*^*^*^*

A/N : This FF is based on one of my favorite songs from One Direction – Little Things. Seriusan, lagu itu enak banget. Dan so sweet. Nggak percaya? Dengerin aja sendiri. Hehehe.

Oh, ya… Ini menggunakan POV orang pertama, jadi sambil baca, mungkin kalian bisa nebak siapa yang lagi cerita. Hohohoho.

 

Enjoy…

/Siapin camilan/

*^*^*^*

*^*^*^*

Libur sehari doang?

Ugh, you gotta be kidding me!

Gimana gue bisa ketemuan sampai puas kalau liburnya cuma sehari?

Nasib banget hidup gue. Mana semua kereta sudah pada habis tiketnya. Masa gue harus naik bus? Kelamaan nyampenya. Tapi daripada nggak ketemu sama sekali?

Gue samperin Chanyeol yang lagi main game di tablet punya Baekhyun, gue duduk di depannya. Maksudnya, sih, buat nyari perhatian gitu. Tapi dasar itu cowok gede di badan doang, jadi sama sekali nggak ngeh waktu gue bolak-balik bersiul kayak bapak-bapak manggil burungnya yang terbang entah ke mana.

Seriusan, gue ngerasa tolol banget.

Akhirnya kesabaran gue menguap.

Agak kasar gue tendang kaki Chanyeol yang segede terompah, itu lho sendal yang dipakai Ali Baba atau Aladin. Ya, kurang lebih gitu, deh. Gue asal sok tahu aja, biar kelihatan kece.

Whatever, back to business.

Chanyeol yang maki-maki gue itu pun akhirnya mau menyadari kehadiran cowok tampan macam gue ini.

Sudahlah, gue memang tampan, nggak perlu diragukan lagi. Jadi wajar lah kalau gue ngerasa pede.

Oke, gue ngelantur lagi.

Cowok gede badan itu natap gue sambil nyureng, kayaknya kalau yang dipegang itu bukan tablet punya Baekhyun, mungkin bakal dia lemparin ke muka gue tuh. Hahaha.

“Lo kayaknya selalu ganggu masa-masa bahagia Chanyeol and his game, deh, Kris!” Gue pengin ngakak dengar istilah itu, mirip judul film calon gagal masuk box office, hehehe.

“Bukan gitu, Yeol. Gue dari tadi bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu, tapi lo malah asik sama game Dora The Explorer yang lo mainin.” Bibir gue kerucutin, yah biar agak-agak imut gitu. Tapi yang ada, Chanyeol malah noyor muka gue pakai tangannya yang segede tutup tong sampah.

“Gue nggak lagi main Dora, dodol!” semburnya. Lagaknya, sih, tersinggung.

“Terus main apaan?”

Go Diego Go!” jawabnya tanpa dosa. Dan itu bikin gue ngakak sampai keluar air mata dari sudut mata gue. Sumpah, Chanyeol itu badan mahasiswa, tapi otak anak TK. Ampun, deh.

“Kris, plis. Gue lagi mau konsen ngembaliin anak jerapah ini ke emaknya. Lagian lo ada urusan apa jam segini gangguin gue?” umpatnya sambil siap-siap nyambit gue pakai sendal jepitnya yang jumbo itu.

Gue buru-buru berdiri di dekat pintu, ya itung-itung bisa langsung kabur kalau mau beneran disambit.

“Jadi gue mau bilang sama lo, kalau gue mau pulang kampung. Tapi gue belum sempet ngambil duit di ATM, waktunya nggak nyukup buat ngejer bus sore ini.”

Dengan penjalasan itu, gue berharap sohib gue ini paham tentang maksud dan tujuan gue.

“Oh, oke,” lalu hening…

Gue tunggu dengan wajah penuh harap. Tapi dari pihak Chanyeol, hanya keheningan yang gue terima. Keheningan yang menusuk jantung hati gue.

Kenapa sobat gue dari jaman sekolah masih nggak paham juga bahasa kiasan gue?

“Umm… Yeollo!”

Dengan begitu enggannya, Chanyeol ngangkat kepalanya dan natap gue dengan tatapan orang nggak napsu idup. Boring banget.

“Lo denger cerita gue nggak barusan?” ujar gue dengan senyum kaku yang bikin pipi gue kejang.

“Iya, yang lo curhat tentang ATM yang nggak bisa diambil duitnya, kan? Palingan belum diisi, tuh,”

For God’s sake, was he even listening to me? Stupid giraffe!!

Kesabaran gue habis.

“Park Chanyeol! Gue pinjem duit lo dulu, bisa?” dan harga diri serta image gue runyam seketika. Luluh lantah. Hancur berkeping-keping. Bahkan menjadi butiran debu yang tertiup angin yang berhembus dari kipas angin yang sudah males geleng-geleng itu.

“Males!” katanya.

Nggak gue sangka, sahabat gue, si Park Chanyeol berkata seperti itu?

Oh, ini bencana!

Nggak ada uang, maka sama dengan nggak ada kecupan dari kekasih gue, Zhang Yi Xing.

Gue harus bisa pulang sore ini! Harus! Biar mau sampainya tengah malam juga nggak masalah. Asalkan bisa melepas rindu yang membelenggu dada gue, akan gue jabanin apapun itu juga. Meski gue harus ngesot ke rumah Lay, which I won’t waste my time and energy to do that, actually.  But just to sound cool and heroic, and sweet, and cheesy, and….

Stop it already, I sound like a pathetic desperate lover.

 

Don’t make beg, please!” jurus judes pun gue lancarkan, demi menggapai tujuan mulia.

“Begitu balik ke sini, lo harus ganti!”

Yes! Meski mukanya cemberut, tapi tetap aja dia keluarin dompet kulit kumalnya dan ngeluarin beberapa lembar uang. Lumayan cukup buat transport pulang pergi.

Gue sudah mau peluk Chanyeol, tapi dia malah siap-siap mau nendang selangkangan gue.

No hugging! You pervert!” sial! Gue dikatain pervert. Padahal gue mau berterima kasih.

Ya sudah, gue akhirnya hanya tepuk pelan pundaknya. Dan gue pun nyamber jaket, lalu pergi ke terminal.

Untungnya masih ada satu bus yang belum berangkat.

Tiket sudah di tangan. Jantung gue kayak lagi pesta kembang api, rasanya kayak ada yang meledak-ledak dengan jutaan warna yang begitu indah.

I’m excited to meet him.

To see his dimple when he smiles.

To hear his cute and pure laugh.

To look into his calming eyes.

To touch his smooth skin.

To peck his soft kissable lips.

To embrace him. To feel the heat from his body.

Ah… nggak akan ada habisnya kalau ngebahas tentang hal-hal yang gue suka dari Lay.

Gue ngerasa bus ini kurang ngebut. Rasanya kayak lagi naik siput. Lelet banget.

Andai gue bisa berteleportasi kayak Jumper atau Harry Potter, pasti tiap nggak ada kerjaan, gue pasti ke rumah Lay terus.

Langit yang tadinya biru cerah, sekarang kelihatan seperti ketumpahan cat minyak warna jingga dan merah bercampur kuning. Matahari sudah makin menghilang. Sebentar lagi malam akan datang. Dan gue memperkirakan bus lelet ini bakal nyampe sekitar jam sepuluh malam. Semoga aja Yixing belum tidur.

Rasa kantuk tiba-tiba gelayutin mata, dan buat ngusir rasa kantuk itu, gue langsung pasang headset, dan nyari lagu-lagu berbahasa Inggris yang gue suka.

Gue scroll ke pilihan lagu, dan gue pun bikin playlist yang bisa bikin gue agak melek, sambil ngelamunin Lay.

Yang pasti Taylor Swift ada dalam playlist, suaranya itu khas. Gue suka. Ada Linkin Park, Eminem, Ne-Yo, Craig David, Jason Mraz, Mariah Carey, dan banyak lagi. Gue pilih lagu-lagu yang variatif genre-nya. Biar mood keangkat.

Udara makin lembab, gue pun merapatkan kerah jaket dan nyender di kursi –yang untungnya empuk- dan ikut nyanyi bareng Taylor Swift. The Story Of Us. Lagunya up-beat yang bisa lift my mood.

Gue bersyukur karena di samping gue tempat duduknya kosong, jadi gue nggak ganggu orang dengan suara gue yang… yah… begitulah.

Beberapa orang sudah tidur, bahkan ada om-om brewokan yang ngoroknya kenceng banget. Dan volume MP3 player gue tambah, demi nutupin suara berisik itu.

Kurang sejam lagi dan gue bakal sampai.

Gue rindu banget sama Lay.

Meski belum lama ketemu, tapi gue nggak tahu kenapa bisa sering kangen. Dia seperti magnet.

Gue menguap berkali-kali sampai rahang gue pegal. Pengin tidur, tapi takut kebablasan. Karena bus ini belum sampai permberhentian terakhir. Jadi setelah gue turun, maka bus itu bakal ngelanjutin perjalannya.

Hampir aja gue ketiduran, untungnya si kondektur yang mukanya kayak tukang jagal itu colek-colek bahu gue dan ngasih tahu kalau busnya udah sampai terminal.

Gue buru-buru turun dan hawa dingin menampar muka tampan gue. Dan hidung gue langsung mengerut. Seriusan, dinginnya bikin pori-pori menciut. Gue nyari-nyari wujud mobil kuning yang dalamnya suka bau ketek atau kentut yang bercampur pengharum mobil murahan yang udah lama nggak diganti itu, tapi nggak kelihatan juga. Pada ke mana, sih, taxinya?

Jarum jam sudah nunjuk jam sepuluh lebih lima belas menit, dan gue nggak ngelihat satu taxi pun.

Makian meluncur deras dari mulut gue. Gimana nggak kesel, coba?

Gue harus jalan ke rumah Lay.

Nggak jauh, sih, ya mungkin sekitar 20 menit lebih sedikit. Tapi udaranya yang dingin itu yang bikin malas.

Tapi perjuangan gue ini demi ketemu cowok paling nyaris sempurna di dunia. Cowok yang bisa bikin gue head over heals, alias jungkir balik, kayang, salto dan sebagainya.

Sepanjang perjalanan ke rumah Lay, gue ketemu beberapa kenalan gue. Ada yang dulunya kurus dan sekarang jadi berisi, ada yang masih utuh. Setelah basa-basi dan tukeran nomor telepon, gue pun permisi buat lanjutin misi gue.

Gue sempetin mampir ke mini market 24 jam buat beli beberapa makanan dan minuman, siapa tahu Lay nggak masak dan dia belum makan?

Tapi biasanya dia sudah tidur jam segini. Kecuali kalau penyakit insomnia-nya kambuh.

Hmm… semoga kambuh!

Hehehe

Akhirnya, setelah berratus-ratus langkah dari terminal, genteng rumah Lay kelihatan. Rasa capek yang ngegondelin kaki gue  segera lenyap, menguap dan tertiup angin. Kedua kaki gue mendadak kerasa ringan banget, dan gue seolah terbang melayang ke rumah Lay.

Mungkin gini rasanya tokoh-tokoh dalam film silat yang suka terbang-terbang itu kali, ya?

Dengan berbekal kunci serep yang selalu gue jadiin liontin dan selalu gue pakai di leher gue ini, pintu rumah cowok gue pun bisa dibuka.

Suasana remang-remang dan keheningan menyambut kedatangan gue. Celingukan nyari sosok Lay di semua sudut rumah, tapi nggak ada.

Di ruang tengah, di dapur, di kamar mandi. Lay nggak tampak.

Pilihan terakhir ya kamar tidur.

Gue ketuk pelan, tapi nggak ada jawaban.

Sial! Kenapa dia tidur cepat malam ini?

Gue tekan kenop pintu sampai bunyi ‘klik’ dan pelan-pelan gue dorong pintu sampai terbuka lebar, dan di sanalah makhluk paling indah itu sedang tidur…

Dengan mulut mangap. =_=

Aha! Bukannya waktu itu dia motret gue pas lagi tidur, kan?

Ha ha ha…

It’s revenge time, Xing.

Ha ha ha

Oke, gue pasti kelihatan evil banget, ya?

Biarin.

Dia juga evil. Mukanya aja yang polos, aslinya mah usil banget. Pasti gara-gara kelamaan temenan sama si Lunggos.

Sambil berjalan jinjit, gue deketin ranjang Lay, dan keluarin hape gue, dan muka mirip ikan megap-megap kehabisan nafas berhasil gue capture dengan kamera 5 MP di hape gue.

Hah! Mampus lo, Xing! Hahahaha.

Bisa buat blackmail dia kalau nggak mau nurut sama gue.

Aduh, kenapa gue ngerasa jadi kayak tokoh antagonis.

Gue simpen hape gue dalam kantong jaket yang sudah gue cantelin ke gantungan baju di belakang pintu.

Gue samperin lagi ranjang Lay, dan gue lihat banyak kertas dan buku yang berceceran di sekitar ranjang. Sepertinya dia habis perang sama buku.

Belajar aja kok sampai heboh gitu. Atau mungkin dia belajar bareng Luhan?

Kasihan Lay, dia kelihatan makin tirus. Pasti saking sibuknya.

Tangan gue sentuh lembut pipinya.

Lalu gue mulai pungutin kertas-kertas yang berantakan.

Setelah rapi, gue duduk bersila di lantai yang berkarpet dan duduk menghadap muka Lay yang kelihatan damai banget.

Saking damainya sampai nggak ngerasa kalau lagi ngiler.

Eeew… disgusting.

Dan gue nyamber tisu yang ada di dekat tempat tidur dan ngelap ilernya yang hampir kena bantal.

Eeewwwwgh…

Ganteng-ganteng tapi tidurnya nggak keren.

Buat mencegah pemandangan menijikkan tadi terulang lagi, pelan-pelan gue dorong dagunya ke atas sampai bibir bawahnya nyentuh bibir atasnya, yang sudah nggak sabar pengin gue lumat.

Gue tatap terus wajahnya.

Nggak terasa gue sudah pacaran sama cowok ini selama dua tahun lebih, hampir tiga tahun kayaknya.

Gue bukan tipe cowok sentimentil yang nginget-nginget tanggal jadian, atau sejenisnya. Yang penting gue bisa perlakuin kekasih gue dengan baik, dan seumur-umur gue nggak pengin nyakitin dia.

Selain itu gue juga sudah janji sama mamanya, akan selalu jaga Lay. Terutama ngejaga hatinya jangan sampai hancur.

Kadang gue suka kesal sama Lay.

Dia itu suka mikir yang negatif-negatif tentang dirinya.

Nggak jarang dia ngeluh tentang tinggi badannya yang kurang tinggi.

Saking jengkelnya, gue sempat mau beliin dia sepatu high heels, jadi biar bikin dia diam dan nggak ngeluh lagi.

Gue yakin semua orang pasti bakal suka lihat senyum Lay. Tetapi si tolol Lay malah nggak suka.

Pas gue tanya kenapa? Dia bilang kalau dia senyum atau ketawa, di sudut matanya muncul kerutan.

Waktu itu gue pengin cekek dia.

Sebego itukah Yixing?

Apa dia lupa apa yang bikin gue jatuh cinta setengah mampus sama dia?

Senyumnya. Itu senjata pemusnah hati gue. Bikin hati gue nggak bisa berfungi normal lagi, dan akibatnya otak gue jadi nggak normal juga.

Semua gara-gara senyumannya.

Dan dengan muka polosnya dia bilang kalau dia benci lihat kerutan di sudut matanya kalau lagi senyum?

Kebangetan!

Lay sering ngerasa bego , hmm.. emang bego, sih. Oops. Hehehe

Jadi dia itu sering diomelin dosen gara-gara suka tiba-tiba nge-blank.

Misal pas lagi presentasi, eh di tengah-tengah penjelasannya, dia kayak lupa semua yang sudah dipelajarinya. Terus dia bakal berdiri bengong dengan tatapan kosong.

Dan itu memang sering terjadi kalau pas lagi bareng gue. Kayak yang tiba-tiba jiwanya terbang ke mana. Dan gue harus jentik-jentikin jari gue buat ngembaliin dia ke bumi.

Dan Lay benci itu. Dia nggak memahami kerja otaknya yang suka nge-hang gitu. Katanya itu sudah dari jaman dia remaja.

Gue suruh dia minum suplemen buat otak. Siapa tahu bisa mengurangi keanehannya itu.

Hal lain yang Lay nggak suka dari dirinya adalah kebiasaan buruknya gigitin kuku kalau lagi konsentrasi. Padahal kalau menurut pandangan gue, Lay berada dalam kondisi paling cute kalau lagi serius dan mulai gigitin kuku jempolnya.

Tapi gue nggak pernah bilang kalau gue suka. Karena memang menggigiti kuku itu bukan kebiasaan baik. Bisa jadi perantara masuknya kuman-kuman ke dalam tubuh.

Hemofilia. Penyakit kelainan darah yang entah bisa disembuhin atau nggak, menjadi kenyataan yang paling dibenci dan disesali Lay.

Dia jadi nggak bisa bebas ikutan kegiatan olahraga yang kasar. Dia bisa olahraga yang aman-aman aja.

Dan karena kelainannya itu, orangtuanya jadi lebih overprotective, dan dia benci itu.

Lay nggak suka dianggap lemah.

Kadang sikap sok kuatnya itu yang bikin gue jadi berantem sama dia. Tapi dia tahu kalau gue marah-marah karena gue terlalu sayang sama dia. Dan akhirnya dia bakal minta maaf dan gue hadiahin dengan ciuman yang bisa bikin lututnya lemes. Hehehe.

Gue dengar dari Luhan kalau Lay itu nggak suka dengerin suaranya kalau direkam. Katanya mirip cewek.

Ah, dia suka bikin asumsi seenak jidat. Padahal gue suka banget dengerin suaranya yang lembut itu.

Lay bisa jadi cowok yang manly dan seksi kalau lagi serius dan tegas. Kadang gue ngerasa terintimidasi sama sikap tegasnya itu.

Tapi di lain waktu dia kelihatan cantik, lembut, kalem dan keibuan. Dan gue suka banget dua karakter Yixing itu.

Karena ada saat-saat di mana gue butuh sosok yang tegas yang bisa negur gue kalau gue berbuat salah. Sosok yang bisa ngarahin gue yang suka seenaknya sendiri ini.

Tapi di lain waktu, gue butuh sosok yang bisa bikin gue tenang dan nyaman. Persis seperi seorang ibu.

Ada satu hal yang hampir selalu bikin gue repot, yaitu sikap ceroboh Lay.

Dia itu orang paling ceroboh kedua setelah Chanyeol.

Dan Lay sama sekali nggak suka.

Dia sering kelupaan matiin api kompor sampai akhirnya pancinya gosong. Lupa matiin keran di kamar mandi, sampai airnya meleber ke mana-mana. Pergi seharian di kampus, tapi lupa ngunci pintu rumah. Untungnya nggak ada maling yang iseng-iseng mampir.

Dia juga sering mecahin barang. Entah itu vas bunga yang kesenggol kakinya waktu belajar dance hip-hop, yang sejak remaja sudah jadi hobinya bareng Luhan.

Atau mecahin gelas yang kesenggol tangannya waktu mau ngambil lauk di meja.

Numpahin minuman karena jalannya grasak-grusuk.

Bikin kemeja putih Pierre Cardin baru gue ketumpahan ice coffee gara-gara kakinya kesandung pinggiran permadani. Untungnya bukan hot coffee. Amit-amit, deh.

Di kampus juga dia sering bikin masalah karena sikap cerobohnya itu.

Gue hanya berdo’a dia nggak bikin dirinya celaka, maupun orang lain.

Hembusan nafas teratur Lay benar-benar nenangin jiwa gue.

Ini manusia atau jelmaan dewa ketampanan.

Hmm… kulitnya halus dan putih bersih. Pasti rajin luluran dan mandi susu.

Ah, gue sok tahu lagi.

Hidungnya…

Telunjuk gue iseng-iseng colek ujung hidungnya.

Gue tekan-tekan pipi kanannya, gue telusuri dimplenya. Ini nih susuknya. Jimatnya. Dimple yang menyesatkan jiwa dan pikiran gue.

Bulu matanya yang lucu…

Alisnya… kupingnya…. Dagunya…

Bibirnya….

Semua nggak luput dari sentuhan ujung telunjuk gue.

Lay… kenapa?

Kenapa lo kalau tidur persis kebo abis beranak lima?

Kenapa?

Hhhh….

Apa perlu gue bangunin?

Tapi kayaknya dia sudah capek banget.

Gue jam lima pagi harus sudah ada di statsiun. Kereta pertama berangkat jam 6. Dan gue harus sudah sampai kampus jam 9.

Bunyi detik jarum jam bikin gue noleh dan ngelirik jam yang nempel di dinding ungu muda itu.

Jam setengah satu.

Gue puas-puasin menatap keagungan Tuhan yang dikirimin ke gue, yang lagi tidur dan mungkin lagi bermesraan sama gue di alam mimpi.

Gue kadang heran.

Dulu, gue pernah naksir beberapa orang. Tapi ya hanya begitu aja. Nggak sedalam apa yang gue rasain terhadap cowok pelupa ini. Kenapa, ya?

Jodohkah?

Amin.

Tapi mamanya sama sekali nggak restuin hubungan kami, meski dia ngebiarin kami pacaran.

Ah, cuek lah. Yang penting dia nggak ngelarang.

Perut gue bunyi. Itu tandanya naga-naga mungil dalam perut gue lagi mau minta makan.

Maka gue keluar kamar, dan menuju dapur. Gue keluarin isi belanjaan gue tadi dan bikin sandwich tumpuk empat. Gue lapar banget!

Nggak lupa gue bikin kopi biar bisa bikin gue melek sampai pagi.

Misi gue malam ini adalah mengamati Lay molor dengan polosnya.

Bukan polos nggak pakai baju, lho.

Meski itu suatu kondisi yang *uhuk gue suka *uhuk.

Anyways, gue suka muka Lay kalau lagi tidur.

Bully-able banget. hahahaha

Setelah perut kenyang. Gue ke kamar mandi dulu.

Ngosongin kandung kemih gue yang sudah penuh, terus gosok gigi dan cuci muka.

Rasa dingin air bikin gue fresh. Gue masuk kamar Lay lagi dan ngambil buku dan pulpen.

Gue pandangin lagi wajah Lay.

Sambil senyum, gue mulai torehin tinta ke atas kertas yang masih kosong itu.

Setiap beberapa detik sekali, gue perhatiin wajah tampan Lay. Dan ujung pulpen itu kembali menari di kertas.

Entah berapa menit gue berkutat dengan kertas itu. setelah puas dengan hasilnya. Gue taruh buku itu di atas meja samping ranjang.

Tanpa nimbulin banyak suara, gue naik ke ranjang dan tiduran menghadap punggung Lay.

Gue peluk tubuhnya.

Harum rambutnya bikin gue makin rindu sentuhannya.

Rindu bibirnya yang suka kecup lembut tubuh gue. Rindu tangannya yang meremas rambut gue waktu kami ciuman.

Rindu desahannya.

Rindu semua yang biasa kami lakukan kalau ketemu.

Lay sama sekali nggak bangun waktu gue kecup lehernya yang sensitif, saat tangan besar gue menyatu dengan begitu pasnya di tangannya yang lebih kecil, seolah memang tangannya diciptain buat ngepasin tangan gue.

Lay tetap tidur.

Gue nggak mau tidur. Gue masih pengin nikmatin keheningan yang indah ini.

Hanya nafas memburu gue yang pengin bercumbu dengannya, beradu dengan nafas teratur Lay yang lagi enak-enakan tidur tanpa sadar kalau gue lagi meluk dia.

*^*^*^*

Bunyi alarm mengagetkan Lay yang masih bergelung dalam selimutnya.

Ia mengerang dan meregangkan kedua lengannya. Ia mematikan jam digital yang berisik itu dan duduk. Lay mengusap kedua matanya.

Ia merasa segar.

Semalam ia benar-benar tidur 8 jam. Rasa lelah yang menumpuk membuatnya tidur pukul 10 kurang.

Seharian ia mengerjakan tugas bersama Luhan.

Ia bahkan sampai tidak sempat menghubungi Kris. Bukan karena lupa, tetapi kesibukan yang begitu menyita waktu dan pikirannya.

Ia memutar tubuhnya ke samping dan menurunkan kedua kakinya.

Sebuah buku yang terbuka di atas meja kecil itu menarik perhatian Lay. Ia mengambil buku itu dan mengernyit.

Tulisan cakar ayam menghiasi sehalaman penuh buku itu.

Lay mengingat-ingat, kapan Kris menulis di buku itu?

Lay lupa.

Ia mengangkatnya dan membacanya baris demi baris dengan dahi berkerut.

Agak sulit mencerna tulisan Kris yang begitu berantakan.

Dear my precious person…

 

Wassup, baby boo?

How’s your day?

I thought about this thing while you’re sleeping. And I decided to write them down.

Jadi gue tadi ngeliatin lo yang tidur kayak kebo tanpa bisa dibangunin. Gue kepikiran beberapa hal yang pengin gue ucapin ke lo.

Akhirnya gue tulis aja, deh.

 

I want you to do these little things…

1.  Stop smiling.

2.  Stop pouting.

3.  Stop whining.

4.  Stop acting cool.

5.  Stop acting strong.

6.  Stop singing to me.

7.  Stop thinking about me.

8.  Stop biting your thumb nail.

9.  Stop being clumsy.

10. Stop being forgetful.

11. Stop being caring.

12. Stop being sexy.

 

But if you really love me from the heart, then please don’t do all those things that I asked you to do.

 

Because I am in love with you… and all your little things.

I love everything about you. The good or the bad things.

I just love you the way you are. So, please, don’t hate your little things that I love.

        You never treat yourself right, Darling, but I want you to.

If I let you know I’m here for you, maybe you’ll love yourself like I love you.

 

 

Your prisoner,

Mr. Handsome

Sebutir air menetesi halaman yang penuh tulisan itu.

Lay membacanya lebih dari lima kali sebelum akhirnya ia menyambar ponselnya dan menelepon orang yang menulis surat itu.

“Lay,” sapa Kris yang sedang berada dalam kereta.

“Kamu semalam ke sini?” sembur Lay dengan suara bergetar.

“Hu’um.” Balasnya santai.

“KENAPA NGGAK BANGUNIN AKU, DASAR BEGO! MALAH NINGGALIN SURAT DENGAN TULISAN CACING KERITING KAYAK GINI? HAH? KENAPA?!!!!!”

Pekikan penuh emosi Lay membuat Kris menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinganya.

“Gue kangen, dan gue nggak dapat libur lebih dari sehari. Hari ini gue harus ngampus. Semalam aja gue nyampe jam setengah sebelas lebih, dan lo sudah molor. Mana tega gue bangunin lo. Tapi salah lo juga sih tidur kayak kebo. Padahal sudah gue peluk-peluk, cium-cium. Jangan salahin gue, dong!” balas Kris tak kalah kesalnya.

Kris terdiam saat mendengar hanya isakan yang terdengar.

“Lay, are you crying?”

Thank you…” bisik Lay di tengah isakannya.

Kris menggaruk belakang telinganya. Ia bingung.

“Makasih buat apa?”

For loving me completely…” ucap Lay penuh rasa haru.

Dan Kris tersenyum.

Just love yourself, Xing. You are close to perfection. And I love you. Now, will you hang up the phone? I need some sleep. Gue begadang sampai pagi demi nulis surat itu. Hehehe”

“Dasar. Mendingan kamu bangunin aku, dan mungkin kamu bakal lebih bahagia. Hehehe.” Sahut Lay, yang tersenyum, meski mukanya masih basah oleh air mata bahagia.

Pervert! Sudah, ya. Gue mau tidur. Mumpung masih sejam lagi sebelum sampai.”

“Oke. I let you go this time. See you soon, Mr. Stupido yang ngaku-ngaku handsome. I love you!”

 

Lay merobek kertas yang berisi tulisan Kris itu, lalu mengambil selotip dan menempelkan kertas itu ke bagian dalam lemari bajunya. Ia membacanya sekali lagi sebelum mendekat dan mengecup kertas itu.

“Ah, aku jadi sentimentil gini, sih. Kris… you are crazy! And that’s why I love you.” Lay menutup lemarinya setelah mengambil baju yang akan dipakainya ke kampus hari ini.

THE END

 

 

A/N : Fiuh…. Jadi Kris itu cukup melelahkan ya. mungkin Kris di sini terkesan nyeleneh dan gokil. Tapi aku pengin bikin Kris jadi pribadi yang santai. Karena dia cuman keliahatan bitchy di muka doang, aslinya mah pasti koplak. Apalagi kalau udah bareng Lay hehehe.

 

Jujur aja, lagu One Direction yang berjudul Little Things itu romantis banget. sayang banyak Kpoper yang males lirik penyanyi2 bule yang lagu-lagunya lebih mudah dipahami. Hehehe

Nggak ada salahnya coba didengrin, sekalian baca liriknya. Sweet banget.

 

Thanks for reading and please leave a comment, atau author ngambek en ogah bkin Kray lagi. Nah, lho!