oOoOo
A/N : Author kangen KRAY banget. Jadi lewat FF ini, moga rasa kangenku tersalurkan.
FF ini terinspirasi dari lagu milik Jamie Cullum yang berjudul I’m Glad There Is You.
Have a nice time reading this. I appreciate your comments
oOoOo
Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester.
Begitu pulang dari kampus, gue langsung nyamber ransel jumbo gue dan beberapa setel baju gue masukin ke dalamnya. Tangan gue gemetar.
Dan si jerapah tukang nyengir itu malah berdiri bengong sambil liatin gue.
“Kenapa lo ngebet banget pengin pulang, Kris?” tanyanya.
Bego, kan, dia?
Gue sama sekali nggak mau buang-buang tenaga dan suara gue buat ngejawab pertanyaannya yang absurd itu.
Lagian siapa lagi, sih, yang bisa bikin gue kebelet banget buat pulang kampung kalau bukan karena si pemilik lesung pipi termanis dan terimut serta tertampan dan ter…

Oke, gue mulai ketularan absurd-nya Chanyeol.
Jelas aja si Chanyeol nggak ngerti gimana rasanya pengin buru-buru pulang kampung dan bercumbu dengan kekasihnya. Secara Baekhyun ngekor melulu di belakangnya.
Nggak separah itu, sih. Gue hanya hiperbolis.
Maksudnya itu, Chanyeol nggak perlu repot-repot menjelajahi ruang dan waktu demi ketemu pacarnya. Dia bersiul aja, si Baekhyun langsung lari menyongsong.
Maaf, Baek. Perumpamaannya ngawur.
Setelah ransel menggembung, gue nyomot jaket gue yang tergantung manis di belakang pintu. Tali sepatu gue ikat, jaket gue pakai dan topi pun sudah nangkring kece di kepala gue.
“Yeollo! Lo liburan nggak pulang, nih?” gue nanya sambil manggul ransel. Chanyeol nyengir sambil garuk-garuk perutnya.
“Nanti. Nunggu Baekhyun. Gue pulang bareng dia,” jawabnya. Oke, terserah dia mau pulang kapan. Yang jelas, hari ini gue harus sudah sampai my hometown.
Bareng Lay…
Kekasih gue…
Cowok gue yang dengan polosnya ngirimin SMS jalan-jalannya di ulang tahun kencan pertama gue dan dia. SMS-SMS kampret yang bikin hati gue nyut-nyutan karena sedih nggak bisa bersama Lay menyusuri jalan, makan hotdog dan burger. Jalan-jalan ke pasar, nawar gelang dan kalung.
Oh, ya, dia bilang kalau dia beli sesuatu buat gue, kira-kira apa, ya?
Tahun lalu dia beliin gue boneka dinosaurus ijo yang mukanya oon banget. Dan dengan polosnya dia kasih nama DinoPido alias Dino Stupido.
Suka-suka lo, deh, Xing.
Langkah-langkah cepat gue mengantarkan gue ke stasiun. Tiket sudah di tangan. Semalem gue beli, jadi sekarang nggak perlu antri-antri lagi.
Stasiunnya ramai banget. Isinya kebanyakan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas. Gue sempat ketemu beberapa kenalan dari fakultas yang lain. Ada Henry dari fakultas sastra Cina, Kibum dari fakultas sastra Jepang.
Ada juga beberapa cewek dari fakultas yang sama dengan gue, mereka nyapa gue dengan senyum-senyum genit mengundang hawa nafsu.
Sorry, girls, I only have Yixing on my mind. I’ve got Yixing under my skin. Sudah meresap sampai ke dalam pori-pori kulit gue.
Cukup, Kris, ngegombalnya.
Itu tukang catut tiket sudah asem mukanya. Banyak yang beli tiket sama calo.
Hari gini beli sama calo. Ckckckc.
Gue juga pernah, sih, waktu itu terpaksa karena gue takut nggak bisa ketemu keluarga dan pacar gue pas perayaan Thanksgiving.
Setelah duduk nyaman di kursi dekat jendela, kuping gue diganggu sama suara kayak orang tenggelam-nya mbak-mbak dari pengeras suara.
Pengumuman tentang kereta yang akan berangkat.
Yang jadi pertanyaan gue adalah, kenapa di semua stasiun kereta suara speakernya kayak gitu? Sound-system-nya jelek. Nggak enak kalau dipakai buat konser.
God, what am I talking about? The Lady and the annoying speaker voice?
Sumpah, random banget.
Yixing!
Gue kangen lo, Man!
Gue ada rencana mau ajak Yixing ke sebuah tempat yang bagus.
Sebuah café dengan live music. Tempat itu lagi digandrungi anak muda. Suasananya ramah buat para muda mudi yang pengin dugem, tapi minim maksiat.
Café itu buka mulai jam sembilan malam sampai jam lima pagi.
Dalam otak gue (yang mulai mesum), ada bayangan gue dan Lay pulang ke rumah setelah kencan di café itu, dan berlanjut ke sesi bermesraan.
Rasanya sudah berabad-abad lamanya nggak nyentuh Lay.
I miss his tender and smooth skin…
His plump lips…
His velvety touch…
I miss him so fuckin much.
“Mau minum teh? Kopi? Jus?”
Gue noleh ke samping dan disambut senyuman ramah (yang dibuat-buat) seorang cewek seumuran gue atau lebih tua sedikit. Dia berdiri di belakang troli yang isinya cangkir-cangkir dan dua termos besar, yang gue tahu isinya pasti teh dan kopi.
“Makasih. Gue minta air putihnya, aja.”
Hampir minta kopi, sih. Tapi ingat petuah dan wasiat calon pendamping hidup gue sepanjang masa, Zhang Yi Xing.
‘Kopi itu nggak baik buat kesehatan, Kris. Kamu harus lebih milih minum air putih daripada kopi. Paham?’
Lay tinggal dipakein sanggul aja, deh. Bawel banget sumpah.
Did I just say ‘pendamping hidup’?
Amin. Suatu hari nanti, dia bakal bersanding sama gue di depan altar, dengan dinaungi restu tulus dari papa dan mama Lay.
Mata gue berkaca-kaca waktu muncul bayangan Lay dengan setelan jas hitam, berjalan menuju altar, di mana gue berdiri gemeteran dengan tangan yang basah oleh keringat, dan gue nelen ludah, takjub akan ketampanan Lay, suami gue.

Oke, kedengerannya memang aneh.
Kalau misal gue beneran nikah sama Lay, terus pas ngenalin diri sama orang lain, pasti jadinya aneh kayak gini..
‘Hai, kenalin. Ini Lay, suami gue.’
Lalu Lay bakal ngenalin gue, ‘Hai, apa kabar? Ini suami aku, Kris’
Dan gue bayangin muka orang-orang itu seperti ini…
-_______-
Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing….
Kriiiik…. Kriiiik…
Lalu hening lagi.
Tapi itu sudah resiko.
Mencintai memang beresiko.
Jangankan mencintai sesama cowok.
Yang straight aja banyak rintangan dan cobaan, kok.
Prinsip gue dan Lay adalah menjalani apa yang menurut kami benar. Kami cukup ngikutin kata hati. Nggak usah peduliin pendapat orang lain.
Toh, kita yang ngejalanin hidup ini. Bukan mereka.
Yixing, lo memang kece. Keren banget.
Bahagia dan bangga punya cowok macam Lay.
Sesekali gue tenggak air mineral dari botol, dan alihin pandangan ke luar jendela.
Barusan di seberang gue ada sepasang cewek cowok lagi ngalay berdua. Si cowok ngegombal, si cewek cekikikan manja kayak kucing minta digauli.
Geli.
Di belakang tempat duduk gue, ada bayi rewel. Dan berikutnya disusul aroma tai yang bikin perut gue kayak diaduk-aduk mesin pengaduk semen.
Mau muntah!
Tuhan… kenapa keretanya lelet?
Sambil nafas lewat mulut (yang gue makin ngerasa yakin kalau muka gue nyaingin ikan Koi) gue SMS cowok gue. Gue kasih tahu ke dia kalau gue lagi otw.
Mungkin dua jam lagi nyampe.
Kalau bisa lebih cepat, sih, ya lebih bagus.
Perlahan aroma busuk dari kursi belakang gue menghilang. Suara cekikan genit cewek di seberang gue mulai terdengar sayup-sayup, bunyi kernyitan roda troli makin menjauh, dan bayangan wajah tersenyum Lay melambai-lambai di depan mata gue.

Sambil tersenyum gue pun pejamin mata dan suara lembut imajiner Lay menggiring gue masuk ke alam mimpi.
.
.
.
.
“Ehem.. ehem.. keretanya sudah sampai stasiun, hmm… Pak?”
Pak?
Memangnya tampang gue kayak om-om?
Sialan banget.
Cewek troli itu ngebangunin gue.
I feel I’m getting old here.
Begitu mau bangun dari duduk, pinggang gue kaku banget. Ah, dipijit Lay enak, nih.
Dari stasiun gue mampir ke toko swalayan dulu. Mau beli minuman dan camilan buat teman begadang malam ini.
Gue disapa ramah sama penjaga kasir toko swalayan itu. Sungguh senyum komersil.
Cantik, sih. Namanya… Kimmy. Hmm… nice cute name.
“Terima kasih sudah berbelanja di sini. Selamat sore.” ucapnya sambil nyodorin uang kembalian gue.
“Terima kasih kembali sudah melayani dengan baik.” balas gue dengan senyuman ganjen. Dan pipi cewek itu bersemu merah.
Imut.
Pasti cewek itu deg-degan dapat senyuman menawan dari seorang pria tampan sejenis gue. Hahaha.
Gue pernah waktu itu berdua Lay belanja di supermarket. Nah, biasa, tuh, ada SPG-SPG kece dengan rok mini di atas lutut yang mamerin paha mulusnya itu, nawarin macam-macam produk. Dari krim muka sampai penghilang bau ketek. Intinya, muka mereka setipe semua. Muka-muka ramah yang lebih kelihatan memohon daripada menawarkan. Maksudnya biar dia ngumpulin banyak poin gitu.
Waktu itu, si SPG cantik mirip salah satu member grup cewek mulus Girls’ Generation itu nawarin produk perawatan kulit muka. Kayaknya si cewek itu tahu benar kalau gue hobi ngoles-ngolesin muka pakai krim.
Kata Lay, ‘Mukamu itu muka-muka polesan, Kris.’
Dasar kadal gagu!
Nyebelin banget komentarnya. Dan dengan tanpa dosanya dia malah ngikik sendiri.
Karena kesal dikatain muka polesan, akhirnya gue berlagak ganjen aja, deh.
‘Wah, anda bule, ya?’ tanya si SPG putus asa itu.
‘Setengah-setengah gitu, deh, kenapa? Gue kece, kan?’ balas gue sambil kibasin poni.
‘Ih, anda bisa saja,’ ngejawabnya setengah melenguh kayak sapi mau diperah.
Bikin mual sebenarnya. Tapi gue kuat-kuatin, deh.
‘Jadi kalau gue pakai krim ini, muka gue bisa makin ganteng, ya?’
Si cewek pencari poin itu ngangguk-ngangguk antusias.
‘Iya. Anda akan makin tampan, mirip Leonardo Dicaprio. Dan teman anda bisa tampan seperti Justin Bieber,’ bualnya masih dengan senyum pembuat mules khasnya itu.
Lay nyikut lengan gue dan bisik-bisik, ‘Masa aku disamain Justin Bieber?’
Gue balas bisik, ‘Lha, maunya lo mirip siapa? Justin Timberlake?’
‘Mirip Zhang Yi Xing, aja,’ dan dengan suksesnya gue tatap dia dengan tatapan super datar. Si pencuri hati gue itu malah nyengir sok-sok bego gitu.
‘Gimana? Jadi beli krimnya?’ desaknya sambil nyodorin wadah krim penambah ketampanan.
‘Dapat bonus nggak?’ tanya gue nggak kalah ganjennya.
‘Situ mau bonus apa?’
Buseeeet! Ini cewek lagi nyoba ngerayu gue.
‘Kalau bonusnya kencan sama lo gimana?’ dan jurus ngerayu super norak itu pun gue lontarkan.
Mau tahu gimana reaksi Lay?
Dia merengut dan ngeliatin si SPG itu dengan tatapan unicorn mau ganti tanduk. Jengkel banget.
‘Ah, bisa aja,’ dan dengan genitnya, dia colek lengan gue.
Gue rayu aja terus sampai akhirnya Lay nggak tahan lagi, dan dia berbalik dan ninggalin gue.
Lay cemburu.
Dan ngambek.
‘Maaf. Tapi cowok gue ngambek. Gue nggak jadi beli krimnya, makasih ya,’ dan begitu gue sebut tentang cowok gue, muka cewek itu langsung pucat. Hahahaha.
Syok baru pertama kali liat cowok kece tapi pacarannya sama cowok juga.
Kasihan.
Lay ngambek sampai malam. Tapi setelah gue jelasin kalau gue hanya ngerjain aja, dia pun ceria lagi.
Ternyata ngambeknya Lay juga dalam rangka ngerjain gue.
Dasar!
Niat ngadalin dia, eh malah kena dikadalin. Seriusan, Lay nggak boleh bergaul terus-terusan sama Luhan. Itu orang jahilnya sudah taraf profesional.
Rumah gue sudah kelihatan. Semoga ada mama di rumah. Katanya mama sudah pulang dari jalan-jalannya keliling Eropa.
Orangtua yang asik, ya?
Di saat anaknya terlunta-lunta di kota lain, sendirian dengan uang saku bulanan yang harus diirit-irit, mereka malah jalan-jalan.
Berbekal kunci serep rumah, gue pun berhasil masuk.
Aroma lezat masakan menandakan bahwa MY MOM IS HOME!!!
Hampir setengah tahun gue nggak ketemu mama.
“Mooooom!” pekik gue sambil lari ke dapur.
Dan mama pakai celemek, celana jeans selutut, kaos oblong, dan rambutnya pendek.
“Mom, how could you look excactly like my boyfriend?”
tanya gue sambil naruh tentengan gue di atas meja dapur.
“Because I am not your mother, Kris!” sahutnya sambil ngelirik gue dengan malas. Tangannya sibuk ngaduk-ngaduk sayur di dalam panci.
“But I want my mommy,” gue merajuk sambil tarik-tarik lengan kaosnya.
“Kris, please, ini jijik!” balasnya.
Gue nggak bilang apa-apa lagi, dan gue peluk dia dari belakang.
Gue hirup aroma tubuhnya yang…
Bau bawang dan bumbu lainnya.
Tapi gue bahagia akhirnya bisa ketemu Lay.
Meski agak kecewa karena bukan mama gue yang lagi masak. But finally I met him.
.
.
.
.
Makan malam teristimewa.
Meja penuh masakan kesukaan gue, dan makhluk terindah yang duduk di hadapan gue.
Perfect night, eh?
“Jadi tadi itu mamamu nelepon aku, Kris. Dia bilang kalau pesawat buat ke sini adanya besok malam. Aku disuruh masakin buat kamu. Ya sudah, sebagai calon menantu yang baik, aku nurut aja, deh,” jelasnya sambil ngunyah daging panggang.
Gue manggut-manggut aja.
“Heh, kamu kenapa kemarinnya pas anniversary kencan pertama kita nggak pakai baju itu? Bukannya kamu sudah setuju buat selalu mereka ulang semuanya, termasuk pakaiannya?” cecarnya sambil nyureng.
Ah, lo nggak tahu, Lay.
Sebenarnya dari bangun tidur gue langsung pakai baju yang sama seperti waktu kencan itu. Tapi gue sengaja nggak bilang, karena malu dibilang alay.
Gue pakai kaos putih dengan kombinasi hitam di lengan, dan ada gambar tengkorak narsis pakai topi. Gue memang nggak suka yang ribet-ribet. Asalkan nyaman dipakai, ya sudah, gue pakai aja.

“Sorry, Lay. Gue kemarinnya itu lagi sibuk ngurusin tugas, jadi nggak kepikiran ama yang kayak gitu.” Gue berkilah. Lay cuma menghela nafas.
Gue mandi dan ganti baju. Lalu gue ajak Lay keluar. Sudah agak malam, sih. Jam sembilan kurang. Tapi gue pengin kencan di luar sama Lay.
Dengan mengendarai mobil hitam gue, kami pun nyari tempat kencan. Gue ngusulin tempat yang lagi rame dibicarain itu, tapi Lay nggak mau.
“Waktu itu aku diajak ke sana sama Luhan. Tempatnya, sih, bagus. Tapi terlalu rame dan live music-nya berisik. Aku nggak suka.” Kata Lay waktu gue mau belokin mobil ke arah jalan tempat café itu berada.
“Terus mau ke mana?” gue agak capek sebenarnya. Tapi kalau di rumah terus, kan, kasihan Lay. Pasti bete banget.
“Aku tahu tempat yang cocok buat kencan kita malam ini. Tempat itu tenang, elegan dan ada grand pianonya. Aku pengin main piano di situ,” ujarnya dengan mata berbinar-binar.
“Memangnya boleh sembarangan gerayangin piano orang?”
“Boleh, kok. Aku kenal sama semua yang kerja di sana,” sahutnya bangga.
“Kok, lo bisa tau?”
“Aku pernah kerja di sana sebentar. Hehehe,”
Gue toyor kepalanya.
Kirain dia punya koneksi sama pemiliknya atau orangtuanya nanem saham di tempat itu. Ternyata..
The Delight Café
Itu rangkaian huruf yang terpampang di atas pintu kaca.
Dari pintu kaca itu, gue bisa lihat ada beberapa meja yang sudah terisi oleh pasangan-pasangan lanjut usia.
Ini café atau panti jompo?
Gue bisikin Lay.
Dia hanya menggeram kesal sambil injak kaki gue.
Kami berdua masuk dan disambut seorang cowok agak pendek, ya, lebih pendek dari Lay. Namanya Jim. Entah nama aslinya siapa.
Lay dan Jim saling tukar sapa, dan gue dipersilakan duduk di meja dekat mini stage dengan grand piano yang begitu cantik.
Nggak ada band yang main di atas panggung kecil itu. Hanya seorang perempuan umur 30-an yang lagi menekan tuts pada piano itu dan nyanyi dengan suara yang begitu merdu.
Gue dan Lay terhanyut dalam indahnya suara wanita anggun itu.
Berhubung kami sudah makan malam, maka kami pesan dessert aja sama minuman.
Lay pesan , Bûche de Noël

dan gue pesan La Côte Basque’s Dacquoise .

Jujur aja, gue nggak ngerti bacanya gimana, pokoknya kedengaran keren.
Untuk minumannya, kami juga pesan yang namanya aneh-aneh.
Lay yang nggak suka kopi, milih The au Lait yang artinya teh susu.
Gue yang demen kopi, menaruh pilihan pada café au Lait, alias kopi susu.

Hahahaha. Namanya aja yang keren, padahal mah biasa aja.
Gue dan Lay menyantap lezatnya dessert a la france ini, ditemani alunan melody dari piano, ditambah lagi pencahayaan yang begitu mendukung suasana.
Memang selera Lay kadang begitu tinggi. Dia tahu mana tempat-tempat yang romantis.
Setelah selesai makan pencuci mulut itu, tiba-tiba Lay bangun dan maju ke meja kasir. Dia bisikin temannya itu dan tersenyum.
Oh, ternyata dia tadi minta ijin buat mainin piano.
Cowok gue itu berdiri di panggung, begitu bersinar.
Dia membungkuk sopan kepada para pengunjung, dan duduk di depan piano.
Jemarinya menari indah di atas tuts putih hitam itu. Dentingan nada yang begitu lembut bikin hati gue berdesir.

Tapi itu belum seberapa…
Begitu untaian kata-kata indah terucap dari bibirnya…
I’m melting.
Suara lembutnya, lirik lagunya dan alunan musiknya bikin gue hanyut dan terbawa arus keindahannya.
‘Said I, many times, love is illusion.
A feeling result of confusion,
With knowing smile, and blazing sigh
A cynical so and so was I…’
Bait pertama yang, unfortunately, nyindir gue banget.
Gue dulu nganggep cinta adalah ilusi. Omong kosong. Dan gue begitu sinis akan perasaan yang dielu-elukan dan diagung-agungkan itu.
‘I felt so sure, so possitive.
So utterly, unchangingly certain,
Though I never was aware of love and you’
Bait ke dua, ngena banget. Gue yang selalu bersikap apatis terhadap cinta, begitu yakin bahwa gue nggak akan ngerasain yang namanya cinta. Cinta dan romansa kayak di film-film adalah ilusi. Imajinasi belaka.
Denting piano terus menggema di seantero café. Gue lirik ke pasangan beruban di samping gue, mereka tampak begitu serasi. Mata keduanya memancarkan cinta. Tangan mereka saling genggam.
Eternal love…
‘To suddenly I realized there was love
And you, and oh…’
Terjerat makin dalam pada sihir memikat Lay, dia seolah menyatu dengan piano itu. Mereka seolah ditakdirkan bersama.
Piano! Jangan curi Lay dari gue.
Kris, ngapain lo cemburu sama piano?
Yifan! Enyah kau!
‘In this world of ordinary people,
Extraordinary people…
I’m glad there is you..
In this world of over-rated pleasures,
Of under-rated treasures,
I’m so glad there is you…’
Dan matanya natap gue penuh rasa syukur. Seolah gue adalah hal terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.
Dan lagi-lagi, bait itu menyentil ego gue. Di saat gue meragukan keagungan cinta, gue akhirnya terjerat dalam pesona Lay. Cowok berisik yang minta diajarin bahasa inggris.
Dan seperti yang selama ini gue akuin, I’m so glad there is Lay.
Di antara sekian juta orang, gue bahagia ada Lay di dunia ini.
‘I live to love, I love to live with you beside me.
This role so new, I’ll muddle through
With you to guide me…’
Bait ini memang benar. Gue sudah bisa hidup demi mencintai, dan mencintai hidup bersama Lay di sisi gue. Awalnya gue agak kagok, canggung dan nggak tahu musti gimana. Tapi Lay dengan sabar bisa membimbing gue. Merubah pola pikir gue yang egosentris menjadi lebih menghargai orang lain.
He changed me to a better person.
‘In this world where many, many play at love,
And hardly any stay in love,
I’m glad there is you…’
Gue baru nyadar bahwa jalinan cinta gue dan Lay berjalan selama kurang lebih empat tahun. Bukan masa yang sebentar. Setahun di masa-masa SMA, dan hampir tiga tahun di masa-masa kuliah. Dan cinta gue masih bertahan, malah makin besar kapasitasnya. Semua karena Lay.
Again, I’m glad there is you, Lay.
Jemari lentiknya seolah menikahi tuts-tuts itu, tiap tuts yang ditekan memunculkan suara yang begitu indah. Gue baru tahu kalau Lay bisa mainin musik jazz. Selama ini dia sering mainin musik-musik klasik.
‘In this world where many, many play at love,
And hardly any stay in love,
I’m glad there is you…
More than ever… I’m glad there is…
You…’
And the song ends…
Standing applause dari semua yang ada di café itu.
Dan gue…
Gue makin mencintainya.
Lay memukau semua orang, bahkan dari beberapa meja di café itu, gue lihat pasangan-pasangan itu mengecup pasangannya.
Lagu itu mungkin sudah mengungkapkan perasaan mereka.
Lay membungkuk dan turun dari panggung itu.
Dia duduk di depan gue dan senyum-senyum malu dengan pipi memerah.
“Can I kiss you right now?”
Dia terkekeh, “You have to wait until we get home,” balasnya sambil kedipin sebelah matanya.
“Let’s go home! Now!” dan gue berdiri lalu gandeng tangan Lay.
Uang dan tips sudah gue taruh di atas meja yang gue tindih dengan tempat tisu, biar nggak ke mana-mana uangnya.
Lalu agak tergesa-gesa, gue masuk mobil.
“Lay! Hurry!” gue sudah nggak sabar pengin cepat-cepat sampai rumah.
Begitu pintu mobil menutup, gue langsung tancap gas dan mobil pun melaju.
“Kamu kenapa, sih, Kris?” Lay tampak terganggu sama sikap grasak-grusuk gue.
“I want you, Xing!” desis gue sambil nahan segala macam gejolak dalam tubuh gue.
Bunyi ban berdecit saat gue rem laju mobil tepat di depan rumah. Kami berdua keluar dari mobil dan terburu-buru gue buka pintu.
Tangan Lay langsung gue tarik begitu pintu rumah menututp di belakang gue. Gue jamah wajah Lay dengan bibir gue. Gue kecup dia, rayu dia dan goda dia dengan ciuman-ciuman kecil yang lembut.
Bibir gue pun sudah nemuin tempatnya.
Bibir Lembut Lay.
Gue rasain rambut gue diremas-remas lembut, bibir gue dijilat dan dihisap pelan, dan gue tekan tengkuknya untuk makin dalam dapat akses ke dalam mulutnya. Nafas kami makin memburu, tangan gue menelusup ke balik kaos Lay dan memijat lembut punggung bawahnya. Dia menggeliat geli hingga bikin bagian depan kami saling bergesekan. Dan gerakan itu bikin darah gue makin deras mengalir ke seluruh tubuh gue.
Nggak sampai lima menit sejak bibir kami berjumpa, kaos gue dan Lay sudah teronggok nyaman di lantai. Dan desahan gue sudah mulai bersaing dengan desahan Lay, saat cowok gue itu menarikan bibirnya di leher, bahu, dada dan perut gue.
Bagian bawah gue sudah mengeras, dan Lay dengan nistanya ngerjain gue.
I want it inside his hot mouth!
Tapi dia malah ngiterin tubuh gue dan mulai kecup punggung gue. Tangannya meraba-raba dada dan perut gue, sesekali makin turun kebawah untuk nyiksa gue.
Karena nggak tahan, akhirnya gue putar badan menghadap Lay. Dan detik berikutnya bibir gue sudah melumat bibirnya.
Lidah nakalnya gue hisap, membuat erangannya merambat ke mulut gue. Lengan-lengannya meluk erat pinggang gue. Membuat bagian sensitif kami saling menekan.
Gue lepas ciuman kami hanya buat membebaskan bagian bawah gue yang rasanya seperti dicekik. Terlalu sempit.
Gue nggak ingat gimana kami sampai di ranjang jumbo gue dan sekarang Lay berada di bawah gue, ngegigit bibir bawahnya yang sensual, dongakin kepalanya kebelakang sambil nahan erangannya. Gue terkam leher mulusnya dan hiasin dengan bercak-bercak merah muda.
Semakin dia melengkungkan punggungnya, semakin dalam gue memasuki dirinya.
Derit ranjang mengiringi tiap hentakan, berkolaborasi dengan desahan dan erangan kami.
Seprai terasa basah karena keringat yang bercampur cairan kami berdua.
Puncak kepuasan kami capai bersama.
Sudah lama banget rasanya kami nggak ngelakuin ini. Gue rindu tiap prosesnya.
Gue usap keringat dari dahi Lay, dan gue kecup lembut ujung hidungnya.
“You are amazing, Lay…” puji gue sambil natap wajahnya.
“Thank you. I learned it from you,” balasnya seraya tautin jemarinya dengan jemari gue.
Gue terkekeh dan kecup ringan bibirnya yang masih tersenyum itu.
“Anyway, that song was astonishing, did you write that?”
“Hmm… yeah. How was it? Aku lagi nyoba musik jazz. Bagus, nggak?”
“Lo dapat standing applause, o’on! Masih tanya bagus atau nggak, huuuu,” dan gue jitak pelan dahinya.
“Nggak make ngatain bisa nggak, sih? Stupido!” gerutunya.
Gue abaikan aja omelannya. Toh, dia ngatain gue stupido melulu.
“Lo beli apa aja pas keluyuran kayak orang ilang kemarin itu?” gue pun merubah topik pembicaraan.
Dia duduk sambil tepok jidatnya. “Oh, iya! Aku lupa! Sebentar, aku bawa ke sini, kok,”
Dan dengan polosnya, maksudnya dengan tubuh polosnya, dia ngambil bungkusan dari samping lemari pakaian gue. Dan tanpa repot-repot nutupin bagian bawah badannya yang bikin gue mupeng terus itu, Lay duduk di kasur dan nyodorin bungkusan.
“What’s this?” alis gue terangkat.
“Just open it, moron!”
“Nah! Lo barusan ngatain gue bodoh!” sentak gue sambil nunjuk muka Lay.
“Moron! Buka kadonya!” balasnya tanpa peduliin protes gue.
Gue robek kertas pembungkusnya dan langsung gue lempar hadiah itu ke muka Lay. Dan dia malah ngakak sambil meluk boneka naga merah yang aneh!

Kemarinnya dinosaurus ijo muka o’on, sekarang naga merah muka aneh.
“Aku pas lewat depan etalase, lihat ada boneka itu. Lha, kok, ingat kamu. Hehehe. Niatnya nggak mau beli, sih. Tapi takutnya ntar aku kepikiran terus, maka aku korbanin uang jajan seminggu buat beli ini. Makanya, dijaga baik-baik,” jelasnya sambil elus-elus kepala boneka itu.
“Namanya siapa?”
“Hmm… Draco?” usul Lay.
“Nggak! Ntar nyebelin kayak Draco Malfoy. Gimana kalau kita kasih nama… LayTard?”
“Apaan, itu?”
“Lay retard! Bhuakakakaka,”
“Sialan! Heh! Yang serius ngasih namanya!” aduh, poni gue rontok dijambak Lay.
Setelah perdebatan sengit akhirnya gue dan Lay sepakat ngasih nama boneka naga itu, KRAY. Gabungan antara Kris dan Lay.
I know, that’s teribbley disgustingly cheesy. Tapi daripada nama-nama aneh yang tadi bermunculan?
Besok adalah hari pertama gue habisin masa berlibur bersama Lay.
Semoga hari-hari gue nantinya bakal selalu indah dan random seperti biasa.
Karena tanpa suatu ke-random-an, hidup ini hanyalah untuk menghabiskan umur aja.
Sia-sia, kan?
“Lay… lo tahu?”
“Nggak, tuh. Apaan?”
“Gue sayang lo,” bisikku sambil kecup dagunya.
“Iya, aku tahu. Dan aku juga sejuta kali lipat sayang sama kamu,” dan dia tangkup muka gue dan hujani bibir gue dengan ciuman-ciuman basah yang bikin hasrat gue naik lagi.
Beberapa menit berikutnya, si naga Kray sudah nggak lugu lagi. Karena dia sudah jadi saksi gue dan Lay bercinta.
Poor red little dragon.
THE END
A/N : aku nggak tahu siapa nama boneka naga merah itu. Yang namanya rupert itu yang dinosaurus ya? Gak penting juga, sih. Hahaha
maaf buat NC yang nanggung. ;P





21 responses to “I’m Glad There Is You”
another of me (@another_ofme)
January 15th, 2013 at 09:01
seriusan Kak, nanggung banget.
*jitak* *dasar otak pervert*

tapi berkat cerita ini, aku jadi on lagi. maksudnya mataku yang tadinya 5 watt langsung cerah 50 watt.
kemarin hatiku remuk liat kris jalan sama baekhyun. udah gitu, semalem tidur cuma 3 jam, begadangan ngerjain tugas dan belajar buat ujian.
pas lagi ngantuk-ngantuknya, iseng buka blog Kakak. eh, liat ada update-an ff, baca deh. ceritanya sweet banget, bikin aku senyum-senyum kayak orang gila. hehehe..
ini cerita pelepas dahaga akan Kray. kalo boleh minjem kata-katanya mbak Anggun, bagaikan Snow Fall On Sahara. adem banget.
selama ini menderita di tengah gersangnya moment Kray, dan digempur badai KrisBaek. makasih banyak ya Kakak. ai lob yu. <3
uh, kok lagi nulis komen ini aku ngantuk lagi ya?
yaudah deh Kak, aku gak tau lagi apa yang aku tulis di komen ini. ngantuk banget. besok masih ada ujian. (tuh kan, ini komen gak mutu banget. kebanyakan curcolnya. pppfffttt)
makasih banyak ya Kakak, udah update ff Kray.
aku ridho bin ikhlas Luhan buat Kakak. biar Lay balikan lagi sama Kris. hehehe..
met bobo. *tendang Luhan dari kamar LayHan* *masukin Luhan ke kamar Kakak* *tarik Lay buat tidur sama aku*
mejiemagic
January 16th, 2013 at 03:08
wkwkkw anggun dibawa2.
q seneng bisa ngobatin kangen akan kray moment. emg nih kris lg ganjen mulu ama baek n yeol. dodol
krispylayscrunchy
January 15th, 2013 at 09:55
Aku juga kangen kray moment. :’(
Aduh…. ini fic jadi obat kekalutanku-?-.
Aku ketawa-tawa nyesek baca fic ini.
Disatu sisi nyengir-nyengir sama manisnya kray di fic ini, tapi sisi lain nangis kejer gegara gag sengaja liat poto Kris mesra2an sama Baekhyun di airport kemarin. #seret Baekhyun kepelukan Chanyeol#
Wkwkwkwkwk
Yes! Seneng deh si Kris dipanggil “Pak”, muka lo emank kek bapak-bapak Kris.
Kris narsis banget plus ganjen. Sukaaaa pas Kris bikin Lay jealous.Kekeke. Kasian banget tuh mbak2 SPG tau Kris gay.
Waktu mereka di cafe kesannya romantis n elegan.
NCnya bikin gag kuaaaaaat.
Nama bonekanya lucuan Laytard. lol.
Makasiiii Kak, uda bikin fic ini.
Ciao~
mejiemagic
January 16th, 2013 at 03:09
kris mintanya dicekek terus dicelupin kedalam sumur. nyebelin banget. hehehe g ngertiin prasaan lay
kwon0497
January 15th, 2013 at 11:14
Aku juga kangen kray…….
These past days penuh sama Krisbaek dan emg lucu sih mereka tapi aku kangennya sama kray. Aku maunya Kray. Pengennya hari ini di red carpet gda ada kray eh malah adanya krisyeol -_-
Iya kak nc nya nanggung ._. Tapi mendingan yg nanggung aja dh dari pada yg jelas bgt gitu. I’m used to it… tapi mendingan yg nanggung gini lah -_-
Aku suka bagian pas Kris sampe di rumah terus liat Lay lg masak. Haha! Gatau kenapa aku suka aja -_-
mejiemagic
January 16th, 2013 at 03:10
hehehe q juga part itu, niatnya mau beneran mamanya, tp krg asik, akhirnya jdinya gitu deh hehehe
cnred69
January 15th, 2013 at 11:49
yesss fic baruu. aku juga kangen fanxiing
hm hm hm kayaknya aku lebih suka kris pov deh, soalnya kelihatan betapa cintanya kris sama lay X3 /halah
aduh kris pervy bgt, gitu doang sampe bikin pgn gituan (?)
aku suka dialog yg terakhir awww
ini manis deh pokoknya, kayak pic lay diatas /loh
mejiemagic
January 16th, 2013 at 03:13
hehehe makasiiiih
q lg nguras otak dan jiwa buat angkat kray kepermukaan, krn serangan krisbaek dr kmrn itu bkin mumet
lee_liu
January 16th, 2013 at 09:06
nyahahahahahahahhahahaha…. KRAY SERIES!!!!! klo bca yg ini bru aq bener” paham cerita yg kmrin itu… nyambung banget ini*author:situ aja yg oon -__-
paling suka klo kris dh mlai ngebatin*yg ngomong” sndiri dlam hati*-iya tau- pkoknya yg kris pov itu loh-iya bawel!!- pkonya sesuatu bgt si kris… kliatan gmna sifat dia aslinya,, pke cemburu ama piano,, g elit bgt lu kris!!
wktu ama mb” SPG nya jga,, bkin ngakak.. ngebayangin muka lay pas si kris lgi kluar ganjennya XD
yg ini bener” ciri khasnya kak choco bgt dh.. manis renyah gmna gitu T^T
liburan pertama…. DITUNGGUUUUU!!!!!
*itu bonekanya unyu” smw.. mauuuu T_____T
mejiemagic
January 16th, 2013 at 11:30
hehehehe makasiiiiiiiiiiiiiih
Kyuseob
January 16th, 2013 at 10:45
sebenernya udh tobat gak baca NC Lgi.pi karna ini Kray.tak apalah.wong umur Ane juga udh 19+jdi gak apa”.itung mengobati hati.gara”lw di Airpot kris nempel ma bebek mulu.lw pacran kyak mrka tuch kyaknya indah bngt ya.
mejiemagic
January 16th, 2013 at 11:31
iyaaaaaaaaa krisbaek bkin penat
Dolphinlight
January 16th, 2013 at 16:24
Seperti biasa, the stupido pervert bitch dragon emang suka gitu…. #gituapadeh /ditimpuklay
duh, tan, jadi kangen kray nihhh..
and yes! exo stans need more kray moment :*****
mejiemagic
January 17th, 2013 at 03:04
dan kayaknya ada kray moment kmrn. lay gandeng lengan kris di airport kl g salah. trs ada part dmn lay mau ke toilet, en hanya kris yg ngikut. ngapain mrk ditoilet? >/////<
Chaca woo
January 18th, 2013 at 16:58
Mom!!! gue lebih suka nc yang di skip kaya diatas!! Gak dikasih detail tapi cuman implist doang…
Ya ampun Krisus!! Lu demen banget ya bikin orang kesel!!
Kirain kagak pake baju yang kaya lay ternyata malah gengsi ngakuinnya terus lagi dgn stupidonya ngira lay mamanya.. dasar oon!!
Lay!! U are such a romantic guy! beda banget m krisus yang cuek gitu..
But saling melengkapi lah…
Sukses fanfict mom bikin aku senyum2 kayak orang gila,.
mejiemagic
January 19th, 2013 at 01:37
jgn2 emg udh kali? hahahah thx yaaaa dh setia baca blogku
Anna Gift (@sittaxing)
January 20th, 2013 at 02:21
ga siap ternyata di tengah jalan ada nc! asdfghjkkl kasian si naga merah harus jadi saksi mereka hahaha
ko ceritanya mulai ngarah kris n lay bakal nikah? jadi bikin penasaran campur deg degan >< semoga lay bisa dpt restu dr ortunya…
klo kray nikah jgn lupa undang aku, ok? keke
mejiemagic
January 20th, 2013 at 03:49
ntar diundang lewat sms aja, ongkir undangannya mahal
shiussi
January 21st, 2013 at 10:41
aish~ keren, senyum senyum sendiri masa baca nya
OKE Kray lamloy *eh
mejiemagic
January 28th, 2013 at 02:38
hehehe emg kray sweet bgt kok *soktau
Nury Itsnaeny
February 6th, 2013 at 04:47
Sumpe deh sayah ngakak g habis-habis pas kris ngebayangin kalo dia ngenalin lay sebagai pendamping hidupnya wkwk kocak gila
Trus adegan si chanyeol juga, walau Cuma sekilas pas pembukaan tapi kata-kata si kris, lumayang ngocok isi perut hahai
Omona thorr >< si lay cweet buanget, uke yang bener-bener romantis haha, truss pas adegan NC-nya, karena aku ehem polos *plakk, jadi aku g baca, entah kenapa aku g bisa baca haha, aku Cuma berani baca paling pool pas adegan smut kalo ampe NC g terlalu berani hehe.
Sumpah ya thor ffnya g pernah garing walau pun itu angst, pasti g bakalan garing. Apa lagi di ff ini di bumbui adegan kocak yang bikin ketawa-ketawa gaje, bikin temen ku yang liat muka ku ketakutan haha. 6 jempol deh thor dari aku dua, kris 2 ama lay juga 2 haha XD