan pipi Lay dengan gerakan memutar dan lembut, mata mereka bertemu dan Kris tanpa sadar sudah menatap bibir merekah Lay. Ia maju dan mengecupnya sekilas, lalu kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Lay.

“Ayo, lanjut!” perintah Kris.

“Siap, Nona,” sindir Lay seraya mulai mengusap lembut dagu Kris.

Cowok manja itu hanya memaki pelan. Ia memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan kekasihnya.

“Lo usap muka gue pakai air anget lagi, terus lo ambil massage oil yang botolnya kecil itu terus tuang secuil di tangan lo. Itu buat face massage.”

Minyak beraroma terapi itu pun sudah Lay tuang ke telapak tangannya. Lalu ia mulai mengaplikasikannya ke wajah Kris.

“Bukan gitu cara mijitnya, Lay.” Kris memegang tangan Lay dan menggerakkannya sesuai dengan cara memjiat wajah yang menurut Kris benar. Lay pasrah ketika tangannya digerakkan bagai boneka tali oleh Kris.

Lay menikmati kehangatan genggaman Kris.

Setelah paham apa yang harus dilakukan, maka Lay pun mulai memijat pelan kulit wajah Kris.

Lima belas menit berlalu, Lay terus mengelus dan meraba wajah tampan kekasihnya itu sambil mengagumi tiap senti wajah Kris yang sedang memejamkan matanya.

Jemari lentik Lay menyusuri dagu, rahang, pipi, hidung, lekuk bibir dan dahi Kris. Ia tersenyum dan merundukkan kepalanya mendekati bibir Kris yang terkatup itu dan mengecupnya.

“Kris, pijitannya cukup, ya?” ujarnya sambil menepuk pipi Kris.

Kris bergeming.

Nafasnya teratur dan terdengar dengkuran halus.

“Hey! Wake up, sleepy head!” dan Lay memekik tepat di telinga Kris. Membuat cowok itu hampir jatuh dari sofa.

Sambil memaki pelan, Kris menyuruh Lay memakaikan masker wajah.

Lay lelah dan bosan dengan kegiatan kecantikan itu. Akhirnya masker sudah menutupi wajah Kris, dan Lay beranjak ke dapur. Ia mengambil segelas besar air dingin dan menenggaknya sekaligus.

Makan siang belum diolah. Terpaksa Lay menyiapkan ramen untuk makan siang mereka.

Dua mangkuk ramen yang mengepulkan uapnya sudah terhidang di meja makan.

Kris yang sudah melepas maskernya ikut duduk dan menatap Lay yang sibuk menuang air untuknya.

“Muka gue gimana?” tanya Kris sambil menaik-turunkan alisnya dengan genit.

“Masih utuh.” Sahut Lay tak tertarik.

“Masa nggak ada perubahan, sih?” Kris cemberut sambil mengaduk mie dalam mangkuknya.

“Memang masih utuh. Aku kira mukamu bakal berubah jadi Jerry Yan atau Vic Zhou. Tapi masih utuh muka Wu Yifan narsis yang demen ngerumpi sama ibu-ibu di salon daripada keringetan di gym buat ngebentuk abs.” celetuk Lay cuek sebelum menyuapkan mie ke dalam mulutnya.

“Sialan! Gue nggak ngerumpi di salon! Sok tahu, lo.” sanggahnya gemas karena Lay terus meledek hobinya menghabiskan waktu di salon.

Lay terkekeh geli karena Kris mengomel dan menggerutu. Bagi Lay, Kris tampak bagai anak kecil yang merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi.

Kris terkadang begitu gagah dan cowok banget, pikir Lay.

Tetapi di lain waktu, ia akan berubah menjadi cowok manja yang agak kekanakan.

Dan itu bagi Lay adalah sesuatu yang membuatnya makin mencintai Kris.

Karena Kris bukanlah makhluk sempurna. Sama seperti dirinya yang banyak kekurangan, dan Kris bisa menerima semuanya.

oOo

Sore menjelang, dan Kris mengajak Lay jalan-jalan untuk membeli es krim atau jajanan lainnya. Mereka menyusuri jalan sambil bergandengan tangan. Kris dan Lay mengacuhkan tatapan sinis dan jijik orang-orang yang berpapasan dengan mereka.

Tapi dua pemuda itu menganggap bahwa dunia milik mereka berdua.

Dua cone es krim sudah dibeli, dan mereka melanjutkan jalan mereka menuju sebuah pusat game yang digandrungi anak muda. Suara bising dari berbagai jenis permainan menyambut telinga dua cowok dimabuk cinta itu.

Kris mengajak Lay ke permainan basket. Tiap bola yang masuk ring akan mendapat dua poin.

Lay hanya berdiri di samping Kris dan menyorakinya dengan agak berlebihan, membuat Kris canggung dan akhirnya gagal memeproleh bonus.

Sebagai pelampiasan kekesalannya, ia mencoba menggigit telinga Lay. Tetapi Lay berhasil mengelak dan menarik pergelangan tangan Kris ke permainan balap mobil.

Lay tampak sangat serius memutar kemudi dan menginjak pedal gas. Kris mencoba merusak konsentrasi Lay dengan menyenggol lengannya hingga kekasihnya itu gagal mempertahankan mobilnya dalam sirkuit.

Lay memaki dan menendang kaki Kris.

Ia kalah.

Kris tertawa puas telah membalaskan kekalahannya tadi.

Lalu dua cowok itu menjajal permainan-permainan khas cowok, seperti tembak-tembakan.

“Kris, main itu, yuk!” Lay menarik lengan Kris dan mengajaknya ke permainan yang menuntut kelincahan pemainnya.

“Ini game cewek, dodol!” Kris menatap permainan itu. Sebuah layar besar dengan lantai yang bertanda anak panah ke berbagai arah.

“Seru, nih! Ntar kamu injek sesuai anak panah yang muncul. Kita bisa pilih lagu yang asik. Ayo, dong! Yang kalah harus dihukum!” paksa Lay sambil terus menarik lengan Kris.

“Oke. Yang kalah harus nyanyiin buat yang menang. Deal?”

Lay mengangguk dan berdua sudah berada di atas lantai permainan itu.

Satu demi satu, lagu dipilih dan akhirnya mereka menemukan lagu yang cocok. Dentuman musik membahana menyeruak dari beberapa speaker di permainan itu. Anak panah bermunculan. Lay yang sudah terbiasa menari sejak remaja itu bisa mengikuti permainan itu. Sedangkan Kris tampak bagai orang tolol yang menghentak-hentakkan kedua kakinya tanpa bisa sekalipun menginjak anak panah yang benar.

Satu orang… dua orang… lima orang…. dan makin bertambah banyak orang yang berdiri mengamati dua orang itu bergumul dengan game itu.

Semua terbahak demi melihat Kris yang begitu konyol dan aneh dengan tubuh tinggi menjulang dan sedang berusaha mengikuti permainan itu, dan selalu gagal.

Lay berhasil mengikuti semua hingga akhir, dan ia jadi pemenang.

Para penonton itu bertepuk tangan meriah. Dan Kris baru menyadari bahwa aksinya tadi itu menjadi tontonan orang.

Lay menghampiri Kris dan memeluknya sambil tertawa hingga wajahnya memerah, hampir menyaingi merahnya wajah Kris.

Dan kerumunan orang itu pun bubar.

“Sialan, lo! Lo bikin gue jadi tontonan! Sialan! Sialan! Sialan!”

Lay mengaduh tiap kali Kris mencubit pinggangnya. Namun, pemuda yang lebih pendek itu tetap tertawa bahagia.

Bahagia telah membuat Kris terlihat konyol.

Setelah lelah tertawa, dan Kris lelah merutuk dan mengomeli Lay, dua orang itu mampir ke sebuah restoran sederhana dan memesan nasi dan lauk pauk.

Seporsi berdua.

Belajar hemat. Ujar Kris, yang membuat Lay mendengus.

Mereka kembali ke rumah ketika langit sudah gelap.

Malam itu ibu Kris sudah sampai dari acara jalan-jalannya di luar negeri, dan sekarang sedang menunggu Kris di rumah.

“Hai, Mom!” sapa Kris seraya memeluk erat ibunya dan mengecup keningnya.

Ia merindukan ibunya. Merindukan suaranya, sentuhan kasihnya, masakannya dan yang pasti omelannya.

“Hai, Yifan. Oh, ada Lay juga. Apa kabar, sayang?” dan ibunya memeluk Lay dan menangkup wajah pemilik senyum menawan itu. “Makin ganteng aja kamu, Nak, ketularan Yifan, ya?”

“Kris, Mama… Kris!!!!” dan Kris memulai perdebatannya tentang nama Yifan yang tak begitu ia sukai.

“Kras Kris Kras Kris! Mama sama papamu capek-capek nyariin nama bagus buat kamu, malah diganti seenak jidat! Dasar anak nggak tahu terima kasih. Coba kalau mama sama papa jahat, pasti kamu dikasih nama Wu Bao Tai! Mau namanya kayak gitu?” sembur mamanya galak, tapi matanya berkilat jahil. Dan Lay pun terbahak-bahak.

“Huahahaha…. Bao Tai!!!! Bagus banget itu, Tante. Cocok sama Kris. Hahahahaha,” dan tawa Lay ditanggapi dengan lirikan tajam dari Kris.

“Kebiasaan, deh. Kalau kalian berdua ketemu, langsung, deh, ngebully gue! Nggak ibu, nggak pacar, sama-sama hobi nistain gue. Kesel banget tauk! Lay kembali ke alam lo sono!” usirnya dengan nada terluka.

Ibu Kris masih saja terkekeh demi melihat anaknya yang sewot itu. Dan Lay mencoba menghibur Kris yang mengambek.

“Kalian sudah makan?” tanya ibu Kris yang tampak lebih muda itu.

Kris dan Lay mengangguk.

“Mau dessert? Mama bawa frozen youghurt. Ada banyak, tuh, di kulkas.” Tawarnya kepada Kris dan Lay yang sedang merapikan beberapa barang yang berserakan.

“Mau, dong, Mama…” ujar dua cowok itu bersamaan. Ibu Kris tersenyum menanggapi pasangan itu.

Kris tiduran di paha ibunya, dan Lay duduk bersila di depan mereka. Suasana hangat dalam ruangan itu membuat mereka merasa nyaman dan santai.

Cerita demi cerita tentang perjalanan berliburnya ia beberkan dengan gaya yang begitu menarik. Membuat Lay dan Kris seolah berada di tempat-tempat itu.

“Waktu mama ke Amsterdam, di sana sering banget lihat pasangan-pasangan cowok. Mereka begitu bebas keluyuran tanpa risih di tempat umum. Ciuman heboh di pinggir jalan, di dalam toko, di phone booth, di mana-mana, deh. Asal main sosor aja. Mama sama papa risih banget. Terus mama kepikiran kalian. Jangan sampai kalian mesra-mesraan di tempat umum. Di sini hubungan macam itu belum terlalu diberi toleransi. Jadi jaga sikap kalian baik-baik. Dan selama ada mama di sini, jangan coba-coba ciuman atau yang lain-lain di sini. Silakan cari tempat lain.” Tegas ibu Kris.

“Iya, Mama cantik. Kris janji nggak akan cium Lay di tempat umum,” ujar Kris sambil mendongakkan kepalanya dan mengaitkan dua jari tangannya sebagai tanda janji.

“Tapi waktu itu, Kris yang pintarnya nggak ketulungan itu cium aku di café. Dan hasilnya semua orang di café itu liatin kita, Tante. Dan di depan café, dia cium aku lagi. Masih di hari yang sama, Kris yang kepintaran dan kebodohannya tipis banget bedanya itu nyium aku dengan hebohnya di kamar pas di butik. Dibilangin, nih, Tante. Jangan sembarangan cium-cium aku di depan umum.” Wajah usil Lay benar-benar membuat Kris gemas dan melemparnya dengan boneka naga merah berwajah aneh itu ke arah Lay.

“Bikin malu mama! Dasar bandel! Selama ini mama ngatain anak orang lain, eh ternyata anak mama juga sama parahnya? Begonya, kok, permanen, sih?” telinga Kris dijewer hingga memerah. Dan Lay membekap mulutnya dengan boneka naga itu demi menahan gelak tawanya yang sudah hampir menyembur.

“Ampun, Ma! Ampun, Ma! Nggak lagi-lagi, deh. Sumpah Kris rela dikutuk makin ganteng, Ma. Sumpaaaaaaaadoooooohhhh…. Sakit, Mama!” bukan hanya jeweran yang diterimanya, tetapi beberapa kali pukulan di lengannya membuat Kris mengaduh sambil merutuk dalam hati.

Ia akan membalas Lay.

.

.

.

Jarum jam mengarah ke angka 11. Ibu Kris sudah terlelap.

Kris meminta ijin untuk menginap di rumah Lay.

Karena cuaca yang tidak terlalu dingin, maka Kris mengenakan kaos putih dan celana selutut yang terlihat nyaman dipakai.

“Kris. Kamu harus penuhin janji kita tadi sore.” Lay membuka percakapan. Cowok itu duduk sambil memangku gitarnya.

“Yang nyanyi itu?” tanyanya seraya menguap lebar dan mengucek matanya yang mengantuk.

Lay mengangguk dan mengetuk-ngetuk gitarnya.

“Hmm… lo yang main musiknya, ya? Tapi gue nggak bisa nyanyi. Gue bacain kayak baca puisi aja, ya?” Kris mencoba bernegosiasi.

“Terserah. Aku udah ngantuk, buruan. Kamu nyanyi dulu, aku ntar ngikutin iramanya,” Lay mengibaskan tangannya tak sabar. Ia pun sudah menguap berkali-kali sejak sepuluh menit yang lalu.

“Hmm… apa ya, lagunya?” ia memijat tengkuknya yang pegal sambil menatap Lay dengan tatapan sayu.

“Yang romantis. Yang bikin aku melting. Yang bikin aku kege’eran, bikin aku pengin cium kamu sampai pingsan.” Balas Lay sambil menyeringai jahil.

“Syaratnya berat banget, Man? Lo mau bikin gue pingsan sebelum mulai nyanyi gara-gara kecapekan mikir, ya?” cecar Kris sambil memicingkan matanya.

“Kalau berhasil, ntar aku cium kamu yang lamaaaaaaaaaaa banget. Mau nggak?” rayunya sambil memetik dawai gitarnya dan mengedipkan sebelah matanya.

“Ya udah, gue coba, deh… ehem ehem… cek cek… satu… dua… dua … satu.. cek cek..”

“Buruan, Moron!” bentak Lay geregetan. “Sok kayak MC acara kawinan, aja!”

“Bawel! Oke… dengarkan suara merdu saya… Wu…” belum selesai ia berbicara, Lay menyerobot.

“Bao Tai! Huakakakakaka,” lagi-lagi Lay terbahak hingga air mata menetes dari sudut matanya. Kris sudah kesal dan hendak membatalkan hukumannya.

Sorry… aku keinget mamamu. Ayo, mulai nyanyi,”

Kris menarik nafas panjang dan mulai bernyanyi…

Bait pertama Lay mendengarkan dengan begitu seksama…

 

“You’re a falling star, You’re the get away car.

You’re the line in the sand when I go too far.

You’re the swimming pool, on an August day.

And you’re the perfect thing to say.

Setelah mengetahui kunci dan nada-nadanya, jemari indah Lay mulai memetik gitar dan suara pas-pasan Kris bergabung dengan indahnya melodi dari dentingan dawai gitar Lay.

“And you play it cool, but it’s kinda cute. 

Ah, When you smile at me you know exactly what you do.

Baby don’t pretend, that you don’t know it’s true.

Cause you can see it when I look at you.

Kris berusaha mengutarakan isi hatinya melalui tiap kata dalam lagu itu. Matanya hanya menatap Lay, seolah dengan hanya menatapnya dalam-dalam, ia mampu mentransfer perasaan cintanya yang luar biasa itu pada kekasihnya.

Tiba-tiba Lay ikut bernyayi bersamanya. Berdua melantunkan bagian reff.

Mata saling memandang, bibir tersenyum mesra, dan dua suara yang berbeda karakter itu pun kawin dalam alunan nada indah dari petikan jemari Lay.

“And in this crazy life, and through these crazy times

It’s you, it’s you, You make me sing.

You’re every line, you’re every word, you’re everything”

Kris terdiam dan menelengkan kepalanya ke samping, ia menggigit bibir bawahnya dan mengamati Lay yang melanjutkan bait lagu itu.

 

“You’re a carousel, you’re a wishing well,

And you light me up, when you ring my bell.

You’re a mystery, you’re from outer space,

You’re every minute of my everyday.

Lay tersenyum dan mengedipkan matanya. Kris melanjutkan bait selanjutnya… Lay makin bersemangat memetik gitarnya.

“And I can’t believe, uh that I’m your man 

And I get to kiss you baby just because I can.

Whatever comes our way, ah we’ll see it through,

And you know that’s what our love can do.

Kris mendekati Lay dan merangkulnya, berdua menyanyikan bagian reff-nya bersamaan.

 

“And in this crazy life, and through these crazy times

It’s you, it’s you, You make me sing.

You’re every line, you’re every word, you’re everything.

You’re every song, and I sing along.

‘Cause you’re my everything”

Suara gitar pun menghilang menguap dan digantikan desahan serta hembusan nafas berat.

Bibir mereka bertaut begitu indah, sesekali terdengar erangan lembut dari Kris.

Lay benar-benar memanjakan bibir dan mulut kekasihnya itu dengan lumatan-lumatan bergairah yang mampu membuat Kris seolah melayang dan terombang-ambing dalam gelombang kenikmatan.

Kris benar-benar menikmati tiap gerakan bibir Lay pada bibirnya.

Lay menepati janjinya dengan mencium Kris sampai cowok tinggi itu hampir pingsan karena kehabisan nafas.

“Nakal!” bisik Kris sebelum menggigit lembut bibir bawah Lay yang agak membengkak karena terlalu lama berciuman.

“Biarin, toh, kamu suka, kan?” balas Lay sebelum menggigit pelan dagu Kris dan menghisapnya lembut.

Kris terkekeh dan mengangkat dagu kekasihnya itu hanya untuk menghujani bibirnya dengan ciuman-ciuman mesra.

Malam itu Lay tertidur di dada Kris, dengan lengan Kris memeluknya erat.

You are my everything, Xing… I love you,” bisik Kris, yang ditanggapi dengan lenguhan lembut dari Lay yang sudah terlelap.

THE END

A/N : sumpah demi apa, itu lagu fav. aku.

Maniiiis bangeeeeet…. Romantis… bikin meleleh… hehhehe

 

Semoga part ini romancenya lebih dapet drpd yang kemarin. Thx yaaaaa

 

Luv you all

 

*hug*